Follow Us @soratemplates

Kamis, 10 September 2026

MENJINAKKAN EGO AKADEMIK

Kamis, September 10, 2026 0 Comments

Mengembalikan Marwah Perguruan Tinggi Sebagai Oase Jiwa dan Peradaban

​Perguruan tinggi pada hakikatnya adalah ruang tazkiyatun nafs dan penyemaian nalar. Suatu tempat di mana ilmu pengetahuan, integritas, dan daya kritis bertumbuh seiring dengan kematangan jiwa manusia. Dosen dalam konstelasi ini bukan sekadar pengajar materi (mualim), melainkan pendidik (murabbi) dan pembimbing yang setiap gerak-gerik akhlaknya membentuk nilai-nilai akademik.

​Gelar akademik yang berderet, publikasi internasional yang berlimpah, maupun puncak jabatan struktural tidak serta-merta menjadikan seorang pendidik berjiwa agung. Kehebatan sejati seorang pendidik terletak pada dimensi spiritual dan moral yang tak tertulis dalam curriculum vitae, yakni bagaimana ia memperlakukan sesama manusia dengan kasih sayang dan rasa hormat.

1. Fenomena Red Flag dan Penyakit Hati dalam Iklim Akademik

Metafora red flag dalam ranah akademik memotret realitas ketika dinamika kampus terdistorsi oleh relasi kuasa, persaingan tidak sehat, dan ananiyah (egoisme). Menjatuhkan rekan sejawat, mengambil hak karya orang lain, serta mempermalukan kolega adalah cerminan dari hati yang terjangkit iri dengki (hasad). Imam Al-Ghazali dalam Ihya 'Ulumuddin mengingatkan:

"Penyakit iri hati (hasad) memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar. Sungguh, kebanggaan atas ilmu tanpa kesucian jiwa hanya akan melahirkan kesombongan."

​Kampus sejatinya dibangun di atas pilar kolaborasi (ta'awun), bukan gelanggang untuk menundukkan orang lain demi meninggikan ego pribadi.

2. Profesionalisme Objektif Sebagai Bentuk Keadilan Islam

Sebagai manusia, dosen tentu memiliki dinamika emosi seperti lelah, kecewa, atau berselisih paham. Namun, kepemimpinan spiritual menuntut penguasaan diri (riyadhah) agar emosi tidak merusak objektivitas. Penilaian mahasiswa, evaluasi penelitian, dan pemberian kesempatan akademik wajib didasarkan pada kriteria yang objektif dan transparan. Allah SWT berfirman:

"Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (QS. Al-Ma'idah: 8)

​Keadilan profesional tidak menuntut seseorang untuk menyukai semua orang, melainkan menuntut keteguhan untuk bertindak adil tanpa memandang prasangka pribadi.

3. Jabatan Sebagai Amanah, Bukan Alat Intimidasi

Kedudukan struktural, baik sebagai Ketua Program Studi, Dekan, maupun Profesor—merupakan amanah (al-amanah) yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Ilahi, bukan instrumen kekuasaan untuk membungkam kritik, mengintimidasi bawahan, atau merendahkan mahasiswa. Syekh Ibn 'Atha'illah as-Sakandari dalam Al-Hikam menegaskan:

"Siapa yang mencintai kedudukan untuk menguasai manusia, maka ia telah dipenjara oleh halusinasi kebesarannya sendiri. Kekuasaan yang sejati adalah kekuasaan yang memerdekakan dan menumbuhkan."

​Kekuasaan akademik yang sehat adalah kekuasaan yang memberi ruang bagi orang lain untuk berkembang dan bercahaya, bukan membuat mereka mengecil dan terbungkam.

4. Keberhasilan Pendidik: Melahirkan Generasi yang Melampauinya

Spiritualitas pendidik mencapai puncaknya ketika ia merasa bahagia melihat anak didiknya atau kolega mudanya berkembang dan melampaui pencapaiannya. Keberhasilan orang lain tidak akan pernah mengurangi porsi takdir atau kehormatan diri kita. Syekh Abdul Qadir al-Jilani pernah berpesan:

"Jadikan dirimu seperti bumi yang diinjak oleh orang baik maupun jahat, namun tetap menumbuhkan pepohonan dan buah-buahan yang manis bagi sesama."

​Keberhasilan tertinggi seorang pendidik bukanlah pada puncak takhta akademiknya sendiri, melainkan pada kemampuannya melahirkan generasi baru yang jauh lebih cerdas, lebih bijak, dan lebih bertaqwa dari dirinya.

Wallahu a'lambisshawab

Sahabatmu

Darimis Nursutan


Jumat, 31 Juli 2026

ASA SETENGAH JADI

Jumat, Juli 31, 2026 0 Comments

Senja selalu mengajarkan sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh pagi. Pagi pun mengajarkan harapan.  Di antara keduanya, manusia menghabiskan hidupnya: berlari, mengej


ar, mengumpulkan, membangun, berharap, lalu berkali-kali bertanya kepada langit, "Mengapa yang kuusahakan belum juga menjadi nyata?"

Aku pernah berada di titik itu. Hari-hari dipenuhi kesibukan yang nyaris tidak menyisakan ruang untuk sekadar mendengar suara hati sendiri. Pagi dimulai dengan tugas rumah tangga, siang dengan dipenuhi agenda akademik, sore dengan berbagai kewajiban sebagai ibu dan istri, malam dengan tumpukan pekerjaan dan agenda kegiatan yang perlu didesain untuk esok hari. Kalender penuh. Agenda bertambah. Tanggung jawab datang silih berganti.

Semua terasa berjalan, namun semuanya tidak pernah kemana-mana, seolah-olah ada sesuatu yang diam tidak bergerak. Impian yang telah lama disemai seakan berhenti di persimpangan. Setiap kali terasa dekat, ia kembali menjauh. Setiap kali yakin pintu akan terbuka, ternyata hanya dinding yang ditemui. Aku mulai bertanya, apakah semua usaha ini benar-benar bermakna? Ataukah aku hanya sedang sibuk memutar roda yang sebenarnya tidak sedang bergerak ke mana-mana?

Begitulah manusia. Sering kali kita mengukur hidup dari apa yang tampak di depan mata. Kita merasa berhasil ketika mendapat pengakuan, merasa gagal ketika penghargaan belum juga datang. Padahal Allah tidak pernah menilai sebagaimana manusia menilai. Allah melihat keikhlasan yang tidak pernah dilihat oleh siapa pun. Allah mengetahui air mata yang jatuh ketika semua orang mengira kita baik-baik saja. Allah menghitung langkah-langkah kecil yang bahkan kita sendiri telah lupa pernah melakukannya. Lalu mengapa kita begitu gelisah ketika dunia belum memberikan apa yang kita inginkan?.

Pada suatu malam yang sunyi, diri ini mencoba memandang langit. Tidak ada suara selain desir angin. Tidak ada percakapan selain bisikan hati. Saat itulah diri ini menyadari bahwa bintang tidak pernah mengeluh karena harus bersinar dalam gelap. Ia tidak meminta matahari segera tenggelam. Ia hanya menjalankan tugasnya. Bukankah seharusnya manusia pun demikian? Berbuat baik bukan karena dilihat. Berkarya bukan karena dipuji. Mengabdi bukan karena diberi penghargaan. Melainkan karena semua itu adalah bentuk ibadah kepada-Nya.

Para arif berkata bahwa seorang hamba akan diuji bukan hanya dengan kesulitan, tetapi juga dengan penundaan. Sebab penundaan adalah ruang tempat Allah membersihkan hati dari rasa memiliki. Kita mengira keberhasilan adalah hasil kecerdasan. Padahal keberhasilan adalah izin. Kita mengira jabatan adalah buah kerja keras. Padahal jabatan adalah amanah. Kita mengira semua dapat diraih dengan kemampuan. Padahal kemampuan hanyalah sebab, sedangkan keputusan tetap berada di tangan Allah. Betapa sering diriku lupa bahwa hidup ini bukan tentang mempercepat takdir, melainkan memperindah ikhtiar.

Suatu ketika aku membaca kisah sebutir benih. Ia ditanam di dalam tanah yang gelap. Dihimpit oleh batu. Diselimuti lumpur. Tidak ada cahaya. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada seorang pun yang memujinya. Namun justru di tempat paling gelap itulah akar tumbuh. Ternyata Allah tidak pernah menumbuhkan pohon besar di permukaan. Ia selalu memulainya dari kegelapan yang tidak dilihat siapa pun. Begitu juga manusia. Sering kali Allah sedang menumbuhkan akar kesabaran ketika kita merasa hidup sedang berhenti. 

Terkadang muncul tanya, apakah doaku seperti surat yang tidak pernah mendapat balasan?. Kupanjatkan berkali-kali. Kubasahi dengan air mata. Kuhiasi dengan harapan. Namun belum ada tanda-tanda dikabulkan. Lalu aku sadar. Allah Maha Pengatur. Akulah yang terlalu sibuk mendengarkan jawaban yang sesuai keinginanku. Padahal Allah sering menjawab melalui jalan yang sama sekali berbeda. Kadang jawaban itu berupa kehilangan. Kadang berupa penundaan. Kadang berupa kegagalan. Kadang berupa kesabaran yang dipanjangkan. Semua terasa pahit. Tetapi obat memang tidak selalu manis.

Jalaluddin Rumi pernah menulis bahwa "Luka adalah tempat cahaya memasuki diri." Betapa dalam makna kalimat itu. Mungkin selama ini kita terlalu sibuk menambal luka sehingga lupa melihat cahaya yang dibawanya. Luka membuat kita lebih lembut. Kegagalan membuat kita lebih rendah hati. Penantian membuat kita lebih mengenal doa. Dan kesunyian membuat kita lebih dekat kepada Allah. Bukankah itu semua adalah karunia yang tidak selalu disadari?

Aku mulai memahami bahwa ada dua jenis keberhasilan. Keberhasilan yang membuat manusia kagum, dan keberhasilan yang membuat Allah ridha. Keberhasilan pertama bisa hilang oleh waktu. Keberhasiln kedua akan kekal hingga akhirat. Betapa banyak orang yang dikenal manusia tetapi asing di langit. Betapa banyak orang yang tidak dikenal manusia tetapi namanya harum di sisi Allah. Maka mengapa aku harus terlalu sibuk mengejar tepuk tangan dunia?

Kini aku tidak lagi memaknai penundaan sebagai hukuman. Aku memaknainya sebagai proses. Seorang pemahat tidak pernah memukul batu karena membencinya. Ia memukul karena melihat ukiran indah yang belum tampak. Demikian pula Allah. Setiap ujian adalah pahat kasih sayang-Nya. Setiap air mata adalah tetes yang sedang membersihkan cermin hati. Setiap penantian adalah jalan menuju kedewasaan ruh. Mungkin bukan mimpiku yang sedang ditunda. Mungkin Allah sedang membentuk diriku agar layak menerima mimpi itu.

Malam semakin larut. Aku kembali menengadah. Langit masih sama. Namun hati ini berbeda. Aku tidak lagi meminta hidup tanpa ujian. Aku hanya memohon agar tidak kehilangan Allah dalam setiap ujian. Aku tidak lagi memohon jalan yang mudah. Aku memohon hati yang kuat. Aku tidak lagi memohon agar semua cita-cita segera tercapai. Aku memohon agar setiap langkah tetap bernilai ibadah, sekalipun hasilnya belum tampak. Akhirnya aku mengerti, tidak semua yang tertunda adalah kehilangan. Tidak semua yang gagal adalah akhir, dan tidak semua yang tampak setengah jadi benar-benar belum selesai.

Ada karya yang diselesaikan oleh waktu. Ada cita-cita yang disempurnakan oleh kesabaran. Ada manusia yang dipoles oleh air mata, dan ada jiwa yang dimuliakan justru karena ia tetap bersujud ketika harapannya belum menjadi kenyataan.

Hari ini, jika seseorang bertanya kepadaku, "Apakah asamu sudah tercapai?" Aku akan tersenyum. "Lahirnya mungkin masih setengah jadi, tetapi batinku sedang disempurnakan oleh Allah." Karena aku percaya, ketika Allah menjadi tujuan, tidak ada perjalanan yang sia-sia. Dan ketika ridha-Nya menjadi puncak harapan, setiap langkah sekecil apa pun adalah kemenangan.

Ya Allah...jika Engkau menunda apa yang kuinginkan, jangan tunda keikhlasan dalam hatiku. Jika Engkau belum membuka pintu yang kuharapkan, bukalah pintu hikmah agar aku mampu membaca rahasia-Mu. Jadikan setiap kegagalan sebagai jalan mengenal-Mu. Jadikan setiap kesibukan sebagai ladang amal, bukan sekadar rutinitas. Dan ketika nanti Engkau mengizinkan segala asa menjadi nyata, jangan biarkan keberhasilan itu menjauhkan kami dari-Mu.

Sebab pada akhirnya, bukan pangkat, bukan gelar, bukan pujian manusia yang akan menemani kami ke liang lahat. Yang akan menerangi perjalanan panjang itu hanyalah hati yang ikhlas, amal yang diterima, dan cinta yang tidak pernah berpaling dari-Mu. Karena sesungguhnya, asa yang tampak setengah jadi di mata manusia, bisa jadi telah sempurna di sisi Allah, apabila ia melahirkan hati yang semakin tunduk, jiwa yang semakin bening, dan cinta yang semakin utuh kepada-Nya.

Saudara seperjuanganmu

Salam ukhuwah 

Darimis