Follow Us @soratemplates

Tampilkan postingan dengan label Kepribadian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kepribadian. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 September 2020

BERSAHABAT DENGAN MASALAH

Kamis, September 03, 2020 0 Comments


Mentari tak selamanya bersinar, begitu juga malam tidak selamanya gulita. Justru dengan redup sinar mentari kita bisa menikmati semilir angin. Dengan pekatnya malam pertanda fajar akan menyingsing. 


Justru pergantian siang dan malam, benar-benar tanda bagi orang-orang yang berpikir. Menyadarkan orang yang berakal, tentangnya urgensi pergantian waktu. Pada akhirnya berkontribusi meningkatkan ketaatan pada Sang Pemilik Waktu.


Jangan pernah menolak gelap, disebabkan ketidakpahaman terhadap gulita.  Jangan pernah mengutuk panas, karena tidak mengerti manfaat sinar mentari. Jangan menolak sesuatu lantaran tidak suka. Sementara suka dan tidak suka bukan ukuran kebenaran.  


Terus Melangkah


Ibarat berjalan kita bisa terjatuh berkal-kali, untuk kemudian menemukan cara yang tepat dalam melangkah. Kita bisa saja gagal berulang-ulang, untuk selanjutnya menemukan strategi sukses dalam suatu bidang. Terus berjalan walau kaki sulit melangkah, sebab ayunan langkah mengantarkan kita ke tujuan. Kita tidak akan pernah sampai, ketika kita berhenti, apalagi tidak memulai dan tidak mau melangkah. 

  

Nikmati Proses


Hidup adalah perjuangan. Setiap perjuangan membutuhkan kerja keras, konsentrasi, dan kesungguhan. Bukan seberapa banyak keberhasilan kita, tetapi seberapa sabar dan istiqamah kita menjalani proses. Sebab pelajaran berharga bukan terletak pada hasil, tapi pada tahapan aktivitas mewujudkan hasil. Akan selalu ada pelajaran berharga pada setiap proses yang dilalui. 

Berani

Jangan paksa diri berlari bersama mentari, ketika kaki lelah melangkah. Cukup arahkan wajah ke depan. Tatap target dengan mata hati.  Revisi rencana sesuai kemampuan. Hadapi semua masalah dengan gagah berani. Katakan "Hai masalah tidak ada masalah besar, yang ada hanya Rabbku Yang Maha Besar." Kita tidak harus menjadi sempurna di mata orang-orang, sebab kita punya jadi diri, bakat, dan potensi berbeda  dari orang lain. Setiap kita punya pijar di antara gulita malam.

Mengukur Kesungguhan

Setiap  rintangan perjalanan adalah cara terbaik mengukur kekuatan tekad, kesungguhan, dan keseriusan. Kadang kita tidak sungguh-sungguh melakukan sesuatu.  Kadang tekad kita lemah didistorsi keraguan. Kehadiran masalah membuat kita sadar bahwa kita harus sungguh-sungguh memperjuangkan tujuan. Kendala bisa saja batu loncatan agar kita bisa melompat lebih tinggi. 

Tetap Optimis

Tetap optimis menatap masa depan. Sebab hidup tidak bergerak ke belakang. Jika lelah kita boleh istirahat, sembari menghitung kekuatan diri, dan bekal perjalanan. Hirup udara segar hembuskan berlahan. Hindari polusi yang membuat nafas sesak. Jika tenaga pulih lanjutkan perjalanan, sebab di sana sukses menanti. 

Rencana Rabbmu Terbaik

Hadirnya masalah, tak lantas membuat kita terpuruk. Meratapi nasib. Jika tujuan kita tercapai itu memang rencana kita, namun ketika tujuan kita tidak tercapai itulah rencana Allah. Allah mengabulkan kebutuhan kita. Namun tidak mengabulkan setiap keinginan kita. Dan itulah yang terbaik. Ketika satu pintu tertutup, maka pintu-pintu lain dibuka oleh Allah. Kita tidak tahu alasan ditutupnya suatu pintu. Mana tahu di belakang pintu ada jurang kerusakan. Kita hanya perlu berusaha  menemukan pintu yang lain.


Kesimpulan


Jangan ditolak gulita malam, lantaran kita tidak paham cahaya. Tapi pelajari, pahami, dan kuasai materi cahaya kita bisa membedakan mana cahaya mentari dan mana cahaya lilin. Jangan samakan setiap cahaya. Sebab sumber dan hakikatnya berbeda. Syukurilah kegelapan, sebab kegelapan itu menyingkap tekad untuk lebih memahami dan memperjuangkan cahaya.


Wallahu A'lam Bisshawab.


Sabtu, 29 Agustus 2020

HIKMAH SAHABAT TAAT

Sabtu, Agustus 29, 2020 0 Comments


Sahabat taat, indah didengar, sejuk dipikirkan, senang dilihat, dan menyelamatkan di dunia, dan memberi syafaat hingga akhirat.

Perspektif Sahabat Taat

Mungkin ada di antara kita berpendapat, "Ah Teori" mana ada zaman now sahabat seperti itu. Jangankan memberi syafaat di akhirat, ketulusan persahabatan di dunia aja susah didapat. Sering berselisih, bahkan konflik jadi romantika harian.  


Mungkin ada yang meyakini, jangankan sahabat taat, yang peduli dan empati dari hati sulit dicari. Senyum saja pakai pretensi. Tersenyum jika ada mau, maksud, ada udang di balik bakwan...eh batu. Hari ini sangat langka persahabatan tanpa pamrih.


Namun tahukah kita...mengapa kita langka bertemu sahabat taat? Dan kita belum menemukan sahabat taat. Barangkali hidup kita masih dicekoki pemikiran  trend kekinian, bernuansa kapitalis, liberalis, materialistis, dan hedonis. Bersikap baik kepada orang lain, jika orang lain itu juga baik dan bermanfaat. 


Semua diukur dengan manfaat. Kita seakan menjadi orang pragmatis berpikir praktis. "Jika tidak ada untung, mengapa harus berteman denganya". Jika tidak memberikan manfaat bagi saya, ngapain repot-repot peduli." Kita seakan terlalu lugu ('Lu, Lu, Gua, Gua)....ha...ha.


Ada kesan dalam hidup  jaman now, semua nilai persahabatan seperti nilai insaniyah, ruhiyah, khuluqiyah sirna, hanyut dibawa arus nilai materi (madiyah). Akibatnya, pengkhianatan, gunjingan, sikut mengikut, sakit hati, dendam, permusuhan, dan pendangan sinis mewarnai interaksi dan pergaulan kita. Sehingga tidak heran ada ungkapan, "Tidak ada teman yang abadi, tidak ada musuh yang abadi, yang ada hanya kepentingan yang merajai...eh abadi."

Hikmah Punya Sahabat Taat

Makanya tiada nikmat senikmat-nikmatnya, tiada sesyukur-sesyukurnya jika kita memiliki sahabat terkasih, dan serelung hati. Sahabat tersayang bukan kepalang. Dia menerima diri kita apa adanya. Di saat susah maupun senang. Dia yang merangkul diri kita, di saat sedih maupun bahagia.


Paling luar biasa adalah sahabat taat. Suka ngomelin kita kalau kita salah. Hampir keliru saja langsung diceramahi. Mendiskusikan dengan serius jika keliru kita selangit. Mengingatkan untuk terus di jalan yang lurus.  Belok sedikit langsung menjewer telinga. Kalau putar arah langsung dikejar  dan menyalib kita dari belakang. Tidak pernah bosan tuk ingatkan selalu beramal shalih.


Sahabat taat, yang  menguatkan hati tuk tetap melangkah dan istiqamah. Kita mengeluh sedikit saja, dia menyemangati, bahwa derita kita belum apa-apa dibanding para sahabiyah. Jika kita merasa lemah, dia ingatkan komitmen kita, bahwa kita berjual beli dengan Allah Subhanahu Wata'ala. Jika kita melanggar hukum syarak dia selalu sebutnya pertanggungjawaban di Yaumul Hisab dan panasnya neraka. Itulah sahabat, yang seiring sejalan dalam ketaatan dan selalu mengajak ki pada kenikmatan surga Allah. 


Tiada keindahan seindah permata, selain sahabat taat, seperjuangan bercita-cita surga. Takkan mampu dibayar dengan intan berlian paling mahal. Dialah sahabat yang mempersamai kita dunia akhirat. Senada dengan ungakapan Umar bin Khattab:


“Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (sesama muslim) yang saleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang saleh maka pegang lah erat-erat.” [Quutul Qulub 2/17]


Bahkan jika kita masuk neraka, pun dia selamatkan, dengan syafaat yg diberikan Allah Subhanahu Wata'ala. Imam Muslim meriwayatkan dalam haditsnya bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, “Hingga setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan keselamatan untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari Kiamat. Mereka memohon, Wahai Rabb kami, mereka itu (sebagian yang tinggal di neraka) pernah berpuasa, shalat, dan juga haji bersama kami.”


Lalu dikatakan, ‘Keluarkan (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal.’ Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka. Kemudian para mukminin ini pun mengeluarkan banyak saudaranya yang telah dibakar di neraka. Kemudian orang mukmin itu berdoa:  “Wahai Rabb kami, orang yang Engkau perintahkan untuk dientaskan dari neraka sudah tidak tersisa.” (HR.Muslim)

Mencari Sahabat Taat

Itu di antara keagungan sahabat taat. Namun tidak semua orang berminat. Seakan sulit didapat, kecuali dalam kisah para sahabat. Sebenarnya logika kita yang kurang tepat. Mencari sahabat taat dengan alasan sesaat.  Mengutamakan asas manfaat, terkesan salah niat. Makanya sahabat taat langka didapat. Mungkin diri kita yang belum pantas untuk mendapat sahabat taat. Sebab, seperti diri ini yang masih jauh dari taat. Maka sah-sah saja belum ketemu dan dipertemukan dengan sahabat taat. 


Kata murabbi saya, jika ingin mendapatkan sahabat taat. Carilah dia di majelis-majelis ilmu. Di liqa'-liqa' Di kajian-kajian Islam. Di sana berlangsung majlis dzikir, dinaungi dan dido'akan para malaikat. Di tempat itu, kita akan temukan sahabat sevisi, semisi, sestrategi, dan seperjuangan. Memperbaiki diri tiada henti. Tholibul 'ilmi tuk berkepribadian Islami. Di sana akan berkumpul hati-hati penuh kasih, seiring sejalan menuju ridha Ilahi.


Memang kita akui, sekarang masa pandemi. Kurang kondusif mencari sahabat taat dalam kehidupan sehari-hari. Apa salahnya kita ikuti kajian online. Bergabung banyak komunitas kajian Islami. Asalkan ada niat paling tulus di hati, insyaa Allah diberi kemudahan. Hanya saja diri ini terlalu egois untuk duniawi. Lebih memilih komunitas ilmiah, literasi, kadang ibu sosialita agar eksistensi diakui. Mengikuti trend terkini, seolah komunitas kita paling bergengsi. Meskipun kadang kesadaran terdalam meronta tak terperi, karena tidak mendapatkan faedah dan makna di sisi Ilahi. Selain capek dan rugi duniawi dan ukhrawi.


Sahabat taat diperjuangkan dengan meningkatkan taat diri lebih dahulu. Jika kita menginginkan sahabat taat, diri sendiri belum taat, tentu tidak akan mau bersatu antara penjual minyak wangi dengan tukang besi. Tentu akan sulit seirama dalam kata dan tingkah laku. Yang satu membolehkan riba, yang lain menganggap riba dosanya luar biasa. Setiap hari akan  berselisih tentang hukum syarak yang haramnya sudah pasti, bersumber dari dalil qarh'i. Satu suka bersolek (tabarruj) yang lain bersolek hanya di depan suami, mungkin menilai teman tidak satu frekuensi. Akhirnya berpisah di simpang jalan, karena berbeda kecenderungan.


Memang susah-susah gampang menemukan sahabat taat. Banyak susahnya dari pada gampangnya. Namun bukan berarti mustahil untuk dilakukan. Mencari jodoh shalih dan shalihah saja susah, kata jofisa jumlahnya "satu banding seribu" mungkin sahabat taat juga begitu. Tapi bukan berarti kita menghentikan langkah, karena lelah. 


Mengejar kebaikan itu butuh kerja ekstra. Tidak cukup hanya berdo'a, lalu kita menunggu Allah mengirimkan bidadari tanpa sayap  dari surga. Kalau di surga memang seperti itu, ketika ingat langsung datang. Ini dunia Sister Fillah...semuanya butuh perjuangan, karena memang sunatullahnya dunia tempat berjuang. Bukan untuk bersenang-senang. Kalau untuk bersenang-senang besok, di surga...Insyaa Allah semua kita akan pulang kampung ke sana...


Mencari dan menemukan sahabat taat itu sangat perlu. Hal ini diingatkan oleh Imam Syafi'i, "Jika engkau punya teman yang selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah, maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah kau lepaskan. Karena mencari teman baik itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah sekali."


Kadang logika dan nafsu kita  berkata "Untuk apa punya sahabat nyinyir seperti itu, sedikit-sedikit taat, sebentar-sebantar Allah. Itu bisikan setan Sisterfillah...Waspadalah, setan selalu bergembira di atas dosa dan maksiat kita. Nanti di akhirat ia akan berlepas tangan alias tidak bertanggung jawab. Dia sampaikan pidato paling menyentuh hati di hadapan penghuni neraka. Pidato setan ini diabadikan Allah dalam surat Ibrahim ayat 22, artinya:


 “Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.’ Sesungguhnya orang-orang yang dhalim itu mendapat siksaan yang pedih." (QS. 14:22)


Untuk itu, sesekali kita kita eksekusi pendapat Al Hasan Al Bashri, "Perbanyaklah sahabat-sahabat mukminmu, karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat.''


Ibnul Jauzi pun pernah berpesan kepada sahabat-sahabatnya sambil menangis, ''Jika kalian tidak menemukan aku di surga bersama kalian, maka tolonglah bertanya kepada Allah tentang aku, 'Wahai Rabb kami, hamba-Mu fulan sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau. Maka masukanlah dia bersama kami di surga-Mu.''


Ya Rabb...bantu hamba menemukan sahabat taat...dan perbanyaklah Sabahat taat hamba dari yang ada sekarang, aamiin.


Bumi Allah, 29 Agustus 2020.



Kamis, 30 Juli 2020

STRATEGI PEMBENTUKKAN KEPRIBADIAN ISLAMI

Kamis, Juli 30, 2020 0 Comments
Setiap orang mengenal kata kepribadian. Namun tidak semua orang memahami hakikat kepribadian. Kepribadian bukan dinilai dengan ukuran-ukuran kenyataan. Seperti cantik, manis, ganteng, tampan, gagah, dan memikat. Tidak juga dilihat dari kelas ekonomi, status sosial, dan keturunan.
.
Kepribadian merupakan kompleksitas perwujudan cara berpikir ('aqliyah) dan cara bertindak (nafsiyah). Integrasi antara 'aqliyah dan nafsiyah tersebut dinamakan kepribadian (syakhsiyah). 
.
Cara berpikir, pola pikir, atau mindset merupakan cara pandang, perspektif, atau pemikiran seseorang  dalam menanggapi, merespon atau menyikapi berbagai fakta  yang ada di sekelilingnya. Cara ini ditentukan oleh mabda' atau ideologi yang diyakininya. 

Contoh, individu A berpikir manusia bebas, merdeka, tidak perlu terikat dengan berbagai aturan, jika ideologi yang diyakininya membolehkan kebebasan. Individu B beranggapan tidak masalah makan makanan haram, jika ideologi yang diyakininya membolehkan memakan makanan haram. Begitu juga individu C sah-sah saja pacaran sebelum nikah, jika ideologi yang diyakini membolehkan pacaran. Bahkan individu D, berpendapat muslimah tidak harus berhijab,  jika ideologi yang diyakininya membolehkan buka-bukaan.

Pola pikir menentukan kepribadian. Kepribadian sangat terkait dengan nilai dasar keyakinan, atau ideologi yang mengarahkan seseorang. Ideologi kapitalis membentuk kepribadian kapitalis. Ideologi sosialis komunis membentuk kepribadian sosialis-komunis. Ideologi Islam akan membentuk kepribadian Islami (syakhsiyah Islamiyyah).

Kepribadian Islami sangat ditentukan oleh pola pikir Islami  ('aqliyah Islamiyyah), dan pola sikap Islami (nafsiyah Islamiyyah). Pola pikir Islami dibentuk oleh aqidah Islam dan ilmu-ilmu keislaman yang memadai dalam membangun gagasan, ide, konsep, dan pandangan seseorang.

Sementara pola sikap Islami menjadi kuat, jika menjadikan aturan Islam sebagai cara dalam memenuhi kebutuhan biologis (makan, minum, berpakaian) dan kebutuhan naluri (beribadah, bergaul, berketurunan, dan bermuamalah). Setiap muslim berpotensi berkepribadian Islami, jika  kokoh aqidahnya, tinggi tingkat berpikirnya, dan kuat ketaatannya. 

Strategi Pembentukan Kepribadian Islami

Secara umum strategi Pembentukan kepribadian Islami adalah mengelola dan  meningkatkan aqliyyah dan nafsiyah individu. Strateginya adalah:

1. Menambah ilmu-ilmu Islam Syakhsiyah Islamiyyah). 


Menuntut atau menambah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat bukan sekadar perintah biasa. Namun perintah istimewa agar manusia memiliki tsaqafah Islamiyyah.  Tsaqafah Islamiyyah yang memadai membantu individu untuk beraqidah benar,  beriman, bertaqwa, beribadah sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, mengerti fiqih dan paham Akhlakul Karimah. 

2. Melatih Diri Berbuat Taat


Pembentukan kepribadian Islami dalam bentuk nafsiyah Islamiyyah, dapat dilakukan dengan selalu melatih diri berbuat taat. Terikat dengan semua aturan Islam dalam semua aspek kehidupan.  

Berbuat Taat juga termasuk melaksanakan semua ibadah, baik ibadah wajib dan ibadah sunnah. Selalu meninggalkan yang subhat apalagi haram.

3. Membiasakan Diri Berakhlak Mulia


Akhlak mulia tidak berdiri sendiri sebagai akhlak, terlepas dari aqidah dan syarak. Namun akhlak mulia bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dengan aqidah dan syarak. Logikanya perilaku jujur lahir dari keimanan yang kuat pada Allah, mengamalkan aturan Allah tentang perilaku jujur, maka  akhlak sehari-hari terbentuk perilaku jujur.

Dengan cara di atas, kepribadian Islami akan semakin kuat dan meningkat. Pemikiran Islami semakin cemerlang. Jiwa Islami semakin mantap. Istiqamah dalam ketaatan, dan semakin dekat dengan Allah Subhanahu Wata'ala.
.
Tiada cara lain agar berkepribadian Islami, selain mengelola sedemikan rupa pola pikir dan pola sikap dalam memenuhi kebutuhan fsikis, mengelola Gharizah, menuntut ilmu, selalu bergaul dengan orang shalih, memahami dan mampu menjawab  pertanyaan besar dalam hidup. Dalam konteks itu, kepribadian Islami bisa dibentuk. 
.
Wallahu A'lam Bisshawab.

Bumi Allah, 29 Juli 2020

Sabtu, 07 Maret 2020

MERDEKA BELAJAR

Sabtu, Maret 07, 2020 0 Comments



Sebuah buku menarik tentang merdeka belajar terdapat dalam buku yang berjudul “Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela. Penulis. Ditulis oleh Tetsuko Kuroyanagi, Alih Bahasa Widya Kirana. Buku ini diterbitkan oleh  PT. Gramedia Pustaka Utama, di Jakarta, tahun 2017, cetakan ke-24, dengan ketebalan buku 272 halaman.

Menurutku buku ini mendeskripsikan tentang merdeka belajar. Ada beberapa catatan menarik, menggugah, dan bermakna terdapat dalam buku tersebut. Misalnya ungkapan "Kau adalah anak yang sangat baik. Kau tahu itu kan?" Ucapan Mr Kobayashi selalu terngiang-ngiang dan tertancap kuat dalam benak Totto-chan. Gadis cilik itu tak pernah merasa dirinya bermasalah. Ia selalu tampil penuh percaya diri.

Bentuk didikan positif yang dideskripsikan buku ini sangat bagus dan menggugah para pendidik, termasuk aku yang faqir ilmu ini. Pantas saja buku ini memperoleh banyak pujian. Sebuah buku yang diangkat dari kisah nyata. Berisi pengalaman seorang gadis cilik di saat dia masih Sekolah Dasar. Buku ini sangat menginspirasiku dan makin menguatkan keyakinanku tentang urgensi menulis buku diary. Tatkala orang lain tidak ada waktu mendengarkan curhatan, ada buku yang bisa menampung keluh kesah kita tanpa protes, tanpa interupsi. Hanya saja kita yang kadang lelah menuliskan segunung peristwa di dalamnya.

Pengalaman seorang anak ketika dia masih SD, ternyata begitu berkesan, membekas, dan tersimpan kuat di alam ketidaksadaran seseorang hingga dewasa. Pengalaman tersebut jika ditulis dengan detail, sistematis, atau runut mampu menghipnotis pembaca hingga dapat mengubah paradigma jutaan orang, terutama tentang konsep pendidikan. Tatkala seorang guru membuat suasana pembelajaran yang menyenangkan tanpa harus membatasi kreativitas peserta didik mereka.

Deskripsi detail susana, metode, dan semua proses pembelajaran yang dikemukakan penulis buku ini, sepertinya yang menginspirasi lahirnya sekolah-sekolah alam, sekolah terpadu, dan sekolah-sekolah berbasis pengembangan karakter, sebagai ikon sekaligus orientasi pendidikan Indonesia  saat ini. Meskipun tidak seeksplisit  itu dituangkan oleh pengarang dalam buku tersebut.

Buku itu menggambarkan secara gamblang pengalaman sang penulis ketika bersekolah di Tomoe Gakuen. Sebuah gerbang pendidikan yang out the box dalam memperlakukan secara positif dan menyenangkan setiap keunikan setiap peserta didiknya.

Pada bagian suasana kelas penulis menceritakan suasana yang amat berbeda. Dengan setting zaman perang dunia kedua menambah penasaran peserta didik tentang pentingnya sejarah dalam timbulnya-tenggelamnya peradaban manusia. Tidak sama dengan sekolah konvensional lainnya berbentuk tembok gedung parmanen. Namun kreativitas para pendiri sekolah menyulap bekas gerbong kereta  menjadi ruangan belajar yang menyasikkan dan menyenangkan.



Peserta didik tidak diharuskan duduk di satu kursi tetap setiap hari. Peserta didik boleh memilih tempat duduk sesuai dengan mood dan keinginannya yang memang cenderung berubah setiap saat. Bahkan peserta didik tidak terlalu larut dalam duka ketika ada temannya meninggal dunia, sebab peserta didik tidak dihadapkan dengan bangku yang tiba-tiba kosong.



Peserta didik dibebaskan oleh kepala sekolah untuk memulai pelajaran apa hari itu. Kadang peserta didik belajar menggambar. Peserta didik dibolehkan mencoret-coret lantai aula sampai mereka puas. Setelah puas mereka harus menghapusnya sampai bersih. Kadang rasa lelah yang muncul ketika membersihkan lantai tidak menyurutkan minat mencoret lantas. Pelajaran ini sekaligus mendidik peserta didik untuk tidak mencoret sembarang tempat.

Di sekolah ini sista tidak diharuskan mengenakan pakaian seragam.Hal yang membuat penulis terkesan, mereka diharuskan mengenakan pakaian terjeleknya. Agar peserta didik bebas mengeksplorasi  berbagai hal, tanpa kawatir dimarahi ketika baju yang digunakan ke sekolah menjadi sobek, rusak, kotot, kena cat. Penulis sering pulang ke rumah dalam kondisi baju sobek, bahkan hingga dalaman. Namun mamanya tidak pernah marah.

Totto-chan merupakan salah satu siswa yang beruntung sekolah di Tomoe. Dia tidak pernah tahu mengapa sekolah itu yang dipilihkan mamanya, ketika dia di DO dulu. Mamanya hanya menyarankan sekolah kamu pindah ya? Tanpa perlu penjelasan “bahwa dia dikeluarkan dari sekolah dulu karena nakal. Cap nakal pada anak akan membuat anak depresi,  rendah diri, tidak percaya diri, kurang mau berprestasi. Meskipun kemampuannya hebat. Dia mengakui, mamanya memang hebat. Jauh sebelum berkembang.

Padahal anak seusia dia, di sekolah dasar belum tahu menahu tentang konsep nakal. Meskipun sebagian guru memberi label ‘nakal’ terhadap anak yang sedikit kreatif, senang mengeksplorasi alam, dan terkesan memilih cara berbeda dari teman-temannya. Pernah suatu hari, ketika pelajaran sedang berlangsung dia sengaja mendekati jendela, memandang ke luar, berbicara dengan burung-burung, “Engkau sedang apa?” hanya untuk memuaskan rasa ingin tahunya tentang burung-burung. Namun guru tidak pernah menghardik, membentak, dan memarahi di hadapan teman-temannya.

Pernah juga suatu hari, ketika sedang belajar dia memanggil pemusik jalanan,sing agar memperdengarkan lagunya. Hal ini membuat kelas menjadi gaduh dan bising. Namun guru membiarkan. Kemudian dia duduk, membuat suara berisik dengan membuka dan menutup laci meja ratusan kali, untuk memasukkan dan mengeluarkan alat-alat tulis. Sang guru tidak bisa menyalahkan, karena sebelumnya semua guru mengatakan “Kalian semua hanya boleh membuka dan menutup laci saat mengeluarkan atau memasukkan peralatan belajar.”Dia hanya melakukan itu. Padahal di sekolah lain, tatkala dia melakukan hal yang sama, peserta didik yang lain gaduh, guru pun tidak tahan, ibunya di panggil, dan Totto-chan harus mencari sekolah lain.

Dia sangat beruntung dimasukkan ibunya ke Tomoe Gakuen. Sekolah yang didirikan oleh seorang pakar pendidikan Jepang, Mr. Sosaku Kobayasi yang menerapkan konsep “Merdeka Belajar” Istilah yang dipakai Bapak Nadiem Makarim. Seorang kepala sekolah yang sangat disayangi dan dikagumi Totto-chan. Ucapan kepala sekolah yang selalu membesarkan hati semua peserta didiknya adalah “Kau adalah anak yang sangat baik. Kau tahu itu khan?”

Ucapan membesarkan hati itu memberi rasa percaya diri pada semua peserta didiknya. Totto-chan tidak merasa dia nakal, bahkan berbagai kelakuan yang tidak lazim yang dilakukan peserta didik, tidak sedikitpun dicela. Misalnya suatu hari dia menjatuhkan dompet kesayangannya ke penampungan kotoran. Totto-chan  mengaduk tumpukan kotoran itu hingga berantakkkan. Kepala sekolah tidak memarahinya, hanya bilang, “Kau akan mengambalikan semuanya seperti semula, kan? Dan itu yang akhirnya dilakukan Totto-chan, mengembalikan dompet seperti semula. Walau untuk hal itu dia harus berjuang keras.

Untuk melatih rasa percaya diri peserta didik di sekolah ini. Peserta didik harus membawa bekal dua jenis makanan yang disebut kepala sekolah. Satu makanan yang berasal dari laut, dan satu makanan yang berasal dari gunung. Di sela-sela acara makan bersama di aula, akan ada anak yang dipergilirkan setiap hari untuk meaju dan bercerita tentang apa saja di depan kelas. Hal ini sangat seru, anak-anak boleh cerita semampunya, peserta didik yang lain sangat menghargai, bertepuk tangan.

Sekolah ini semacam sekolah alam. Peserta didik belajar langsung praktik di alam. Misalnya peserta didik di ajak ke makam pahlawan. Walau jauh berjalan, Totto-chan dan teman-temannya amat senang dan bersemangat. Mereka diajarkan menghargai setiap perjuangan, dan perjuangan orang lain.

Suatu ketika kepala sekolah memanggil petani. Dia menjadi guru pertanian mengajarkan peserta didik cara bercocok tanam. Mereka juga diajarkan menghargai makanan. Menghargai jasa dan usaha para petani. Menjelang liburan datang mereka diajak menginap bersama di tempat-tempat terindah di alam, sehingga setiap peserta didik merasakan kedekatan dan keakraban dengan teman-temanya dan tahu bagaimana memperlakukan orang lain.

Totto-chan sangat menikmati suasana pembelajaran bersama teman-temanya di Tomuo-Gakuen. Temannya banyak, di antaranya Yasuaki Yamamoto, Akira Takahashi, Miyo Kaneko, Sakko Matsuyama, Taiji Yamanouchi, Kunio Oe, Kazuo Amadera, Aiko Saisho, Keiko Aoki, Yoichi Migita, dan Miyazaki. Kelak, mereka menjadi orang sukses semua.

Sayang sekali, sekolah alam Tomoe Gakuen yang dibangun tahun 1937 tersebut tidak berumur panjang. Sekolah hebat tersebut hancur akibat bom Amerika pada Perang Pasifik 1945, karena dibangun atas biaya sendiri, tidak mudah bagi Mr. Kobayashi untuk membangun kembai. Buku ini terbit pertama kali tahun 1981. Sebuah novel yang terdiri 63 bab pendek. Buku ini sudah diterjemahkan dalam puluhan  bahasa di dunia dan dibaca puluhan juta orang, karena sangat inspiratif.

Dari sekian bab buku tersebut, satu bab yang kurang pas untuk konteks budaya Indonesia, apalagi masyarakat Islam. Yakni ketika anak-anak kelas 1 Tomoe dibiarkan berenang dengan bugil. Dengan argumentasi kepala sekolah  agar peserta didik dapat menghilangkan rasa minder, dan meyakinkan peserta didik, mereka sama saja, bahka anak yang kekurangan fisik tidak lagi merasa malu dan rendah diri dengan terbiasa mandi telanjang dengan teman-temannya.

Batusangkar, 07 Maret 2020



Jumat, 31 Januari 2020

DIAM EMAS BICARA BERFAEDAH

Jumat, Januari 31, 2020 0 Comments
Tidak selamanya diam itu emas, dan tidak selamanya juga berbicara itu berfaedah. Diam menjadi emas jika diam itu lebih baik dan menyelamatkan diri dan orang lain dari kerusakan dunia dan akhirat. Berbicara menjadi berfaedah atau bermanfaat jika berbicara itu mendatangkan kebaikan diri dan orang lain baik di dunia dan akhirat.

Hari ini, ketika orang mengagungkan harta benda, kebebasan berbicara, dan hak azasi. Diam dan berbicara tidak pada tempatnya. Ketika situasi menghendaki harus diam malah dia berbicara. Ketika kondisi mengharuskannya berbicara malah memilih diam. Hidup dijaman kebablasan, harus lebih hati-hati, karena sulit membedakan orang baik dan tidak baik. Susah mencari teman shalih dan kadang pura-pura shalih padahal salah.

Memilih untuk diam di rumah, tidak keluar kecuali ada keperluan, tidak suka ngumpul atau kongkoi-kongkoi malah dibilang aneh-aneh. Padahal hidup itu pilihan. Bukan seberapa bagus kita memilih, tetapi seberapa tepat pilihan itu berdasarkan standar syariat. Ukuran baik dan buruk, terpuji dan tercela berdasarkan hukum syarak, bukan akal apalagi nafsu. Suatu perbuatan dikategorikan baik disebabkan dua hal, hal yang mendorong perbuatan itu, dan apa tujuan suatu perbuatan. Suatu perbuatan itu didorong oleh niat ikhlas karena Allah, dan tujuan perbuatan itu untuk mendapatkan ridha Allah maka perbuatan itu adalah baik. Jika perbuatan itu didasarkan niat bukan karena Allah dan tujuannya untuk menyenangkan manusia lain, itulah perbuatan buruk, meskipun di mata manusia baik dan bermanfaat.

Kadang aneh. Melihat orang suka ngumpul dan bicara macam-macam. Pagi hari, setelah sarapan ngumpul sama tetangga, ngomongin orang lain? Siang menunggu anak pulang sekolah ngumpul lagi, ngomongin orang lain. Sore habis mandi ngumpul lagi ngerumpikan orang lain. Malam bersemangat bercerita dengan suami gunjingkan orang lagi. Membicarakan orang lain sangat enak, dibumbui dengan cerita tambahan sebagai penyedap. Nampak orang lewat dibilang macam-macam. Habis bahan obrolan, kucing lewat jadi pembicaraan. Pokoknya masalah-masalah sepele yang tidak pantas dibicarakan jadi omongan hangat. Kira-kira apa manfaatnya ya? apakah senang? bahagia? bangga? puas? mengetahui permasalahan orang lain, meskipun tidak jelas kebenarannya. Kadang suka mengorek-ngorek aib orang hanya yang harus ditutupi karena tidak layak jadi konsumsi umum. Kemudian aib itu menjadi konsumsi renyah untuk disebarkan ke banyak orang. ketika aib orang viral, ia bertepuk tangan di belakang kegelisahan dan kegalauan orang lain. Padahal yang disebarkan itu hanya hasil melihat secuil, mendengar sepotong, membaca sebaris, menganalisis sedikit, sudah berani menyimpulkan seutuhnya. Semua perbuatan di atas adalah sekilas contoh berbicara yang tidak berfaedah, malah menambah dosa.

Ketika yang diomongkan nyata dan benar keadaanya pada orang yang dibicarakan maka itu disebut perbuatan menggunjing, mengghibah, dan menggossip. Orang menggunjing itu sama dengan memakan bangkai saudaranya (QS.Al-Hujurat [49]:12). "


Ketika yang diomongkan itu hanya berdasarkan prasangka dan dugaan saja, tidak benar beritanya, maka itu adalah fitnah. Sementara fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Firman Allah "


Boleh berkumpul dengan tetangga, boleh membicarakan sesuatu, asalkan sesuatu yang dibuacarakan itu tidak berkaitan dengan orang lain, atau aib orang lain, singkatnya bicara sesuai standar syariat. Misalnya membicarakan tentang tentang cara mendidik anak, meningkatkan nafsu makan anak, kuliner terenak di dunia, permasalahan umat, naiknya gas melon, pencabutan subsidi, kontraversi BPJS, dll, dianalisis secara mendalam untuk mencari penyebab, hingga ditemukan solusi cerdas bagi kesejahteraan umat. Sesekali diganti dengan membicarakan ilmu, wajibnya menuntut ilmu, akibat tidak berilmu, manfaat ilmu, atau bicara hikmah, motivasi kehidupan, cara meningkatkan ketaatan dan ketaqwaan, karakter muslimah shalihah, wajibnya hijab (jilbab dan khimar), dan peran muslimah di tengah kancah peradaban dunia. Inilah contoh bicara yang berfaedah. Ketika semua orang yang berkumpul mengeluarkan pendapatnya maka sikap yang lebih baik juga berbicara, ikut menimpali, memberikan pendapat, menawarkan solusi, membandingkan dengan teori-teori yang sedang berkembang, bagaimana solusi Islam atas masalah itu. Jangan memilih diam, justru diam dalam konteks ini adalah diam yang tidak emas, tetapi diam seolah-olah tidak tahu, dan terkesan tidak intelek.

Jadi, tidak setiap diam itu emas, dan tidak pula setiap bicara itu berfaedah. Namun emas dan berfaedah diukur dari hukum syarak. Seorang muslim semua perbuatannya terikat dengan hukum syarak. Perbuatan manusia tidak terlepas dari perintah dan larangan Allah. Jika perintah itu pasti dan jelas hukumnya wajib, jika perintah itu tidak pasti hukumnya sunnah, jika larangan itu pasti hukumnya haram, jika larangan itu tidak pasti hukumnya makruh,  jika hukumnya pilihan boleh melakukan atau tidak melakukan hukumnya mubah. Contoh perbuatannya silahkan cari sendiri. Di situlah kewajiban setiap muslim dan muslimah untuk menuntut ilmu, terutama ilmu Islam, sehingga paham perbuatan mana yang tergolong wajib, sunnah, mubah, haram dan makruh. Hindari menjalankan perintah agama tanpa ilmu. akibatnya bisa terbalik-balik yang wajib dikatakan tidak wajib, yang sunnah dikatakan haram. Ketidaktahuan terhadap hukum syarak, bukan hanya salah dalam beramal, tetapi menyebabkan amalan tersebut tidak bernilai pahala. Sudah capek, habis waktu melakukan suatu amal, ee ujung-ujungnya kosong melompong.

Keep hamasah untuk terus belajar.

Selasa, 28 Januari 2020

URGENSI RASA MALU

Selasa, Januari 28, 2020 0 Comments
Fakta kehidupan menyampaikan bahwa rasa malu kian tergerus dalam kehidupan orang. Contohnya di media sosial. Ditemukan banyak foto, baik foto biasa maupun foto selfi berbagai gaya, dari gaya klimis, narsis, romantis, sampai agamis. Begitu juga video, komentar, celotehan, ungkapan rasa hati, kecewa, bahkan rahasia pribadi diumbar tanpa rasa malu. Bahkan ada yang mempublikasikan keromantisan yang seharusnya dirahasiakan di belakang pintu kamar pribadi. Ada juga membuat status tentang aktivitas dan kemajuan pekerjaan setiap hari, sehingga orang lain sampai hafal karakternya di media sosial. Jika tidak sempat posting status satu kali saja, kita akan bertanya:"Ada apa gerangan, kok tidak buat status hari ini?"

Tidak masalah kita buat status di media sosial, asalkan isinya kebaikan, nasehat, dakwah, hikmah, motivasi, atau informasi terkini. Tidak masalah juga posting video, jika dengan video itu diri kita dan orang lain mendapat pelajaran berharga tentang dien kita dan kehidupan. Namun jika semua sisi kehidupan kita posting, akan menguras tabungan privasi diri dan kehormatan kita di hadapan orang lain. Kita perlu menyisakan privasi dan rahasia pribadi dan rahasia kehidupan kita sebagai indikator bahwa kita masih memiliki rasa malu. Tidak semuanya harus diumbar. Tidak semuanya harus diketahui orang. Paling ironisnya, mengumbar amal shalih lewat foto dan video dengan caption "Alhamdulillah sudah selesai tilawah 1 juz", "Alhamdulillah sedang transit di Dubai menuju Mekkan dan Madinah", "Alhamdulillah lagi di Muzdalifah". Kira-kira dari foto dan video ibadah itu pesan apa yang mau disampaikan? dakwah?, motivasi?, entahlah. Seolah-olah dua Malaikat Allah tidak mampu mencatat secara rinci semua amal shalih seorang hamba.

Rasa malu juga berfungsi sebagai filter kewarasan. Orang waras masih memiliki rasa malu ketika berbuat sesuatu di luar kewarasan. Berbeda dengan orang gila, tidak ada lagi rasa malu melakukan perbuatan tidak waras. Ya iya lah, orang gila memang tidak waras. Lebih gila lagi ketika orang waras, melakukan perbuatan tidak waras. Orang gila melakukan sesuatu yang tidak waras masih dimaklumi orang. Namun orang waras melakukan hal yang tidak waras, berarti ada gangguan kewarasan.

Ketiadaan rasa malu pada orang waras adalah awal kehancuran suatu kaum atau suatu bangsa. Sebagaimana Sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam "Jika Allah hendak menghancurkan suatu kaum, maka terlebih dahulu Allah melepas rasa malu pada kaum itu."(HR. Bukhari dan Muslim).

Pepatah Minangkabau juga mengatakan "

Rasa malu mendatangkan kebaikan. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam Bersabda: "

Jadi rasa malu adalah seluruhnya mengandung kebaikan. Rasa malu yang tepat adalah rasa malu karena syariat, bukan rasa malu karena manfaat, apalagi rasa malu yang tidak tepat. Adakah rasa malu yang tidak tepat?. Ada. Ketika rasa malu tidak pada tempatnya. Mengatasnamanakan rasa malu padahal sebenanrnya gengsi. Misalnya malu pakai jilbab dan kerudung, malu pakai kaos kaki, malu melaksanakan shalat, malu puasa, malu membaca al-Qur'an, malu memutar murathal al-Qur'an, malu bicara Islam, malu nanti dibilang sok alim, sok suci, sudah hijrah, dan malu berbuat amal shalih lainnya. Inilah malu yang tidak tepat. Menenmpatkan rasa malu terhadap manusia di atas rasa malu terhadap pencipta. Padahal Rasulullah menegaskan: "

Kedudukan rasa malu dalam syariat Islam sangat tinggi. Sebagaimana sabda Rasulullah:"

Senin, 27 Januari 2020

SEDERHANA ITU RINGAN

Senin, Januari 27, 2020 0 Comments
Keindahan dalam pilihan kemuliaan

Sederhana menjadikan pemimpin mulia,
Menjadikan rakyat jelata bermartabat, 
orang kaya dicintai, dan orang miskin terhormat.

Sederhana bukan kemegahan, 
apalagi kemewahan dan gemerlapan. 
Tetapi ..
Perasaan qonaah penuh kesyukuran, 
Mengundang do'a dan ketulusan dalam kerahasiaan.

Sederhana itu pilihan,
Terkadang terlihat rendah di mata insan 
yang mengukur kemuliaan dengan keduniawian, 
namun...terlihat tinggi di mata para perindu jalan kenabian.

Sederhana itu meringankan dan memudahkan.
Sederhana dalam makanan meringankan badan,
Sederhana dalam berpakaian meringankan perjalanan,
Sederhana penampilan meringankan perjuangan,
Sederhana dalam pikiran meringankan tindakan,
Sederhana dalam tutur meringankan hubungan,
Sederhana gaya hidup memudahkan pendapatan.

Sederhana itu menyelamatkan.
Sederhana dalam takut menjauhkan maksiat,
Sederhana dalam harapan menguatkan taat,
Sederhana dalam cinta melezatkan ibadat,
Sederhana dalam keluarga menguatkan ikatan dalam akad.
Sederhana dalam pertemanan menghilangkan hasad.

Sederhana adalah pilihan hidup para Nabi, Rasul, 
Orang shaleh, dan Orang beriman yang belajar taat. 
Menapaki jalan perindu Syurga bukan jalan mulus
 bertabur bunga, tetapi jalan berliku penuh tanjakan,
Tikungan, dan turunan tajam.

Allahu a'lam bissawab.


MAAFKAN, JIKA SAYA LUPA

Senin, Januari 27, 2020 0 Comments
Pagi itu, di salah satu masjid di kota ini. Saya dihampiri akhwat sebelum kajian dhuha dimulai, "Masih ingat saya bu?" saya terdiam, berusaha keras untuk mengingat,  namun gagal. "Dulu, saya mahasiswa ibu," dia mencoba membantu ingatan saya, namun sebegitu keras saya berusaha mengingat, tetap saja saya tidak mampu mengingat akhwat tersebut.

Sebenarnya, saya bisa saja berargumen bahwa mahasiswa yang pernah saya ajar itu banyak. Datang silih berganti setiap tahun akademik. Ditambah lagi saya pernah mengajar tidak di satu perguruan tinggi.

Saya tidak tega melihat ekspresi kecewanya. Wajahnya sangat berharap saya mengingat dia. Namun saya tidak mampu. Saya hanya tersenyum, menanyakan kabar, dan mendo'akannya. Dia menjawab, tapi kelihatan agak kecewa, karena saya tidak menyebut namanya. "Ya Rabb bantu hamba mengingat namanya" do'a saya dalam hati".

Kejadian ini tidak sekali, dua kali terjadi. Ini pengalaman yang tidak menyenangkan, ketika bertemu seseorang yang berusaha mengingatkan saya tentang dia, namun saya berulang kali tidak berhasil mengingat nama, kapan, dan dimana bertemu dengannya. Ini peristiwa memalukan, bahkan menyedihkan bagi saya pribadi. Sama halnya dengan saya, ketika menyapa seseorang, namun orang itu tidak mengenal atau tidak ingat saya, atau pura-pura tidak ingat.

Pengalaman ini pernah terjadi. Ketika saya bertemu seseorang yang sudah saya kenal bertahun-tahun. Kemudian komunikasi terputus, dia hidup di kota lain. Dia sukses dalam karirnya, punya anak berprestasi, rumahnya mentereng, dan memiliki kenderaan mewah. Ketika bertemu, saya ucapkan salam tapi tidak dijawab, jabatan tangan saya tidak dibalas, malah dia pergi seolah tidak pernah kenal saya. Saya heran, ada apa ini? apakah saya pernah menzaliminya? Belakangan, saya dengar dari beberapa teman, memang selama ini dia memang demikian, kecuali pada pejabat, orang berkedudukan, terhormat, kaya, dan berjasa padanya. Barulah dia akrab.

Saya heran, masa sih kita harus demikian? Merasa tak pantas ramah pada semua orang? Terutama pada mereka yang seaqidah dan sesama muslimah? Islam yang saya pahami tidak demikian. Kenapa kita harus lupa daratan, menjadi manusia tinggi hati, dan alkibr. Kriteria alkibr di antaranya: merendahkan dan sengaja melupakan orang lain, tidak menyapa, tidak mengucapkan salam, tidak tersenyum, serta enggan berjabat tangan.

Oleh karena itu, wahai ananda sayang, jika kita pernah membahas sepenggal ayat Allah dalam kelas, maafkan ibu jika ibu lupa nama ananda, ibu hanya manusia biasa yang memiliki keterbatasan."
Ibu pun berusaha sekuat tenaga mengingat siapa yang pernah ibu temui, berteman dengan ibu, dan pernah belajar dan beraktivitas bersama ibu,
karenanya maafkanlah ibu, jika ibu lupa."

Jangan sungkan untuk menyapa, mengucapkan salam dan ulurkan tangan jika berjumpa. Insyaa Allah saya akan menyambut dengan hangat, baik saya berhasil mengingat, ataupun tidak. Karena, saya juga sedang belajar untuk menjadi teman yang baik, yang hangat bagi muslimah lain, bukan karena sok akrab, tapi karena belajar dan berusaha mengikuti tuntunan Nabi kita.

Bukan hal yang sulit untuk tersenyum, mengucapkan salam, berjabat tangan pada sesama muslimah. Walau saya tahu ada juga orang yang enggan melakukan itu pada semua muslimah. Ada orang yang lebih memilih mulutnya terkunci, salam tak terucap, dan enggan berjabat tangan antar sesama muslimah.

Tetapi bagi kita, hanya Allah yang Maha Tinggi yang berhak sombong, meski kita tahu Allah juga Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tidak wajar dan tidak pada tempatnya kita merasa lebih berhak tinggi dan sombong dari Allah? Na’udzubillahi min dzalik. Sekali lagi, maafkanlah, jika saya lupa.

Masjid Baitul Muttaqin Kota Malang, 140719

Senin, 20 Januari 2020

MENJADI DIRI SENDIRI

Senin, Januari 20, 2020 0 Comments
Tanpa disadari, terkadang kita kehilangan independensi dan kesejatian diri. Gaya hidup dipilih atas dasar gengsi, bukan pilihan sadar, terencana, penuh kalkulasi, sesuai kemampuan diri, dan terhindar dari berbagai konsekuensi.

Demi gengsi kadang tanpa sadar kita dicekoki ideologi asing, seperti  kapitalism, materialism, liberalism, pragmatism, dan hedonism. Ideologi asing menjadikan kekayaan, harta, uang, mobil, emas, dan kesenangan dunia sebagai simbol eksistensi dan keberhargaan diri. Demi simbol itu, kita melakukan berbagai upaya untuk memperbanyak kuantitas simbol-simbol tersebut.  Ukuran keberhargaan diri bagi idelogi asing itu adalah kuantitas kepemilikan harta. Semakin kaya seseorang semakin dihormati, diperhitungkan, dan disegani. Untuk itu, mereka memperbanyak jumlah simbol-simbol kekayaan (rumah mewah, mobil mewah, perabotan mewah, perhiasan, aneka  barang elektronik bermerek, canggih keluaran terbaru dll).

Bagi penganut ideologi asing itu,  hanya simbol-simbol tersebut dan kesenangan ragawir yang diperjuangkan. Wajar saja, mereka tidak meyakini hari berbangkit, dan menafikan keberadaan Tuhan dalam hidup mereka. Anehnya, kita yang meyakini Islam sebagai agama sekaligus ideologi pun  terjebak dengan ideologi tersebut, sehingga pandangan kita terhadap kemuliaan manusia pada awalnya pada tingkat ketaqwaan,  bergeser pada pandangan kemuliaan menurut perspektif ideologi asing tersebut. Kita mempersepsi hidup bahwa ukuran kemuliaan manusia adalah banyaknya jumlah simbol-simbol kekayaan seseorang. Semakin kaya semakin dimuliakan, dihormati, disegani, dan disanjung. Sebaliknya semakin miskin, bersahaja, hidup sederhana, dan tidak punya semakin dipandang hina. Terkesan kita menafikan ukuran kemuliaan menurut Pencipta kita.

Demi apa? ya demi gengsi. Kita gengsi dikatakan miskin. Kita gengsi hidup sederhana. Kita gengsi jika tidak punya mobil.  Kita gengsi berjalan kaki. Kita gengsi naik gojek. Kita gengsi jika tidak punya pakaian, tas,  sepatu bermerek. Kita gengsi jika tidak jalan-jalan. Kita gengsi semuanya jika sama dengan orang lain. Kita meletakkan gengsi pada simbol-simbol yang tidak kita buat berlandaskan pemikiran, prinsip, dan ketentuan Pencipta kita. Bahkan kita tidak paham makna gengsi itu sendiri. Kita hanya ikut-ikutan. Kita kadang tidak paham alasan mengapa kita berbuat sesuatu.

Atas dasar ketidaktahuan kita tentang standars hidup Islami. Atas dasar ketidakmengertian kita tentang sistem ekonomi dalam Islam, kita mudah dikelabui dengan istilah "syari'ah" dan "halal." Pengalaman menarik, ketika bertanya pada seseorang yang dianggap mumpuni "Bagaimana menurut almukarram, jika saya ambil pembiayaan pemilikan rumah (PPR) di bank syariah x? Dengan semangat almukarramnya menjawab: "Bagus, menurut saya yg ada label syari'ah itu berbeda akadnya dibandingkan dengan yang konvens. Kenapa? karena segala sesuatu ditentuntukan oleh akad. Orang berzina dan suami istri perbuatannya sama tapi akadnya berbeda, maka hukumnya berbeda, yang satu halal, yang satu haram. Akhirnya  si faqir ilmu fiqih seperti saya menerima pendapat almukarram tersebut. Jadilah ketika itu bambil pembiayaan pemilikan rumah (inilah resiko berbuat tanpa ilmu, semoga Allah mengampuni, aamiin).

Menuntut ilmu itu memang sepanjang hayat. Supaya kita jangan tersesat. Beramal tidak boleh menggunakan ukuran perasaan dan anggapan. Merasa caranya sudah benar, menganggap perbuatan kita sudah benar menurut kita sendiri. Padahal belum sesuai syariat. Kita tidak terkecoh dengan label syari'ah, padahal cara, prosedur kerja, istilah lain yang mengiringi akad itu masih konvensional. Jadi, "kemasannya syariahs isinya tetap konvensional."  Kadang kita tidak peduli, mau syariah, mau konvensional. Sama saja, sama berhutang, masih mendingan dari pada minjam ke tengkulak. Logika ini perlu dikritisi, berutang boleh dalam Islam, asalkan nama, cara, prosedur, dan tujuannya sesuai Islam. Bahkan ayat terpanjang dalam surat al-Baqarah adalah tentang utang, namun harus berlaku syarat dan ketentuan Islam.

Ironisnya, sebagian kita yang sudah tahu hukum suatu perbuatan melanggar ketentuan. Demi apa? Demi gengsi. Kita tidak peduli, asalkan ambisi mempertahankan gengsii tercapai, asalkan kita dianggap gaul, berkelas tepenuhi, cara apapun sah-sah saja, dan aneka bentuk ngeles lainnya. Untuk hal ini logika kita seolah menghadirkan sejuta argumen. Tapi apakah nanti kita masih bisa ngeles di pengadilan Allah.

Demi gengsi kita kehilangan jati diri. Siapa bilang tidak boleh kaya. Buktinya sahabiyah ada yang kaya, bacalah kehidupan Khadijah binti Kuwailid. Kaya itu boleh, yang tidak tepat ingin kaya demi gengsi, demi pandangan orang, dan demi dianggap berada, demi gayag hidup seperti orang berideologi di luar Islam. Demi itu semua, kita rela terjerat hutang Ribawi, membayar kredit mobil, bayar premi asuransi, nyicil rumah, bayar angsuran talangan haji, ikut multi level marketing, deposito, dan bermain saham. Kita beranggapan itu sah-sah saja, karena semua orang melakukan, berarti hukumnyah boleh, tidak apa-apa, riba-riba sedikit tidak masalah.

Kita memilih gengsi dibandingkan rasa takut terhadap sanksi Ilahi. Kita berdalih yang penting akadnya syari'ah, seperti Mudharabah, syirkah, wakalah dll. Apakah cukup hanya sampai diakadnya saja. Bagaimana proses transaksinya, kaitan antar sistem di dalam institusinya, SOP-nya, instansi yang terkait dg akad itu,  dan aturan lain yang menyangkut transaksi itu yg tidak sesuai dengan Islam. Kadang kita masa bodoh dengan semua itu.

Demi gengsi kita merasa sangat hina jika hidup sederhana, hidup bersahaja tanpa hutang. Tidak sampai di situ, kita pun memandang rendah orang yang sebenarnya mampu memnayar cicilan pinjaman Ribawi,  tetapi tidak mau meminjam. Kita mengatakan orang itu bodoh, terlalu idealis, kampungan, tidak pandai mengelola gaji, atau terlalu boros. Padahal kita tidak pernah bertanya bagaimana pandanganya tentang pengelola harta menurut Islam. Penadapatnya tentang pinjaman Ribawi, dan pendapatnya tentang keberkahan hidup. Mana  tahu ia memilih hiduph sederhana, apa adanya, bersahaja, sebagai pilihan sadar dan sukerela karena lebih ringan, lebih rileks, banyak berkah, jauh dari kepura-puraan (pura-pura kaya padahal ngutang, pura-pura hidup mewah padahal ribai,  dan pura-pura elit padahal kredit).

Tidak masalah kita kaya asalkan fondasi pemahaman Islam kita mantap, sehingga kita shalih dan lebih  berakhlak pada orang yang hidup kekurangan, dan lebih menghargai orang yang memilih cara berbeda mengelola hartanya. Boleh kita berpunya, asalkan pondasi ekonomi kita kuat, sehingga tidak terjerat perbuatan Ribawi. Tidak masalah kita punya mobil mewah asalkan tidak leasing, dan mobil kita beli jika butuh dengan  mobilitas  yang  padat, super sibuk, banyak agenda kegiatan, sering keluar kota mengelola bisnis, atau untuk memudahkan berdakwah.  Asal jangan beli mobil demi gengsi, prestise, dan harga diri di mata orang lain, atau karena tidak mau kalah dengan teman sebelah.

Mendingan buang dan kubur gengsi dalam-dalam. Nikmati hidup kitak sesuai pilihan kita. Syukuri semua kondisi sebab itu hidup terbaik menurut Ilahi. Terlihat sederhana itu tidak dosa, asalkan pilihan rela. Terlihat tidak punya apa-apa itu tidak masalah, asalkan berkah. Meskipun dipandang sebelah mata, senyumin aja,  karena mulia tidak ditentukan manusia. Pemberi Rezki juga bukan manusia. Sejatinya kita memang tak memiliki apa-apa, Yang Maha Kaya adalah Allah. Jika diberi kesempatan kaya oleh Allah, itu amanah terbesar, sekaligus ujian keimanan. Apakah semakin taat, tawadhu' semakin dekat pada Sang Pemberi Rezki atau sebaliknya.
Allahu A'lam Bissawab

Selasa, 06 Januari 2015

BERLOMBA DALAM KEBAIKAN

Selasa, Januari 06, 2015 0 Comments

Hidup bukan hal sederhana, namun kompleksitas keinginan, kebutuhan, aktifitas, perasaan, dan akibat. Semua berkompilasi menjadi rangkaian utuh deskripsi sejarah hidup seseorang. 

Sejarah hidup kadang diciptakan sendiri oleh individu. Kadang dipaksakan orang lain. Kadang direncanakan secara internal. Kadang juga dikebiri secara eksternal.

Hidup dalam kondisi dan situasi bagaimanapun tetap harus dijalankan dengan baik, dengan benar, dan normatif. Kita diajarkan oleh orang tua untuk mencintai kebaikan, suka berbuat baik, dan berjuang untuk menegekkan kebaikan. Dengan tujuan dan maksud baik, tetapi sebagian kita mungkin jarang mempertanyakan alasannya, mengapa harus begitu?. 

Kita hanya menerima pesan kebaikan apa adanya, karena memang mengandung kebaikan. Bersama berlalunya waktu, aku meragukan pesan tersebut, dan mencoba mencari jawaban. Ternyata kutemukan, mencintai kebaikan itu memiliki multi efek, baik secara personal maupun sosial. 

Secara personal menurut perspektif psikologis ternyata menenangkan, menenteramkan hati, dan meningkatkan kesehatan mental, sedangkan secara sosial, kita mampu menyelamatkan hidup, diri, dan masa depan orang lain. 

Kebaikan idealnya komprehensif, mulai dari niat atau keinginan, cara melakukan atau proses sampai pada tujuan kita. Artinya kebaikan itu murni terlihat dan terasa baik oleh kita terutama sekali orang lain. Distorsi akan terjadi ketika kita ingin seseorang menjadi baik, namun cara kita salah maka akan terasa tidak baik baik bagi orang lain. Begitu juga cara kita baik namun tujuan dan niat kita tidak baik, kita akan dilabeli sebagai orang munafik bagi orang lain. 

Jadi, apabila kita ingin berbuat baik pada orang lain, atau ingin atau bertujuan memperbaiki orang lain, cara kita memperbaikinya juga ma'ruf dari hulu hingga hilir, dari awal sampai akhir, atau dari niat sampai tujuan juga baik. 

Kehidupan adalah lahan untuk menyemai kebaikan. Mewujudkan manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain, diri kita dan dunia. Ikhtiar secara berkesinambungan untuk menggapai kemaslahatan. 

Hati kita menolak jika ada yang mengatakan: "Sebenarnya tujuan saya baik, agar dia lebih baik di masa yang akan datang" Tujuan baik saja tidak memadai, jika cara kita mencapai tujuan baik menurut kita, dengan menyakitkan hati orang. 

Kata nenek saya: "Maksud hati ingin mendirikan masjid, namun terlihat seperti camp penyiksaan. Hal ini mungkin merefleksikan pada kita, bahwa kita sering kali berdalih dengan mencari alasan yang seolah-olah terlihat rasional, namun sebenarnya kita sangat marah bahkan benci pada orang lain. 

Kita mungkin pernah tidak jujur dangan hati kita sendiri. Kebaikan tidak terkontaminasi dengan maksud dan dalih apapun. Bagaimanapun kita bersikeras mengatakan, bahwa itu demi untuk kebaikan. Jika cara kita salah tetap dinilai sebagai hal yang tidak baik. 

Kabaikan itu hal yang agung. harus dijunjung tinggi, dihargai dengan cara dan tujuan baik. Makanya kita dituntut untuk berlomba dalam kebaikan, bukan siapa ingin memperbaiki siapa, tetapi Siapa yang yang mencintai kebaikan. Selalu Berniat, Bertujuan, Berkata, dan Berbuat Baik. Selalu Berbuat Baik dimanapun, kapanpun, dan kepada siapapun.

Batusangkar,06 Januari 2015

Senin, 26 Agustus 2013

KEKUATAN PILIHAN

Senin, Agustus 26, 2013 0 Comments

Hidup menyediakan banyak pilihan. Memilih melakukan atau tidak melakukan, kiri atau kanan, positif atau negatif, hitam atau putih, berhenti atau maju, memilih jalan taqwa atau fujur, ingin diridhai Allah atau dimurkai, mengeluh atau mencari solusi.
Ketika dihadapkan dengan pilihan, bukan sekadar memilih, tetapi benar-benar memilih. Memikirkan plus minus setiap pilihan, mempertimbangkan berbagai konsekuensi dari suatu pilihan, dan mempersiapkan beberapa strategi untuk mengatasi setiap masalah yang timbul dari pilihan. Hal yang paling penting setiap pilihan terikat dengan hukum syara', yang akan dipertanggungjawabkan nanti di pengadilan Allah Subhanahu Wata'ala.
Ketika memutuskan suatu perbuatan, disitulah kekuatan pilihan. Misalnya memilih mengeluh atau mencari solusi. Jika kita bangun pagi dan terus mengeluh, maka kita mengecewakan diri sendiri dan orang sekitar, bahkan mengecewakan Allah yang mengamanahkan kehidupan. Seakan kita tidak bersyukur atas nikmat yang kita terima.
Awali pagi kita dengan bersyukur. Mulai aktivitas setiap hari dengan bersujud pada Sang Pengatur kehidupan, lewat tahajjud, dzikir, dan berdo'a di sepertiga akhir malam. Lakukan setiap aktivitas dengan penuh cinta, maka beragam solusi menjadi keniscayaan.
Hidup menyediakan banyak media untuk membantu kita berpikir, kemudian mengubah sikap kita agar lebih baik dari hari sebelumnya.
Kita melihat orang sukses dan orang gagal di sekitar kita. Ada orang tidak punya target kehidupan, pemalas, penakut, pesimis, dan tidak berani memulai apapun. Ada juga orang bermimpi besar, bercita-cita tinggi, rajin, berani, optimis, dan memiliki inisiatif memulai sesuatu dari nol.
Sedikit merefleksi kondisi orang gagal dan orang sukes, dapat membantu kita memilih,memutuskan, dan membuat beberapa perubahan dalam hidup. Walaupun berlahan, bertahap namun jelas. Ketika aktivitas kecil direspon baik orang lain, kita ulangi berkali-kali. Kita akan menemukan banyak keajaiban, kemudahan, dan keuntungan. Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum (atau seseorang), kecuali kaum (seseorang) itu merubah dirinya sendiri.
Berpikirlah di luar kotak (think out the box), ambillah pilihan berbeda dari pilihan sebelumnya, berpacu agar lebih baik dari diri kita yang dulu. Berani menjadi eksklusif dari pilihan orang lain, asalkan dalam karidor syariat. Mulailah langkah pertama, satu langkah kecil setiap hari, setiap minggu, setiap tahun menjadi berjuta langkah. Langkah-langkah tersebut mengantarkan kita pada kesuksesan.
Rayakan setiap sukses dengan bersyukur, bukan sekadar bersyukur, tetapi bersyukur secara totalitas, dengan ucapan, hati, dan perbuatan. Sembari mengevaluasi ketepatan, kepantasan, dan kebenaran langkah demi langkah. Perbaiki diri sendiri dengan memperbaiki atau pola pikir (mindset, persepsi), pola hati (keimanan), pola sikap (afeksi dan konasi/niat), dan pola perilaku (behavior/amal), dengan cara yang berbeda.
Jadilah pencari solusi, problem solver, bukan mengeluh (self reminder and my son only)
Wallahu A'lam Bisshawab

Selasa, 12 Maret 2013

OPTIMISME DALAM PERSPEKTIF SUFISTIK

Selasa, Maret 12, 2013 7 Comments



         Keberhasilan menyelesaikan kegiatan ditentukan optimisme dalam merencanakan, dan melaksanaka suatu kegiatan. Boleh jadi dua berbeda memiliki rencana sama. Sama-sama berencana posting tulisan minimal sekali seminggu, namu min hasilnya bisa berbeda. Sahabat A optimis bisa menulis, istiqamah menulis, dan posting, sementara sahabat B kurang optimis, karena kesibukkan padat merayap. Maka hasilnya tidak sama antara sahabat A dan B. 

Sikap optimis, dikenal dengan kata optimisme, berasal dari bahasa Latin "Optimal" berarti terbaik. Sikap optimis menurut Mbah Shapiro adalah mengharapkan hasil terbaik dari situasi tertentu.  Ini tentu tidak mudah, namu juga tidak sulit. Ketika kita mau berpikir positif, berharap hasilnya terbaik tentang sesuatu. Maka sesuatu itu, insyaa Allah hasilnya baik. Bukankah "Aku mengikuti prasangka hamba-Ku." Kata Rabb kita dalam suatu hadit Qudsi.

Sikap optimis laksana api semangat yang mesti dijaga, agar tetap menyala dalam pikiran positif, dan hati yang selalu husnusdzon dalam menatap situasi kehidupan. Optimisme bukan otomatis pada diri seseorang, namun kebiasaan berpikir positif yang dilatih tidak dalam waktu sebentar. Sebab kecenderungan melihat semua hal dari perspektif baik, memiliki harapan baik, ekspektasi positif, dan menyenangkan, bukan menyangkut sisi emosi semata. Lebih jauh berkaitan dengan paradigma berpikir positif dalam setiap situasi. Sesulit apapun situasi tersebut. Orang optimis selalu yakin ada sukses dalam semua kesempatan.

Setangkai bunga Mawar, jika  dilihat orang optimis dan orang pesimis hasilnya berbeda. Orang optimis melihat bunga mawar dari sisi indah bunganya. Sementara orang pesimis memandang bunga mawar dari sisi tajam durinya. 

Demikian juga dalam memandang suatu tantangan. Orang optimis mengartikan masalah sebagai peluang. Sedangkan orang pesimis mengartikan tantangan sebagainmasalah. Perbedaan ini dilatarbelakangi oleh perbedaan dalam pola pikir, respon emosi, ekspresi perilaku menghadapi berbagai pengalaman hidup. 

Menurut perspektif Islam, optimis merupakan harapan yang sesungguhnya. Hal ini disinyalir oleh Imam Al-Ghazali  “Jika seorang hamba menaburkan benih iman, lalu menyiramnya dengan air ibadah, membersihkan hati, maka memiliki harapan tidaklah sulit." Tidaklah hal yang sulit bagi seorang shalih memelihara nyala api optimis dalam semua situasi. Dalam situasi itu, ada sinyal-sinyal hikmah yang dapat ditangkap oleh basyirah orang-orang bertaqwa. 

Senada dengan Ibnu Qudamah al-Muqadasi, mengartikan optimis (raja')  sebagai “Sesuatu yang terlintas di dalam hati, yang merupakan harapan pada masa yang akan datang. Rasa lapang dada karena menantikan yang diharapkan di mana hal yang diharapkan itu memang mungkin terjadi”.

Imam Qusyairi mencoba memberikan arti optimis adalah terpikat hati kepada sesuatu yang diharapkan yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Ada keterpikatan hati secara realistis pada suatu yang bakal terjadi.  Sesuatu yang belum terjadi haqqul yakin diatur, dikontrol  oleh Allah Subhanahu Wata'ala. 

Pengertian optimis 


Jadi, optimisme tidak bermanfaat sebagai tempat bergantung, namun merupakan suatu metode untuk mengeluarkan energi positif perjuangan, sehingga individu dapat mengatasi masalah secara positif sepositif

Ciri-ciri Optimisme


Sekilas telah disinggung sebelumnya karakteristik individu optimis dan pesimis dalam rumusan definis optimisme. Mennurut Ginnis (dalam Shofia F, 2009) orang optimis memiliki ciri-ciri khas sebagai berikut: 1) jarang terkejut oleh kesulitan; 2) mencari pemecahan sebagian permasalahan; 3) merasa yakin bahwa ia mampu mengendalikan masa depan mereka; 5) memungkinkan terjadinya pembaharuan secara teratur; 6) menghentikan pemikiran yang negatif; 7) meningkatkan kekuatan ekspekstasi; 8) menggunakan imajinasi untuk maraih sukses; 9) selalu gembira bahkan ketika tidak bisa merasa bahagia; 10) merasa yakin dengan kemampuan yang hampir tidak terbatas untuk diukur; 11) suka bertukar berita baik; 12) membina cinta dalam kehidupan; dan 13) menerima.

Sebanyak 13 karakteristik orang yang dengan sikap optimis  menggambarkan, bahwa optimisme begitu dahsyat pengaruhnya terhadap pola pikir, perasaan dan perilaku individu dalam meraih sukses. Selanjutnya Alwisol (2004: 116) mengemukakan enam ciri-ciri orang optimis, yaitu: 1) memiliki visi pribadi; 2) bertindak kongkrit; 3) berpikir realistik; 4) menjalindan hubungan sosial.  

Berdasarkan ciri-ciri orang optimis di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa orang optimis memiliki cara berpikir yang rasional, dengan adanya kemampuan untuk meningkatkan ekspektasi, berimajiasi untuk sukses, menghentikan pikiran negatif. Kemudian juga memiliki perasaan positif yang ditunjukkan dengan perasan jarang terkejut oleh kesulitan, merasa yakin bahwa mereka mampu mengendalikan masa depan, merasa yakin dengan kemampuan, selalu gembira dalam kondisi sulit, suka dengan berita baik, mampu membina cinta, dan menerima apa yang tidak bisa diubah. Di samping itu orang optimis juga dapat dilihat dari perilakunya.

Manfaat Optimisme


Sikap optimis memberikan bantak manfaat dalam kehidupan. Banyak keutungan yang diperoleh dari sikap optimis, seperti pendapat Ahmad Farid, optimis  (2007:171) memiliki tiga bagian, yaitu sebagai: 1) energi positif (dorongan); 2) perlawanan; dan 3) sistem pendukung. Sebagai energi positif maksudnya optimisme dibutuhkan untuk kekuatan diri individu, agar mau berusaha dan terdorong untuk bekerja demik kehidupan esok hari yang bahagia atau sukses. Perlawanan maksudnya individu optimis melakukan perlawanan untuk menyatasi masalah, rintangan, tidak gampang menyerah, dan berjuang sekuat tenaga. 

Terakhir sistem pendukung artinya individu optimis menginginkan keberhasilan, punya kemauan untuk berhasil, lalu berpikir berhasil, punya punya sikap yang diperlukan untuk berhasil, dan melakukan hal-hal yang dibutuhkan untuk berhasil.

Seligman dalam Shapiro (2001:101) mengemukakan bahwa “Lebih dari 1000 penelitian yang melibatkan lebih dari setengah juta anak-anak dan orang dewasa, orang optimis jarang menderita depresi, lebih sukses di sekolah dan pekerjaan, dan yang mengejutkan.

Menurut Imam Al-Ghazali dalam Acmad Sunarto (1995:7) amal berdasarkan optimis lebih utama, karena ada cinta mengandung optimisme. Terkait dengan bidang akademik mahasiswa yang akan atau sedang menjalani proses bimbingan skripsi, optimisme mampu meningkatkan daya juang mencari bahan atau di lapangan, kebiasaan belajar yang positif, kebal terhadap kriktik dan masukan dosen pembimbing, serta dapat mengurangi stres ketika dimarahi dosen pembimbing, lebih percaya diri mengemukakan argumentasi pengetahuan kepada dosen, membuat mahasiswa lebih dapat menyesuaikan diri dengan kritikan yang konstruktif dari dosen, teman sesama mahasiswa, dan lebih mampu menikmati usaha penyelesaian skripsi yang dibuat, dan lebih tenang dan bahagia ketika menghadapi kesulitan. Lebih lanjut Goleman (2002:43) mengatakan bahwa optimisme dalam jangka panjang bermanfaat bagi kesejahteraan dan kesehatan fisik dan mental, karena membuat individu lebih dapat menyesuaikan diri dalam kehidupan sosial, mengurangi masalah psikologis dan lebih dapat menikmati kepuasan hidup dan merasa lebih bahagia.

Di samping itu, sikap optimisme akan membuat mahasiswa lebih sukses di perguruan tinggi, baik ketika menjalani kuliah, membuat tugas, meyelesaikan skripsi, maupun dalam mengatasi berbagai masalah, rintangan dan resiko dalam penyelesaian skripsi, bahkan sikap ini tidak saja diperlukan oleh mahasiswa saja, tetapi diperlukan semua orang untuk meraih sukses dalam seluruh sisi kehidupan, baik siswa di sekolah, mahasiswa di perguruan tinggi, pekerja, karyawan di kantor, maupun bidang usaha kecil sekalipun. Sikap ini lebih memberikan kesiapan diri setiap orang dalam menyesuaikan diri di bidang sosial, belajar, karir dan pekerjaan, kehidupan bekeluarga, dan kehidupan beragama.

Luhak Nan Tuo, Senin /12 Maret 2013