Follow Us @soratemplates

Tampilkan postingan dengan label Media Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Media Sosial. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Januari 2021

TIPS HINDARI BAPER DI MEDSOS

Kamis, Januari 28, 2021 0 Comments
Medsoa hanya alat, manfaat dan mudarat tergantung pengguna



Hidup di era media sosial dituntut kemampuan spesial. Bergabung dengan kaum milenial, membutuhkan keterampilan dan skill tingkat tinggi di bidang sosial. Mereka generasi digital native  terlahir di era digital. berbeda dengan generasi X, Y, dan Z yang serba manual. Makanya harus meningkatkan kemampuan dua kali lipat dibandingkan generasi milenial.


Oke..lanjut... apa hubungannya generasi abjad dengan generasi milenial dan baper di medsos? tentu ada hubungan bos. Generasi abjad kurang melek teknologi, sementara generasi milenial luar biasa eksis di medsos. Kadang gampang baper (bawa perasaan) gegara medsos. Menguras perasaan dan mudah digembos, sehingga persoalan karakter atau integritas kepribadian menjadi problem serius generasi tersebut.


Berangkat dari pengalaman pribadi yang mencoba memetakan baper di medsos. Sementara saya menduga, kebanyakkan mereka gampang baper gegara media sosial terutama pada sampel yang diobservasi ditemukan, rata-rata beraktivitas sesuai dengan kecenderungan life style teman di media sosial. cara berpakaian ikut teman, pola liburan ingin seperti teman, kecenderungan hobi hampir sama dengan teman. seolah-olah hidup mereka identik perkembangan trend gaya hidup teman di media sosial.  


Jika satu orang posting berbagai macam gaya di tempat wisata, yang lain tidak mau ketinggalan. Berusaha sekuat tenaga untuk meniru gaya hidup tersebut. seakan-akan hidup di dunia maya adalah perlombaan kegiatan mengunjungi tempat wiasata. Jika satu orang posting poto makanan yang lain berusaha memasak dan ikut posting poto makanan. Seolah dumay menjadi ajang perlombaan tata boga. Paling aneh, sakit hati, konflik interpersonal pun di bawa-bawa sampai ke medsos. Orang lain menulis tentang apa, ditujukan ke siapa tidak tahunya malah temannya yang sakit hati, lalu terjadi sindir menyindir bahkan 'saling balas' komentar dan status di medsos. 


Mencermati fenomena baper ini, saya tertawa sendiri. Inilah gambaran tingkah pola umat dalam bermedia sosial. Barangkali ceo atau owner medsos tertawa geli melihat kinerja mereka telah menciptakan tools ini dan berhasil. Mereka mudah memetakan kecenderungan generasi akhir zaman. Mereka gampang menilai selera dan kemampuan generasi, sehingga gampang menyusun strategi  gozwul fikri atau gozwul tsaqofi. Itu pendapat saya lho ya...


Sebagai pengamat generasi umat akhir zaman, sekaligus terlibat dalam pendidikan generasi akhir zaman, saya menyarankan kepada sahabat-sahabat yang mempergunakan medos, beberapa tips hindari bape di medsos.


1. Jangan Gampang Percaya

Percaya hanya pada enam rukun iman, selebihnya no way. Status baik, alim, bijaksana, dan religius belum tentu orinya begitu. Bisa jadi orang berbeda, aslinya dia sendiri yang tahu. Jika gampang percaya, kita akan kehilangan daya analisis dan filter kebenaran.
Begitu juga ketika lihat foto selfie cantik and manis di pesta, kumpul bareng, makan, jalan-jalan, berkenderaan, dan laporan aktivitas harian di medsos. Jika gampang percaya akan mudah baper, di samping kepo.


Coba saja refleksi diri sendiri. Ketika ingin posting poto selfie, gambar, atau konten, pasti diseleksi secara ketat. Dipilih, disortir, ditanya sana sini "ini bagus gak?" Kadang diedit pakai beberapa aplikasi, setelah terlihat 'waw' baru diposting. Konten biasanya juga demikian, sebelum menulis punya ide, dipikir dan dianalisis dulu. Kadang lakukan survey, baca buku, lihat YouTube, dan pelajari materi latihan, setelah itu ditulis. Kadang sehari belum tentu selesai menulis. Membuat suatu konten tidak sekali jadi, baca lagi, ceck and receck lagi, revisi, setelah fix baru diposting.

2. Selektif dan Solutif


Orang baper biasanya sensitif, terlalu 'peduli' pada sesuatu yang tidak mesti dipedulikan. Melihat sesuatu yang tidak harus dilihat. Mendengar sesuatu yang tidak butuh didengar. Memperhatikan segala yang tidak perlu diperhatikan. Kuncinya, selektif dan solutif dalam bermedsos, dan jaga sikap selektif dan solutif tersebut. Baca dan lihat yang dibutuhkan, ambil yang bermanfaat, selebihnya biarkan, EGP (emang gue pikirin) Egepe...gitu katanya...


Kadang kita perlu bersikap bodo amat atau cuek pada sesuatu yang tidak perlu. Apalagi tidak berkontribusi untuk kebaikan diri, agama, dan akhirat kita. Menghabiskan waktu, menguras pikiran jika berlama-lama di situ. Scroll aja ke layar berikutnya, cari postingan menarik dan dibutuhkan.
Kadang ada status nyampah. Perlu tahu juga ciri status sampah itu bagaimana. Nah ini perlu disearching untuk ide konten selanjutnya.

3.  Pergunakan Fitur Medsos Secara Tepat


Medsos itu laksana samudera luas. Di dalamnya terdapat berbagai ikan, karang, mutiara, dan aneka sumber daya alam. Di dalamnya juga terdapat sampah, kotoran, racun, dan bahaya menakutkan. Media Bermedsos ada manfaat ada mudharat. Ada baik ada buruk. Ada yang penting dan tidak penting. Fokus pada yang bermanfaat, positif dan penting saja membuat kita tidak gampang baper. Jika ada yang membuat kita terganggu gunakan tombol yang ada misalnya unfollow, remove, delete, unlike, block, dan sebagainya. Gunakan tombol itu secara bijak.


4. Santuy dan Tenang


Santai itu perlu agar kita selalu waras. Tenang itu penting agar kita tetap terkendali. Jika kita diremove atau diunfollow di medsos, santai dan tenang saja. Dunia Maya tidak selebar daun "marunggai" eh daun kelor.

Jika tujuan kita bukan eksis di dumai untuk apa gulana diunfollow atau diremove teman?.Toh 5000 teman di FB tidak berkontribusi bagi kebaikan diri.
Jika tujuan kita berbagi kebaikan, mencari pahala, berdakwah, tidak tergantung dengan banyaknya teman. Satu orang yang mengamalkan kebaikan dari postingan kita, insyaa Allah pahalanya mengalir ke sampai akhirat. "Pahala jariyah" kata ustadz, apalagi jika banyak yang mengamalkan. Sungguh pahalanya luar biasa.

5. Bersabar

Sabar itu banyak modelnya. Sabar dalam taat, sabar meninggalkan maksiat, sabar dalam musibah. Di medsos ketiga sabar itu bisa diterapkan. Sabar dalam menyebarkan konten kebaikan, hikmah, solusi, dan kiat secara ikhlas adalah sabar dalam taat. Sabar tidak melihat, membaca, dan membagikan keburukan termasuk sabar dalam meninggalkan maksiat. Sabar ketika kita diunfollow atau diremove teman termasuk sabar dalam musibah. Ini sih pendapat pribadi, jika salah mohon dikoreksi sobat....

Salam Ukhuwah 
Saudarimu
Darimis

Jumat, 01 Mei 2020

KISAH DI BALIK KATA GAES

Jumat, Mei 01, 2020 0 Comments


Teknologi informasi membuat sebagian kita kadang latah. Menggunakan kata atau istilah tanpa tahu makna dan sejarahnya. Di IG atau di Blog, atau YouTube, bahkan siaran langsung medsos, ada yang menggunakan kata "GAES" atau GUYS.

Sepintas lalu, mungkin orang menilai keren, gaul, kekinian, dan responsif perkembangan. Setiap membuka obrolan, sapaan, salam pembuka menggunakan kata guys atau gaes. Namun kita belum tahu dasar filosofis penggunaan kata tersebut. Gaes atau guys adalah bahasa Inggris. digunakan untuk menyapa laki-laki. Namun sekarang dipakai secara umum baik laki-laki atau perempuan. 

Kata guys atau gaes adalah bahasa gaul. Anak muda sering menggunaka istilah ini. Guys atau gaes berarti teman, kawan, atau sahabat. Kata ini belum ada dalam KBBI. Akan repot mencarinya, karena belum dimasukkan. 

Pada majalah The Atlantics yang ditulis Joe Pinsker  menyatakan bahwa kata itu mulanya berasal dari sosok pria bernama Guy Fawkes. (Republika.com). Menurut Wikipedia, Guy Fawkes adalah seorang ekstremis Katolik Roma yang dikenal karena usahanya untuk meledakkan gedung parlemen Inggris pada 5 November 1605. Dia dihukum mati karena tindakannya itu.

Pada masa itu, Inggris mengalami perpecahan agama di mana Gereja Inggris didirikan oleh Raja Henry VIII. Namun Katolik sempat naik di masa pemerintahan putrinya, Mary I. Setelah itu, Protestan naik ketika Elizabeth I bertakhta yang kemudian mendapat ekskomunikasi dari Gereja Katolik di bawah kuasa Paus Pius V. (Kompas.com). Saat ini, di Inggris 5 November diperingati sebagai Hari Guy Fawkes. Dia kemudian dianggap sebagai simbol perlawanan di dunia modern.

“Sebuah kata yang memiliki makna asli laki-laki tetapi sangat sering digunakan menghadapi kelompok orang yang di dalamnya termasuk mereka yang bukan atau tidak menganggap diri lelaki,” kata Pinsker tentang penggunaan kata guys ini. Kalimat Pinsker ini mengingatkan saya kepada sosok penganut kaum sodom. Yang disebut suka sesama pedang. Atau jeruk makan jeruk. 

Pakar etika Jacqueline Whitmore sepakat dan mendukung pendapat Pinsker. Menurutnya, kata ‘guys‘ merupakan istilah ‘slang’ yang sebaiknya tidak digunakan. Kira-kira bagaimana menurut anda?



Senin, 27 Januari 2020

MEDIA SOSIAL HANYA ALAT

Senin, Januari 27, 2020 0 Comments
Media sosial hanya alat, sarana, atau piranti teknologi, sama  dengan sarana kehidupan lainnya. Kemaslahatan  dan kemudaratan suatu alat tergantung pengguna dan penggunaannya. Apakah alat itu digunakan untuk mengumpul pahala sebanyak-banyaknya atau menumpuk dosa  tergantung niat, tujuan, cara, konten, penggunaannya.

Di era revolusi industri 4.0 ini. Peluang dan tantangan hampir sebanding dalam penggunaan teknologi. Kita hidup di dunia nyata dan kadang juga beraktivitas di dunia maya, medsos misalnya. Pertanyaanya apakah ada singkronisasi keberadaan kita di dunia nyata sama dengan di dunia maya. Tampil tawadhu' di dunia nyata juga tampil rawadhu di dunia maya. Jangan-jangan selama ini kita terlihat tawadhu' di dunia nyata, namun terlihat riya' di dunia nyata. Semua sisi hidup dan prestasi kita unjuk di dunia maya. 

Faktanya memang demikian. Ketika berselancar di dunia maya. Terutama media sosial, yang dominan terlihat adalah deretan keberhasilan, aktivitas harian, kegiatan, kesenangan, bahkan kegiatan ibadah. Posting depan Ka'bah,  Jabal Nur, di depan masjib, menyerahkan santunan pada anak yatim misalnya. Terlepas dari niat atau gunakan alasan syiar dakwah, yang dilihat orang hanya itu. Orang lain tidak bisa niat atau tujuan syiar lewat gambar, sebab niat dan tujuan urusan hati. 

Sesekali ajak hati dan nurani paling bening merenungkan eksistensi diri di dunia ini. Bagaimana keberadaan  kita di dunia nyata dan di dunia  maya. Evaluasi dengan jujur, sudah berapa banyak postingan kita yanga bernilai pahala dan seberapa banyak postingan kita berpotensi dosa. Bagaimana cara kita menyeimbangkan dua dunia itu untuk memperbanyak dan mempermudah jalan kita menuju ridha-Nya.

Kadang kita merasa. Jangankan di dunia maya, di kehidupan dunia nyata saja, kita sudah berpotensi dosa. Kemudian, begitu on di media sosial dosanya bertambah, bahkan berlipat ganda. Kok bisa? Tak perlu heran jika di dunia nyata dan dunia maya kontennya sama, seperti

Sebaliknya, ada juga di dunia nyata berhasil mengumpulkan pahala, begitu juga di dunia maya mampu meraup pahala berlipat ganda. Mengapa?, karena dia di dunia nyata dan dunia maya bicara atau menulis kebaikan, hikmah, nasehat pada

Berpikir, berperasaan, bersikap dan berperilaku di dunia nyata dan dunia maya (media sosial) adalah pilihan. Setiap pilihan mengandung konsekuensi pahala atau dosa, memilih jalan taqwa atau fujur, diridhai atau dimurkai Allah. Pada akhirnya setiap pilihan memiliki konsekuensi abadi syurga atau neraka.

Sejatinya, setiap sikap dan perilaku kita di dunia nyata atau dunia maya tidak pernah terlepas dari pengawasan Allah Yang Maha Teliti. Tidak sedetikpun luput dari catatan dua malaikat. Semua yang kita tulis dan kita katakan akan ditimbang di hari perhitungan, di depan Hakim Yang Maha Adil. Alangkah malunya diri kita jika catatan kebaikan kita banyak yang kosong.

Hidup di dunia hanya permainan dan senda gurau, penuh kebohongan dan ilusi, namun bukan tanpa arti, semua kita akan kembali membawa amal menghadap Ilahi. Terus berfastabiqul khairat, jangan pernah berhenti, atau terhenti oleh caci-maki, walau semua orang tak peduli, sebab pahala tidak ditentukan oleh manusia, tetapi tergantung oleh keikhlasan, ittiba' 'alar Rasul dan penerimaan Allah Subhanahu Wata'ala. Wallahu A'lam Bissawab.