Follow Us @soratemplates

Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Juli 2026

ASA SETENGAH JADI

Jumat, Juli 31, 2026 0 Comments

Senja selalu mengajarkan sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh pagi. Pagi pun mengajarkan harapan.  Di antara keduanya, manusia menghabiskan hidupnya: berlari, mengej


ar, mengumpulkan, membangun, berharap, lalu berkali-kali bertanya kepada langit, "Mengapa yang kuusahakan belum juga menjadi nyata?"

Aku pernah berada di titik itu. Hari-hari dipenuhi kesibukan yang nyaris tidak menyisakan ruang untuk sekadar mendengar suara hati sendiri. Pagi dimulai dengan tugas rumah tangga, siang dengan dipenuhi agenda akademik, sore dengan berbagai kewajiban sebagai ibu dan istri, malam dengan tumpukan pekerjaan dan agenda kegiatan yang perlu didesain untuk esok hari. Kalender penuh. Agenda bertambah. Tanggung jawab datang silih berganti.

Semua terasa berjalan, namun semuanya tidak pernah kemana-mana, seolah-olah ada sesuatu yang diam tidak bergerak. Impian yang telah lama disemai seakan berhenti di persimpangan. Setiap kali terasa dekat, ia kembali menjauh. Setiap kali yakin pintu akan terbuka, ternyata hanya dinding yang ditemui. Aku mulai bertanya, apakah semua usaha ini benar-benar bermakna? Ataukah aku hanya sedang sibuk memutar roda yang sebenarnya tidak sedang bergerak ke mana-mana?

Begitulah manusia. Sering kali kita mengukur hidup dari apa yang tampak di depan mata. Kita merasa berhasil ketika mendapat pengakuan, merasa gagal ketika penghargaan belum juga datang. Padahal Allah tidak pernah menilai sebagaimana manusia menilai. Allah melihat keikhlasan yang tidak pernah dilihat oleh siapa pun. Allah mengetahui air mata yang jatuh ketika semua orang mengira kita baik-baik saja. Allah menghitung langkah-langkah kecil yang bahkan kita sendiri telah lupa pernah melakukannya. Lalu mengapa kita begitu gelisah ketika dunia belum memberikan apa yang kita inginkan?.

Pada suatu malam yang sunyi, diri ini mencoba memandang langit. Tidak ada suara selain desir angin. Tidak ada percakapan selain bisikan hati. Saat itulah diri ini menyadari bahwa bintang tidak pernah mengeluh karena harus bersinar dalam gelap. Ia tidak meminta matahari segera tenggelam. Ia hanya menjalankan tugasnya. Bukankah seharusnya manusia pun demikian? Berbuat baik bukan karena dilihat. Berkarya bukan karena dipuji. Mengabdi bukan karena diberi penghargaan. Melainkan karena semua itu adalah bentuk ibadah kepada-Nya.

Para arif berkata bahwa seorang hamba akan diuji bukan hanya dengan kesulitan, tetapi juga dengan penundaan. Sebab penundaan adalah ruang tempat Allah membersihkan hati dari rasa memiliki. Kita mengira keberhasilan adalah hasil kecerdasan. Padahal keberhasilan adalah izin. Kita mengira jabatan adalah buah kerja keras. Padahal jabatan adalah amanah. Kita mengira semua dapat diraih dengan kemampuan. Padahal kemampuan hanyalah sebab, sedangkan keputusan tetap berada di tangan Allah. Betapa sering diriku lupa bahwa hidup ini bukan tentang mempercepat takdir, melainkan memperindah ikhtiar.

Suatu ketika aku membaca kisah sebutir benih. Ia ditanam di dalam tanah yang gelap. Dihimpit oleh batu. Diselimuti lumpur. Tidak ada cahaya. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada seorang pun yang memujinya. Namun justru di tempat paling gelap itulah akar tumbuh. Ternyata Allah tidak pernah menumbuhkan pohon besar di permukaan. Ia selalu memulainya dari kegelapan yang tidak dilihat siapa pun. Begitu juga manusia. Sering kali Allah sedang menumbuhkan akar kesabaran ketika kita merasa hidup sedang berhenti. 

Terkadang muncul tanya, apakah doaku seperti surat yang tidak pernah mendapat balasan?. Kupanjatkan berkali-kali. Kubasahi dengan air mata. Kuhiasi dengan harapan. Namun belum ada tanda-tanda dikabulkan. Lalu aku sadar. Allah Maha Pengatur. Akulah yang terlalu sibuk mendengarkan jawaban yang sesuai keinginanku. Padahal Allah sering menjawab melalui jalan yang sama sekali berbeda. Kadang jawaban itu berupa kehilangan. Kadang berupa penundaan. Kadang berupa kegagalan. Kadang berupa kesabaran yang dipanjangkan. Semua terasa pahit. Tetapi obat memang tidak selalu manis.

Jalaluddin Rumi pernah menulis bahwa "Luka adalah tempat cahaya memasuki diri." Betapa dalam makna kalimat itu. Mungkin selama ini kita terlalu sibuk menambal luka sehingga lupa melihat cahaya yang dibawanya. Luka membuat kita lebih lembut. Kegagalan membuat kita lebih rendah hati. Penantian membuat kita lebih mengenal doa. Dan kesunyian membuat kita lebih dekat kepada Allah. Bukankah itu semua adalah karunia yang tidak selalu disadari?

Aku mulai memahami bahwa ada dua jenis keberhasilan. Keberhasilan yang membuat manusia kagum, dan keberhasilan yang membuat Allah ridha. Keberhasilan pertama bisa hilang oleh waktu. Keberhasiln kedua akan kekal hingga akhirat. Betapa banyak orang yang dikenal manusia tetapi asing di langit. Betapa banyak orang yang tidak dikenal manusia tetapi namanya harum di sisi Allah. Maka mengapa aku harus terlalu sibuk mengejar tepuk tangan dunia?

Kini aku tidak lagi memaknai penundaan sebagai hukuman. Aku memaknainya sebagai proses. Seorang pemahat tidak pernah memukul batu karena membencinya. Ia memukul karena melihat ukiran indah yang belum tampak. Demikian pula Allah. Setiap ujian adalah pahat kasih sayang-Nya. Setiap air mata adalah tetes yang sedang membersihkan cermin hati. Setiap penantian adalah jalan menuju kedewasaan ruh. Mungkin bukan mimpiku yang sedang ditunda. Mungkin Allah sedang membentuk diriku agar layak menerima mimpi itu.

Malam semakin larut. Aku kembali menengadah. Langit masih sama. Namun hati ini berbeda. Aku tidak lagi meminta hidup tanpa ujian. Aku hanya memohon agar tidak kehilangan Allah dalam setiap ujian. Aku tidak lagi memohon jalan yang mudah. Aku memohon hati yang kuat. Aku tidak lagi memohon agar semua cita-cita segera tercapai. Aku memohon agar setiap langkah tetap bernilai ibadah, sekalipun hasilnya belum tampak. Akhirnya aku mengerti, tidak semua yang tertunda adalah kehilangan. Tidak semua yang gagal adalah akhir, dan tidak semua yang tampak setengah jadi benar-benar belum selesai.

Ada karya yang diselesaikan oleh waktu. Ada cita-cita yang disempurnakan oleh kesabaran. Ada manusia yang dipoles oleh air mata, dan ada jiwa yang dimuliakan justru karena ia tetap bersujud ketika harapannya belum menjadi kenyataan.

Hari ini, jika seseorang bertanya kepadaku, "Apakah asamu sudah tercapai?" Aku akan tersenyum. "Lahirnya mungkin masih setengah jadi, tetapi batinku sedang disempurnakan oleh Allah." Karena aku percaya, ketika Allah menjadi tujuan, tidak ada perjalanan yang sia-sia. Dan ketika ridha-Nya menjadi puncak harapan, setiap langkah sekecil apa pun adalah kemenangan.

Ya Allah...jika Engkau menunda apa yang kuinginkan, jangan tunda keikhlasan dalam hatiku. Jika Engkau belum membuka pintu yang kuharapkan, bukalah pintu hikmah agar aku mampu membaca rahasia-Mu. Jadikan setiap kegagalan sebagai jalan mengenal-Mu. Jadikan setiap kesibukan sebagai ladang amal, bukan sekadar rutinitas. Dan ketika nanti Engkau mengizinkan segala asa menjadi nyata, jangan biarkan keberhasilan itu menjauhkan kami dari-Mu.

Sebab pada akhirnya, bukan pangkat, bukan gelar, bukan pujian manusia yang akan menemani kami ke liang lahat. Yang akan menerangi perjalanan panjang itu hanyalah hati yang ikhlas, amal yang diterima, dan cinta yang tidak pernah berpaling dari-Mu. Karena sesungguhnya, asa yang tampak setengah jadi di mata manusia, bisa jadi telah sempurna di sisi Allah, apabila ia melahirkan hati yang semakin tunduk, jiwa yang semakin bening, dan cinta yang semakin utuh kepada-Nya.

Saudara seperjuanganmu

Salam ukhuwah 

Darimis

Selasa, 02 September 2025

MEMAKNAI RASA SAKIT

Selasa, September 02, 2025 0 Comments


Ada kalanya hidup menumpahkan kekecewaan, bagai kaca yang jatuh berderai, berkeping-keping di lantai kesepian. Pecahannya berhamburan, menancap di sudut-sudut ruang gelap jiwa. Saat itu, rasa sakit datang seperti tamu tak diundang, menorehkan luka di sanubari, melemparkan asa ke padang gersang, dan mengusir optimismu yang sulit sekali dicari kembali.

Namun, jangan tergesa menilai pecahan itu sebagai bencana. Sebab di balik serpihannya tersimpan mutiara yang berkilau, menunggu dirangkai menjadi makna. Dari retakan itulah cahaya menembus masuk ke relung hati, membimbing perjalanan menuju cinta Ilahi. Setiap cahaya yang muncul adalah tanda, bahwa kefanaan harus pecah agar rahasia Ilahi berani menyingkapkan diri.

Kekecewaan bukan musibah semata, melainkan undangan suci. Ia mengajakmu menundukkan pandangan dari fatamorgana dunia, menundukkan ego yang selama ini berkuasa, lalu mengantarkanmu menatap Cahaya yang tak pernah pudar. Cahaya itu abadi, tidak terpenjara ruang dan waktu, dan hanya dengan Nur itu seorang hamba bisa merasakan keabadian ukhrawi.

Namun sayang, nurani yang buta sering gagal membaca pesan indah dari kekecewaan. Banyak yang menilainya musibah, padahal ia adalah hadiah tersembunyi. Allah menitipkan kecewa untuk menghancurkan keterikatan pada semu, agar jalan menuju hakikat kembali terbuka. Meski pahit saat ditelan, ia menyembuhkan hati dengan izin Sang Pemilik Keadaan.

Demikian pula ketika manusia meremehkanmu. Mereka menilai kecil, remeh, tak berarti. Mereka bahkan menganggapmu tak layak dipandang. Tetapi sesungguhnya di sanalah kebebasanmu dimulai, sebab rantai penghambaan kepada makhluk sedang dipatahkan oleh tangan-Nya.

Apa gunanya dipandang mulia oleh dunia, bila hatimu masih terikat pada riuhnya sanjungan? Diremehkan adalah obat pahit yang menyembuhkan. Ia melepaskanmu dari penjara penilaian manusia, dan mengembalikanmu pada ikrar sejati: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.”

Maka saat kau diremehkan, jadikan ia momentum syukur. Sebab di saat dunia merendahkanmu, Allah sedang meninggikanmu di sisi-Nya. Hinaan manusia hanyalah debu, tetapi di langit ia menjelma mahkota yang bercahaya. Bukankah para Nabi juga dihina, direndahkan, diusir, bahkan dianggap gila? Namun semua itu adalah tanda pengangkatan derajat mereka di hadapan Pencipta.

Ada pula saat ditinggalkan. Rasanya begitu perih, seakan jantung diremukkan oleh sepi, darah berhenti mengalir, langkah menjadi sempoyongan. Namun renungkanlah: setiap rasa sakit yang datang bukanlah musuh. Ia hadir karena engkau sendiri memberi izin untuk menguasai hati. Padahal ditinggalkan hanyalah ruang kosong yang disiapkan Sang Kekasih, agar engkau sadar bahwa Dialah yang tak pernah pergi.

Ingatlah, mereka yang meninggalkanmu hanyalah perahu rapuh yang memang harus karam. Sebab bila engkau terus bergantung padanya, engkau tak akan pernah berenang ke samudera Ilahi. Ditinggalkan manusia adalah undangan lembut untuk menemukan Allah kembali.

Kadang kesepian yang lahir dari perpisahan justru adalah khalwat yang agung. Kesendirian itu bukan kegelapan, melainkan cahaya. Dalam sunyi, engkau bersanding dengan dirimu sendiri, menakar kesiapan menghadap Ilahi. Bila engkau terus terjebak dalam keramaian, bisa jadi jalan pulang semakin terlupa, dan lehermu dicekik perlahan oleh manisnya tipu daya dunia.

Maka janganlah bersedih saat mereka pergi. Jangan ratapi langkah yang menjauh. Sebab yang hilang hanyalah bayangan semu. Yang sejati tetap ada: Dia, yang selalu menunggu tangismu di sepertiga malam, memanggil dengan mesra, “Wahai hamba-Ku, Aku merindukanmu.”

Dan ketika penghinaan menimpa, biarkanlah. Jangan melawan dengan amarah, sebab penghinaan bukanlah racun. Ia adalah pisau cahaya yang lembut, mengupas lapisan ego yang membungkus jiwa. Ego yang sombong adalah dinding besar yang menghalangi perjumpaan dengan-Nya. Maka pisau penghinaan itu bekerja, mengiris halus, membuka jalan, hingga yang palsu luruh, dan yang tersisa hanyalah Dia.

Begitulah rahasia Ilahi: kekecewaan, hinaan, kesepian, dan kerendahan, semuanya bukan musibah. Mereka adalah sahabat yang menyamar, wajah keras kehidupan yang membawa pesan lembut dari Kekasih Sejati.

Siapa yang mampu membaca pesan itu, ia akan menemukan keindahan di balik luka. Ia akan tahu bahwa setiap retakan adalah cermin, setiap kehilangan adalah jalan pulang, setiap penghinaan adalah pembersihan, dan setiap kekecewaan adalah pintu menuju Allah.

Maka jangan takut pada luka. Jangan gentar pada kehinaan. Jangan berlari dari sepi. Sebab semua itu hanyalah jalan yang menuntunmu pulang, pulang kepada Dia, satu-satunya yang abadi, satu-satunya yang layak dicintai, satu-satunya tempatmu kembali. 

Rabu, 27 Agustus 2025

ADA SAMA DENGAN TIADA

Rabu, Agustus 27, 2025 0 Comments


Wahai diri…

Di tengah temaram engkau melangkah, tertatih, sempoyongan, oleng ke kiri dan ke kanan. Jalan panjang terasa kian gelap, sementara asa yang engkau kejar makin samar, redup, seakan kehilangan wujudnya. Padahal engkau sudah mengerahkan ikhtiar yang terbaik, sekuat tenaga, meski momentum demi momentum yang dulu dirajut dengan susah payah kini retak satu per satu. Ijazah doktoral yang seperti tak terpakai, akun riset yang terus terblokir, jadwal mengajar yang tidak manusiawi. Semua seakan bersekongkol menjatuhkanmu dalam jurang putus asa. Maka engkau pun bertanya pada dirimu sendiri: haruskah aku terus merajut asa dari sisa-sisa harapan yang rapuh ini?

Wahai diri…
Pernah ada percikan semangat yang lahir dari percakapan dengan guru besar, sekadar obrolan akademik di ruang sidang skripsi mahasiswa, yang membuat jiwamu kembali hidup, meski sekejap. Namun percikan itu padam lagi, saat engkau kembali berhadapan dengan jalan buntu: jadwal kuliah yang menumpuk sembilan sks dalam satu hari, penempatan di ruang kelas yang tak kondusif, keputusan-keputusan yang tidak pernah mempertimbangkan nuranimu. Engkau pun tersungkur, bukan karena lemah, melainkan karena terlalu sering ditabrak oleh sistem yang kaku, dingin, dan tak peduli.

Wahai diri…
Engkau sadar, di mata sebagian kolega, eksistensimu tak lebih dari “wujuduhu ka‘adamihi” ada sama dengan tiada. Adamu hanya sekadar fatamorgana: tampak dari kejauhan, hilang saat didekati. Engkau tahu dirimu penuh arti, penuh dedikasi, dan kehadiranmu berarti bagi mereka yang engkau bimbing dengan tulus; tetapi di hadapan orang-orang yang hatinya tertutup, keberadaanmu hanyalah bayang yang tidak pernah dianggap. Bahkan lebih pahit lagi, ketidakhadiranmu justru dirayakan oleh para pendengki. Mereka berbahagia ketika engkau tiada, mereka bersorak dalam diam ketika engkau tergelincir.

Wahai diri…
Bukankah engkau sudah terlalu lama mengalah? Dari tahun ke tahun, engkau dijadikan korban demi ambisi orang lain. Mulai dari jadwal mengajar yang dilempar ke hari Sabtu hanya karena engkau dosen baru; namamu yang dihapus dari daftar hanya karena alasan fungsional; tak pernah diikutsertakan dalam kegiatan, tulisan, dan penelitian hanya karena alasan "sudah cukup"; hingga jadwal mengajar hari Jumat yang dipaksakan tanpa ruang dialog. Pertanyaannya: haruskah engkau terus mengalah, membiarkan penindasan berulang, seolah-olah dirimu memang pantas menjadi tumbal kepentingan orang lain?

Wahai diri…
Jangan biarkan kelembutanmu menjadi jalan bagi orang lain menindasmu. Jangan biarkan kerendahan hatimu disalahartikan sebagai kelemahan. Mulai detik ini, belajarlah asertif. Beranilah berkata tidak pada setiap pemaksaan yang dibungkus dengan kedok kebaikan. Beranilah menolak ketika sesuatu bertentangan dengan nurani dan prinsip hidupmu. Bahkan jika perlu, beranilah mati dalam membela kebenaran. Sebab ridha Allah tidak akan pernah hadir dalam kebohongan yang dipoles manis, dan rahmat-Nya tidak akan pernah lahir dari kezhaliman yang dibiarkan.

Wahai diri…
Namun ingatlah, meski dunia menganggapmu tiada, sesungguhnya engkau tetap ada. Ada di hati mereka yang engkau tolong dengan tulus, ada di jiwa mereka yang engkau sentuh dengan kata sederhana, ada dalam doa orang-orang yang engkau bantu di tengah kesulitan, ada dalam rindu sahabat yang menanti canda tawamu untuk menghapus lelah. Engkau tetap ada bagi mereka yang menyebut namamu dalam doa di sepertiga malam.

Dan renungkanlah ini, wahai diri: ada sama dengan tiada bila engkau berpaling dari Pencipta. Ada sama dengan tiada bila imanmu luruh, bila aqidahmu goyah, bila doa dan zikir tak lagi menjadi penopang langkahmu. Manusia sering tertipu oleh “ada” dunia: oleh cinta yang fana, harta yang sirna, tahta yang cepat berganti. Namun bagi Allah, satu-satunya “ada” yang sejati adalah amal yang ikhlas, amal yang menjadi cahaya abadi di hari perhitungan.

Wahai diri…
Jangan lupa, engkau datang dari ketiadaan. Engkau lahir sebagai musafir yang singgah sebentar di dunia, memungut serpihan pahala untuk bekal perjalanan panjang. Dan engkau akan kembali menuju tiada, bukan sebagai kehilangan, melainkan sebagai pertemuan dengan asal mula kehidupan. Maka jangan terpesona oleh “ada” yang menipu, jangan bersedih bila manusia menganggapmu “tiada.” Sebab hakikat ada dan tiada hanyalah dua sisi dari satu kenyataan: tunduk pada Sang Pengatur Kehidupan.

Dan pada akhirnya, camkanlah: hanya Allah Al-Ḥayyul QayyÅ«m, Yang Maha Ada. Dia ada tanpa permulaan, Dia ada tanpa penghabisan. Dia ada yang tak pernah menjadi tiada. Dan ketika engkau melebur dalam-Nya, maka meski dunia menganggapmu tiada, sesungguhnya engkau sedang bersemayam dalam Ada yang abadi.

Ruang Hampa, Rabu 27 Agustus 2025



Rabu, 14 Agustus 2024

MENGABADIKAN KENANGAN

Rabu, Agustus 14, 2024 0 Comments


Mengabadikan kenangan merupakan ikhtiar melipat dan menyimpan kisah dan waktu dalam lembaran hati, agar yang pernah singgah tidak larut dalam debu fana. Ia bukan sekadar mengikat gambar pada kertas, bukan pula sekadar melafalkan kisah dalam ingatan, melainkan menyimpan rapi setiap detik sebagai mutiara yang berkilau di samudera jiwa.

Setiap kenangan adalah pesan Pencipta yang ditulis dengan tinta rahasia. Ada yang ditorehkan lewat tawa, ada yang disembunyikan dalam luka, ada pula yang dikirimkan melalui pertemuan dan perpisahan. Kadang warna dan rasanya bisa manis atau pahit, indah atau getir, sejatinya hanyalah bahasa Rabb untuk menuntun manusia mengenali dirinya sendiri untuk selanjutnya wahana mengenal Pencipta.

Mengabadikan kenangan bukanlah keterikatan, melainkan penyerahan. Bukan menggenggam masa lalu dengan cengkeram yang kaku, tetapi merelakannya berjalan di sungai waktu, seraya tetap menjaga kilaunya dalam bening kesadaran. Sebab yang terindah dari kenangan bukanlah bentuknya, melainkan hikmah yang ditinggalkannya. Yang kita abadikan sejatinya bukan peristiwa, tetapi cahaya makna yang menyertai peristiwa itu.

Kenangan ibarat cermin, di mana jiwa dapat menatap dirinya dari masa yang telah berlalu. Dalam cermin itu kita melihat betapa segala yang kita cintai hanyalah titipan, betapa yang kita miliki hanyalah pinjaman. Lalu hati berbisik pelan: tiada yang abadi, kecuali Dia Yang Maha Abadi. Maka mengabadikan kenangan adalah zikir yang tersembunyi, sebuah doa dalam diam, agar yang pernah ada tetap menjadi cahaya yang menuntun langkah kembali kepada Sang Pemilik Waktu.

Adakalanya, mengabadikan kenangan membuat kita menangis; bukan karena ia hilang, melainkan karena ia terlalu indah untuk dilepas. Namun air mata itu pun adalah bentuk syukur: bahwa Allah pernah menghadirkan momen yang begitu berharga dalam perjalanan hidup. Syukur bahwa kita pernah mencicipi kasih sayang, pernah merasakan kehilangan, pernah belajar tentang arti sabar.

Dan sesungguhnya, kenangan adalah taman ruhani. Di dalamnya bunga-bunga doa mekar, meski musim telah berganti. Setiap pertemuan yang kita abadikan menjadi pengingat tentang kasih-Nya, setiap perpisahan yang kita rawat menjadi jalan pulang untuk menambatkan hati kepada-Nya.

Mengabadikan kenangan, pada akhirnya, adalah perjalanan ruh menuju pemahaman terdalam: bahwa segala sesuatu di dunia hanyalah bayang-bayang yang berlalu, dan hanya Allah yang tetap Ada tanpa pernah tiada. Maka, siapa yang mengabadikan kenangan dengan kesadaran ilahi, sesungguhnya ia sedang mengabadikan dirinya sendiri di sisi Allah dalam doa, dalam rindu, dalam cahaya yang tak pernah padam.

Batusangkar, 14 Agustus 2024


Rabu, 04 Oktober 2023

SEMUA TAKDIR ALLAH ITU SEMPURNA

Rabu, Oktober 04, 2023 0 Comments

 


Cobalah dudukkan hatimu sejenak dalam ketenangan. Ajak ia berbicara dengan penuh kelembutan, jangan biarkan ia larut dan tenggelam terlalu dalam dalam lumpur kesedihan, kekecewaan, keresahan, dan kegelisahan. Sebab sesungguhnya, semua rasa itu bukanlah jerat yang Allah paksa untukmu, melainkan pilihan yang engkau rawat dalam diam.

Ketahuilah, bukan karena engkau lemah hingga rasa itu menguasaimu. Bukan pula karena dirimu tak punya daya. Hanya saja, engkau belum menemukan cara yang tepat untuk merespons setiap peristiwa yang hadir di hadapanmu. Setiap kejadian membawa pesan, namun sering kali kita keliru membaca isyaratnya.

Perasaan negatif adalah bayangan yang lahir dari persepsi keliru. Apabila pandanganmu buram, hatimu pun resah. Namun jika engkau mengubah cara memandang, maka yang tadinya gelap akan tampak terang, yang tadinya getir akan berubah menjadi pelajaran, dan yang tadinya luka bisa menjadi cahaya penuntun perjalanan.

Sesungguhnya, ketika persepsi itu engkau luruskan, jiwamu akan merasakan keteduhan.
Jika engkau memandang peristiwa dengan husnuzhan, hatimu akan tentram, perilakumu akan baik, dan langkahmu akan lebih terarah. Engkau tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga tumbuh dalam setiap ujian.

Ingatlah, engkau memiliki cukup energi untuk tetap optimis. Allah tidak pernah menciptakanmu lemah tanpa daya. Dalam dirimu tersimpan kekuatan yang hanya akan muncul bila kau percayai dan gunakan di jalan yang benar. Hari esok tidaklah menakutkan, ia hanyalah ladang amal yang menunggu untuk digarap.

Namun jangan salah, hari esok sejati bukanlah sekadar detik-detik dunia. Hari esok yang hakiki adalah perjumpaan dengan Allah di negeri akhirat. Di sanalah penentu sejati perjalanan, di sanalah surga menanti dengan segala kesempurnaan dan kebahagiaannya. Jika demikian, untuk apa engkau terlarut oleh hiruk pikuk dunia? Apakah pantas engkau menangisi sesuatu yang memang diciptakan tidak sempurna? Dunia hanyalah ladang, bukan tujuan. Ia hanyalah perantara, bukan puncak kebahagiaan.

Ibarat seorang musafir, engkau hanya singgah sebentar di dunia ini. Tempat persinggahan tidaklah seindah tempat tujuan. Engkau hanya mengisi perbekalan, mempersiapkan bekal terbaik untuk melanjutkan perjalanan panjang menuju kampung abadi: surga Allah yang penuh rahmat. Sungguh, inilah rahasia yang membuat seorang mukmin tetap kuat. Ia tidak runtuh meski badai dunia mengguncangnya. Ia tidak layu meski harapan dunia pupus. Karena ia tahu, dunia memang fana, dan akhiratlah yang kekal.

Itulah sebabnya ia tetap bersemangat. Ia tidak kehilangan arah meski jalan berliku. Ia memilih langkah yang paling tepat karena ia sadar, setiap detik yang berlalu adalah ladang amal, setiap pilihan adalah bekal menuju pertemuan dengan Tuhannya. Wahai jiwa, perbaruilah syakofahmu tentang Islam. Perdalam pemahamanmu tentang hakikat hidup, tentang untuk apa engkau diciptakan, dan kemana engkau akan kembali. Hanya dengan ilmu dan iman yang benar, engkau bisa menata hidupmu dengan bijak.

Belajarlah menata hubunganmu dengan Allah, sebab Dialah sumber segala kekuatan. Belajarlah menata hubunganmu dengan manusia, sebab merekalah sesama musafir dalam perjalanan. Belajarlah pula menata hubunganmu dengan alam, sebab ia amanah yang dititipkan kepadamu.
Dan jangan lupa, belajarlah berdamai dengan dirimu sendiri.

Ketika semua hubungan itu tertata dengan baik, engkau akan mampu menempatkan setiap  Peristiwa dunia pada posisinya. Engkau tidak akan mudah runtuh oleh musibah, tidak pula terlalu jumawa dengan nikmat. Sebab hatimu telah terikat hanya pada satu tujuan: mencari ridha Allah semata. Dengan cara itu, engkau akan merespons peristiwa dunia bukan dengan emosi, melainkan dengan kebijaksanaan. Bukan dengan amarah, melainkan dengan kesabaran.
Bukan dengan keputusasaan, melainkan dengan doa dan tawakal. Di situlah letak kedamaian seorang mukmin yang sejati.

Maka, wahai jiwa yang sedang gelisah, pahamilah: dunia hanyalah titipan, kesedihan hanyalah ujian, dan bahagia sejati hanyalah ketika engkau kembali kepada-Nya. Jadikan setiap langkahmu sebagai bekal menuju keabadian. Dan yakinlah, siapa pun yang menjadikan Allah sebagai tujuan, maka dunia akan terasa ringan, dan akhirat akan terasa indah. Wallahu a‘lam.

Kamis, 27 Januari 2022

IT'S MY DREAM, NOT HER

Kamis, Januari 27, 2022 0 Comments

Lagi viral di jagad medsos, ungkapan Kinan di serial Layangan Putus, yang lagi tayang di WeTv. Terutama satu dialognya:  "It's my dream mas, not her!" Saking viralnya, sampai-sampai di beberapa instansi dibuat meme yang diunggah melalui beberapa kanal medsos.

 Sahabat, saya bukan ikut-ikut memparodikan ungkapan ini, tetapi lebih ke opini saya pribadi. Terlepas serial ini diadaptasi dari novel berbasis kisah nyata kehidupan penulis, tapi yang jelas banyak ibrah yang dapat dipetik dari serial ini:

1. Seorang hamba harus punya impian (dream) dalam hidup


Sebagai seorang hamba insyaa Allah kita punya impian masuk surga Firdaus, lalu melihat wajah Allah dalam jarak paling dekat. It's my dream, just not your dream, and not her." 
Cara tercepat meraih impian besar ini adalah melalui pernikahan. Pernikahan adalah separuh dari agama. Betapa banyak ibadah-ibadah yang luar biasa pahalanya diperoleh di rumah tangga. Pahala ini tidak diberikan Allah kepada para jomblo. Seorang suami memandang wajah istrinya dinilai sama pahalanya dengan dua rakaat shalat Sunnah. 

Demikian juga seorang istri, masuk surganya sangat mudah, hanya dengan shalat lima waktu tanpa shalat sunnah, puasa wajib bulan ramadhan, taat pada suami, dan menjaga kehormatan diri, harta dan anak. Maka Allah mempersilahkan istri memilih salah satu dari delapan pintu surga untuk dimasuki. Idealnya ini dream teragung seorang istri. 

Suami punya dream, istri pun punya dream, dan menikah pasutri menghormati, bersinergi dan berkolaborasi meraih dream masing-masing. Receh sekali jika impian berumah tangga hanya sekadar menghalalkan hubungan seksual, punya rumah mewah, jalan-jalan setiap pekan,  dan mengoleksi benda-benda yang akan ditinggalkan. Duniawi dan manusiawi sekali memang, It's not wrong. 
Manusia lainpun punya impian yang sama. Lalu dimana letak spesialnya. Saya mencoba me-list impian baru dalam hidup, agar hidup bukan sekadar hidup, tetapi hidup untuk mendedikasikan diri pada Allah Subhanahu Wata'ala. 

Impian saya dan suami, seperti mengunjungi dan beribadah di Makkah dan medinah sebelum mengunjungi kota-kota lain di dunia. Impian berikutnya pergi ke Cappadocia.  Menikmati indahnya Selat Bosporus yang memisahkan Turki bagian Eropa dan Turki bagian Asia, sambil mengulang hadits arbain yang belum hafal-hafal, atau menapaktilasi perjuangan Muhammad Al-Fatih Sang Penakluk Konstantinopel. 

Kami juga punya impian berkunjung ke Palestina, belajar tentang kuatnya ghirah dan 'Aqidah penduduk Syam, sampai Nabi menyebut kehebatan negeri Syam dalam suatu  haditsnya dan dalam Al-Qur'an surah al-Isra ayat 1 sebagai negeri yang diberkahi.
Di negeri Syam itu Nabi dan Rasul lahir. Bahkan, tanda-anda kenabian Nabi Muhammad juga ditemukan di salah satu kota di Syam, yakni Bashar. Sementara, Imam Hasan Basri dan Qotadah menakwilkan kata bumi dalam surah al-A'raf ayat 137 dengan bagian timur dan bagian barat bumi adalah Syam.

Nabi Muhamamd pernah berdoa meminta berkah untuk negeri ini dan berharap agar penduduk Syam dihindarkan dari keburukan dan musibah. Hadits
Riwayat Bukhari menyatakan penduduk Syam senantiasa berada di atas al-haqq yang dominan hingga datang kiamat. "Sebagian umatku ada yang selalu melaksanakan perintah Allah, tak terpengaruh orang yang menggembosi dan tidak pula orang yang berseberangan hingga datang keputusan Allah dan mereka senantiasa dalam keadaan demikian. Mu'adz berkata: Dan mereka adalah penduduk Syam." 
Keistimewaan Negeri Syam lainnya, karena negeri tersebut dinaungi sayap malaikat rahmat dan merupakan pusat negeri Islam pada akhir zaman. Ini seperti riwayat dari Imam an-Nasai. 
Masih banyak riwayat lain tentang Syam, seperti Syam adalah benteng terakhir perang dahysat akhir zaman (HR Ahmad), dikaruniai pasukan terbaik, dan menjadi lokasi turunnya Nabi Isa AS (HR Muslim), dan di negeri inilah kelak Dajjal akan menemui ajalnya (HR Ahmad).
Ini impian bersama sebagai suami istri setelah dikompromikan melalui proses pertimbangan ukhrawi. Sebenarnya banyak lagi impian-impian lain, namun memilih untuk dirahasiakan. 

2. Impian harusnya dirahasiakan


Impian besar harus dirahasiakan, ada beberapa alasan mengapa mesti dirahasiakan:  (a) ketika orang mengetahui impian kita, orang akan berdecak kagum dan memuji impian itu. Pujian di awal berpotensi membuat orang merasa puas, sehingga menurunkan motivasi mewujudkan impian itu; (b) tidak selamanya orang memuji impian kita, kadang ada yang berkomentar negatif, hingga kita lemah semangat dan enggan meraih impian tersebut; (c) ketika orang mengetahui impian kita, kadang ada kecenderungan membandingkan dengan impian dirinya. Muncul kompetisi, dan membuat kita kawatir impian kita ditiru dan dilakukan orang lain lebih dahulu; (d) tidak semua impian kita dapat diterima orang lain. Kadang kita dianggap aneh memiliki suatu impian, atau boleh jadi dihalang-halangi meraih impian tersebut; dan (e) jika kita tidak dapat meraih suatu impian, kadang kita tidak siap dengan komentar negatif dan cemoohan orang lain. 
It's oke, itu kira-kira penyebab utama mengapa kita memilih merahasiakan impian kita terhadap siapapun. 

3. Cara meraih impian harus sesuai aturan Allah


Kita berusaha dan berjuang mewujudkan impian-impian kita, dengan cara-cara yang dibenarkan oleh Allah, sesuai aturan yang dicantumkan dalam al-Qur'an dan dicontohkan oleh Rasulullah. Kita adalah hamba-Nya dan tujuan penciptaan kita hanya untuk beribadah, suatu saat akan kembali pada-Nya mempertanggungjawabkan semua perbuatan. 

Idealnya, kita meraih berbagai impian dunia dalam rangka mencapai impian akhirat. Sukses di duniawi untuk sukses ukhrawi. Hal ini dapat diraih secara bersamaan, asalkan kita paham ihsanul amal, benar niat, benar cara, dan benar tujuan suatu perbuatan. Artinya semua amal perbuatan kita harus sesuai dengan syariat.

Kesuksesan hidup tidak hanya diukur oleh capaian impian duniawi semata, seperti berderetnya gelar akademik, menterengnya karier, atau melimpahnya penghasilan. Kesuksesan sejati diraih jika seluruh capaian itu dalam karidor syariat dan diridhai oleh Allah, serta memberi kebermanfaatan besar pada umat, hingga mengalirkan pahala jariyah, dan kelak, saat menutup usia dalam keadaan husnul khatimah. Hal ini penting dipahami agar umur yang Allah berikan kepada kita tidak sia-sia, tetapi justru memberikan banyak kebermanfaatan bagi diri sendiri dan sesama.

4. Jangan kecewa pada siapa pun ketika impian belum tercapai


Kita lihat dalam serial Layangan Putus, ketika Kinan belum bisa mewujudkan impiannya, dia kecewa pada suaminya. Hal ini tidak perlu terjadi sebenarnya, ketika pasutri itu paham Islam, dan kuat imannya kepada semua rukun iman, terutama iman pada qadha dan qadar Allah Subhanahu Wata'ala. Sikap kita menerima qadha Allah adalah Ridha, ikhlas, tetap husnusdzon pada Allah, sabar, dan selalu optimis. 

Dampak Layangan Putus bagi perempuan atau muslimah begitu besar.  Ada yang geram terhadap perilaku Aris. Sebagai  seorang istri bawaannya curiga, pada suaminya, terjadi trust issue pada pasangan. Istri seolah mendapat tuntunan cara mendeteksi tanda-tanda jika suami berpotensi selingkuh. Seperti pulang kantor jam segini kenapa pulang jam segitu, biasanya penampilan suami begini tiba-tiba trendy. Jarang pakai parfum sekarang pakai parfum dan perilaku lainya dari keseharian suami.

Tentu saja bagi laki-laki yang sudah menikah alias suami menjadi tersudutkan oleh istrinya.  Ada suami curhat di medsos gegara serial Layangan Putus, kebebasannya mulai terenggut. Ada yang sulit keluar rumah, istri selalu mengecek mutasi rekening,  hingga diam-diam memeriksa handphone suami.
Dampak serial ini bagi muslimah yang belum menikah juga tidak tanggung-tanggung, muncul ketakutan untuk menikah, negatif thinking akut pada laki-laki, lebih memilih hidup jomblo, dan berpotensi menyukai sesama jenis. 

Idealnya siapa pun kita ketika menonton atau mengetahui dampak serial ini, dapat memilih sikap dan tindakan bijak. Serial ini semata tontonan, ambil positifnya, buang negatifnya. Minimal membuat kita cerdas dalam membangun hubungan yang harmonis dengan pasangan halal sesuai ajaran Islam. Kita harus bisa membedakan perselingkuhan dengan poligami, perselingkuhan itu dilarang karena perilaku menyimpang, dan poligami dibolehkan syariat. Jangan samakan keduanya. Jika kita samakan, akhirnya kita membenci syariat Islam. Padahal semua aturan Allah adalah solusi dan Rahmat bagi kehidupan manusia dan alam semesta. 

Tidak lantas karena kurang pemahaman tentang Islam, kita membenci syariat Allah. Ketika membaca firman  Allah dan Sabda Rasulullah, sebagai muslim kita wajib samikna wa'athokna (kami dengar dan kami patuh). Persoalan kita belum mampu dan tidak siap,  itu urusan lain. 

6. Syukuri setiap keberhasilan


Selama kita hidup sudah ada bahkan beberapa impian kita tercapai. Apakah kita mensyukuri pencapaian-pencapaian impian itu baik dengan hati, ucapan dan perbuatan? Jika sudah Alhamdulillah, jika belum mulailah bersyukur. Syukur kita terhadap keberhasilan kecil membuat kita sangat bersyukur dengan keberhasilan besar. Nikmat Sedikit saja kita syukuri apalagi nikmat yang banyak.  Bersyukur membuat nikmat Allah bertambah dan kita akan lebih bahagia. 

Jika kita paham bagaimana Allah mengatur semua urusan kita, niscaya kita semakin cinta kepada-Nya. Semua takdir Allah itu baik, jika impian kita tercapai berarti itu impian dan ijabah doa-doa kita, tetapi jika impian kita belum tercapai berarti rencana Allah sangat indah untuk kita. Semua doa kita insyaa Allah diijabah, hanya saja waktu dan cara pengabulan doa yang berbeda. Ada yang dikabulkan segera setelah kita berdoa, ada yang ditunda bebepa waktu, ada yang disimpan jadi pahala dan dikabulkan suatu saat ketika kita siap menurut Allah atau disimpan jadi pahala luar biasa di akhirat.  Makanya ada ungkapan "sesuatu akan indah pada waktunya."

Lalu alasan apa sebenarnya yang membuat kita mengeluh? seakan-seakan kita menafikan  banyak nikmat Allah pada diri kita. Jangan pikirkan nikmat Allah yang belum kita peroleh, tapi pikirkanlah nikmat Allah yang mana saja yang belum sempat kita syukuri. Dengan demikian, milikilah banyak dream, eksekusi, nikmati dan syukuri insyaa Allah kita akan  tersenyum dengan semua tarikan nafas yang masih diberikan kepada kita, hingga masih kita berpeluang untuk mohon hidayah dan mentaubati semua dosa-dosa. Allahu A'lam bisshawab. 

Semoga bermanfaat
Salam ukhuwah dari Saudarimu alfakir ilmu

Darimis

Rabu, 30 September 2020

POTENSI KEHIDUPAN

Rabu, September 30, 2020 0 Comments


Setiap manusia lahir ke dunia, dilengkapi berbagai potensi hidup yang amat  berharga.   Agar hidup menjadi hidup dan bermakna. Potensi hidup tersebut  membuat manusia mampu menjalani dan mengelola kegiatan. Dengan potensi itu pula manusia melakukan semua perbuatan dan aktivitasnya. Tentu saja aktivitas tersebut senantiasa menggunakan standar aturan Allah Subhanahu Wata'ala yang paripurna. 


Manusia memilikil potensi yang sama dengan makhluk hidup di lainnya. Potensi tersebut mendorong manusia melakukan berbagai aktivitas dalam rangka memenuhi kebutuhan jasmani dan mengelola naluri berbasiskan aturan Allah Subhanahu Wata'ala.


Manusia adalah hamba Allah ('abdullah), bukan hamba harta, bukan pula hamba tahta dan hamba dunia. Penghayatan tentang status sebagai hamba Allah akan memunculkan kesadaran,  bahwa hidup untuk menyembah Allah semata. 


Manusia ada bukan sekadar ada. Tapi ada untuk mengabdi pada Yang Kuasa. Berikhtiar sekuat tenaga, menjadi hamba taat dan bertaqwa. Mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya, untuk bahagia di akhirat sana. 


Hidup manusia bukan acak tak terencana. Lahir ke dunia, bukan untuk berbuat sekehendaknya.  Bukan pula hidup suka-suka. Kemudian meninggal dunia. Habis semua perkara. Tetapi hidup untuk beribadah, mengabdi seutuhnya. Bermanfaat untuk agama dan umat manusia. Kemudian kembali kepada Allah Subhanahu Wata'ala, mempertanggungjawabkan semua perbuatan kepada Pencipta. 


Kategori Potensi Manusia

Pencapaian visi hidup tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu perencanaan,  keras keras dan perjuangan. Untuk itu, Allah Subhanahu Wata'ala menganugerahkan potensi hidup, yaitu  potensi bawaan, dan potensi bentukkan. 


A. Potensi Bawaan


Potensi bawaan, artinya potensi hidup yang dibawa semenjak lahir. Diciptakan Allah Subhanahu Wata'ala dengan sedemikian rupa sebelum manusia dilahirkan. Potensi ini dianugerahkan Allah  satau paket dengan ketentuan rezeki, umur, ajal dan pertemuan. 


Macam-macam Potensi Bawaan


1. Kebutuhan Jasmani (Hajatul 'Udhawiyah)


Setiap manusia memiliki kebutuhan jasmani (hajatul 'udhawiyah). Menusia memiliki kebutuhan fisik, agar bisa berdiri, tumbuh, berkembang, menjadi besar, dan mampu berdikari dan mandiri. 


Kebutuhan jasmani adalah segala sesuatu yang dibutuhkan oleh tubuh manusia, karena manusia terdiri dari sel-sel yang butuh pasokan nutrisi, oksigen, dan istirahat.  Jadi, kebutuhan jasmani adalah kebutuhan yang lahir dari kerja struktur organ tubuh manusia. 


Organ tersebut butuh keadaaan tidur, istirahat, suhu, dan kondisi tertentu. Organ itu juga butuh benda, seperti makan, minum, dan udara atau oksigen. Organ juga butuh aktivitas seperti makan, bernafas, dan membuang kotoran. Jika kebutuhan jasmani tidak terpenuhi menyebabkan kerusakan diri dan kematian. 


Secara fisik manusia memiliki berbagai sel, bentuk, warna dan tugas berbeda. Menurut para ahli neurologi manusia memiliki lebih dari 200 juta sel. Setiap sel terdiri dari membran (dinding sel) dan nukleus (inti sel) yang dikelilingi sitoplasma. Sitoplasma mengelilingi inti sel terdiri dari beberapa kromosom. Terdapat 46 kromosom dalam sel sperma laki-laki dan sel telur perempuan. 


Kebutuhan jasmani dimanifestasikan dalam bentuk makan, minum, berkeringat, buang air kecil dan besar, tidur, istirahat, dan bernafas setiap saat. Jasmani manusia tumbuh menjadi besar dan berkembang baik kuantitas dan kualitasnya. Jasmani juga mengalami perubahan baik peningkatan atau penurunan. Saat tertentu jasmani letih, lelah, mengantuk, lapar, dan haus. Bahkan pada saatnya tiba kinerja jasmani akan berhenti, ketika nyawa (sirrul hayah) diambil oleh Allah Subhanahu Wata'ala. 


Jasmani menghendaki pemenuhan kebutuhan, ketika ada rangsangan dari dalam diri, berupa sinyal-sinyal yang dikirim otak ke seluruh tubuh dalam bentuk reaksi emosi (perasaan). Seperti rasa lapar, haus, lelah, mengantuk dan ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam diri. Jika kebutuhan jasmani tidak dipenuhi mengakibatkan kerusakan diri dan bisa menimbulkan kematian, atau sirna di permukaan bumi.


2. Naluri (Gharizah)


Di samping kebutuhan jasmani, manusia memiliki gharizah atau naluri (instink). Terdapat tiga naluri pada diri manusia, yaitu (a) naluri beragama (gharizah tadayun), (b) naluri melanjutkan keturunan (gharizah na'u) dan (c) naluri untuk mempertahankan diri (gharizah baqo'). 


Gharizah muncul akibat rangsangan dari luar, berupa fakta, realita, dan pemikiran tentang sesuatu terkait dengan salah satu gharizah. Gharizah ini perlu dikelola dengan seksama, menggunakan akal dan agama (syarak). Jika gharizah ini tidak terpenuhi tidak akan menimbulkan kerusakan diri dan kematian, tetapi hanya mendatangkan kegelisahan dan penderitaan.


2.1. Naluri Beragama (Gharizah Tadayun)


Naluri beragama adalah naluri untuk mengagungkan, mensucikan, dan memuliakan sesuatu di luar diri. Ada perasaan diri lemah, tidak berdaya, terbatas, kurang, kosong , dan tidak berarti. Perasaan tidak berdaya ini membutuhkan suatu kekuatan di luar dirinya. Itulah Pencipta dan Pengatur Kehidupan.


Naluri beragama perlu dikelola, dengan cara terbaik dan benar menurut syarak. Oleh karenanya, seorang mukmin memenuhi tuntutan naluri ini dengan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata'ala, mengagungkan Allah, melakukan shalat, berpuasa,membayar zakat, melaksanakan amalan-amalan sunnah, seperti shalat tahajjud, dhuha, membaca al-Qur'an dan lain-lain. Naluri beragama ini dikemukakan Allah dalam QS. Az-Zumar ayat 8:


"Dan apabila manusia ditimpa kesusahan, maka ia memohon kepada Rabbnya dengan kembali kepada-Nya."


Kembali kepada Allah, artinya memohon perlindungan dan keselamatan dari segala kesusahan dan penderitaan.Seorang mukmin mengungkapkan semua kisah, suka-duka, kesulitan dan deritanya kepada Sang pencipta. Menumpahkan seluruh rasa, curhat, dan mengadu kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Hal ini adalah fakta kongkrit bahwa manusia memiliki naluri beragama.


Tidak hanya manusia yang memiliki gharizah tadayun, binatang pun memiliki gharizah ini, dengan cara mensucikan atau bertasbih kepada Allah Subhanahu wata'ala sesuai dengan kapasitas, cara, dan tabiatnya binatang.  


Binatang saja bertasbih kepada Allah dengan caranya sendiri. Lantas, alasan apa sebenarnya yang membuat diri ini enggan mendekatkan diri kepada Allah (bertaqarrub ilallah)?. Bahkan orang yang mengklaim dirinya tidak beragama  (Atheis) sekalipun, pada waktu tertentu,misalnya dalam kondiri kritis, goncang dan menakutkan, secara otomatis akan memanggil sesuatu yang ditaqdiskan, dengan kata "Oh My God" 


Jika ditelusuri secara mendalam. Orang-orang yang tidak mengakui adanya Pencipta atau 'Tuhan" sebenarnya tidak benar-benar mengakui tidak adanya Pencipta, tetapi ego mereka terlalu tinggi dan terlihat terlalu sombong untuk mengakui Pencipta. Padahal faktanya mereka sedang mengalihkan pengagungan kepada selain yang mereka sbut Tuhan. Misalnya orang-orang berpengaruh, atau mengagungkan akal mereka sendiri, tanpa mereka sadari. Bagaimanapun naluri beragama akan tetap menghendaki pemenuhan kebutuhan. Manusia tidak kuasa menolak kebutuhan tersebut.


2.2. Naluri Melestarikan Jenis (Gharizah Na'u)


Gharizah Na'u adalah keinginan untuk merasa dekat dan akrab dengan manusia lain, baik orang tua, anak, suami atau istri, sahabat ataupun teman. Manifestasi naluri ini adalah adanya rasa cinta, kasih sayang, dekat, peduli pada lawan jenis, pada suami atau istri, anak, dan orang tua. Hal ini terdapat dalam al-Qur'an Surat al-Baqarah ayat 124:


"Dan ingatlah apabila Ibrahim  diuji Rabbnya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan) lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman Sesungguhnya Aku aku akan menjadikan kamu imam bagi seluruh manusia. Ibrahim berkata dan saya mohon juga keturunan saya. Allah berfirman janji-Ku tidak akan mengenai orang-orang yang dzalim."


Selanjutnya dalam surat Yusuf ayat 24:


"Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu dengan Yusuf dan Yusuf pun bermaksud melakukannya) dengan wanita itu, seandainya dia tidak melihat tanda-tanda (dari) Rabbnya."


Begitu juga kecintaan terhadap keturunan, anak, suami, istri, orang tua, kerabat, dan teman, menjadi bukti adanya naluri melestarikan jenis. Begitu juga adanya syahwat  kepada lawan jenis membuktikan adanya naluri seksual ini.


2.3. Naluri Mempertahankan Diri (Gharizah Baqo')

 

Gharizah Baqo' adalah keinginan untuk mempertahankan diri, bertahan hidup, dan eksis di tengah-tengah masyarakat. Manifestasi dari naluri ini adalah adanya perasaan tidak percaya diri jika diri ada kekurangan diri, dan adanya ungkapan  suasana hati seperti menangis, galau, dan marah, kecewa, dan sebagainya. 


Di samping itu, manusia memiliki keinginan untuk eksis dan narsis. Seperti obsesi seseorang mengikuti berbagai life style, fashion, trend kekinian, ingin tampil cantik menarik, dan menawan. Berbagai upaya dilakukan, mulai dari skin care, senam, erobik, salon dan perawatan kecantikan. Kadang menghabiskan uang yang tidak sedikit. Naluri mempertahankan diri terdapat juga pada makhluk lain, seperti ayam marah anaknya diganggu, kucing mengeong ketika lapar, atau monyet ribut ketika mengambil buah-buahan di kebun manusia, lebah atau binatang lain membuat sarang di pohon kayu untuk berlindung. Dalam QS. An-Nahl ayat 68 dikemukakan:


"Dan Rabbmu mengilhamkan kepada lebah. Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pokok-pokok kayu dan tempat-tempat  yang dibuat manusia."


Ayat ini menjelaskan bahwa manusia dan binatang seperti lebah diberi potensi oleh Allah Subhanahu Wata'ala untuk membangun tempat tinggal agar dapat melindungi dari serangan makhluk lain, udara buruk, iklim, dan gangguan lainnya.


Perbedaan Kebutuhan Jasmani dan Gharizah


a. Aspek Rangsangan: 

Kebutuhan jasmani berasal dari dalam diri manusia, sementara gharizah berasal dari luar diri manusia, yaitu datang dari realitas, rangsangan dan pemikiran.


b. Aspek pemenuhan:

Kebutuhan jasmani menghendaki segera dipenuhi, sedangkan gharizah bisa ditunda. 


c. Jika tidak dipenuhi:

Kebutuhan jasmani jika tidak dipenuhi menimbulkan kerusakan jasmani, membahayakan jiwa, bahkan kematian. Sedangkan gharizah jika tidak dipenuhi hanya menimbulkan kegelisahan saja.


Semua perbuatan yang dilakukan manusia di dunia ini, tidak terlepas dari cara manusia memenuhi kebutuhan jasmani, dan memenuhi rangsangan naluri. Sebut saja semua kegiatan, aktivitas atau perbuatan, maka semua kegiatan tersebut dikategorikan untuk memenuhi kebutuhan jasmani, atau memenuhi naluri. 


Naluri tidak dibunuh atau dihancurkan tetapi dapat ditekan dan dialihkan. Perlu ada kompensasi dengan cara menjauhkan, atau mengalihkan realitas, fakta, kejadian atau pemikiran, yang bisa menstimuli atau membangkitkan naluri tersebut.


Mengalihkan naluri harus sesuai syariat. Seperti hadist Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam: 

"Wahai pemuda, siapa di antara kalian yang telah mampu berumah tangga, maka menikahlah. Sebab menikah itu dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Namun siapa yang tidak mampu maka hendaklah berpuasa, sebab puasa itu dapat melindungi (benteng)" (HR. Bukhari). 


B. POTENSI BENTUKKAN (AKAL)


Potensi bentukan artinya potensi kehidupan yang diperoleh melalui proses belajar atau pendidikan. Bersifat eksternal, didapatkan dari luar diri, berdinamika, sejalan dengan perkembangan  informasi, berpikir, dan kebenaran informasi yang didapatkan. Manusia harus jeli dan teliti mencari dan menerima informasi yang benar. Potensi  bentukkan ini adalah akal.


Akal adalah potensi dan keistimewaan yang diberikan Allah pada manusia. Akal memiliki kemampuan mengaitkan fakta dengan informasi sebelumnya, sehingga lahir penafsiran, kesimpulan, keputusan dan sebagainya. 


Akal berbeda dengan otak. Makna hakiki dari akal ialah berpikir. Meski hewan memiliki otak, tapi ia tidak berakal atau berpikir.  Keberadaan otak saja tidak cukup mewujudkan aktivitas atau proses berpikir, tapi diperlukan komponen lain. Makanya terdapat empat komponen dalam berpikir: (1) fakta atau realitas, (2) indera, (3) otak, dan (4) informasi sebelumnya yang tersimpan di otak.


Akal adalah potensi khas manusia. Akal yang membuat manusia mampu mengerti dan memahami hukum syara’ dan mengikatkan diri pada hukum syark tersebut. Akal berfungsi sebagai pengontrol bagi manusia ketika memenuhi kebutuhan jasmani dan naluri. Sebagai alat kontrol, akal harus tunduk dan patuh pada wahyu Ilahi. Jangan terbalik, akal digunakan untuk mengotak-atik wahyu Ilahi, sehingga mencari cara agar wahyu harus sesuai dengan akal. 


Manusia adalah makhluk paling utama, bahkan lebih utama dari malaikat. Keutamaan manusia terletak pada akalnya. Akal yang telah mengangkat kedudukan manusia lebih tinggi dari malaikat, yang menyebabkan para malaikat tunduk kepada Nabi Adam 'Alaihi Salam, dengan kemampuan akalnya dia mampu menghafal nama-nama atas kehendak Allah Subhanahu Wata'ala.


Definisi Akal


Akal ('aql), pemikiran (fikr), dan kesadaran (al-idrak) adalah sama, yaitu proses pemindahan penginderaan terhadap fakta melalui panca indera ke dalam otak, yang disertai adanya informasi terdahulu, yang akan digunakan untuk menafsirkan fakta tersebut. 


Pemikiran atau akal tidak akan terbentuk tanpa ada fakta. Pengetahuan yang tidak ada faktanya hanyalah kayalan atau ilusi, atau imajinasi. Artinya fakta adalah asas pemikiran, sedang pemikiran adalah pengungkapan atau penilaian terhadap fakta. Tanpa ada fakta tidak ada proses pemikiran. 


Kecepatan berpikir terletak pada kecepatan pemindahan fakta ke dalam otak, dan kecepatan dalam mengaitkan fakta tersebut dengan informasi sebelumnya (ma’lumat sabiqoh), yang tersimpan di dalam otak. Kemudian informasi sebelumnya digunakan untuk menjustifikasi fakta tersebut, hingga menghasilkan respon berupa kesimpulan, keputusan, dan tindakan.


Berpikir merupakan perkara alamiah dalam diri manusia. Hanya saja aktivitasnya membutuhkan penyengajaan. Berpikir membutuhkan pengamatan cermat terhadap fakta. Pencermatan ini sangat diperlukan di awal berpikir, agar mampu menghasilkan kesimpulan yang cermat pula. Ketidakcermatan pengamatan maka akan melahirkan kesimpulan keliru. Maka dibutuhkan pengamatan berulang kali terhadap fakta, butuh banyak informasi tentang fakta, fakta harus valid bukan hoax, sehingga menghasilkan analisis yang memadai.


Ada tiga macam berpikir, yaitu (1) berpikir dangkal, (2) berpikir mendalam, dan (3) berpikir cemerlang (ini tidak diuraikan sahabat, kawatir terlalu panjang artikelnya). Pada kasus tertentu kita perlu berpikir cepat. Berpikir cepat tidak berarti menafikan berpikir mendalam  dan berpikir cemerlang. Ia hanya menafikan berpikir lambat. Sebab, dalam aktivitas berpikir cepat sering kali disertai dengan berpikir mendalam dan cemerlang. Berpikir cepat pada sebagian orang adalah proses alami, yang sudah melalui pembiasaan dalam berpikir mendalam dan cemerlang.


Aktivitas yang membutuhkan berpikir mendalam dan cemerlang contohnya berpikir tentang keberadaan (eksistensi Allah) dan sifat-sifat Allah Subhanahu Wata'ala. Dalam hal ini berpikir mendalam dan cemerlang diperlukan agar aktivitas berpikir mendatangkan manfaat dunia akhirat, menyelamatkan aqidah dari pengaruh tahayul, bid'ah, dan khurafat (TBC), sekaligus dapat menghemat waktu untuk taat totalitas kepada Allah Subhanahu Wata'ala. 


Soalnya ada manusia yang malas berpikir tentang eksistensi dan sifat-sifat Allah, enggan keluar dari zona nyaman, tidak mau keluar dari kondisi aman, sehingga dari hari kehari cara beragamanya tidak berubah. Misalnya nyaman tidak mengkaji ayat-ayat Allah, nyaman shalat terlambat, nyaman dengan besarnya dosa riba, nyaman mengghibah saudara seiman, dan merasa lega membicarakan keburukan orang lain. 


Akan berbeda ketika berpikir dan mengamati segala yang ada di dunia in. Kita senang berpikir tentang hakikat hidup, hakikat alam semesta, dan segala sesuatu yang ada di dunia ini. Hasil pemikiran itu, insyaa Allah akan mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa di balik alam semesta, manusia dan hidup, terdapat Sang Pencipta. Allah Subhanahu Wata'ala menciptakan akal agar manusia mau mempergunakannya untuk menemukan dan memperkuat keimanan kepada-Nya.


Pemikiran mendalam dan cemerlang mengantarkan kita pada pemahaman, bahwa  segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh akal, hanyalah manusia, alam semesta dan kehidupan. Sementara segala sesuatu yang gaib tidak dapat dijangkau akal, walaupun dipaksakan sekuat tenaga, akal manusia tidak akan mampu menjangkaunya. Sebab akal manusia amat terbatas. Untuk beriman kepada yang tidak terjangkau akal (gaib) maka kita harus mempergunakan nash dari al-Qur'an dan hadits Nabi. 


Berpikir tentang manusia berarti kita berpikir tentang wujud fisik, organ tubuh, sel-sel, sifat, kepribadian, potensi, dan perilaku manusia. Berpikir tentang alam semesta berarti berpikir tentang segala hal yang ada di sekitar manusia, baik berupa wujud fisik seperti hewan, tumbuhan, benda-benda mati seperti batu, laut, gunung, matahari, bulan, angin, planet-planet serta kegunaan (khasiat) yang dimiliki benda-benda tersebut.  Seperti pisau berkhasiat memotong, api berkhasiat membakar, atau berkhasiat membasahi. Berpikir tentang kehidupan berarti berpikir tentang segala sesuatu yang bernyawa, kemudian mengalami kematian.


Aktivitas berpikir adalah aktivitas penyengajaan, juga aktivitas alamiah pada diri manusia tentang segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh akal. Sebab akal manusia manusia bersifat terbatas, lemah, serba kurang, dan saling membutuhkan satu sama lain. Jika ada orang yang menjustifikasi, bahwa manusia memiliki sifat yang lemah, terbatas, serba kurang dan saling membutuhkan, adalah benar dan faktual. 


Tidak ada fakta satu orangpun, semenjak nabi Adam hingga sekarang yang memiliki sifat tak terbatas. Ia pasti melalui tahapan pertumbuhan dan perkembangan, mulai kelahiran, tumbuh berkembang, hingga akhirnya mati. Tidak ada manusia pun mampu menahan rasa kantuk, tidak tidur, tidak makan, tidak minum berhari-hari. Ini menandakan bahwa manusia memiliki sifat terbatas, lemah dan serba kurang. 


Demikian juga halnya dengan kehidupan dan alam semesta. Kehidupan berakhir pada setiap diri individu. Tidak ada individu hidup sepanjang masa. Alam semesta merupakan kumpulan benda-benda angkasa juga memiliki sifat terbatas. Himpunan dari segala sesuatu yang terbatas,  pasti terbatas pula sifatnya. Kesimpulannya segala sesuatu yang bersifat terbatas pasti ada batasnya. Ia pasti memiliki awal dan akhir. Ia pasti tidak kekal. Segala sesuatu yang berawal dan berakhir, pasti diciptakan oleh sesuatu yang lain. Dia Allah Subhanahu Wata'ala.


Allah bersifat Azzali, tidak berawal dan tidak berakhir. Dia kekal, tidak diciptakan oleh sesuatu yang lain, juga tidak menciptakan diri-Nya sendiri. Jika dia diciptakan oleh yang lain maka dia pasti bukan Tuhan. Dia tidak serupa dengan ciptaan-Nya, jika serupa berarti Dia bukan Pencipta. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, jika beranak dan diperanakkan berarti dia bukan Tuhan. 


Demikian akal manusia, jika ia digunakan untuk berpikir secara mendalam ia akan menemukan keberadaan Penciptanya, yaitu, Allah Subhanahu Wata'ala. Manusia, alam semesta dan kehidupan tidak layak, bahkan sangat hina jika dijadikan sebagai Rabb.  


Jika kita menemukan ada manusia menyembah manusia, batu, bulan, bintang, matahari, bahkan Iblis. Berarti manusia itu belum atau tidak mau mempergunakan akalnya untuk berpikir secara mendalam dan cemerlang, untuk menemukan Pencipta sesungguhnya. Sebab jika ia mau mempergunakan akalnya secara mendalam dan cemerlang insyaa Allah akan menemukannya. Orang Arab Badwi (pedalaman dan tradisional) saja mampu memberikan jawaban yang tepat, ketika ditanya bagaimana ia mengenal Rabbnya:

"Bagaimana kamu mengenal Rabbmu? Ia menjawab: "Tahi unta menandakan adanya unta, dan jejak kaki menandakan ada orang yang berjalan."


Akal Mampu Membuktikan Islam Agama Shahih


Berpikir mendalam dan cemerlang membuat manusia mampu membuktikan bahwa Islam adalah agama paling benar. Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah utusan Allah, dan Al-Qur’an adalah benar-benar firman Allah. Sebab berpikir, meski ada secara alamiah pada diri manusia, namun prosesnya memerlukan penyengajaan, yaitu proses pencermatan terhadap fakta yang ada. Inilah yang disebut dengan istilah penggunaan kecerdasan. Seorang muslim, penggunaan kecerdasan mulai muncul saat ia beranjak baliqh. Bagi laki-laki ditandai oleh mimpi basah, dan perempuan ditandai dengan haid.  Pada saat inilah segala kewajiban hukum syara’ (taklif) mulai berlaku pada dirinya. Karena pada usia tersebut, penggunaan kecerdasan atau akal telah sempurna. Oleh karena itu, Islam mewajibkan setiap orang baliqh (mukhallaf) untuk mencapai keimanan melalui  proses berpikir.


Setiap mukallaf wajib mempergunakan akalnya untuk  membuktikan adanya Sang Pencipta, yaitu Allah Subhanahu Wata'la di balik setiap penciptaan alam semesta, manusia dan kehidupan. Optimalisasi kemampuan akal akan mengantarkan pada keimanan, sebaliknya tidak mau menggunakan akal akan mendatangkan pengingkaran terhadap Pencipta. Penyebab manusia tidak mau menggunakan akal, boleh jadi karena malas, bisa juga karena kedudukan.


Penggunaan akal menjadikan pembeda antara mukmin dan non mukmin. Akal membedakan manusia beriman dan tidak beriman. Keimanan menjadi pembeda  manusia yang beruntung dan manusia yang celaka. Orang beriman akan mendapat syurga-Nya, sementara yang tidak beriman ditempatkan di neraka. Akal menjadi penentu manusia selamat dan celaka di akhirat.  Hadit Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam:

"Pena diangkat (dibebaskan) dari tiga golongan: (1) orang yang tertidur sampai dia bangun, (2) anak kecil sampai mimpi basah (baligh), dan (3) orang gila sampai ia kembali sadar (berakal)." (HR. Abu Daud).

Jadi akal adalah potensi kehidupan sangat istimewa diberikan Allah Subhanahu Wata'ala pada manusia. Keselamatan dunia dan akhirat berawal dari penggunaan akal. manusia dihisab di yaumul hisab juga karena akal. Untuk itu bertapa banyak perintah Allah agar manusia menggunakan akal. Allah mengajak manusia untuk memikirkan Penciptaan langir dan bumi beserta isinya, semua dijadikan berpasang-pasangan. Ajakan berpikir bagaimana langit ditinggikan, bumi di hamparkan, hujan diturunkan dari langit, dan bagaimana kapal berlayar di lautan. Tujuannya hanya satu agar manusia mempergunakan akal untuk mendekatkan diri, tunduk dan patuh pada-Nya. Wallahu A'lam Bisshawab.

 

Bumi Allah, 30 September 2020.



Senin, 27 Januari 2020

PERBEDAAN ZONA WAKTU

Senin, Januari 27, 2020 0 Comments

Setiap tempat di muka bumi memiliki waktu  shalat berbeda. Waktu shalat Subuh di Malang jam 04.00 WIB. Di Padang masuk waktu Subuh jam 05.00 WIB. Tidak berarti waktu Subuh di Padang lambat, dan waktu Subuh di Malang cepat. Bukan pula bermakna Malang lebih hebat dibanding Padang. Pada kedua kota ini waktu bekerja sesuai zona atau waktu masing-masing.

Demikian juga orang. Ada orang  yang wisuda lebih dahulu, lebih cepat, dan pas waktu yang ditargetkan. Ada pula yang wisuda kemudian, agak lambat, dan molor dari waktu yang ditargetkan. Ada yang cepat naik pangkat, dua tahun sekali, dan biasa-biasa saja, tidak menonjol dan seheboh orang-orang. Namun ada juga orang yang tidak naik-naik pangkat, padahal produktif, orator ulung, dan dikenal hebat. Apakah yang dahulu naik pangkat lebih hebat dari yang tidak naik-naik pangkat. Kenyataanya tidak.

Setiap orang memiliki zona waktu. Intinya setiap orang memiliki qadha dan qadar, episode hidup, dan momentum masing-masing. Setiap orang mendapatkan sesuatu sejalan dengan kecepatannya sendiri-sendiri. Cara kerja masing-masing, itulah kekhassan dan kesejatian diri setiap orang. Setiap orang juga memiliki ukuran baju masing-masing yang hanya sesuai dan pas dengan badannya. Akan longgar atau kekecilan jika dipakaikan pada orang lain. 

Hal terpenting adalah  menyelaraslan cara mencapai keberhasilan tersebut dengan standar dan ketentuan Pencipta. Maka itulah momentum terbaiknya, sebab keberhasilan bukan sekedar hasil di dunia, tetapi harus bermakna di sisi Rabb dan kebahagiaan akhirat.  Setiap pencapaian  adalah  momentum terbaik seseorang  menurut Pencipta untuknya. Tidak masalah kapan kita mencapai, namun bermasalah ketika mencapai sesuatu dengan merendahkan orang lain.

Setiap orang berjalan dan berlari dalam garis perlombaan, jalur, pintasan atau garis waktunya sendiri. Kapan sampai di garis finish tergantung kecepatannya sendiri. Kecepatan itu tidak dapat disamakan dengan orang lain, apalagi dipaksa sama dengan orang yang lebih dahulu sampai. Itu artinya setiap orang hanya boleh membandingkan dirinya yang dulu dengan dirinya yang sekarang. Dirinya yang kemarin dengan dirinya hari ini. Apakah aku yang hari ini sama dengan aku yang kemarin, atau aku yang sekarang berbeda dengan aku yang dulu dalam hal positif.

Jika membandingkan diri dengan orang lain. Menurut perspektif zona waktu tidak relevan, karena alat pembandingnya berbeda, jika dipaksa menggunakan pembanding orang lain, menimbulkan stress, sakit hati, kecewa, putus asa, dan tidak bersyukur atas semua pencapaian. Orang lain bisa saja mungkin "kelihatan" lebih maju, lebih unggul, lebih hebat dari diri sendiri, karena ukuran, standard, episode hidup, rencana, qadha dan qadar Allah berbeda atasnya. Dengan alasan apapun tidak akan pernah bisa membandingkan diri dengan orang lain. Anda pun punya zona waktu tersendiri. Kita tidak cepat, dan tidak pula lambat atas waktu kita sendiri. Bahkan kita sangat tepat waktu dengan waktu kita sendiri. Setiap orang ada waktunya, setiap momentum pas pada waktunya.

Untuk itu, tidak pada tempatnya seseorang iri, dengki, hasat, dan sakit hati dengan pencapaian orang lain. Apalagi pencapaian itu berkaitan dengan aspek dunia yang fana, akan hancur, dan tidak dibawa mati. Iri yang dibolehkan syariat hanya iri melihat pencapaian ukhrawi seseorang. Kita boleh iri dengan ketaqwaan, keshalihan, kedermawanan, kejujuran, keistiqamahan dalam prinsip kebenaran dan idealisme diri, daya juang untuk meninggikan diennya, dan seabrek amalan akhirat lainnya. Iri terhadap aspek akhirat seseorang di samping dibolehkan syariat, juga dapat memotivasi diri untuk lebih baik, dan lebih baik lagi di sisi Pencipta. Maka perjuangan untuk meraih keberkahan Ilahi adalah upaya sungguh-sungguh tak pernah kenal lelah dan kata berhenti. Wallahu A'lam Bisshawab.





DUNIA SELAKSA AIR

Senin, Januari 27, 2020 0 Comments
Siklus air adalah simbol kesabaran atas konsensus alam. Air tidak pernah mengeluh ketika dipanaskan, atau didinginkan. Bahkan dengan dua kondisi itu ia dapat memberikan manfaat bagi orang yang membutuhkan. 

Air siap menjadi asin, manis, keruh dan jernih atau bentuk apapun yang alam inginkan. Namun, ketika saatnya ia harus menguap dan naik ke angkasa ia akan menunjukkan wujudnya yang asli yang BENING dan MENSUCIKAN.

Air memiliki fleksibilitas sifat, ia bisa positif bisa juga negatif. Imam Al-Qurtubi menyatakan dunia selaksa air. Air tidak pernah setia pada suatu tempat, ia mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. 

Sama dengan dunia dunia tak pernah setia dengan pencintanya. Seseorang mencintai dunia, maka orang lain diberi cinta lebih banyak oleh dunia.

Air itu menguap dalam kondisi-kondisi tertentu. Dunia juga menguap, semua keindahan dunia menguap, hilang, dan tak berarti. Orang-orang yang membanggakan dunia, dunia akan menguap dari kehidupannya ketika ia menghadap Ilahi.

Air bersifat membasahi, jika bermain dengan air maka akan basah. Jika bermain dengan dunia, dunia akan membasahi bahkan menenggelamkan kita.

Air bermanfaat jika jumlahnya sedikit, sekadar untuk minum melepaskan dahaga, jika jumlahnya banyak, air akan berbahaya. Begitu dunia, dunia akan bermanfaat jika dimanfaatkan secukupnya untuk bekal perjalanan ke akhirat. Jika dunia digunakan terlalu banyak maka dunia melalaikan beribadah, dunia akan masuk ke hati, enggan keluar, menyebabkan para pecintanya mengkultuskan dunia, dan takut pada kematian. 

Air adalah pasukan Allah, yang senantiasa berdzikir dan patuh pada setiap perintah-Nya. Sama-sama air namun fungsi bisa berbda ketika digunakan pada kaum beriman atau orang-orang shaleh.

Air yang mengantarkan Musa As., ke istana Fir'aun. Padahal Musa mungil sedang dalam kondisi terlemah. Seorang bayi yang dimasukkan ibunya ke dalam keranjang yang belum lulus uji anti bocor. Air juga yang menghancurkan pasukan Fir'aun padahal ia sedang dalam masa jaya dengan imperium terkuatnya.

Kita sebagai manusia semua kejadian adalah hikmah, sarat berkah. Jadikan kisah air dan selaksa air sebagai ibrah. Hidup bukan sekadar hidup, seperti air mengalir. Tetapi hiduplah semata-semata meniru ketundukkan air pada semua aturan Pencipta-Nya. Wallahu A'lam Bisshawab.



KEBERHASILAN ITU RELATIF

Senin, Januari 27, 2020 0 Comments
Keberhasilan merupakan kata besar yang terdapat dalam angan. Satu kata berbanding lurus dengan kesulitan dan pengorbanan.

Semua orang sepakat "setiap insan mendambakan keberhasilan, namun tidak sepakat pada aspek makna, ukuran/standar, bentuk, strategi memperoleh, dan  ekspresi emosi merayakan euforia keberhasilan. Perbedaan ini berimplikasi terhadap relativitas batasan keberhasilan. 

Keberhasilan bagi satu individu bisa jadi belum berhasil bagi individu lain. Menurut satu individu menjadi sarjana mungkin keberhasilan, namun menurut individu lain menjadi sarjana hanya satu langkah menuju keberhasilan selanjutnya. 

Menjadi juara olimpiade Kimia mungkin keberhasilan luar biasa bagi satu keluarga, namun belum berhasil bagi keluarga lain yang menggunakan standar keberhasilan pada banyaknya hafalan al-Qur'an. Oleh sebab itu, apapun bentuk dan ukuran keberhasilan, jangan sampai melupakan Yang Memberi Keberhasilan, apalagi menilai orang lain gagal dan rendahan, disertai sikap arogansi atas karunia Ilahi.

Keberhasilan itu relatif, tergantung standardisasi dan ekpektasi jangka panjang  (

Berbeda dengan orang yang memilih standar dan ekspektasi keberhasilan ukhrawi maka dia akan merahasiakan dan mensyukur keberhasilanya. Mengucapkan masyaa Allah tabarakallah, atau mashaa Allah la quwwata illa billah ketika dipuji orang. Dia senantiasa mendekatkan diri dalam ketaatan kepada Sang Pemberi keberhasilan, sebab dia tidak tahu, apakah keberhasilan itu wujud dari sayang atau kebencian Allah. Terlalu sulit membedakan keberhasilan sebagai wujud ujian, musibah, atau istidraj.

Keberhasilan adalah sebagian rezki Allah, ukuran rezki hanya keberkahan.  Keberkahan tidak  ditentukan oleh jumlah, tetapi ditentukan oleh akibat dari keberkahan. Apakah rezeki itu membawa ketenteraman dalam kataatan kepada Allah. Atau sebailknya rezeki itu memabawa kegelisahan dan pembangkangan kepada Allah.

Strategi memperoleh keberhasilan berbeda pada setiap orang. Jika keberhasilan diawali dengan niat mendapatkan keridhaan Allah semata, maka langkahnya dimulai dengan do'a,  ikhtiar optimal, kerja keras, kesungguhan, kegigihan, penuh semangat, memanfaatkan setiap moment dan waktu, dan diakhiri dengan tawakkal. Ketika berhasil dinikmati dengan penuh rasa syukur dan tawadhu'. 

Jika belum berhasil dia ikhlas dan sabar, sembari terus belajar dan memuhasabah diri atas dosa dan kesalahan di sepanjang proses ikhtiar, tetap dalam ketaatan bahwa semua proses bernilai ibadah, dan tetap husnusdzon bahwa itu yang terbaik dan terindah di sisi Allah.

Namun jika keberhasilan diniatkan bukan untuk selain Allah, maka do'a bisa jadi nomor enam puluh delapan, menghalalkan segala cara,  mendzalimi manusia lain, dan memanipulasi segala bahan, sehingga ketika berhasil bersyukur hanya polesan, dan tawadhu' hanya hiasan lisan. Jika belum berhasil ia menyalahkan banyak insan bahkan Tuhan.

Apapun makna yang diberikan terhadap keberhasilan, keberhasilan tetap suatu tingkat pencapaian. Maka jangan paksakan ukuran keberhasilan kita pada siapa pun, jangan banggakan keberhasilan kita pada siapapun, sebab orang punya ukuran dan makna keberhasilan yang berbeda. Walahu A'lam Bissawab.