Follow Us @soratemplates

Tampilkan postingan dengan label Nafsiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nafsiyah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Juni 2022

JANGAN BERHARAP KEPADA MANUSIA

Jumat, Juni 10, 2022 0 Comments


Sahabat...
Semakin hari kita makin mengerti bahwa hidup ini tidak linear. Jalan tidak selalu lurus, kenyataan tidak selalu seindah harapan. Realita sering kali berbeda jauh dari cita-cita. Ada kecewa yang tiba-tiba datang, pecah dari harapan yang terlalu tinggi pada makhluk.
Terutama harapan pada manusia—baik orang tua, saudara, sahabat, teman, maupun mereka yang kita anggap memiliki kuasa, kedudukan, atau kekuatan untuk membantu kita menyelesaikan segelintir persoalan hidup.

Sahabat...
Berhentilah terlalu percaya, jangan terlalu mencintai, jangan pula terlalu berharap. Sebab segala sesuatu yang berlebihan, pada akhirnya melahirkan luka yang sepadan. Terlalu menggantungkan diri pada manusia sama halnya menanam benih kekecewaan. Ingatlah, tidak semua senyum adalah tanda suka. Kadang ia hanyalah topeng, bahkan bisa jadi tawa di baliknya adalah ejekan yang tidak terucap.

Sahabat...
Jika engkau kecewa, belajarlah untuk tidak menyalahkan orang lain. Sebab sejatinya engkau sendirilah yang memberi izin untuk dikecewakan. Dengan terlalu menggantungkan harapan, engkau membuka ruang bagi luka. Orang yang jelas mencintaimu saja masih mungkin membuatmu kecewa, apalagi mereka yang tidak pernah menaruh cinta padamu.

Sahabat...
Berhentilah berharap pada manusia jika engkau tak ingin hatimu hancur. Sebab berharap pada makhluk adalah jalan menuju penyesalan. Ingatlah pesan Imam Syafi’i:
“Ketika hatimu terlalu berharap kepada manusia, maka Allah timpakan ke atasmu pedihnya sebuah pengharapan, agar engkau mengetahui bahwa Allah sangat cemburu pada hati yang berharap selain kepada-Nya. Maka Allah menghalangimu, agar engkau kembali hanya berharap kepada-Nya.”

Sahabat...
Jangan salahkan siapa pun ketika pedih itu datang. Manusia hanya menilai dan  memperlakukanmu sesuai persepsi yang mereka miliki. Bukan hakikatmu yang mereka lihat, melainkan bayangan yang tercetak dalam pikiran mereka. Dan engkau tak mungkin mengendalikan bagaimana hati mereka menilai dirimu.

Sahabat...
Cara terbaik menghindari pedih dan kecewa adalah dengan berhenti berharap pada siapa pun.
Tentang apa pun, kapan pun, di manapun. Sebab semua pengharapan pada manusia hanyalah fatamorgana yang rapuh. Berharaplah hanya kepada Allah, sumber dari segala sumber pengharapan. Dialah yang tidak pernah mengecewakan. Dialah yang selalu menjawab doa dengan cara terbaik, meski sering tidak sesuai dengan kehendak kita.

Sahabat...
Aku tahu engkau sering mengalah, dan karena itu engkau lelah. Aku tahu engkau sering menahan, lalu diam-diam hatimu patah. Aku tahu engkau ingin lillah, tetapi betapa sulitnya menjaga niat di tengah dunia yang penuh tipu daya. Namun tetaplah yakin, setiap luka akan Allah balut jika engkau kembali pada-Nya.

Sahabat...
Dunia ini bukanlah tempat untuk semua harapan terwujud. Dunia hanyalah ladang ujian, tempat engkau belajar sabar dan ikhlas. Setiap kecewa adalah teguran, setiap luka adalah isyarat, agar engkau tidak salah menggantungkan diri pada makhluk yang fana, tetapi kembali kepada Sang Khalik yang kekal.

Sahabat...
Jangan biarkan hatimu terikat oleh pengharapan pada sesama. Sebab manusia akan pergi, berganti, dan berubah. Namun Allah tidak pernah meninggalkanmu, tidak pernah berubah,
dan tidak pernah berpaling dari hamba yang kembali kepada-Nya. Belajarlah menggantungkan semua cita pada Pencipta. Belajarlah menitipkan semua resah di sajadah, bermunajat kepada-Nya, sebab hanya di hadapan Allah, semua pengharapan akan menemukan jalan.
Dan hanya dengan kembali pada-Nya, engkau akan menemukan tenang yang tak pernah diberikan oleh siapa pun.


Minggu, 23 Januari 2022

MEMBUJUK EGO

Minggu, Januari 23, 2022 0 Comments


Sekelumit sesal meratap, akibat salah berulang, meski berkilah tapi relung hati berbisik lirih pada nurani "Aku rindu baikmu"

Seluruh tubuh terasa ngilu bagai diiris sembilu dosa, namun ego tetap meraja, sambil berkacak pinggang di tepi pongah, dan menyiarkan pada dunia "Akulah segalanya."

Sambil menatap langit-langit kamar sebelum lelap. Terangkut sadar yang sudah lama tergeletak di sudut sajadah. "Mengapa engkau hadir saat aku ingin eksis di sini.? Tunggulah aku sampai renta.!

Bisik lembut hati tak berhenti membujuk. Kau coba mencekik letih dalam hidup berpura-pura. Namun tak kuasa hilangkan sesal yang hampir sekarat, ego masih sempat berkata "Ingat...! aku harus mampu kalahkan mereka, aku tidak boleh terlihat lemah, lemah berarti kalah, dan kalah berarti kiamat."

Bisikkan qalbu tak pernah hilang dari fitrahmu. Sejuta penghalang hanya pelecut tuk kesadaran datang lebih cepat. Menatap wajah lugu egomu dan berkata:

"Hidup terlalu singkat jika kau habiskan dalam hedonis sesaat. Saudara seimanmu,  dialah yang bersyahadat. Sama-sama menghadap kiblat dalam shalat. Sama menyembah Allah Yang Maha Melihat. Lalu alasan apa yang membuatmu merasa hebat. Hingga sahabatmu harus kamu kalahkan dalam nikmat sesaat,  selain ego yang ditunggangi nafsu, hingga engkau lupa nikmat akhirat. Saudara seimanmu adalah sahabat dalam taat. Bukan teman sesaat, seminat, sealamat, sepangkat, sekonglomerat, atau sesama merasa hebat. Bukan...itu sist...

Sahabat akhirat adalah sahabat yang memberi syafaat di akhirat. 

"Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari klamat.” (Hasan AlBashri dalam Ma’alimut Tanzil 4/268)

Wahai ego...mungkin engkau lupa sejatinya ukhuwah. Kita buka kembali permintaan menggugah sahabat setia kepada Allah Subhanahu Wata'ala yang digambarkan Rasulullullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam:

"Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat. Mereka memohon: Wahai Rabb kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji. Dijawab (Allah): ”Keluarkanlah (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal.” Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka."

Di Tepi Kesadaran, 19 Feb 2021

Darimis

Rabu, 10 Maret 2021

ISTIMEWANYA MENJAGA PANDANGAN

Rabu, Maret 10, 2021 0 Comments


Perasaan suka bermula dari mata, diteruskan ke otak, ditafsirkan dengan informasi yang tersimpan. Muncul kekaguman, simpati, ingatan, hayalan dan kerinduan. 


Bermula dari mata, bisa  bisa mengundang petaka. Prahara rumah tangga bisa melanda semua keluarga. Tidak peduli keluarga artis, selebritis, ustadz, ustadzah, ulama, dokter, atau pengusaha. 


Bermula dari tidak bisa menundukkan pandangan. Akhirnya tidak mensyukuri kelebihan, keistimewaan, kesejatian pasangan. Sirna berbagai kebaikan, yang terlihat semua kekurangan dan kelemahan pasangan. Tidak berarti semua kenangan indah di di awal dan sepanjang pernikahan. 


Jika beranggapan pasangan cerdas, brilian, hebat dan membanggakan. Ternyata fakta tidak demikian. Betapa banyak pasangan orang hebat berakhir di pengadilan.


Jika beranggapan pasangan yang memiliki keindahan fisik menyenangkan dan asyik. Ternyata tidak sedikit keluarga publik figur rumah tangganya mudah terusik, tercabik, hingga berakhir secara tidak baik-baik. 


Jika beranggapan wanita mandiri secara finansial mampu menyenangkan hati. Nafkah tercukupi kadang berlebih secara materi. Toh nyatanya masih ada pasangan mengeluh dan selingkuh, karena pasangan tidak peduli. Sibuk di luar sana mengumpulkan pundi-pundi.


Jika beranggapan pasangan peduli, berempati, terlihat mencintai sepenuh hati, dan berbakti tanpa pretensi. Ternyata di luar sana masih ada kisah nelangsa pasutri. Sulit wujudkan baiti jannati.  Terus merasa pasangan kurang hingga perlu mencari yang lebih baik lagi.


Kita bertanya sebenernya apa yang terjadi hingga pernikahan kacau begini? Salah satu aspek yang berkontribusi, pasutri tidak bisa menahan, menundukkan, atau menjaga pandangan mata dan hati. Terutama para lelaki. 


Pernah suatu hari seorang lelaki mengadu kepada seorang Syaikh. "Ketika aku mengagumi calon istriku, seolah-olah Allah tidak menciptakan perempuan yang lebih cantik dari dirinya di dunia ini. Ketika aku sudah meminangnya, seolah-olah aku melihat banyak wanita seperti dirinya. Ketika aku sudah menikahinya, ternyata banyak perempuan yang jauh lebih cantik dari dirinya.  Ketika berlalu beberapa tahun pernikahan kami, aku melihat seluruh perempuan lebih manis dari istriku."


Syaikh balik bertanya: "Apakah engkau mau tahu, ada yang lebih parah dari pada yang kau alami saat ini? 


Syaik itu melanjutkan: "Masalah sesungguhnya bukan terletak pada istrimu, tetapi terletak pada hati rakusmu dan mata keranjangmu. Mata manusia tidak akan pernah puas, kecuali sudah tertutup tanah kuburan."


"Jadi, masalah yang kamu hadapi sebenarnya adalah kamu tidak menundukkan pandanganmu dari apa yang diharamkan Allah."


Barangkali terlalu sulit untuk melaksanaka  perintah Ilahi. Padahal perintah menundukkan pandangan sudah jelas sekali. "Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu, lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (QS. An-Nur ayat 30)


Menundukkan pandangan juga diperintahkan Allah pada wanita. "Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya." (QS. An-Nur ayat 31).


Bercermin pada kisah pemuda dan Syaikh di atas,  dapat dipahami bahwa penyebab utama persoalan terletak pada pandangan. Mata keranjang, dan hati rakus penyebab utama retaknya sendi-sendi pernikahan, perselingkuhan, dan perceraian. 


Salah satu cara agar kenikmatan bertambah. Keluarga bisa sakinah mawadah warahmah. Pasutri bisa sehidup sesurga adalah dengan menundukkanlah pandangan, hingga kenikmatan iman dan kenikmatan pernikahan bertambah, dan terus bertambah. 


Semoga bermanfaat

Salam ukhuwah

Darimis

Kamis, 25 Februari 2021

UTAMAKAN ESENSI DARI PADA GENGSI

Kamis, Februari 25, 2021 0 Comments


Seorang ibu bergamis hitam, kerudung krem lebar, pakai tas, dan sepatu sederhana. Sebut saja namanya Mernisi. Penampilan beliau sangat bersahaja. Senyum indah selalu menghiasi wajah berseri  yang terlihat tanpa polesan make up itu. Mungkin usianya hanya dua tahun di atas saya. Benar-benar menarik perhatian saya ketika itu.


Beliau duduk di bangku Bandara tepat di hadapan saya. Ketika pandangan mata saya bertemu mata beliau, beliau kembali tersenyum. Saya pun terpaksa membalas senyumannya. Beliau benar-benar menggugah rasa ingin tahu saya. Begitu banyak orang di bandara, ada muslimah modis, styling, trendy. Ada juga wanita tidak berhijab, pakai celana lejing, dan Khimar kekinian. Namun ibu Mernisi benar-benar menarik perhatian saya.


"Maaf, di sini ada orang? Tiba-tiba seorang ibu mengejutkan ibu Mernisi. 


"Nggak ada Mbak, jawab  ibu Mer dengan lembut. 


"Mau kemana? " 


"Insyaa Allah, ke Malaysia Mbak. Maaf jika boleh tahu mbaknya mau kemana? Tanya ibu Mer. 


"Saya mau ke Surabaya."


"Semoga berjalanannya lancar dan selamat sampai tujuan ya mbak, aamiin. Kata ibu Mer.


"Iya, ngomong-ngomong anda TKW di Malaysia? 


"Bukan mbak, saya ada urusan dan keperluan sedikit di Malaysia, jawab ibu Mer itu.


"Urusan TKW ya. Saya heran dech dengan TKW itu,  penampilan tidak menarik, pakai baju sederhana, kurang bisa dandan, coba agak trend kekinian dan fashionable dikit, pasti banyak perusahaan yang mau menerima."


"Nggak kok Mbak, saya tidak sedang ada urusan dengan TKW, jawab ibu Mer dengan tenang."


"Lalu Anda ke Malaysia mo ngapain?


"Saya transit di Malaysia Mbak." Jawab ibu Mer singkat.


"Lho ngapain TKW transit di Malaysia segala. Emangnya tujuan anda sebenarnya kemana sih? Desak ibu berkaca mata dengan penuh tanda tanya. 


"Dubai, Mbak."


"Anda TKW nya di Dubay ya." Desak ibu tersebut. 


"Bukan Mbak, jawab ibu Mer. 


"Anda aneh, jawabnya mutar-mutar, emang TKW gayanya bicaranya begitu. Makanya berurusan dengan TKW itu agak ribet. Saya kalau gak penting-penting males berurusan dengan mereka. 


Ibu Mer terlihat tetap tenang. Dibiarkannya ibu berkaca mata itu ngomel sepuasnya. Dia menoleh ke jam dinding dan mengeluarkan laptop Apple dan satu notes kecil.  Dia mulai mengetik di tengah bisingnya bandara. 


Tiba-tiba smartphone ibu Mer berdering. "Assalamu'alaikum, iya ana masih  di bandara Sukarno Hatta,......" Ibu Mer berdiri beberapa meter dari kami, dan bicara pelan, sehingga tidak kedengaran. 


Saya tidak habis pikir mengapa ibu yang berkaca mata begitu ngotot menyatakan ibu Mer itu TKW. Sebenarnya ibu Mer ini siapa ya?  Aku mulai bertanya dalam hati. Soalnya penasaran aja. Dikatai-katai dengan aneh-aneh, beliau tetap merespon dengan baik dan menyenangkan. 


Saya beranikan diri berkenalan dengan ibu Mer, dari pada saya penasaran sampai di Kota Malang.

"Maaf Ibu, boleh kita kenalan. Nama saya Mis dari Padang."


"Nggih mbak, nama ana Mernisi saya asli Bogor. Senang berkenalan dengan Mbak Mis. Kata beliau.


"Panggil Uni Mis, juga boleh Mbak." 


"Oh ya, sahabat ana dari Padang banyak mbak,  ada beberapa teman juga ana panggil Uni" 


"Maaf mbak, tadi saya dengar mbak mau ke Dubay ya, Masyaa Allah jauhnya. Sendirian mbak?


"Suami saya menunggu di Malaysia Uni. Kalau sendirian ke Dubaynya saya Nggak berani, dan tidak boleh juga kan perempuan safar lewat 24 jam sendirian Uni Mis."


"Setahu saya juga begitu Mbak, perempuan tidak boleh safar sendirian lewat 24 jam. Harus dengan mahram nggih mbak."


"Benar Uni." 


"Jika berkenan bolehkan saya minta nomor handphone mbak Mernisi, pintaku dengan sedikit memelas. 


"Tentu boleh Uni...biar saya yang catat dulu, nanti saya call Uni Mis." Kata beliau.


Kami saling tukar nomor handphone. Beliau juga memberikan sebuah buku karangan beliau sendiri, tentang perjuangan dakwah Intelektual ketika beliau studi doktoral di Inggris. 


"Perhatian-perhatian pesawat Garuda dengan nomor penerbangan ...(tiba-tiba pengumuman keberangkatan pesawat yang akan saya tumpangi ke Juanda Surabaya bergema). 


"Mbak Mernisi saya duluan, terimah kasih banyak atas kenalan, bincang-bincang, no hp, dan buku mbak Mernisi. Ungkap saya.


"Alhamdulillah, Masyaa Allah, sama-sama Uni. Saya senang kenalan dengan uni, semoga bukunya menginspirasi. Fi Amanillah."


"Aamiin Ya Mujiib, Fi Amanillah juga mbak Mernisi. Saya melambaikan tangan ke beliau berjalan ke arah jalur keberangkatan pesawat. 


Ingin rasanya lama-lama berbincang dengan muslimah baik dan berpenampilan bersahaja itu, tapi waktu memisahkan kami. 


Sepanjang penerbangan dari Bandara Sutta ke Juanda, saya gunakan membaca buku Mbak Mer, saya semakin kagum dengan sosok beliau. Muslimah bersahaja, anggun, intelektual, mudah senyum, baik, sopan, santun dan cerdas. 


Saya merenungi peristiwa yang terjadi. Muslimah intelektual, cerdas, dan santun, banyak ilmu sekaliber mbak Mer dianggap remeh dan disepelekan  orang, lantaran terlihat dari luar begitu sederhana, bersahaja. 


Mengapa seseorang dinilai berdasarkan hal-hal yang nampak dari luar? Dari pakaian, tas, sepatu, gamis, kurudung, jam tangan, dan asesoris yang digunakan. Termasuk cara berdandan. 


Jika semua yang dipakai seseorang barang branded, lengkap dengan asesoris ala princess, maka dianggap orang  berkelas dan borjuis. Sebaliknya, jika pakaian luar, tas, sepatu, terlihat sederhana, muka polos kayak tembok bangunan. Maka dianggap tak berarti dan lebih pantas diremehkan. 


"Astaghfirullah,"..begitu amat manusia sekarang ini. Mulia dan berkelasnya orang diukur dari barang yang dimiliki. Menilai orang dari pakaian, tas, sepatu, dan kenderaan yang dinaiki. Jika terlihat kere dan sederhana maka  pantas dihina, disepelekan dan dipandang sebelah mata. 


Saya kadang berpikir, betapa sulit memilih hidup sederhana di tengah derasnya arus materialis dan hedonisme ini. Ketika standar kemuliaan manusia  diukur dengan kepemilikkan materi. Semakin banyak materi semakin dihormati. Semakin tidak ada materi semakin tidak dihargai. 


Fakta ini semakin menguatkan hipotesis saya, bahwa sistem kapitalisme menggerogoti manusia modern dalam gaya hidup serba materi, membangun kerajaan materi, mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya demi kesenangan ragawi (hedonisme). 


Sistem itu menggiring manusia untuk hidup konsumtif. Difasilitasi dengan kredit tanpa agunan, sehingga bisa beli barang mewah meskipun sedang memiliki uang. Pakai kartu kredit untuk belanja di mall-mall eksklusif. Bagi yang terpengaruh mereka ikuti gaya itu secara massif, tanpa selektif, dan evaluatif.


Apa yang terjadi? Manusia berbondong-bondong melengkapi atribut duniawi. Mengutamakan penaian sesama dan menapikan penilaian Ilahi. Kadang memaksakan diri beli mobil, motor bermerek, gamis mahal, tas branded dan asesoris ala pemuja materi. Mereka gak peduli, meskipun kemudian harus terjerat hutang ribawi. 


Bagi saya, semua atribut duniawi, baik mobil, gamis, khimar, tas, sepatu, dan asesoris hanya sarana. Miliki seperlunya saja. Saya belajar hidup lebih realistis, menyesuaikan antara income dan pengeluaran. Tidak besar pengeluaran dari pada income-nya. Tidak memaksa diri untuk memiliki sesuatu, jika belum mampu. Lebih baik bersabar dulu. Tidak harus memaksa diri memiliki sesuatull jika harus menempuh jalan riba. 


Menurutku, Islam membolehkan hidup kaya asal jangan lewat pintu riba, biar berkah dan rajin bersedekah. Kekayaan hanya wasilah (sarana) untuk lebih dekat kepada Allah. Lebih tawadhu', dermawan, dan berpihak pada umat yang lemah. Tidak lantas kekayaan itu membuat kita meremehkan orang lain, dengan pandangan sebelah mata.  . 


Kaya adalah amanah. Allah menitipkan harta kepada kita agar bermanfaat untuk agama dan umatnya. Kaya juga ujian, apakah kita lulus naik kelas keimanan dan ketaqwaan kita ketika diuji dengan kaya, atau malah hidup semakin pongah dan meremehkan ciptaan Allah Subhanahu Wata'ala. 


Hidup sederhana itu bagiku pilihan. Sebab lebih ringan, dan tidak panjang angan-angan. Terhindar dari penyakit wahn. Apa itu wahn?, yaitu cinta dunia dan takut kematian. 

Sementara kematian suatu kepastian. Hal terpenting adalah persiapan menghadapi kematian. Kuat iman, banyak pahala dan kuat ketaqwaan. Ketaqwaan adalah prediket mulia di sisi Pencipta, bukan harta bukan pula kaya, pangkat dan semua atribut dunia. Taqwa adalah esensi, sementara harta hanyalah wasilah hidup dan gengsi. Tidak mungkin gengsi mengalahkan esensi, jika kita mau berkaca dengan agama kita sendiri. Allahu Allah Bisshawab. 


Semoga bermanfaat


Jumat, 05 Februari 2021

KETIKA TAWAKKAL LEBIH INDAH DARI PELANGI

Jumat, Februari 05, 2021 0 Comments


Manusia hanya mampu berencana dan berikhtiar sekuat tenaga untuk meraih keberhasilan, namun manusia tidak mampu menjamin keberhasilan. Manusia wajib berusaha tapi tidak wajib berhasil, sebab hasil semata-mata urusan Sang Pencipta, yang mengatur semua urusan. Sangat patalogis ketika kita mengharuskan keberhasilan. Sebab kata ‘harus”, “mesti” “pokoknya” adalah pemaksaan kehendak atas diri, orang lain dan keadaan agar senantiasa berpihak pada keinginan dan harapan kita. Kata itu sangat membebani fisik dan psikis, seolah kita dapat menentukan dan mengendalikan takdir kita.


Setelah berusaha seoptimal mungkin, selebihnya kita serahkan  urusan tersebut kepada Allah Subhanahu Wata’ala, Rabb Yang Maha Menentukan. Kita hanya wajib berikhtiar dan tawakkal, selebihnya biarlah Allah yang menentukan. Jika kita berhasil meraih suatu impian itulah yang terbaik, namun jika belum berhasil meraih impian itu juga baik. Semua urusan mukmin itu kebaikan. Ketika belum berhasil dia ridha, ikhlas, dan bersaba, itu baik baginya. Jika berhasil meraih impian, dia bersyukur, bersyukur  juga maslahat baginya.

 

Tawakkal itu lebih indah dari pelangi setelah rintik hujan turun ke bumi. Tawakkal menjadi amunisi kelelahan jiwa setelah bekerja keras melewati  setiap jengkal proses. Tawakkal membuat kita semakin yakin pada Pencipta, bahwa kita insan lemah, tak berdaya, memiliki kemampuan terbatas, dan sangat membutuhkan pertolongan dan kemudahan dari Allah Subhanahu Wata’ala. Lalu alasan apa sebenarnya yang membuat kita membangkang terhadap perintah-Nya, menolak kebenaran yang Dia dan Rasul sampaikan, dan meremehkan setiap manusia atas keberhasilan yang kita peroleh.

 

 Kembali ke tawakkal.  Tawakkal itu indah, seindah harapan kita akan pertolongan Allah Subhanahu Wata'ala. Tawakkal lahir dari hati yang haqqul yaqin kepada Rabb Yang Maha Pengatur. Semua hal di bumi dan langit termasuk dalam diri setiap insan bekerja dengan izin-Nya. Tidak satupun kejadian di luar pengawasani-Nya. Hanya saja diri kita yang merasa tidak diawasi. Sehingga kita kehilangan kendali.


Keindahan tawakkal dapat kita pelajari dan kita renungkan betapa Allah Maha Pengatur semua kejadian. Dia membuat segala sampai. Dia juga yang mengatur jalan taqdir yang kadang menurut manusia tidak masuk akal. Untuk lebih memahami tawakkal, yuk kita simak kisah berikut.


Abu Hurairah Raḍiyallahu 'Anhu, dari Rasulullah Sallallahu 'Alaihi wa sallam bahwa beliau pernah mengisahkan ada seorang dari Bani Israil  meminjam uang seribu dinar kepada Bani Israil lainnya. Orang yang meminjamkan berkata:


“Datangkanlah saksi-saksi! Aku ingin mempersaksikan peminjaman ini kepada mereka.”


Peminjam berkata, “Cukuplah Allah sebagai saksinya.” Orang yang meminjamkan berkata lagi, “Datangkanlah seorang penjamin.” Peminjam berkata, “Cukuplah Allah sebagai penjamin.” Orang yang meminjamkan berkata, “Kamu benar.” Kemudian dia memberikan uang itu hingga tempo waktu tertentu. Kemudian orang yang meminjam uang itu pergi ke laut untuk memenuhi hajatnya. Dia pun mencari perahu untuk dianikinya guna mengantarkan uang pinjamannya yang sudah jatuh tempo pembayarannya. Namun dia tidak menemukannya. Kemudian dia mengambil kayu dan melubanginya. Lalu dia memasukkan ke dalamnya uang seribu dinar beserta secarik tulisan yang ditujukan kepada pemilik uang. Kemudian ia melapisinya agar tidak terkena air. Lalu dia membawa kayu ke laut. Dia berkata, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku telah meminjam uang seribu dinar kepada si fulan. Dia meminta penjamin dariku, kemudian kukatakan bahwa cukuplah Allah sebagai penjamin, dan dia pun rela. Dia memintaku mendatangkan saksi, lalu kukatakan bahwa cukuplah Allah sebagai saksi, dan dia pun rela.


Sesungguhnya aku telah berusaha untuk mendapatkan perahu yang akan kugunakan untuk mengantarkan uangku kepadanya, namun aku tidak mendapatkannya. Kini, kutitipkan uang itu kepada-Mu.” Kemudian dia melemparkan kayu itu hingga tenggelam. Dia pun pergi. Walau demikian, dia tetap berusaha mencari perahu yang menuju ke negerinya. Orang yang meminjamkan uang pergi untuk menanti, barangkali ada perahu datang membawa piutangnya. Tiba-tiba dia menemukan kayu yang berisi uang itu. Dia membawanya pulang sebagai kayu bakar untuk istrinya. Tatkala dia membelahnya, dia menemukan uang dan secarik pesan.


Sementara itu, si peminjam pun datang membawa seribu dinar. Dia berkata, “Demi Allah, sebelum aku datang sekarang, aku senantiasa berusaha untuk mencari perahu guna mengantarkan uangmu kepadamu, namun aku tidak mendapatkan satu perahupun sebelum aku tiba dengan menaiki perahu yang aku tumpangi ini.” Orang yang meminjamkan berkata, “Apakah kamu mengirimkan sesuatu kepadaku?” Peminjam berkata, “Aku telah sampaikan kepadamu bahwa aku tidak menemukan perahu, sebelum aku mendapatkannya sekarang ini?” Orang yang meminjamkan berkata, “Sesungguhnya Allah telah mengantarkan pinjamanmu yang kau taruh dalam kayu. Maka gunakanlah uangmu yang seribu dinar itu dengan baik, maka bawalah kembali seribut dinarmu itu." (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari).


Saat hati kita mau menerima dan merenungkan sepenggal kisah ini. Saat itu hati kecil kita semakin yakin dan percaya bahwa Allah Maha Pengatur, Allah Maha Adil dengan keadilan yang sempurna. Maka “Cukuplah Allah sebagai penolong dan pembuka jalan.” Cukuplah Allah sebagai penyanggah utama atas semua kegiatan.  Cukuplah Allah sebagai penjamin hasil dari usaha yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh.


Sungguh, bagi orang-orang yang bertawakkal (mutawakkilun), mereka tidak bergantung kepada orang besar, orang penting, orang dalam, kedekatan emosional, persaudaraan, keadaan, situasi, kondidi, dan kehebatan makhluk. Mereka hanya bergantung kepada Allah Subhanahu Wata’ala sebagai Sang Pencipta dan Pengatur semua keadaan.


Semoga bermanfaat

Sobatmu

Darimis


 

Kamis, 04 Februari 2021

BAHAGIA ITU PENTING, KEBERKAHAN JAUH LEBIH GENTING

Kamis, Februari 04, 2021 0 Comments

 


Semua kita pernah mendengar atau mengucapkan kata berkah atau keberkahan. Saya pribadi minimal satu kali dalam setahun mendapat ucapan "Barakallahu fikki" (Semoga Allah memberkahimu).

Namun, saya tidak tahu apa hakikat keberkahan itu? Mana yang lebih tinggi antara berkah dengan bahagia?. Pertanyaan itu sering muncul dalam pikiran. Namun kadang malas menelusuri dan mempelajarinya dari berbagai bahan bacaan berkaitan dengan keberkahan.

Keberkahan atau berkah adalah kata yang sering dikaitkan dengan kesuksesan atau kebahagiaan yang didapatkan seseorang. Misalnya "Semoga ujiannya sukses dan berkah ya". "Semoga rezekinya berkah ya, aamiin."

Ketika seseorang meraih keberhasilan dalam studi, dapat pekerjaan, dapat momongan, atau ketika menempati rumah baru. Bahkan agar terkesan Islami, kadang tanpa sadar kita ucapkan "Met milad, barakallah fi umriik." Meskipun Rasulullah sendiri tidak pernah mengucapkan kata itu kepada istri, anak-anak, teman, atau sahabat beliau di hari lahirnya. 

Kembali ke layar ..he..he. Kata berkah secara etimologi memiliki dua makna, yakni (1) bertambah banyak, dan (2) dan tahan lama.

Sementara secara terminologi,  dikemukakan Imam An-Nawawi, keberkahan adalah kebaikan yang banyak dan abadi. Senada dengan Imam al-Ghazali mengartikan keberkahan dengan bertambahnya kebaikan pada ssuatu yang dimiliki. 

Untuk lebih memahami arti keberkahan, bagusnya kita cermati kejadian di masa Rasulullah shallallahu 'Alaihi Wasallam. Suatu ketika Rasulullah shallallahu 'Alaihi Wasallam terlihat lemas, karena menahan lapar. Abu Thalhah yang mendengar hal itu akhirnya menemui istrinya. Abu Thalhah dan istrinya berniat mengundang beliau untuk makan.

Singkat cerita, Abu Thalhah dan istrinya hanya memiliki makanan sedikit. Namun ternyata Rasulullah shallallahu 'Alaihi Wasallam mengajak banyak sahabat untuk ikut makan ke rumah Abu Thalhah. Abu Thalhah menjadi cemas; makanan sedikit apakah cukup untuk menjamu tamu sebanyak itu?

Akhirnya, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan shahabat-shahabatnya tiba di rumah Abu Thalhah. Sebelum acara makan dimulai, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mendoakan makanan yang dihidangkan. Setelah itu para tamu diminta makan bergantian. Yang pertama makan adalah 10 sahabat. Lalu, 10 sahabat berikutnya, kemudian 10 sahabat berikutnya, dan seterusnya.

Akhirnya semua sahabat yang datang itu makan sampai kenyang, sedangkan jumlah mereka waktu itu 70 atau 80 orang. Setelah itu, barulah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan keluarga Tholhah makan hingga kenyang pula. (Sumber: H.R. Al-Bukhari, No. 3385; Muslim, No. 2040)

Kejadian ini mengajarkan kita, tentang keberkahan dari segi makanan. Jumlahnya tidak saja cukup, tetapi penuh kebaikan. Hal yang terpenting dari berkah itu adalah bertambahnya ketaaatan kepada Allah Subhanahu Wata'ala.

Menurut Imam Ibnu Rajab. Setidaknya ada 4 kandungan dari keberkahan sekaligus arti sesungguhnya dari keberkahan itu sendiri.

1. Keberkahan adalah suatu keadaan bertambahnya ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata'ala.

"Keberkahan menjadi panorama keindahan dalam kehidupan seorang Muslim." (Ibnu Rajab).

Anak yang berkah adalah anak yang shalih, rajin beribadah, Mendo'akan ortunya masuk surga.

Tempat yang berkah adalah tempat yang dinaungi oleh malaikat, itulah majlis ilmu atau majlis dzikir.

Harta yang berkah terletak pada sikap ketika menerima harta, harta tersebut dapat menambah ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Seperti Umar bin Khattab menggunakan semua yang ditulis, semua harta digunakan di jalan Allah Subhanahu Wata'ala, untuk menambah ketaatan kepada Allah.

Hidup yang berkah bukan hanya sehat, tetapi sakit juga berkah, seperti Nabi Ayub As. Sakitnya menambah taatnya pada Allah Subhanahu Wata'ala.

Berkah atau barokah tidak identik dengan panjang umur. Seperti Do'a ulang tahun "Panjang umurnya,. Panjang umurnya, panjang umurnya serta mulia." Tetapi umur pendek pun ketika taatnya dahsyat kepada Allah Subhanahu Wata'ala, seperti Mus'ab bin Umair, seorang delegator pertama Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam ke Yastrib (Madinah). Dia diwafatkan Allah Subhanahu Wata'ala di usia muda. Dia seorang bangsawan,  hartawan, tampan, dan berkelas (seperti anak sultan), memilih menjadi utusan perdana nabi Muhammad menyiarkan Islam ke Yasstrib. 

Ilmu yang berkah bukan ilmu yang banyak riwayat, catatan kaki, referensinya, atau sitasinya/dirujuk orang, tetapi ilmu yang menjadikan seseorang meneteskan keringat dan darah dalam beramal dan berjuang di jalan Allah Subhanahu Wata'ala. Ilmu yang membuat seseorang tertunduk kusyuk meneteskan air mata mengingat dosa dan kesalahannya. Ilmu yang membuat seseorang mencerahkan hidup, pikiran, perasaan, dan perbuatan manusia lain. 

Penghasilan yang barkah bukan terletak pada gaji besar dan harta yang banyak sampai sekian turunan,  tetapi rezeki yang berkah adalah sejauhmana harta itu menjadi jalan rezeki bagi orang yang membutuhkan. Seperti Usman bin Affan, seorang sahabat Rasulullah, salah seorang khulafaur rasyidin, saudagar kaya raya. Dia selalu berlomba menginfakkan hartanya dengan sahabat lain. Sudah sekian abad sumur Yahudi yang dibelinya untuk umat, masih berfungsi sampai sekarang.

Pernikahan yang berkah bukanlah pernikahan yang nampaknya senang, kaya, dan bisa liburan ke berbagai destinasi wisata. Namun pernikahan berkah adalah pernikahan itu makin hari makin meningkatkan ketaatan pasangan suami istri (pasutri) kepada Allah Subhanahu Wata'ala, makin tenang (sakinah), makin mencintai  (mawaddah) dan makin berkasih sayang karena Allah (rahmah) sampai ajal menjemput.

2. Keberkahan artinya sunnah atau hikmah.

Allah Subhanahu Wata'ala memberikan kepada seseorang untuk mendapatkan hikmah. Sunnah artinya cara hidup yang mampu meneladani kehidupan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Sunnah itu ibarat perahu nabi Nuh, As. Jalan selamat berlayar menuju Jannah. Makanya dalam mengamalkan Sunnah kita tidak boleh pilih-pilah, karena kita tidak tahu, sunnah mana yang mengantarkan kita ke syurga Allah.

3. Berkah artinya istiqamah

Seseorang diberi keberkahan ketika ia mampu menjaga hangatnya iman, nikmatnya ibadah, indahnya Sunnah, dan manisnya amal shalih dalam kehidupan. Sebab hijrah dari maksiat ke taqwa itu mudah, yang sulit adalah istiqamah dalam ketaatan hingga husnul khatimah.

4. Berkah mengandung artinya diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah

Jika Allah mencintai hamba-Nya diberikan-Nya pemanis dalam hidup. Artinya seseorang disibukkan dengan ibadah dan taat sebelum sampai garis ajal dengan Husnul khatimah. Tiada kematian yang paling indah dan menyenangkan selain wafat dalam keadaan husnul khatimah.

Sebagai hamba Allah kita harus mengusahakan keberkahan dalam semua sisi kehidupan. Kebahagiaan adalah makmum dari keberkahan, sementara imamnya adalah berkah itu sendiri. Bagaimana cara memperoleh berkah? Jawabannya adalah sebagai berikut:

1. Semua amal kebaikan hendaknya berbasis keimaanan dan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu Wata'ala.

2. Beramal shalih dan mengikhtiarkan kebaikan hubungan dengan Allah dan semua makhluknya.

3. Setiap amal shalih dilakukan secara ikhlas, semata untuk mencari Ridha Allah.

4. Menyegerakan menjemput ampunan Allah, ketika bersalah cepat taubat nasuha.

5. Senantiasa memohon diberi keberkahan oleh Allah.

"Allahumma baarikli fi ma a’thait”

(Ya Allah berikanlah barakah kepada apa yang telah Engkau karuniakan kepada kami. aamiin)

Semoga bermanfaat

Sobatmu

Darimis

 

Kamis, 20 Agustus 2020

HIJRAH SEBAGAI TRANSFORMASI DIRI MENUJU RIDHO ILAHI

Kamis, Agustus 20, 2020 0 Comments


Waktu berlalu meninggalkan setiap hamba Allah. Tanpa peduli dan tanpa kompromi, datang tahun baru Islam, 1 Muharram 1442 H.

Sementara diri ini masih seperti itu, seperti itu saja, tidak berubah, berbenah, apalagi hijrah. 

.

Perkataan menohok diri ini,  yang kadang enggan melakukan perubahan. Suatu hari, Ibnu  Mas'ud menyesal, karena waktu berlalu, ajalnya berkurang, tetapi amal shalihnya tidak bertambah. Seorang shalih, dan bertaqwa sekaliber Ibnu Mas'ud, yang hari-harinya penuh dengan kebaikan masih menyesal, apatah lagi diri ini, manusia biasa penuh khilaf dan salah.

.

Ulama lain pun menyatakan, "Siapa yang melalui harinya bukan untuk kebenaran, atau fardhu yang ditunaikan, maka dia telah mendurhakai waktunya, dan mendzalimi dirinya." Aku semakin merenungi hidup ini. Betapa banyak hari kulewati yang menyelisihi kebenaran. Ghibah tanpa sadar dikerjakan. Maksiat kecil kadang dilakukan. Perbuatan fardhu atau wajib sering dilalaikan.  Shalat wajib kadang di ujung waktu dilaksanakan. Shalat  terburu-buru tanpa dzikir dan permohanan (do'a). Belum lagi dosa lain di luar pengetahuan. 

.

Jika aku baca lagi pendapat Al-Hasan al-Bashri, seorang tabiin agung pernah berkata "Wahai Anak Adam, kalian adalah kumpulan hari. Jika sehari berlalu, maka sebagian dirimu telah hilang." Anak Adam atau cucu Adam 'Alaihi Salam semua insan termasuk diri ini.

.

Semenjak lahir ke dunia, aku adalah kumpulan hari. Jika sehari berlalu, maka sebagian diriku telah hilang. Artinya hilang kesempatan beramal shalih, hilang waktu memperbanyak taubat, dan berbuat maslahat. 


Tanpa kusadari, tahun 1441 H telah berlalu. Aku hanya bisa mengenang dan memuhasabah diri. Baru secuil kebaikan yang kulakuka.  Banyak keburukan yang ditorehkan.  Amal shalih entah bagaimana? Infak dan pertolongan belum seberapa untuk agama Allah. Padahal di Yaumul Hisab nanti, semua cacatan amal dibuka, semua peristiwa akan diceritakan tanpa tabir. QS. Al-Zalzalah ayat 4, artinya "Pada Hari itu (Kiamat) dia akan menceritakan peristiwanya."

[Q.s. Az-Zalzalah 4]


Untuk itu,  hari ini, Kamis, 1 Muharram 1442 H, saatnya aku membuat resolusi hijrah maknawiyah. Memaknai hijrah sebagai transformasi diri menuju Ridha Ilahi. Sebab puncak kebahagiaan seorang hamba adalah Ridha Allah Subhanahu Wata'ala.

.

1. Transformasi Pemikiran


Pemikiran ini masih banyak jahiliyahnya. Aku harus hijrah dari pemikiran bahwa hidup hanya sekadar lahir, bayi, anak-anak, remaja, dewasa, menikah, bekerja, lansia, dan wafat, ke pemikiran bahwa hidup adalah ibadah.

.

Hidup itu dari Allah, untuk Allah, dan untuk kembali kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Ini harus dijawab dengan aqidah Islam, suatu pemikiran yang menyeluruh tentang alam, manusia dan kehidupan, kaitan antara sebelum dan sesudah kehidupan ini. Hidup untuk beribadah bukan hanya retorika, sekadar pemanis pembicaraan. Namun benar-benar direncanakan, diniatkan secara matang, lengkap dengan  strategi terbaik untuk merealisasikan visi abadi, "Bahagia di sisi-Nya"

.

2. Transformasi Standar Perbuatan


Sebagai manusia lemah, faqir iman dan ilmu, biasanya aku mengukur segala sesuatu dengan kenikmatan dan kepuasan. Makan untuk memuaskan nafsu makan. Berumah tangga sekadar memuaskan sexual instink. Bekerja untuk memuaskan ego atau survival instink. Maka hijrah adalah momentum strategis bagiku untuk mengubah standar makanan dengan ukuran halal atau haram. Rezeki yang halal saja yang dimakan, dan yang haram harus dihindari segenap kemampuan.


Hijrah menjadi kesempatan emas, mengubah standar perbuatan dengan sunnah, wajib, mubah, makhruh, dan haram. Optimalkan perbuatan Sunnah dan wajib, dan hindarkan seoptimal mungkin perbuatan haram dan makruh. Sementara mubah boleh dilakukan atau ditinggalkan. 

.

Dengan cara mengubah standar hidup, aku bisa menyelamatkan diri ini. Memaksimalkan catatan pahala, meminimalisir catatan dosa.  Dengan cara ini pula, aku mempersiapkan hujjah (arguemtasi, atau alasan) di pengadilan Allah, di Yaumul Hisab nanti. Ketika semua amalku diperiksa, diadili, divonis, ditimbang, dan diberi kitab amal, semoga diri ini, salah satu dari ashabul Yamin. Aamiin.

.

3. Transformasi Ikatan Kemanusiaan


Selama ini, pola interaksi dengan manusia berdasarkan kepentingan dan asas manfaat. Terjebak dengan pemikiran pragmatis, individualis, materialis dan hedonis.  Jika merasa suatu interaksi, pertemanan sesama manusia tidak memberi manfaat atau menguntungkan, ditinggalkan.

.

Akhirnya aku sadar, ternyata ikatan paling agung adalah ikatan aqidah. Ikatan aqidah paling kokoh sampai akhirat, full manfaat.  Sabahat dalam taat kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Memberi syafaat bahkan penyelamat dari api neraka (ada tulisanku tentang ini, suatu saat insyaa  Allah  diposting). 


Sesama muslim bersaudara, ibarat satu tubuh. Ummatan wahidah. Tidak terikat nasab, suku, asal daerah, sekampung, dan lainnya.  Seperti yang dicontohkan oleh Kaum Muhajirin (Dari Mekkah) dan kaum Anshar (di Habasyah/Madinah). Kisah ini sering dibicarakan ustads dalam ceramah, peringatan 1 Muharram. 


4. Transformasi Pemahaman tentang Ukuran Kebehagiaan


Dulu menurutku bahagia adalah jika semua keinginan dan nafsu terpenuhi. Aku tidak peduli cara mendapatkannya bagaimana, yang penting aku puas. Namun ternyata aku keliru.  Bahagia parameternya Ridha Allah Subhanahu Wata'ala. 

.

Tidak masalah kita kaya asalkan Allah Ridha. Tidak masalah kita tidak memiliki apa-apa asalkan Allah ridha. Sebab bahagia terletak di hati yang qana'ah. Bahagia terletak dalam hati (internal) bukan di luar hati atau di luar diri (eksternal). 

.

Jika berkaca pada para sahabat Nabi, seperti Salman Al Farizi, seorang miskin tapi ia merasa bahagia. Abdurrahman bin Auf sahabat terkaya kemudian uangnya diinfaqqan semua di jalan Allah. Abu Bakar Ash-Shiddiq yang menghabiskan uangnya di jalan Islam. Belum lagi Khadijah binti Khuwailid, istri Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Seorang saudagar perempuan, kaya raya, keturunan bangsawan, semua kekayaannya habis membiayai dakwah Rasulullah, toh mereka semua bahagia.  Tidak sekadar bahagia di dunia, namun Allah sendiri yang menyampaikan salam kepada mereka dan memberi kabar gembira atas imbalan surga untuk pengorbanan mereka. 


Aku semakin paham bahwa status paling mulia di sisi Allah adalah taqwa. Kesejahteraan hakiki adalah ketika selamat dari sirath, dan masuk surga. Kerinduan sejati seorang mukmin atau mukminah adalah melihat wajah Allah Subhanahu Wata'ala dalam posisi paling dekat.  

.

Minimal empat bentuk transformasi diri yang harus kulakukan, sebagai hasil memaknai kembali tentang hijrah. Kadang aku malu dengan diriku ketika membaca pendapat seorang ahli strategi perang Israel, Moshes Dayan (1915-1981) yang menyatakan bahwa kelemahan utama umat Islam adalah malas baca sehingga literasinya jeblok, anjlok, dan rendah. Seandainya pun membaca, ia tidak mengerti. Jika ia mengerti, tetapi tidak bertindak. Inilah yang makin memperburuk citra Islam. 

.

Maka tidak ada yang dapat kulakukan, selain melakukan transformasi diri, yaitu HIJRAH. Agar eksistensi penciptaanku sebagai hamba ('abdun) benar-benar terealisasi. Aamiin.

.

Selamat Tahun Baru Islam

1 Muharram 1442 H

Mohon maaf atas semua kesalahan.

Selasa, 18 Agustus 2020

MENGEMBAN DAN MENUNAIKAN AMANAH

Selasa, Agustus 18, 2020 0 Comments

 

“Tiada iman pada seseorang yang tidak menunaikan amanah, dan tiada agama pada seseorang yang tidak menunaikan janji." (HR.Ahmad dan Ibnu Hibban)

Amanah itu berat, seberat apa yang diamanahka, dititipkan atau dipercayakan. Jika dipercayakan uang sepuluh ribu, maka amanah itu beratnya sepuluh ribu. Jika dimanahkan itu jabatan, maka berat amanah itu seberat jabatan. Apalagi jika diamanahkan menjaga umat, dan mengajaknya kepada kebaikan dan meninggalkan kemungkaran. Maka amanah ini luar biasa berat. Bukan berat ringannya yang jadi persoalan, namun akuntabilitas kepada manusia yang mengamanahkan, Bahkan lebih berat lagi mempertanggungjawabkan amanah tersebut kepada Allah Subhanahu Wata’ala di Yaumul Hisab nanti.

Amanah bagiku amat berat, mengemban amanah ilahiyah dan nubuwah itu amat sangat berat. Meskipun demikian amanah ini harus kuemban. Secara alamiah perjalanan hati, akal, dan amalanku sudah mengehnadaki agar aku mengambil amanah ini. Sudah empat tahun berlalu, aku mengenal bahwa hidup bukan hanya sekadar hidup. Namun hidup adalah menjawab pertanyaan besar hidup ini. Itu sudah kudapati melalui tholibul ‘ilmi.

September 2016 lalu, aku mengenal risalah nubuwah lewat sahabat taat. Kini hampir September 2020. Berarti hampir empat tahun aku mendalami keyakinan, arah, dan visi hidupku. Sudah tiga panduan besar kuselesaikan, itupun harus mengulang satu panduan agar pemahamanku mantap. Selama tiga pertemuan setiap pagi Rabu berturut-turut, semenjak 22, 29 Juli, 05 dan 12 Agustus mengkaji dan memahami lembaran-lembaran cinta. Tepatnya Hari Rabu 12 Agustus 2020 jam 10.30 aku dan seorang temanku menerima dan mengambil amanah terberat ini. Bismillah...mudahkan hamba Ya Rabb. Hari ini aku ambil amanah terberat ini. Jika nanti di jalan ini aku harus kembali, mudahkan jalanku menuju-Mu Ya Rabb.

Sepekan sebelumnya sudah disugesti, agar aku beristigfar, memohon ampun, mohon petunjuk, shalat istikharah, menguatkan hati untuk mengambil tanggung jawab ini. Hari ini aku diingatkan kembali, dengan segala beban, amanah, dan tanggung jawab yang harus kutunaikan. Ya Rabb, meskipun akalku berbisik gamang, namun ini pilihan terbaik dan terpenting sepanjang hidupku. Di lembaran ini aku mencoba mentarbiyah diri, agar mampu menunaikan amanah berat ini. Cara berikut mungkin meringankan bebanku memikul amanah ini.

Cara Mengemban Amanah

1.    Niatkan menerima amanah karena Allah Subhanahu Wata’ala

Hidup tidak lepas dari amanah, sebab “Setiap orang dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban." (HR Muslim). Setiap kita adalah pemimpin bagi diri kita sendiri. Dan setiap apa yang kita pimpim akan diminta pertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala. Dengan demikian amanah itu banyak. Menjadi muslim, mukmin, muttaqin, muhlisin adalah amanah. Menjadi istri, suami, ibu, ayah, anak adalah amanah. Menjadi karyawan, atasan, dan jadi apapun kita adalah amanah. Maka terima setiap amanah karena Allah, bagi Allah, untuk Allah. Bukan untuk orang yang mengamanahkan.

Boleh saja orang yang mengamanahi lengah. Tidak meminta apa-apa, tidak ada akuntabilitas. Tidak minta laporan pertanggungjawaban. Kecuali komitmen hati, dan janji pribadi masing-masing. Hal itu tidak lantas menjalankan amanah sesuka hati. Yakinlah meskipun manusia lengah, Allah Subhanahu Wata’ala tidak pernah lalai, lupa, dan melupakan. Sekecil apapun perbuatan, perkataan, gerak langkah, bahkan bisikan hati, selalu dalam pantauan-Nya. Suatu saat akan dimintai pertanggungan jawab.

2.    Yakinkan diri, menjaga amanah adalah jalan ke surga Firdaus

Amanah itu berat. Saking beratnya tidak semua orang mau menerima amanah. Banyak yang enggan terlibat dalam proyek besar kehidupan. Menikmati zona nyaman. Hidup mapan. Aku harus yakin dibalik beratnya amanah, pasti Allah memberikan besarnya imbalan. Melipatgandakan kekuatan. Bukan semata karena imbalan amanah ditunaikan, namun karena rasa malu diri ini terhadap Rabb yang menciptakan.

Maka orang-orang yang menunaikan amanah dirindukan surga Firdaus. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, artinya: Orang-orang yang menunaikan amanah dan menepati janji...mereka itulah yang mewarisi, yakni mewarisi Surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya (QS al-Mu'minun [23]: 8-11).

Demikian juga sebaliknya. Bagi orang yang mengkhianati amanah mendapatkan konsekuensi yang bersangatan. Allah Subhanahu Wata’ala mengharamkan sikap mengkhianati amanah, sebagaimana firman-Nya, yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-Nya. Jangan pula kalian mengkhianati amanah-amanah kalian. Padahal kalian tahu (QS al-Anfal [8]: 27).

Menurut Ibnu Abbas ra. ayat di atas bermakna, "Janganlah kalian mengkhianati Allah SWT dengan meninggalkan kewajiban-kewajiban-Nya. Janganlah kalian mengkhianati Rasul saw. dengan meninggalkan sunnah-sunnahnya. Janganlah kalian bermaksiat kepada keduanya." (Al-Qinuji, Fath al-Bayan, 1/162).

3.    Mencontoh para sahabat dan shalafus shaleh

Orang yng diberi amanah bukan hanya kita, namun orang-orang terdahulu semenjak Nabi Adam ‘Alaihi Salam juga diberi amanah. Para Nabi dan Rasul juga diberi amanah. Bahkan para sahabat, salafush-shalih juga diberi amanah. Mereka orang-orang yang layak kita contoh.

Umar bin al-Khaththab Radhiallahu ‘Anhu ketika menjadi khalifah, beliau pernah dihadiahi minyak wangi kesturi dari penguasa Bahrain. Beliau lalu menawarkan kepada para sahabat, siapa yang bersedia untuk menimbang sekaligus membagi-bagikan minyak wangi kesturi itu kepada kaum Muslim. Saat itu, istri beliau, Atikah radhialla ‘anha., yang pertama kali menawarkan diri. Namun, beliau dengan lembut menolaknya. Sampai tiga kali istri beliau menawarkan diri, beliau tetap menolak keinginan istrinya. Beliau kemudian, berkata, "Atikah, aku hanya tidak suka jika engkau meletakkan tanganmu di atas timbangan, lalu engkau menyapu-nyapukan tanganmu yang berbau kesturi itu ke tubuhmu. Sebab dengan demikian berarti aku mendapatkan lebih dari yang menjadi hakku yang halal." (Al-Kandahlawi, Fadha-il A'mal, hlm. 590).

Pada riwayat lain juga pernah kita baca bahwa Khalifah Umar bin al-Khathab Radhiallahu ‘Anhu, pernah menjodohkan salah satu putranya, Ashim, dengan seorang gadis, anak penjual susu yang amanah. Kisahnya bermula saat sang Khalifah, sebagaimana kebiasaannya, berkeliling malam hari untuk memantau keadaan rakyatnya. Tak sengaja beliau mendengar percakapan dua orang wanita. Ibu dan putrinya, di sebuah gubuk kecil. Ibunya, merintahkan putrinya untuk mencampur susu dengan air. Kata ibunya, "Toh Amirul Mukminin tidak akan tahu." Namun, putrinya berkata, "Amirul Mukminin memang tidak akan tahu perbuatan curang tersebut. Namun, Tuhannya  Amirul Mukminin, Allah Subhanahu Wata’ala pasti tahu."

Khalifah Umar bin al-Khaththab Radhiallahu ‘Anhu, yang secara diam-diam mendengar percakapan itu pun bergegas pulang. Beliau lalu meminta putranya, `Ashim, untuk segera menikahi putri penjual susu tersebut karena ia gadis yang shalihah (Abdullah bin Abdul Hakam, Sirah `Umar bin `Abdil `Aziz, hlm. 23).

Hendaknya kita meneladani sifat amanah para sahabat dan salafush-shalih. Tidak ada tokoh lain di dunia ini, yang layak dijadikan referensi sifat amanah. Kita meneladani mereka karena keimanan, ketaqwaan, keistiqamahan, dan ketaatan mereka, bukan yang lain.

4.    Selalu berdo’a mohon dikuatkan Allah Subhanahu Wata’ala

Azamku kuat sudah tak bertepi, apalagi berbelah. Kuatkan Hamba Ya Rabb...di pundak rapuh ini diletakkan amanah terberat ini. Azamku semakin kuat dan semoga menjadi penguat. Memilih berada di barisan perjuangan, adalah nikmat terbesar yang selalu kuingat dan kucatat.

Inilah pilihan terbaik, di antara pilihan penting dalam hidupku. Di umur yang tidak lagi muda, hanya tinggal sisa hidup untuk menghadap Pencipta dan Pengatur Kehidupan. Jika aku belum jua berada di barisan ini, lalu kapan aku akan berbenah. Meskipun ajal rahasia Allah Yang Maha Kuasa.

Ikhtiar menjadi bagian dari pejuangan kebenaran adalan pilihan. Tidak ada jaminan, jika aku berpangku tangan. Agama ini tetap eksis di sisi Allah. Baik ada kita atau tanpa kita. Hidup adalah pilihan, mau mengambil peran perjuangan atau tidak. Jika kita tidak mengambil peran, pasti ada yang lain akan menggantikan. Bukan agama yang memerlukan kita, namun kita yang memerlukan agama. Betapa banyak orang biasa sepertiku disibukkan oleh urusan remeh temeh duniawi. Menghabiskan waktu, tenaga, harta dan energi. Apakah ada jaminan Allah untuk bahagia di akhirat sana?, Wallahu a’lam.

Aku selalu berdo’a, semoga langkahku memilih amanah ini menjadi langkah penting untuk meraih surga, menggapai kemenangan hakiki, menjemut bisyarah Rasulullah Shallallhu ‘Alaihi Wasallam. Aku tidak pernah menyesal dengan pilihan hidupku. Kadang nafsuku berkata, dan mengajakku untuk menggapai berbagai obsesi duniawi. Otak kecilku kadang dijejali  penilaian kanan kiri.  Sebagai insan lemah yang memiliki naluri, kadang berpikir untuk menuruti. Agar bisa hidup memukau dengan kekayaan berkilau. Kadang orang memandang apa yang kumiliki. Mengapa aku memilih hidup bersahaja, semua tidak punya, yang ada hanya selembar jiwa berlumur dosa. Hanya dengan memilih amanah terbesar ini, menjadi wasilahku untuk bahagia di sana. Sebagaimana Firman Allah pernah kubaca:

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginy, dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia,  dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat.” (QS. Asy-Syura[42]: 20).

Ini jalan yang sengaja, ikhlas, dan direncanakan dipilih. Memilih dengan penuh kesadaran dan kehangatan iman. Aku tidak akan sesali pilihan penting ini. Sebab di ujung sana ada pintu kebahagiaan sejati. Meskipun di mata manusia aku tidak punya apa-apa. Tidak mendapatkan apa-apa. Aku hanya bercermin pada pejuang sebelumnya, mereka nyaris tidak memiliki apa-apa, demi menggengam ridha Ilahi. Bahkan mereka mengorbankan semua yang dimiliki. Baik waktu, jiwa, harta, bahkan nyawa di jalan ini. Kadang aku menangis belum mampu setegar itu.

“Suatu hari Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dia diutus oleh Allah untuk menanyakan keadaan Abu Bakar Radhiallahu ‘Anha.,  yang kala itu berada di sebelah sang Nabi. Ia mengenakan jubah yang tak layak disebut jubah, karena hanya sehelai kain panjang yang dibelah dua lalu ia kenakan pada tubuh kurusnya yang menjulang. Jibril bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, mengapa pakaian itu yang dikenakan oleh Abu Bakar?. Tentu sebuah pertanyaan retoris, karena Allah telah tahu jawabannya. Sang Nabi menjawab hal itu dilakukan Abu Bakar karena semua hartanya telah dihabiskan sebelum penaklukkan Mekkah. Jibril lalu berkata, “Katakan padanya, duhai Muhammad, Rabbmu menanyakan kepadanya ‘Apakah ia ridhlo kepada-Ku dengan kefakirannya ataukah ia marah?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  meneruskan perkataan Jibril kepada Abu Bakar. “Duhai Abu Bakar, ini Jibril membacakan salam untukmu dari Allah Ta’ala, dan Dia berkata, ‘Apakah engkau ridlo kepadaKu dalam kefakiranmu, ataukah engkau marah?” Abu Bakar terhenyak mendengar ucapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Sambil bercucuran air mata ia menjawab, “Apakah kepada Rabbku aku marah? Aku ridho pada Rabbku, aku ridho pada Rabbku.”(Hilyatul Auliya, juz &, hal 105, Maktabah asy-Syamilah).

Aku malu dengan kisah ini. Perjuanganku baru dimulai. Kadang amalku pakai pretensi, minimal ingin dapat pahala, bahkan minta surga tertinggi. Aku terlalu pede, dengan amal secuil, lalu aku berharap surga Firdaus. Memang jalan perjuangan ini tidak mudah. Aku harus berupaya melatih kesabaranku. Merenungkan hidupku, bahwa keadaanku jauh lebih mulia di sisi Rabbku jika menolong agama ini. Semua kuserahkan pada-Nya. Hal terpenting aku harus optimalkan do’a, ikhtiar, dan daya juangku. Apapun qadha-Nya harus aku terima.  Aamiin...Bismillah.

 

Rabu, 12 Agustus 2020

REZEKI HAKIKI, BUKAN HANYA MATERI

Rabu, Agustus 12, 2020 0 Comments


Kembali merefleksi hakikat rezeki, bukan diukur dengan banyaknya materi. Bukan pula ditakar dengan  banyaknya harta dan besarnya tabungan pribadi. Rezeki sesungguhnya adalah semua nikmat, rahmat, hidayah, inayah, dan istiqamahnya insan memegang dan memperjuangkan kebenaran Ilahi.


Persoalan rezeki bukan persoalan iman, namun persoalan takaran taqdir yang ditetapkan Allah Subhanahu Wata'ala pada setiap insan.Lima puluh ribu tahun sebelum bumi diciptakan. Jumlah, bentuk, jenis, cara sampai pada setiap insan memiliki perbedaan. 


Jika rezeki diukur dengan aqidah dan taqwa. Maka para Rasul dan Nabi, ulama besar, dan orang paling shalih, tentu kaya semua. Namun banyak di antara mereka hidup susah, sederhana, bersahaja, dan jauh dari harta dan kemilau dunia.


Sebaliknya banyak orang-orang non Islam, tidak muslim, tidak beriman, bahkan atheis, bahkan banyak yang  milyader. Memiliki banyak aset, kekayaan pantastis membuat kita ngiler. Kemana saja pakai jet pribadi, punya pulau, villa mewah, dan semua urusan mereka serba super. Apakah pertanda bahwa Allah Subhanahu Wata'ala cinta dan sayang pada mereka secara bener?


Tiada nikmat yang pantas disyukuri. Selain hidayah, hijrah, dan terus berbenah. Mulai dari berbenah fikrah, thariqah,  aqliyah, nafsiyah, sampai syakhsiyah. Bertemu sahabat taat dalam hijrah, menyatu dalam ukhuwah. Aqidah dan tsaqafah Islam menjadi rabithah, penguat silah ukhuwah. Memang bukan karena ukhuwah kita hijrah, namun tanpa ukhuwah hijrah bisa  goyah, jika tidak Lillah. Bukan karena ukhuwah kita berbenah, namun tanpa ukhuwah, berbenah kurang menggugah. 


Sungguh, fikrah, thariqah Rasulullah, perpaduan antara antara keduanya, menentukan manusia berubah, menuju taat dan berbuat tuk kemajuan ummah. Tanpa fikrah dan thariqah yang valid, maka hijrah sekadar merubah arah. Awalnya  awam, akhirnya paham makna syahadah. Namun dalam kehidupan menganggap sepele pelanggaran hukum syariah. Meskipun setiap pagi dan sore dilafalkan doa' rabithah di akhir almathsurah.


Banyak organisasi yang dimasuki, dari sekuler sampai taat menurut kacamata insani, hingga sedikit hafal tabiat beberapa organisasi. Dari sekadar kumpul-kumpul berdiskusi. Sampai kegiatan bermanfaat secara manusiawi. Dari hanya sekadar mencari sensasi, gengsi, partisipasi, sampai memperjuangkan nasib di legislasi. Hanya satu yang demikian nyantol di Hati. 


Sampai pada suatu massa. Muncul persepsi, ibadah sunnah yang dilakukan, seperti shalat Dhuha, shalat Nafilah, Tahajjud, dan sedekah adalah ibadah luar biasa, untuk menjemput dan membuka rezeki dari Allah Subhanahu Wata'ala. Kala itu menduga rezeki hanya berwujud harta. Banyak uang, orderan berlimpah,  banyak usaha, lancar bekerja.  Setiap bulan tabungan bertambah nominalnya. Ada aset di mana-mana. Kala itu, berpikir rezeki hanya harta, kaya, jika kaya bisa bahagia. 


Kemudian berusaha menguatkan aqidah, menambah tsaqafah Islamiyyah, akhirnya persepsi tentang rezeki diperbaiki. Memang diakui,  harta termasuk uang memang rezeki. Namun harta dan uang adalah rezeki yang paling rendah dan hina di sisi Ilahi. Makanya nabi mengatakan celaka pada hamba materi. "Celaka hamba Dinar, celaka hamba dirham, celaka hamba busana, celakalah hamba perut bila terpenuhi dia merasa tenang, bila tidak, ia tidak merasa tenang" (H.R. Bukhari).


Logikanya, Nabi tidak memuji  hamba harta. Nabi yang kuat imannya, maksum dari dosa, dan istimewa di hadapan Allah Subhanahu Wata'ala, menganggap celaka hamba harta.  Tentu kita sebagai umatnya harus sami'na wa'atha'na pada Rasulullah. Kita hanya manusia biasa, gampang tergoda, dan mudah terkesima. Tentu harus ekstra hati-hati terhadap harta. Bukan tidak boleh berharta, namun jangan jadi hamba harta. 


Beranjak dari fakta ini, baru disadari, bahwa rezeki itu luas sekali. Semua yang ada dalam diri, dan di luar diri asalkan maslahah  menurut Allah Subhanahu Wata'ala adalah rezeki. Ketika lahir dengan potensi fitrah, punya akal, hati,  dapat anugerah dan mampu memenuhi kebutuhan jasmani adalah rezeki. 


Ketika  memiliki kemampuan mengelola gharizah beragama, gharizah melangsungkan keturunan, dan gharizah mempertahan diri, selaras dengan ketentuan Allah Subhanahu Wata'ala adalah rezeki. 


Ketika kita mampu mengelola dan  memberdayakan akal dan nafs kita agar sesuai dengan ketentuan syarak yang terdapat dalam al-Qur'an dan Hadits Nabi adalah rezeki.


Ketika kita diberi Allah kesehatan, kesempatan, kemauan, dan kekuatan untuk merealisasikan belajar Islam adalah fardhu 'ain (wajib bagi setiap individu) adalah rezeki.


Ketika kita diberi  Allah kesempatan, kesehatan, dan kemudahan untuk mengamalkan ilmu yang kita pelajari, menyesuaikan semua amalan dengan aturan Ilahi, dilindungi dari berbuat bit'ah, kurafat, dan tahayul adalah Rezeki. Sehingga kita beraqidah benar, beribadah shahih, bermuamalah benar adalah rezeki. 


Ketika Allah memudahkan kita untuk beramal shalih kemudian berjuang untuk menshalihkan orang lain secara intensif,  kontinue, konsisten dan istiqamah adalah rezeki. 


Ketika kita dikelilingi oleh orang-orang baik, orang shalih, sahabat taat dan shalihah, bertaqwa, mengingatkan kita tentang eksistensi hidup di dunia,   pentingnya aqidah dan taat pada adalah rezeki.  


Ketika masih memiliki kedua orang tua, meskipun sering marah-marah dan berulah, lalu kita lelah, kurang tabah menghadapinya adalah rezeki. Bakti pada orang tua merupakan ladang pahala, mengumpulkan banyak berkah.  Do'a orang tua diijabah, terutama ibu pembuka pintu surga. Berbakti sepenuh cinta, sebagaimana dulu ketika kecil orang tua menyayangi kita, maka pantaslah kita memohon do'a mohon perlindungan dan cinta Allah Subhanahu Wata'ala, dianugerahkan pada ortu kita.


Ketika kita memiliki sekeping hati, sebongkah otak,  secantik dan sekuat raga. Bersih dan suci hati terhadap sesama, jauh dari penyakit hati yang menyiksa,  dicondongkan untuk mencintai Allah dan Rasulullah. Itu adalah rezeki. 


Ketika semua harapan tidak menjadi kenyataan.  Cita-cita yang sulit dicapai, dihadapkan pada situasi sulit, banyak penderitaan, dan penuh keterbatasan, itu adalah rezeki. Sebab jika diringankan dan dimudahkan oleh Allah. Mana tahu kita akan kehilangan arah. Akhirnya berulah, dan jauh dari kata shalih dan shalihah. 


Tubuh yang sehat atau sakit keduanya adalah rezeki. Sehat dan sakit boleh jadi ujian, bisa jadi juga musibah dari Allah Subhanahu Wata'ala. Ujian untuk menaikan level keimanan, sedang musibah adalah cara Allah menggugurkan dosa hamba-Nya. Keduanya adalah baik di sisi Allah.  


Buya Hamka pernah menjelaskan pada anaknya, "Rezeki bukan bermakna kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan,  namun juga termasuk apa yang Allah anugerahkan padamu."


"Kamu belajar tentang shirah, Maryam binti Imran tidak menikah, tapi dapat anak. Itulah rezeki. Aisyah binti Abu Bakar menikah dengan Baginda Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, namun tidak punya anak. Itupun rezeki."


"Allah Subhanahu Wata'ala mendatangkan Nabi Musa 'Alaihi Salam ke rumah Fir'aun sebagai anak angkat untuk membawanya ke syurga. Namun Fir'aun tetap menjadi manusia celaka dengan memilih masuk neraka."


"Allah juga mengantarkan Nabi Nuh 'Alaihi Salam untuk menyelamatkan kaumnya,  tetapi anak isterinya sendiri durhaka dan enggan menerima dakwahnya."


"Pelajarilah sesuatu dari kisah-kisah seperti itu. Sungguh kamu akan paham bahwa rezeki setiap orang tidak sama."


"Setiap orang yang punya suami atau punya isteri, ada anak, dan ada tanggung jawab. Mudah dapat pahala. Tapi juga mudah dapat dosa."


Bagi yang tidak bertemu jodoh, yang tidak dikaruniai anak pun suatu rezeki juga.  Terlepas dari tanggung jawab dan resiko mau menjawab apa di hadapan Allah Subhanahu Wata'ala nanti."


Sebagai insan berpikir, bagusnya kita pahami konsep rezeki. Sebelum mengeluh atau galau  hati. Tidak ada yang semestinya untung dan tidak ada semestinya rugi.  Setiap kita mendapatkan apa yang kita kehendaki. Ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, bukan berarti kita tidak berhak mendapatkan rezeki. Qadha Allah itu sifatnya misteri. Ketika menerima setiap qadha apakah kita meneteskan air mata Ridha dan ikhlas, tabah dan tawakkal yang akan menghanyutkan kita ke Surga Allah Rabbul 'Izzati. Justru rezeki itu bukan bermakna kamu mendapatkan apa yang kamu kehendaki. Tetapi kamu Ridha dan ikhlas menerima apa yang Allah beri. Sebab kebahagiaan paling hakiki bukan terletak pada qadar rezeki yang Allah beri, tetapi sejauhmana manusia ridha menjalani setiap perjuangan, dan berupaya dalam setiap amalan mencapai taraf Ridha Ilahi.


Wallahu A'lam Bisshawab.