Sahabatku…
Seorang bapak pernah curhat, dengan wajah muram dan hati
yang resah. Katanya: “Aku kira menikah itu nikmat, ternyata derita yang
kudapat. Aku berharap diperlakukan sebagai raja, tetapi justru diposisikan
laksana hamba sahaya. Sakitnya… ah, sungguh sakitnya itu di sini.” Sahabat,
kalimat itu seperti jeritan jiwa yang kehilangan arah. Bukan sekadar keluh,
tapi tanda ada yang tidak seimbang antara harapan dan kenyataan.
Sahabatku…
Suatu ketika aku singgah di warung kecil, mendengar
bisik-bisik bapak-bapak. Mereka tertawa getir, menyembunyikan luka dengan
candaan. Katanya: “Jangan serahkan ATM pada istri, nanti kita tak bisa beli
rokok, kopi, atau paket data. Masa kita harus bayar pakai daun, nanti diusir
Tek Minah.” Aku tersenyum pahit. Itu bukan sekadar gurauan, tetapi suara
hati para lelaki yang salah paham tentang cinta. Bukan istri yang menjadi
masalah, melainkan kesulitan mereka mencipta harmoni.
Sahabatku…
Menikah bukan sekadar menyatukan dua tubuh, melainkan dua
jiwa, dua pandangan, dan dua jalan hidup. Bila tidak satu visi, tidak satu
misi, bagaimana mungkin bahtera berlayar tanpa diterpa badai? Suami lupa, bahwa
ia adalah imam. Lupa bahwa ia adalah qawwam. Lupa bahwa
kepemimpinan bukan untuk berkuasa, tetapi untuk menjaga, melindungi, dan
menuntun dengan kasih.
Sahabatku…
Rumusnya sesungguhnya sederhana: Jika suami ingin
diperlakukan sebagai raja, perlakukanlah istri sebagai ratu. Jika suami ingin
melihat istri bagai bidadari, ciptakanlah rumah yang bernuansa surga. Sebab
bidadari memang hidup di surga, bukan di warung kopi, bukan di dapur yang penuh
keluh, dan bukan di hati yang penuh luka.
Sahabatku…
Bagaimana caranya memperlakukan istri sebagai ratu? Izinkan
aku bagi rahasia ini. Prakteklah seperti obat, tiga kali sehari. Jika sakit
masih berlanjut, jangan buru-buru ke pengadilan. Datanglah dulu pada konselor
keluarga, atau duduklah bersama dengan hati jernih.
Pertama: Hindari Menyalahkan
Istri tidak mau diposisikan sebagai tersangka dalam rumah
tangga. Bila ada masalah, katakan dengan rendah hati: “Abang salah, maafkan
Abang.” Ajaibnya, sering kali istri justru menjawab: “Bukan, sayalah
yang salah.” Kerendahan hati suami adalah obat penenang hati istri.
Kedua: Istri Ingin Dihargai
Seorang ratu ingin didengar ucapannya, diperhatikan
tatapannya, dipenuhi panggilan jiwanya.
Jangan sampai saat istri bicara, suami sibuk menatap layar smartphone,
menjelajah dunia maya, tetapi lupa ada dunia nyata yang sedang memanggil. Ketika
engkau memberi sisa-sisa perhatian, jangan heran bila istrimu menjadi sensitif.
Sebab hati seorang ratu bukan untuk dipinggirkan, melainkan untuk dimuliakan.
Ketiga: Mendahulukan Istri
Nabi pernah bersabda kepada seorang sahabat yang memiliki
satu dinar: “Belanjakanlah untuk istrimu.” Sungguh, mendahulukan istri
adalah tanda kebesaran jiwa. Bukan karena suami lemah, tetapi karena suami
paham: cinta sejati diukur dari siapa yang ia dulukan dalam belanjanya, alam
perhatiannya, dalam pengorbanannya.
Sahabatku…
Sering kali masalah bermula dari sini: suami lebih
mendahulukan orang tua, kerabat, atau irinya sendiri, sementara istri dibiarkan
dengan kebutuhan yang tak terpenuhi. Belanja tak kunjung bertambah, padahal
harga-harga terus naik. Bagaimana mungkin seorang istri akan merasa bagai ratu,
bila handbody-nya habis, kerudungnya tak pernah baru, sementara suaminya masih
sibuk belanja untuk dunia di luar rumah?
Keempat: Hindari Membandingkan
Wahai suami, jangan pernah membandingkan istrimu dengan
wanita lain. Itu luka paling pedih bagi seorang ratu. Bila engkau berkata: “Lihatlah,
dia pandai mengatur rumah tangga.” Maka istrimu akan menjawab: “Bukankah
engkau yang selalu meninggalkan handuk sembarangan, lupa mematikan lampu, atau
lalai dengan urusan rumah?” Lidahmu yang membandingkan bisa membuka pintu
pertengkaran, seluas-luasnya.
Sahabatku…
Istri bukanlah bayangan wanita lain. Ia adalah takdir Allah
untukmu. Maka jangan ukurkan ia dengan perempuan yang bukan bagian dari
perjalananmu. Menuntut istri menjadi orang lain sama saja dengan menolak
anugerah Allah yang telah ditetapkan bagimu.
Sahabatku…
Lebih celaka lagi bila suami tak mampu menjaga pandangan.
Istrinya digandeng, tetapi matanya menatap perempuan lain. Ketika ditegur,
hatinya luka, cintanya terkikis. Bukankah Allah telah berfirman: “Katakanlah
kepada orang-orang mukmin agar mereka menundukkan pandangannya dan menjaga
kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka.”
Sahabatku…
Pernikahan bukan sekadar berbagi atap dan tempat tidur.
Pernikahan adalah jalan sufistik: jalan untuk melatih ego, menundukkan nafsu,
dan mengasah kesabaran. Suami bukan tuan, istri bukan budak. Keduanya adalah
hamba yang saling menolong menuju Allah.
Sahabatku…
Maka bila engkau ingin menjadi raja, jadilah raja yang arif.
Raja yang menundukkan egonya, bukan menindas pasangannya. Raja yang menciptakan
surga kecil di rumahnya, bukan neraka yang menyala setiap hari.
Sahabatku…
Jangan menunggu istri menjadi bidadari bila rumahmu belum
seperti surga. Jangan berharap istri berlaku sebagai ratu bila engkau belum
benar-benar memuliakannya. Cinta adalah amanah. Pernikahan adalah mihrab. Dan
rumah tangga adalah jalan menuju Allah. Maka jadilah imam yang sejati. Jadilah
qawwam yang penuh kasih. Dan jadikanlah rumahmu ladang ibadah, bukan medan peperangan.
Semoga bermanfaat
Salam ukhuwah
Darimis


Tidak ada komentar:
Posting Komentar