Follow Us @soratemplates

Minggu, 07 September 2014

MENULIS ITU GAMPANG

Minggu, September 07, 2014 0 Comments

Repost Oleh Darimis

Menulis itu gampang bagi penulis berpengalaman. Namun, bagi amatiran menulis adalah latihan memperbaiki pola pikir, pola analisis, pemetaan ide, dan keterampilan menuangkan ide dalam bentuk tulisan secara terus menerus. Tulisan ini adalah catatan berharga dari workshop penulisan dengan nara sumber Dr. Irwan Abdullah, dengan materi Kiat Menulis Karya Ilmiah Berstandar Nasional. Karena setiap kata dalam makalah daging semua, maka dikemukakan semuanya di bagian berikut.

Pendahuluan

Sebuah tulisan yang hadir dalam satu jurnal atau buku dan dibaca berbagai kalangan jarang sekali dilihat sebagai suatu hasil dari proses panjang, sejak pemilihan topik, mencari dukungan data, memaksa diri untuk menuliskannya, hingga menjamin suatu tulisan menjadi menarik. Tidak jarang untuk menyelesaikan tulisan itu seseorang harus pergi ke perpustakaan, atau ke suatu lokasi untuk mengumpulkan data, ke suatu instansi, dan bahkan mendiskusikan dengan orang-orang lain. Pendek kata, suatu tulisan selalu melibatkan banyak pikiran, waktu, dan pengorbanan dalam berbagai bentuk.

Sebuah tulisan indah dan menarik serta bermutu hampir selalu dihasilkan oleh suatu proses yang membutuhkan komitmen, perjuangan, kesungguhan, dan kesabaran. Ketika ia hadir di tangan pembaca, tulisan itu telah menjadi milik publik yang otoritas penilaian sudah berpindah tempat, kekuatan dan kelemahannya mulai dinilai oleh orang lain yang seterusnya menentukan perjalanan hidup sebuah tulisan itu.

Ketika suatu tulisan terbit dalam berbagai bentuk (jurnal atau bab dalam suatu buku), tulisan itu bisa cepat atau lambat dilupakan, tulisan itu bisa diacu oleh banyak orang, atau ia bisa mempengaruhi lahirnya tulisan-tulisan lain dari orang lain yang membacanya, bahkan dapat mempengaruhi suatu kebijakan. Suatu tulisan dapat saja memprovokasi lahirnya protes kaum muda (seperti tulisan Marxist atau kelompok kiri) atau melahirkan kemarahan ummat (tulisan Salman Rusdhi, Ayat-ayat Setan), dan berbagai kemungkinan lain yang sangat perlu disadari kemungkinan dan potensi yang dimiliki oleh suatu tulisan. Dengan demikian, suatu tulisan dapat dititipi nilai atau kepentingan moral-kultural atau politik-struktural di dalamnya, tergantung siapa penulisanya dan terkait dengan situasi kultural dan struktur yang memayungi atau ”menekan” sang penulis.

Sebuah tulisan yang baik dapat lahir atas sejumlah persyaratan yang kemudian menentukan daya pengaruh dari tulisan itu. Pemilihan isu di dalam menulis sangat penting karena tingkat aktualitas/kebaruan dari suatu isu yang dipilih memperlihatkan betapa pentingnya membaca suatu tulisan dan akan memberikan, paling tidak, suatu informasi baru. Kalau pun isu baru tidak ditemukan, masih ada peluang untuk melakukan perumusan ulang terhadap isu lama yang sudah jenuh dibicarakan. Isu terkait ”ulama”, misalnya, telah menjadi isu yang usang dan sudah banyak sekali ditulis, namun suatu formulasi baru yang kreatif dalam melihat ulama dapat menjadi topik yang menarik untuk ditulis kembali. Sebagai contoh, ulama dalam kaitanya dengan media (bagaimana ulama menggunakan teknologi dan media dalam dakwah) atau ulama dalam kaitannya dengan pemilu (bagaimana legitimasi ulama dalam pilihan partai), atau ulama dalam hubungannya dengan bencana (bagaimana ulama memberi peran penting di dalam trauma healing). Tentu saja banyak isu lain yang dapat dikembangkan secara kreatif dan inovatif yang menunjukkan sifat aktual dan kontekstual dari suatu tulisan.

Menarik tidaknya suatu tulisan juga ditentukan oleh kemampuan bahasa dan gaya penulisan yang memperlihatkan ciri khas dari suatu tulisan. Tulisan yang ditulis oleh seseorang seyogyanya memiliki karakter yang khusus yang membedakan tulisannya dengan tulisan orang lain. Pola dan karakter semacam ini harus dibangun, baik melalui pilihan kata, susunan kalimat, maupun gaya pengungkapan. Selain hubungan antarkalimat menjadi penting dalam suatu tulisan, juga teknik-teknik mengungkapkan sesuatu dengan cara tertentu perlu dipelajari. Daripada menulis ”... perubahan sosial adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari”, lebih menarik mengatakan ”... perubahan sosial adalah suatu yang niscaya...” atau ”... hanya perubahan yang bersifat kekal....” Tentu saja tingkat kelengkapan dari unsur-unsur atau aspek-aspek pembahasan akan sangat menentukan kekuatan dari suatu tulisan, sebagaimana halnya analisis yang tajam yang menyebabkan suatu tulisan enak dibaca dan mencerdaskan.

Makalah ini merupakan panduan teknis selain untuk memberikan pemahaman tentang seluk beluk menulis karya ilmiah, juga memberikan petunjuk praktis untuk meningkatkan skill (keahlian) teknis di dalam menulis karya ilmiah sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan dan standar yang berlaku. Tulisan ini dititikberatkan pada tiga kompetensi pokok: pemahaman strategi penulisan, keahlian di dalam menyusun tulisan, dan kemampuan di dalam meningkatkan kualitas atau standar tulisan. Ketiga pokok pembicaraan itu akan diuraikan satu persatu pada bagian berikut ini.

Pemahaman Strategi Penulisan
Strategi JITU dalam Menulis. Pertanyaan yang perlu diajukan dalam proses penulisan adalah: Bagaimana suatu tulisan yang berkualitas dapat dihasilkan? Apa ukuran pokoknya? dan Bagaimana melakukannya secara tekniks?. Seringkali kita tahu suatu tulisan berkualitas atau tidak, tetapi untuk mewujudkan tulisan yang berkualitas itu tidak mudah. Menurut hemat saya, tulisan paling tidak memenuhi syarat atau standar yang saya sebut sebagai JITU (Jelas, Intensif, Tepat, dan Unik). Empat hal ini menjadi ukuran penting tentang suatu tulisan yang baik, baik dalam pengertian substansi maupun sistematika berpikir di dalam menulis. Ukuran-ukuran lain tentu saja dapat digunakan, namun keempat hal inilah yang selama ini telah saya gunakan dan ikuti di dalam praktik menulis yang memberikan banyak kemudahan dalam proses kreatif dan apresiasi yang menggembirakan.

Setiap penulis sesungguhnya dapat mengembangkan caranya sendiri-sendiri untuk memungkinnya menghasilkan sesuatu secara produktif dan berkualitas. Keempat indikator tersebut membentuk suatu strategi dalam penulisan karya ilmiah yang masing-masing dapat dijelaskan sebagai berikut.


Jelas

Suatu tulisan haruslah memiliki fokus yang jelas karena suatu tulisan merupakan respons terhadap suatu isu khusus sehingga arah dari tulisan itu semestinya cukup jelas bagi si pembaca. Pada saat seseorang menulis perubahan sosial, misalnya, maka suatu tulisan tentang perubahan sosial haruslah menegaskan fokus yang akan ditulis: apakah menyangkut perubahan dalam hubungan sosial, atau pengelompokan sosial, atau struktur sosial. Istilah perubahan sosial sama sekali tidak jelas menegaskan apa yang sesungguhnya yang mau dibahas dalam suatu tulisan. Perubahan sosial dapat justru dibicarakan dalam judul ”perubahan solidaritas antarorang atau kelompok”. Ketidakjelasan itu bermula dari judul, rumusan masalah, hingga uraian unsur-unsur yang dipilih dalam suatu tulisan.
Kejelasan suatu tulisan dapat pula dilihat pada sistematika tulisan yang urut yang menunjukkan kejelasan arah. Hal ini terefleksi pada rumusan masalah atau isu yang dibicarakan dalam suatu tulisan. Pada saat kita berbicara tentang konflik, tentulah topik itu sangat luas karena tidak jelas arahnya. Namun demikian, kalau konflik itu dilihat dari ”faktor pendorong/penyebab konflik” atau ”dampak dari adanya konflik”, tentu akan menjadi jauh lebih jelas apa yang akan ditulis dalam suatu tulisan. Urutan logika yang jelas dalan suatu tulisan tehtu saja perlu dilengkapi dengan atau tampak dari kalimat-kalimat yang digunakan yang mudah dipahami.


Intensif

Intensif pada saat suatu tulisan dibaca tidak jarang muncul kesan bahwa tulisan itu ditulis dalam satu malam karena alur berpikir yang sangat runtut dan tidak terputus hubungan antara gagasan satu dengan gagasan lain. Dari halaman pertama hingga terakhir tulisan tersebut tidak menimbulkan kebosanan atau kesulitan untuk dibaca karena ditulis secara intensif. Tingkat intensitas dari suatu tulisan memang ditentukan oleh kemampuan konsentrasi sang penulis yang mampu membangun tulisan secara utuh dari depan hingga belakang secara utuh. Keterpaduan menjadi syarat bagi menariknya suatu tulisan, dalam pengertian bahwa hubungan setiap unsur harus dipelihara dan ditegaskan dalam berbagai kesempatan dan media. Kualitas semacam ini juga dapat dicapai dengan menjamin suatu konsistensi dalam gaya bahasa yang sangat menentukan kelayakan suatu tulisan untuk dikutip sang pembaca. Kekuatan suatu tulisan memang terletak pada tingkat keutuhan dari bagian pendahuluan, seting, bagian-bagian isi atau analisis, hingga penutup atau kesimpulan. Konsentrasi sang penulis selain tampak dari ketepatan komposisi dan hubungan satu bagian dengan yang lain, juga tampak dari tingkat kedisiplinan menjaga hubungan-hubungan antarbagian dan antaralenia dalam suatu tulisan. Satu tulisan memberi kesan utuh dan jalin menjalin antara satu aspek pembicaraan dengan aspek pembicaraan yang lain atau satu unsur dengan unsur lain dalam suatu bahasan.

Tepat
Ketepatan dalam suatu tulisan terkait dengan bagaimana suatu tulisan disusun atas dasar bahan yang tepat, baik menyangkut referensi yang digunakan dalam menentukan lahirnya suatu tulisan, maupun dalam pengertian kelompok bahasan dan tempat yang dijadikan landasan suatu tulisan. Bahan pustaka yang diterbitkan pada tahun 1980-an tentu menjadi tidak tepat jika sudah ada bahan pustaka yang terbit tahun 2000-an. Bahan-bahan yang sudah out of date itu tentu saja dapat digunakan jika sifatnya yang tua tersebut sebagai objek dari penjelasan. Misalnya, suatu tulisan memang bertujuan untuk menganalisis konstruksi pemikiran tentang agama dan konflik sejak tahun 1950-an. Suatu pustaka juga membawa implikasi aliran yang perlu diperhatikan dalam mengutip dan menggunakannya sebagai rujukan, apakah pustaka tersebut betul-betul relevan.

Demikian halnya dengan tempat, ketepatan dalam memilih tempat yang menjadi acuan tulisan sangat dibutuhkan. Apakah studi agama tepat kita bicarakan di Bali atau di Sumatera Barat; untuk studi konflik agama dibicarakan tentang Poso atau Aceh; untuk studi migrasi internasional Pontianak atau Banjarmasin yang dijadikan kasus; demikian pula pada tingkat kabupaten, kecamatan, atau desa dan dusun. Pertanyaan yang lebih rinci adalah: jika membahas masalah relijiusitas, apa tepat suatu perumahan dijadikan kasus acuan atau di suatu perkampungan orang Arab?

Banyak pertimbangan dan alasan yang perlu dikomunikasikan untuk menjamin bahwa suatu tulisan memang didasarkan pada pilihan-pilihan yang tepat. Meneliti kemiskinan tentu harus di tempat di mana kemiskinan itu betul-betul terjadi dan pada kelompok yang memang mengalami kemiskinan tersebut. Ketepatan juga perlu dibangun pada setiap pilihan kata dan kalimat yang digunakan karena pengertian yang ingin dibangun melalui suatu tulisan harus dikendalikan sedemikian rumah. Apakah, misalnya, perlu menulis ”banyak anggota masyarakat setempat menghadiri acara pengajian” atau ”kaum perempuan setempat menghadiri acara pengajian”. Anggota masyarakat yang dimaksud ternyata kaum perempuan karena itu memang pengajian untuk kaum perempuan. Analisis dalam suatu tulisan juga harus dilakukan dengan tepat, yakni harus didasarkan pada data yang dikumpulkan dengan metode yang tepat dan analisis dapat dilakukan dalam batas-batas yang dimungkinkan oleh data. Unik Suatu tulisan sesungguhnya memperlihatkan kepribadian dari sang penulisnya karena suatu tulisan memang disusun untuk memperlihatkan suatu kecerdasan dalam mengkaji dan mengkomunikasikan sesuatu pada pembaca. Untuk mencapai karakter semacam ini, suatu tulisan harus memperlihatkan suatu keunikan karena itu pula menyebabkan suatu tulisan menjadi perlu dibaca. Harus terpikir dalam benak bahwa isu atau topik yang dipilih belum banyak diperhatikan orang lain atau, paling tidak, berbeda dalam hal fokus dan analisis. Sebaliknya, pastikan bahwa kita tidak sedang menulis suatu isu atau masalah yang telah atau sedang ditulis oleh puluhan orang lain. Menulis tentang peranan ulama pastilah bukan pilihan yang tepat dalam arti keunikan ini, tetapi bagaimana kiprah ulama dalam dunia pengobatan dapat menjadi topik penting. Seringkali dibutuhkan kreativitas di dalam memilih isu atau topik untuk dibahas, yakni dengan membahas topik yang sama dengan perspektif yang berbeda, pada kelompok yang berbeda, atau pada masa yang berbeda (kontekstual).

Unik
Keunikan suatu tulisan memang dapat dibangun dengan sadar dalam berbagai bentuk, seperti menggunakan pilihan kata yang sangat berbeda dengan penulis lain. Kata-kata ”niscaya”, ”piawai”, ”dahsyat”, ”pertikaian”, ”murka”, dll, dapat menjadi karakter dari suatu tulisan. Keunikan suatu tulisan juga menjadi kunci dalam keterlibatan seseorang dalam berbagai dunia akademik dan publikasi.

Strategi JITU tersebut merupakan panduan untuk menjamin bahwa sang penulis paling tidak telah memperhatikan beberapa indikator untuk melahirkan sebuah karya ilmiah. Tanpa panduan semacam itu seringkali membuat kita menulis secara meraba-raba tanpa mengetahui apa saja yang penting diperhatikan dan bahkan dihindari dalam menulis. Seorang penulis umumnya mempelajari bagaimana menulis dari tulisan orang lain yang dengan cara itu juga tidak diketahui secara persis kiat tulisan itu dihasilkan. Untuk menerapkan strategi JITU tersebut, perlu dimulai dengan kemampuan mendefinisikan struktur tulisan secara sistematis. Struktur tulisan yang terumuskan dengan baik akan memperlihatkan alur berpikir yang sistematis dan mudah dibaca serta dipahami. Struktur Tulisan Ilmiah Sebuah tulisan selalu terdiri dari empat bagian yang saling kait: Pendahuluan, Seting/Gambaran Umum, Analisis, dan Kesimpulan.

Pendahuluan
Pada bagian pendahuluan dibicarakan alasan-alasan mengapa suatu isu atau topik menarik untuk ditulis, rumusan masalah atau fokus tulisan, dan bagaimana isu tersebut akan dikaji serta sistematika penulisan. Bagian Pendahuluan ini harus disusun secara menarik karena ia merupakan kunci dari arah suatu tulisan yang dapat menentukan pembaca akan meneruskan membaca tulisan itu atau tidak. Walaupun demikian, bagian Pendahuluan ini tidak boleh ditulis panjang lebar sebaliknya dipaparkan secara padat dan membantu pembaca memposisikan diri di mana.

Setting/Gambaran
Bagian seting atau gambaran umum seringkali terdiri lebih dari satu bab sehingga bab tulisan menjadi lebih banyak. Seting yang pertama adalah lokasi dan yang kedua adalah institusi yang dikaji atau bahkan kelompok yang dibahas atau suatu program yang perlu dipaparkan. Dalam penelitian tentang Implementasi Program Pengentasan Kemiskinan di Kabupaten Kubu Raya, misalnya, seting yang harus dibicarakan menyangkut: (1) Kubu Raya sebagai tempat; dan (2) Program Pengentasan Kemiskinan. Kedua bagian tersebut merupakan latar belakang untuk membahas isi pokok yang menyangkut isu implementasi program. Namun demikian, suatu tulisan dapat saja hanya terdiri dari satu seting, entah itu hanya Seting Wilayah atau hanya Seting Isu/Persoalan. Studi tentang teks atau kitab tentu saja tidak membutuhkan uraian tentang wilayah. Bagian seting kemudian hanya terdiri dari satu bab yang mendeskripsikan teks tersebut secara umum untuk memberikan dasar bagi isi dan analisis.

Analisis
Isi atau analisis suatu tulisan secara ideal dibagi ke dalam tiga bagian sesuai dengan rumusan masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang telah dibicarakan pada bagian pendahuluan. Karena bagian tiga merupakan bagian analisis maka pada bagian ini dijawab pertanyaan secara seksama. Jika pertanyaan tersebut menyangkut faktor maka bagian pertama dalam isi pokok tulisan ini dapat berupa Analisis Faktor Sosial, bagian kedua Analisis Faktor Ekonomi, dan bagian ketiga Analisis Faktor Budaya Analisis faktor ini juga dapat berupa faktor agama atau budaya, tergantung pada relevansinya atas kajian yang sedang dilakukan.

Bagian Analisis dapat juga berupa analisis proses atau analisis dampak. Jika analisis proses yang ingin digunakan dalam suatu tulisan maka penjabaran bab atau bagian tulisan menjadi tahapan-tahapan dari proses tersebut, yakni berupa tahapan 1, tahapan 2, dan tahapan 3 atau dalam studi kebijakan akan berarti: tahap formulasi, tahap implementasi, dan tahap evaluasi. Demikian pula halnya dengan analisis dampak yang dapat disusun kemudian menjadi dampak individu, dampak keluarga, dan dampak pada komunitas. Analisis tentu saja dapat dibagi secara sistematis dengan berbagai cara, apakah itu pembagian tegas, tataran/tingkatan dari yang terbatas ke luas atau yang rendah ke tinggi, dan dapat pula berbagai kategori yang lain yang dianggap logis dan relevan.

Kesimpulan
Kesimpulan Bagian terakhir dari suatu tulisan tentu saja bagian kesimpulan yang seringkali disebut sebagai penutup. Bagian ini berisi pernyataan tentang hal-hal yang paling penting yang dapat dikomunikasikan terkait dengan pembahasan yang dilakukan. Suatu kesimpulan harus berupa suatu kecerdasan yang hanya dapat diperoleh ketika sesuatu itu dikaji atau ditulis melalui suatu perenungan. Dengan kata lain, suatu kesimpulan tidak dapat ditulis jika kajian atau evaluasi atau diskusi tentang isu tertentu tidak dilakukan. Untuk sampai ke arah itu, permasalahan atau pertanyaan yang diajukan pada bagian awal tulisan diharapkan dapat dijawab pada bagian kesimpulan.

Seringkali bagian kesimpulan ini digunakan sebagai kesempatan untuk memposisikan tulisan atau kajian dalam hubungannya dengan kajian-kajian yang ada dalam bidang yang sama. Untuk menulis suatu artikel dari bagian pendahuluan hingga bagian kesimpulan/penutup tersebut dibutuhkan kemampuan teknis dan strategi yang tepat. Pertama, perlu diputuskan berapa halaman tulisan perlu ditulis. Untuk kepentingan artikel ilmiah kita bisa mulai dengan menulis 10-12 halaman 1 spasi. Untuk memulai menulis, perlu disadari bahwa setiap halaman 1 spasi berisi 3 alenia dengan asumsi per alenia terdiri dari 12-15 baris.

Artikel ditulis dengan cara yang sama maka dengan sendirinya tulisan akan terdiri dari kurang lebih 12 halaman satu spasi yang sudah memenuhi standar untuk sebuah artikel jurnal. Tentu saja alenia-alenia yang ditulis dapat mengikuti tiga tipe alenia, yakni alenia deskriptif, alenia deduktif, dan alenia induktif sesuai dengan kebutuhan dan karakter dari sang penulis.
Pentingnya Analisis dan Ketajaman Ketika secara teknis suatu tulisan sudah memenuhi syarat, maka kualitas substansi dari suatu tulisan akan dipertanyakan. Kualitas suatu tulisan sangat ditentukan oleh kemampuan memindahkan kumpulan data atau informasi yang bersifat deskriptif menjadi suatu pembahasan analitis yang mengandung penjelasan dan pemahaman yang komprehensif, kontekstual, dan mendalam. Peralihan tulisan dari deskriptif menjadi analitis membutuhkan serangkaian tahapan.

Paling tidak lima tahap dapat membantu memberi jalan untuk mencapai suatu tingkat analitis yang lebih baik dari suatu tulisan:


Pertama, deskriptif, yang tampak dari ciri tulisan terdiri dari paparan sifat-sifat atau unsur dari suatu gejala yang sedang dibicarakan. Kecenderungan ini dalam tulisan tampak dari adanya tabel atau data statistik atau kutikan hasil wawancara yang dihadirkan dengan berbagai cara dalam suatu tulisan. Teknik deskripsi ini dibutuhkan untuk hal-hal yang bersifat informatif agar si pembaca dapat mengetahui wujud dari sesuatu yang sedang dibicarakan.


Kedua, eksplanatif yang berisi penjelasan atas data atau suatu deskripsi. Suatu tulisan akan lebih berkualitas jika tidak hanya memaparkan, tetapi juga mampu menjelaskan ”mengapa” sesuatu itu terjadi atau berlangsung seperti yang dipaparkan. Deskripsi tentang prosentase pemilih Partai Demokrat dalam Pemilu 2009 yang berisi angka-angka berbagai kategori harus segera diikuti oleh suatu penjelasan atas pertanyaan ”mengapa” Partai Demokrat berhasil memenangkan Pemilu?

Ketiga, diskursif yang merupakan tataran yang lebih tinggi yang tampak dari kecenderungan tulisan memasukkan berbagai data lain dari berbagai sumber sebagai perbandingan dalam memahami apa yang sedang dibicarakan. Diskursif ini tampak dari kutipan teori atau literatur lain yang dihubungankan dengan tulisan kita agar memperlihatkan usaha kontekstualisasi tulisan ke dalam suatu perdebatan yang sedang terjadi. Jika kita berbicara tentang hubungan agama dengan perubahan sosial ekonomi, maka tulisan tidak bisa menghindarkan dirinya untuk tidak mengutip Max Weber. Pada saat kita menulis perlu mengambil sikap bahwa tulisan kita sesungguhnya merupakan bagian dari satu debat yang sedang terjadi di berbagai tempat oleh berbagai orang.

Keempat, interpretif yang memperlihatkan bahwa suatu tulisan sudah mampu membangun pemahaman atas sesuatu melalui pengertian dan makna suatu gejala yang dibicarakan. Interpretasi ini dapat dilakukan melalui kontekstualisasi ruang dan waktu yang memperlihatkan relevansi atas apa yang sedang ditulis.

Kelima, implikatif yang berisi analisis akibat dari adanya sesuatu yang sedang ditulis, baik itu bersifat teoretis-konseptual maupun praktis-teknis yang kemudian melahirkan pemahaman dan kebijakan baru terkait dengan isu yang sedang ditulis.
Ketika kelima tataran analisis ini dapat dipraktikkan dalam menulis, maka ketajaman sebuah tulisan akan muncul. Sebuah tulisan akan memberikan dampak yang lebih besar karena di satu sisi tulisan memberikan keluasan wawasan dengan kemampuan penulis memasukkan berbagai unsur yang kompleks dalam setiap narasi, di lain sisi tulisan memiliki ketajaman di dalam analisis dengan kemampuannya membahas suatu isu dengan menggunakan berbagai perspektif.

Suatu isu paling tidak dapat dilihat pada lima dimensi yang berbeda yang akan memberikan kekuatan suatu tulisan.

Pertama, setiap isu atau pokok bahasan dapat dibahas melalui definisi atau pengertian yang terkandung di dalamnya. Definisi atau pengertian tidak selalu berarti definisi formal suatu konsep, tetapi dapat juga berupa definisi operasional atau pemahaman secara umum tentang sesuatu yang sedang dibicarakan. Pada saat kita membicarakan relijiusitas, tentu saja selain definisi formal tekstual dapat pula dikemukakan pemahaman umum tentang relijiusitas yang menunjuk pada komitmen ibadah seseorang atau sekelompok orang.

Kedua, suatu pembicaraan dalam suatu tulisan perlu memaparkan bentuk atau format atau aspek-aspek dari apa yang kita sebut sebagai, misalnya, relijiusitas tersebut: apakah yang dimaksudkan dengan relijiusitas itu menyangkut dimensi/bentuk ideal/gagasan seperti tingkat penguasaan atau pemahaman agama, aspek/dimensi nilai atau sikap yang memperlihatkan tingkat relijiusitas seseorang, atau aspek prilaku/tindakan yang menunjukkan komitmen waktu dan fisik dalam melakukan ritual. Format atau bentuk serta dimensi/aspek dari suatu yang dibicarakan dalam tulisan akan secara langsung memperlihatkan seberapa luas kemampuan seseorang dalam memahami suatu pokok bahasan. Aspek atau dimensi ini dapat diperluas sesuai dengan topik atau isu yang dibicarakan.

Ketiga, relijiusitas, seperti juga fenomena yang lain, dapat dibahas dari sudut proses atau mekanisme operasionalnya yang menyangkut bagaimana relijiusitas itu berlangsung. Apakah itu melibatkan institusi agama, peraturan, atau tekanan-tekanan dalam masyarakat. Relijiusitas dapat juga terjadi akibat kontrol sosial dengan karakter yang berbeda pada seting sosial keagamaan dan politik yang berbeda. Pembicaraan tentang proses dapat juga berarti pemaparan nerdasarkan tahapan-tahapan yang relevan. Proses atau mekanisme ini membentuk suatu perspektif dalam melihat suatu pokok bahasan sehingga akan menyumbangkan pada ketajaman sebuah tulisan. Bahasan tentang proses merupakan suatu pernyataan tentang bagaimana suatu gejala ditempatkan dalam konteks yang lebih dinamis yang memungkinkan pemahaman secara lebih komprehensif.

Keempat, suatu pokok bahasan dapat dilihat atau dibicarakan dari faktor atau prakondisi kehadirannya atau keberadaannya. Faktor dapat menjadi dasar suatu pemahaman yang juga menyangkut sejarah lahirnya atau keberadaan sesuatu yang sedang dibicarakan dalam tulisan. Realitas sosial dapat diasumsikan sebagai suatu bentukan atas kekuatan-kekuatan yang berlaku yang perlu dibahas secara seksama dalam suatu tulisan. Pemahaman tentang faktor akan memungkinkan melihat suatu pokok pembicaraan dari perspektif yang berbeda yang memungkinkan munculnya pilihan-pilihan dalam analisis atau pemahaman suatu pokok bahasan. Kualitas tulisan akan tampak pada saat analisis faktor memberikan wawasan baru di balik suatu deskripsi yang telah diberikan tentang suatu isu atau pokok bahasan.

Kelima, suatu pokok isu dapat dibahas dari dampak atau implikasi keberadaan sesuatu yang menyangkut hasil dari adanya suatu gejala atau proses. Relijiusitas dapat dibicarakan dari dampaknya bagi tingkah laku individu atau bagi penataan sosial secara kolektif. Relijiusitas sebagai suatu praktik kolektif dapat bermakna atau berfungsi harmoni bagi kehidupan bermasyarakat yang dapat menjadi pokok bahasan yang menarik. Implikasi sesuatu juga dapat berarti implikasi teoretis atau konseptual yang muncul atas suatu gejala atau proses atau pokok bahasan dalam suatu konteks kajian. Pembicaraan tentang dampak akan memberikan kekuatan bagi tulisan karena memberikan dimensi yang lebih kompleks dan memperlihatkan ketajaman di dalam suatu analisis.

Kelima pokok pikiran di atas merupakan kemungkinan yang terbuka untuk dimanfaatkan dalam proses menulis yang sangat menentukan kekuatan suatu tulisan. Menulis dengan sistematis dan dengan penjabaran logis berdasarkan kelima pokok pikiran tersebut akan memungkinkan suatu tulisan bergeser dari tulisan deskriptif menjadi suatu tulisan analitis yang secara akademik memiliki mutu yang jauh lebih tinggi.

Penutup
Menulis itu gampang jika secara teknis kita menguasai caranya, yakni dengan memiliki keahlian dalam menjalankan tahap demi tahap penulisan. Menemukan ide untuk menulis, memformulasikan suatu isu yang akan dijadikan fokus, pembuatan outline tulisan, mencari dukungan data atas isu yang akan ditulis, memilih gaya penulisan, hingga teknik menulis dan menghasilakn sebuah karya. Paling tidak, tiga hal pokok dapat disimpulkan dalam keseluruhan proses tersebut.

Pertama, untuk menulis perlu terlebih dahulu dipahami dengan baik sasaran yang ingin dituju dan diacu dalam suatu tulisan. 


Apakah kita hendak berkomunikasi dengan pembaca kalangan berpendidikan yang cerdas dan kritis, atau kelompok masyarakat umum yang awam dalam bidang tertentu dan tulisan yang dihasilkan merupakan mandat untuk menjakankan misi mencerdaskan bangsa. Tulisan yang ditujukan untuk kalangan akademisi tentu saja berisi analisis tajam tentang isu tertentu yang kemudian melahirkan debat konseptual dan bahkan melahirkan teori baru dalam memahami suatu gejala. Ketika suatu tulisan ditujukan kepada pembuat kebijakan dan pengambil keputusan, maka suatu tulisan diharapkan berorientasi pada pemecahan masalah. Hasil dari analisis dalam tulisan tersebut berupa wisdom (pandangan bijak) yang dapat diacu dalam pemecahan masalah secara praktis dan teknis. Suatu tulisan yang ditujukan kepada publik yang lebih luas tentu saja harus memiliki bobot informatif yang lebih dominan dalam rangka perluasan wawasan untuk mendorong lahirnya kesadaran baru tentang sesuatu yang ingin dikomunikasikan.


Kedua, suatu tulisan sangat tergantung pada kekuatan gagasan yang dipilih dan dibangun.

Apakah suatu tulisan didasarkan pada suatu kejadian, peristiwa atau fenomena yang sedang terjadi di dalam masyarakat yang kemudian ditulis untuk memberi jawaban atas pertanyaan tertentu. Suatu ide dapat juga muncul akibat suatu keprihatinan individual atau kolektif atas ancaman-ancaman moral atau agama yang sangat perlu pemecahan masalah demi suatu kepentingan yang lebih besar. Tidak jarang ide menulis datang dari pihak lain atau pesanan untuk tujuan-tujuan tertentu. Dalam upaya memenangkan suatu partai dapat saja seseorang diminta menulis isu tententu yang menyebabkan tulisan tersebut mengandung bias yang merugikan. Pemilihan tema/topik/isu menulis memang bisa datang dari diri sendiri akibat perenungan atau suatu pengamatan, namun dapat juga datang dari orang lain yang memberikan ide atau bahkan memberikan uang untuk suatu kajian dan tulisan tertentu. Tentu saja integritas sang penulis dipertanyakan dalam hubungannya dengan kemandirian seorang penulis dalam menghasilkan suatu karya ilmiah. Paling tidak, kualitas suatu tulisan sangat ditentukan oleh gagasan atau isu yang dijadikan acuan dalam menulis sebuah karya.

Ketiga, menarik tidaknya suatu tulisan tidak dapat dipisahkan dari cara atau gaya pengungkapan tulisan itu sendiri. 


Pembeda satu penulis dengan penulis lain adalah gaya di dalam menulis, baik itu dalam pengertian kemampuan menggunakan bahasa secara efektif maupun dalam cara membangun argumen atau logika berpikir yang berbeda dengan kebiasaan umum. Pada saat satu tulisan mengatakan bahwa ”konflik merupakan suatu yang niscaya, yang kehadirannya dibutuhkan untuk penataan sosial yang lebih baik...,” maka tulisan itu sudah mengundang pertanyaan dan keinginantahu pembaca. Gaya penulisan semacam ini akan menjadikan tulisan menarik dan khas.

Banyak penulis yang memilik cara sendiri-sendiri dalam menggunakan berbagai teknik langsung atau idiom dalam mengungkapkan sesuatu dalam karyanya.

Di balik semua itu, menulis sesungguhnya membutuhkan komitmen untuk duduk dan menulis. Tidak banyak orang memiliki waktu atau mampu menggunakan waktunya untuk betul-betul duduk dan menulis. Memilih waktu duduk dan menulis adalah satu cara untuk bisa melahirkan suatu tulisan. Penulis yang berhasil, sebagian besar, adalah orang yang mampu memaksa dirinya untuk duduk di pagi buta dan menulis satu dua halaman setiap hari. Dan satu dua halaman itulah yang menjadikannya seratus halaman dalam tiga bulan. Selamat mencoba!

Minggu, 31 Agustus 2014

INSTALL ULANG SEMANGAT JUANG

Minggu, Agustus 31, 2014 0 Comments
Terlalu lama dipakai tanpa henti, 

Membuat loading hati semakin lambat. 
Mungkin ada pirantinya yang berkarat, 
atau fungsinya kian sekarat.

Sulit terkoneksi pada Ilahi, 
Walau berusaha sekuat energi, 
tapi tetap tak bereaksi,
Entah apa yang terjadi, 
Perlu muhasabah diri, 
intropeksi segala sisi, 
periksa setiap hari, 
hingga temukan jenis malware 
yang menginfeksi.


Penggunaan jari tak berarah, 
mengklik berbagai ikon yang disuguhkan, 
Tak paham itu jebakan, 
atau tipuan berkedok amalan, 
Padahal sejatinya setan-setan gentayangan, 
mencari mangsa dalam semua kesempatan.
Pemikiran mulai terinfeksi ide-ide sesat, 
agar berminat memodifikasi syariat. 
Ide-ide itu terus menggeliat, 
menginstal hati, pikiran, dan tindakan agar jauh dari ma’rifat dan nubuwat.

Virus itu terus menggerogoti. 
Mencuri berbagai password penting kesejatian diri, 
Agar kemajuan bertopeng globalisasi,
Bisa login ke berbagai sumber daya insani, 
Mengambil berbagai data urgensi, 
Membunuh semangat dan kehormatan diri, 
yang telah diperjuangkan setengah mati.

Ternyata anti virus yang terinstal melalui dua jam pelajaran agama, 
Tak cukup ampuh menolak virus-virus sekularisasi berbahaya. 
Pikiran pragmatis, matrealistis, hedonis, dan individualis terus disebar dengan berbagai propaganda. 
Akhirnya jiwa-jiwa tergoda, menganggap dosa urusan biasa,
Menegasi adanya hisab dari Yang Maha Kuasa,
Seolah neraka tidak ada, 
Syurga hanya imajinasi manusia putus asa,
Mizan dan shirat hanya bualan belaka.

Tiara cara untuk berubah, selain menginstal kembali semangat juang. 
Uninstal semua pemikiran dan paham usang. 
Buang semua ide-ide sesat yang berkembang. 
Gunakan aktivirus "makna syahadah" sampai kita dipanggil pulang. 
Walau banyak penghalang, atau godaan datang, 
Istiqamahkan hati di barisan pejuang

Rabu, 05 Februari 2014

INSAFLAH DIRI

Rabu, Februari 05, 2014 0 Comments

Insaflah diri...
Berharap pujian dari sehelai kelebihan
Menolak celaan dari sederet kekurangan

Insaflah diri...
Jangan dikira dirimu hebat
Allah yang telah menutup aibmu rapat-rapat
Hingga dosa di wajahmu tak terlihat
Allah menutup bau busuk setelah dirimu bermaksiat
Alasan apa yang membuatmu merasa bermartabat.

Minggu, 24 November 2013

MANAJEMEN PEDECE-A

Minggu, November 24, 2013 0 Comments


Manajemen pedece-a (PDCA) merupakan akronim menarik dari sekian uraian nara sumber pada acara workshop dan Pelatihan Audit Mutu Internal  pada hari Sabtu-Ahad/23-24 November 2013.   PDCA merupakan akronim dari Plan, Do, Check, dan Action, suatu model manajemen mutu  institusi. Model manajemen PDCA seperti uraian di bawah ini:
  1. Plan, artinya merumuskan rencana mutu dengan melakukan base-line study dan sesuaikan dengan seluruh standar yang berlaku di institusi; lalu tuliskan apa yang akan dilakukan;
  2. Do, artinya setiap unit secara berkala harus melakukan proses menggunkan dan melakukan kinerja sesuai standar yang telah ditetapkan;
  3. Check, artinya setiap unit melakukan monitoring -assessment, dan evaluation untuk menilai kinerja unitnya sendiri, dengan menggunakan standar  dan prosedur yang telah ditetapkan, dan pertanggungjawabkan apa yang telah dilakukan; dan
  4. Action, artinya lakukan  upaya perbaikan tindak lanjut untuk mencapai target  sasaran mutu yang ditetapkan.
Sangat bagus punya target menjadi Word Class University, asalkan diikuti dengan kerja cerdas, keras, tuntas, dan ikhlas. Target bukan mimpi, jika tidak ada sedikitkan indikasi, tetapi target akat tetap menjadi mimpi, jika sulit berkolaborasi, kurang visioner, sibuk dengan diri sendiri. Punya target atau mimpi sebenarnya sah-sah saja, siapa saja boleh bermimpi, bukankah sukses hari ini karena mimpi di masa lalu. Mimpi itu dapat diraih jika semua komponen berpedoman pada prinsip pelaksanaan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), seperti di bawah ini:
  1. Quality First, semua pikiran dan tindakan harus memprioritaskan mutu;
  2. Berorientasi pada kepuasan pemangku kepentingan internal dan eksternal;
  3. Mengutamakan kebenaran;
  4. Memiliki tanggung jawab sosial;
  5. Pengembangan kompetensi personal;
  6. Partisipatif dan kolegial;
  7. Keseragaman metode;
  8. Inovasi, belajar dan perbaikan berkelanjutan; dan
  9. Speak with data,  setiap pemangku kepentingan harus melaksanakan tindakan dan mengambil keputusan berdasarkan analisis data, bukan pengandaian, opini, apalagi rekayasa (Buku SPMI, UIN Syarif Hidayatullah, 2011:30)
Meraih mimpi besar, menurut hemat saya mesti melibatkan secara aktif semua civitas academica, organisasi profesi, alumni, dunia kerja  dan pemerintahan khususnya pada tahap penetapan standar. Kemudian melakukan pelatihan secara terstruktur dan terencana, sosialisasi tentang fungsi dan tujuan SPMI kepada pemangku kepentingan secara periodik. 

Terdapat beberapa istilah SPMI yang belum familiar di telinga. Bersumber dari Buku SPMI UIN Syarif Hidayatullah, halaman 21, Istilah tersebut yaitu:

Manual Mutu adalah dokumen tertulis yang berisi yang berisi sistem Manajemen mutu, tanggung jawab dan wewenang institusi, pengelolaan SDM, Realisasi layanan pendidikan, pengukuran, analisis dan perbaikan.

Kebijakan Mutu adalah dokumen sebagai bagian dari manual mutu, berupa pernyataan tertulis yang menjadi arah capaian seluruh  unit manajeman institusi pada periode tertentu.

Sasaran Mutu adalah pernyataan tertulis yang menjadi prioritas capaian institusi  dalam periode waktu tertentu, yang merupakan penerjemahahan dari kebijakan mutu.

Standar Mutu adalah dokumen tertulis berisi kriteria, patokan, ukuran, spesifikasi, untuk memandu pelaksanaan layanan yang harus dicapai. Standar Mutu itu banyak ada skala nasional, ada pula internasional. Standar nasional misalnya AIPT (BAN-PT), APS (BAN PT), SNPT Pendidikan (BSNP), SNPT Penelitian (BSNP) dan SNPT PKM (BSNP). Sementara standar Internasional, yaitu ISO 9001:2008, Webometrics, AUN-P, AUN-QA, AUN-I, dan QS. 

SOP adalah prosedur standar yang harus dikuti oleh manajemen dalam melaksanakan kegiatan layanan untuk kepuasan konsumen.

Monev, adalah mekanisme standar yang dilakukan manajemen secara periodik untuk memastikan bahwa pelaksanaan layanan  telah sesuai dengan perencanaan.

Evaluasi Diri, adalah kegiatan setiap unit secara periodek memeriksa, menganalisis, dan menilai kinerjanya sendiri selama kurun waktu tertentu untuk mengetahui kelemahan dan kekurangan.

Audit, adalah mekanisme standar yang dilakukan manajemen secara terjadwal untuk memastikan bahwa pelaksanaan layanan telah sesuai dengan standar yang ditetapkan.



Selasa, 12 November 2013

ILMU ITU WASILAH CINTA

Selasa, November 12, 2013 0 Comments


Hidup di dunia sebentar, hidup di akhirat abadi. Hidup di dunia sementara, hidup di akhirat selamanya. Meskipun hidup di dunia sebentar dan sementara, sangat ditentukan oleh orientasi dan cara menjalani hidup. Ketepatan dan kebenaran orientasi dan cara hidup tidak datang secara otomatis, spontan, atau muncul secara tiba-tiba, tetapi melalui ikhtiar optimal, mencari dan mencari serta terus mencari, belajar dan terus belajar tentang cara hidup dan orientasi hidup yang disetujui dan direstui Sang Pencipta.
Hidup yang direstui, disetujui, dan diridhai Sang Pencipta memerlukan ilmu.

Dengan ilmu manusia jadi mengetahui. Dengan ilmu manusia jadi mengerti. Dengan ilmu manusia jadi memahami. Dengan ilmu manusia jadi mampu melakukan yang terbaik. Dengan ilmu manusia mulia di hadapan Sang Pencipta. Ilmu merupakan perbendaharaan kehidupan manusa yang tak akan pernah habis, hilang, hancur, dan sirna bersama berlalunya waktu.

Ilmu menentukan seperti apa diri manusia di masa lalu, hari ini, dan nanti, termasuk di akhirat kelak. Ilmu menyelamatkan manusia dari kesesatan akal pikiran, kegalauan hati, dan kemaksiatan perilaku.

Ilmu adalah kunci pembuka semua kebaikan di dunia dan di akhirat. Ilmu penentu kebahagiaan hidup di dunia, dan kesejahteraan di akhirat.

Ilmu penentu ketepatan amal kebaikan (amal shalih). Sholat yang benar tergantung ilmu. Puasa yang tepat tergantung ilmu. Berzakat yang diterima Allah tergantung ilmu. Prediket mabrur dalam melaksanakan haji tergantung ilmu. Membaca, menghafal, mentadabburi, dan mengamalkan isi al-Quran perlu ilmu. Menjadikan pernikahan sakinah mawaddah warahmah perlu ilmu. Mewujudkan keshalihan anak-anak perlu ilmu. Bahkan untuk menjalani kehidupan sehari-hari dari bangun tidur di waktu fajar, sampai tidur kembali setelah Isya perlu ilmu.

Manusia perlu ilmu tentang hukum-hukum syarak. Menentukan suatu perbuatan mana yang boleh, wajib, sunnah, makruh, dan mana yang haram perlu ilmu. Semua perbuatan manusia terikat hukum syarak, yang akan diminta pertanggungjawaban kelak di Yaumul Hisab (Hari Perhitungan). Bagaimana manusia bisa paham hukum-hukum syarak dalam kehidupan, jika tidak memiliki ilmu.

Ilmu menjadi asbab ketinggian derajat manusia di sisi Allah Subhanahu Wata’ala setelah iman (QS.Al-Mujadalah ayat 11). Ilmu adalah wasilah/jalan cinta pencari kebahagiaan. Ingin bahagia di dunia dengan ilmu. Ingin bahagia di akhirat dengan ilmu. ingin bahagia dunia dan akhirat dengan ilmu (Hadis Nabi).

Mencintai Allah dan Rasulullah sangat perlu ilmu. Ingin dicintai Allah dan Rasulullah juga dengan Ilmu. Ingin mencintai Allah, manusia perlu ilmu mengenai nama-nama terbaik-Nya, sifat-sifat-Nya wajib dan mustahil-Nya, perintah dan larangan-Nya, yang amalan yang disukai dan dibenci-Nya. Mencintai Rasulullah perlu ilmu tentang sifat-sifat, sejarah kenabian (sirah nabawiyah), risalah yang dibawa, hadits-hadits, sahabat-sahabat, keteladanan, dan bentuk-bentuk perjuangan Rasulullah menjadi manusia teladan sepanjang sejarah. Mencintai Allah dan Rasulullah sangat perlu Ilmu, apatah lagi ingin dicintai Allah dan Rasulullah tentu sangat sangat memerlukan ilmu. Ilmu itu cahaya tidak semua orang mendapatkannya, “Barang siapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan, maka Dia akan memahamkan agama baginya.”(HR. Bukhari).

Di akhirat kelak, hanya dua tempat menetap, yaitu syurga dan neraka. Tidak ada tempat di antara keduanya. Untuk memudahkan masuk syurga dan terhindar masuk neraka perlu ilmu dan amal shalih. Allah menjanjikan penuntut ilmu “Barangsiapa yang menempuh jalan menuntut ilmu, Allah akan memudahkan jalannya menuju syurga (HR. Muslim).

Maka bagi pecinta Ilmu, liqaq (pertemuan) ilmu, atau majlis ta'lim dengan guru (murabbi) merupakan taman di antara taman-taman syurga.

Bagi pecinta ilmu liqaq adalah muara kebaikan, dengannya dia mempelajari halal dan haram, takwa dan fujur, pahala dan dosa.

Bagi pecinta ilmu murabbi adalah anugerah, yang dengannya melabuhkan rasa ingin tahu dan kerisauan atas ketidaktahuan yang membuatnya terperosok dalam kesalahan.

Bagi penuntut ilmu, ilmu adalah jalan cinta yang senantiasa ditempuh untuk meraih puncak kebaikan dan kemuliaan di sisi Sang Pencipta.
Wallahu A’lam Bisshawab.

Senin, 26 Agustus 2013

KEKUATAN PILIHAN

Senin, Agustus 26, 2013 0 Comments

Hidup menyediakan banyak pilihan. Memilih melakukan atau tidak melakukan, kiri atau kanan, positif atau negatif, hitam atau putih, berhenti atau maju, memilih jalan taqwa atau fujur, ingin diridhai Allah atau dimurkai, mengeluh atau mencari solusi.
Ketika dihadapkan dengan pilihan, bukan sekadar memilih, tetapi benar-benar memilih. Memikirkan plus minus setiap pilihan, mempertimbangkan berbagai konsekuensi dari suatu pilihan, dan mempersiapkan beberapa strategi untuk mengatasi setiap masalah yang timbul dari pilihan. Hal yang paling penting setiap pilihan terikat dengan hukum syara', yang akan dipertanggungjawabkan nanti di pengadilan Allah Subhanahu Wata'ala.
Ketika memutuskan suatu perbuatan, disitulah kekuatan pilihan. Misalnya memilih mengeluh atau mencari solusi. Jika kita bangun pagi dan terus mengeluh, maka kita mengecewakan diri sendiri dan orang sekitar, bahkan mengecewakan Allah yang mengamanahkan kehidupan. Seakan kita tidak bersyukur atas nikmat yang kita terima.
Awali pagi kita dengan bersyukur. Mulai aktivitas setiap hari dengan bersujud pada Sang Pengatur kehidupan, lewat tahajjud, dzikir, dan berdo'a di sepertiga akhir malam. Lakukan setiap aktivitas dengan penuh cinta, maka beragam solusi menjadi keniscayaan.
Hidup menyediakan banyak media untuk membantu kita berpikir, kemudian mengubah sikap kita agar lebih baik dari hari sebelumnya.
Kita melihat orang sukses dan orang gagal di sekitar kita. Ada orang tidak punya target kehidupan, pemalas, penakut, pesimis, dan tidak berani memulai apapun. Ada juga orang bermimpi besar, bercita-cita tinggi, rajin, berani, optimis, dan memiliki inisiatif memulai sesuatu dari nol.
Sedikit merefleksi kondisi orang gagal dan orang sukes, dapat membantu kita memilih,memutuskan, dan membuat beberapa perubahan dalam hidup. Walaupun berlahan, bertahap namun jelas. Ketika aktivitas kecil direspon baik orang lain, kita ulangi berkali-kali. Kita akan menemukan banyak keajaiban, kemudahan, dan keuntungan. Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum (atau seseorang), kecuali kaum (seseorang) itu merubah dirinya sendiri.
Berpikirlah di luar kotak (think out the box), ambillah pilihan berbeda dari pilihan sebelumnya, berpacu agar lebih baik dari diri kita yang dulu. Berani menjadi eksklusif dari pilihan orang lain, asalkan dalam karidor syariat. Mulailah langkah pertama, satu langkah kecil setiap hari, setiap minggu, setiap tahun menjadi berjuta langkah. Langkah-langkah tersebut mengantarkan kita pada kesuksesan.
Rayakan setiap sukses dengan bersyukur, bukan sekadar bersyukur, tetapi bersyukur secara totalitas, dengan ucapan, hati, dan perbuatan. Sembari mengevaluasi ketepatan, kepantasan, dan kebenaran langkah demi langkah. Perbaiki diri sendiri dengan memperbaiki atau pola pikir (mindset, persepsi), pola hati (keimanan), pola sikap (afeksi dan konasi/niat), dan pola perilaku (behavior/amal), dengan cara yang berbeda.
Jadilah pencari solusi, problem solver, bukan mengeluh (self reminder and my son only)
Wallahu A'lam Bisshawab

Minggu, 17 Maret 2013

HIDUP ADALAH PERMAINAN DAN SENDA GURAU

Minggu, Maret 17, 2013 0 Comments


Rangkain bait syair mengungkapkan bahwa: Hidup adalah panggung sandiwara. Para penulis cerita non-fiksi juga mengatakan bahwa hidup adalah sebuah fiksi. Terurai dalam rangkaian cerita panjang, dijelaskan dengan kalimat aktif atau pasif, memiliki alur, dan peran pemain yang beragam, baik pemain yang baik (peran protagonis), pemain jahat (peran antagonis) maupun pemain piguran. Peran tersebut berganti  tergantung situasi, kondisi, kebutuhan, dan tuntutan dan alur cerita itu sendiri. Semua peran tersebut mesti ada dalam permainan, agar cerita yang dimainkan tidak terasa membosankan. Cerita terasa seru jika ada pertentangan antara peran baik dan peran jahat, timbul dinamika, ada perseteruan, dan akhirnya ada pemenang dan pihak yang kalah.

Hidup pun begitu, laksana permainan, manusia memainkan peran sesuai dengan deskripsi tugas yang diamanahkan kapadanya, setiap peran membutuhkan pemahaman, penguasaan, dan penghayatan mendalam, sehingga peran yang dimainkan dengan seprofesional  mungkin,  akan mendapatkan penghargaan atau apresiasi tidak saja dari manusia tetapi juga  dari Allah SWT. Peran apapun yang dimainkan di panggung kehidupan,  tidak ditentukan oleh tindakan pemain, tetapi sangat ditentukan oleh cara membaca tindakan pemain dalam cerita itu. Cara membaca tindakan pemain ditentukan oleh pengetahuan tentang peran dan alur cerita, tanpa pengetahuan itu, kita hanya sekadar penonton pasif yang hanya sekadar menonton, atau pemain hanya sekadar main. Akhirnya muncul ketidakjelasan peran dan kekeliruan pemahaman terhadap cerita.

Selama ini, para pendidik selalu menasehati,  agar anak  menyukai dan meniru pemain protagonis, sebaliknya anak di diminta membenci dan menghindari perilaku pemain  antagonis. Saya berpikir bahwa kedua peran  itu memiliki  alasan yang tak terbantahkan. Peran antagonis sangat perlu untuk meniru cara sukses seseorang. Peran antagonis juga diperlukan untuk kita belajar tentang penghalang  menuju kesukssesan. Ada Penggangu yang selalu berupaya mengahalangi setiap langkah kita menuju kebaikan, sehingga kita perlu memikirkan strategi untuk menaklukkanya. Pemain antagonis sangat menghayati perannya, buktinya semuanya orang membenci tokoh antagonis tanpa perlu berpikir atau merencanakannya lebih dahulu, kebencian pada tokoh  antagonis muncul spontanitas  sebagai hasil dari dokrinasi bahwa kita wajib mencontoh tokoh protagonis, baik di dunia nyata maupun dalam fiksi.

Di dunia ini kita adalah pemain dari peran kita, kita benar-benar pemain, kita dintuntut untuk bermain sebaik-baiknya, yaitu pemain yang menghayati peran dan berusaha menjadi pemain berkarakter, artinya setiap dialog yang diungkapkan dari bahasa verbal dan nonverbal benar-benar dikuasai cara dan maksudnya, tidak peduli kita pemain protagonis atau pemain antagonis, dalam dunia film tidak ada peran kecil, yang ada hanya aktor kecil. Dunia ini ada peran-peran itu, maka ketika telah mendapatkan peran, maka terima dan bersyukurlah kepada Allah Swt yang telah mencasting peran kita, bermainlah secara profesional, dan hayati peran yang didapatkan dengan sempurna.

Iblis adalah pemain yang profesional, pemain sangat berwatak, maka ada ungkapan berwatak iblis. Se-antaro jagat tidak ada orang yang tidak kenal Iblis, sang pemain antagonis yang sangat berwatak, ini suatu penghargaan terhadap iblis, karena kepiawaiannya memainkan perannya sebagai Iblis. Kita mungkin berasumsi bahwa iblis adalah makhluk durhaka pada Allah SWT, padahal mustahil sebagai makhluk durhaka kepada Tuhanya. Allah adalah fungsi kekuasaan, Allah Yang Maha, tanpa kekuasaan yang tidak terbatas Dia bukan Tuhan.Iblis adalah mahkluk yang sangat patuh pada Allah, dia patuh untuk memainkan perannya  sebagai tokoh antagonis,  yang tanpaknya membangkang pada Tuhan, padahal di hadapan Penguasa Tak Terbatas, sebagai makhluk tidak akan mampu membangkang dalam arti sesungguhnya, kecuali dia casting untuk itu. Iblis dicasting Allah untuk peran tersebut, karena Allah sebagai sebagai sudradara Agung kehidupan, Maha Pengatur, iblis harus patuh pada Sang Sudradara, untuk kepatuhanya itu, nanti di akhirat iblis mendapatkan hadiah, yaitu kembali kerumahnya :NERAKA. Bukankah iblis diciptakan dari api, jadi  ganjaran yang paling cocok bagi peran iblis adalah neraka sebagai tempat tinggal yang nyaman dan menyenangkan untuk iblis.

Hidup adalah panggung sandiwara, Al-qur’an mengatakan bahwa Hidup adalah permainan dan senda gurau. Bermainlah secara profesional. Yakinlah permainan baik akan dibalas oleh Allah dengan ganjaran kebaikan. Pemain protagonis mendapatkan ganjaran sorga, dan pemain antagonis akan mendapatkan ganjaran neraka. Kedua ganjaran tersebut sangat setimpal dengan peran yang dimainkan. Bagi pemain protagonis ganjaran surga adalah ganjaran yang sangat diharapkan, begitu pula ganjaran neraka bagi pemain antagonis. Seperti iblis, diberi ganjaran neraka, justru jika diberi ganjaran surga dia merasa di neraka. Sebab jika hati penuh kebencian apakah akan terasa nyaman di surga bersama orang-orang yang penuh cinta, malah iblis akan merasa terasing dan  dan tersisihkan. Memang penghuni surga tidak mampu berbuat seperti itu, tapi iblis sendiri akan sadar diri bahwa dirinya tidak pantas dan bergembira di sana. Buktinya, dulu ketika di surga iblis tidak cukup gembira hidup bersama para malaikat, sehingga membujuk Adam dan Hawa untuk keluar dari sana.

Bagi iblis, neraka tempat yang nyaman, karena Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya, jadi kalau dijebloskan ke dalam neraka, jangan Shuuzdon kepada Tuhan. Barbaiksangkalah, bahwa Dia ingin kita berada di tempat yang cocok, jangan sibuk menghujat Tuhan karena kesalahan, tapi bersyukurlah,karena di sana masih dapat terus melakukan apa yang selama ini biasa dilakukan terhadap  hidup. Lagi pula tidak merubah keadaan, apapun hujatan terhadap Tuhan, tidak akan merubah kenyataan bahwa Tuhan tetaplah Tuhan.  

Wallahu A'lam Bishawab