Follow Us @soratemplates

Senin, 27 Januari 2020

MAAFKAN, JIKA SAYA LUPA

Senin, Januari 27, 2020 0 Comments
Pagi itu, di salah satu masjid di kota ini. Saya dihampiri akhwat sebelum kajian dhuha dimulai, "Masih ingat saya bu?" saya terdiam, berusaha keras untuk mengingat,  namun gagal. "Dulu, saya mahasiswa ibu," dia mencoba membantu ingatan saya, namun sebegitu keras saya berusaha mengingat, tetap saja saya tidak mampu mengingat akhwat tersebut.

Sebenarnya, saya bisa saja berargumen bahwa mahasiswa yang pernah saya ajar itu banyak. Datang silih berganti setiap tahun akademik. Ditambah lagi saya pernah mengajar tidak di satu perguruan tinggi.

Saya tidak tega melihat ekspresi kecewanya. Wajahnya sangat berharap saya mengingat dia. Namun saya tidak mampu. Saya hanya tersenyum, menanyakan kabar, dan mendo'akannya. Dia menjawab, tapi kelihatan agak kecewa, karena saya tidak menyebut namanya. "Ya Rabb bantu hamba mengingat namanya" do'a saya dalam hati".

Kejadian ini tidak sekali, dua kali terjadi. Ini pengalaman yang tidak menyenangkan, ketika bertemu seseorang yang berusaha mengingatkan saya tentang dia, namun saya berulang kali tidak berhasil mengingat nama, kapan, dan dimana bertemu dengannya. Ini peristiwa memalukan, bahkan menyedihkan bagi saya pribadi. Sama halnya dengan saya, ketika menyapa seseorang, namun orang itu tidak mengenal atau tidak ingat saya, atau pura-pura tidak ingat.

Pengalaman ini pernah terjadi. Ketika saya bertemu seseorang yang sudah saya kenal bertahun-tahun. Kemudian komunikasi terputus, dia hidup di kota lain. Dia sukses dalam karirnya, punya anak berprestasi, rumahnya mentereng, dan memiliki kenderaan mewah. Ketika bertemu, saya ucapkan salam tapi tidak dijawab, jabatan tangan saya tidak dibalas, malah dia pergi seolah tidak pernah kenal saya. Saya heran, ada apa ini? apakah saya pernah menzaliminya? Belakangan, saya dengar dari beberapa teman, memang selama ini dia memang demikian, kecuali pada pejabat, orang berkedudukan, terhormat, kaya, dan berjasa padanya. Barulah dia akrab.

Saya heran, masa sih kita harus demikian? Merasa tak pantas ramah pada semua orang? Terutama pada mereka yang seaqidah dan sesama muslimah? Islam yang saya pahami tidak demikian. Kenapa kita harus lupa daratan, menjadi manusia tinggi hati, dan alkibr. Kriteria alkibr di antaranya: merendahkan dan sengaja melupakan orang lain, tidak menyapa, tidak mengucapkan salam, tidak tersenyum, serta enggan berjabat tangan.

Oleh karena itu, wahai ananda sayang, jika kita pernah membahas sepenggal ayat Allah dalam kelas, maafkan ibu jika ibu lupa nama ananda, ibu hanya manusia biasa yang memiliki keterbatasan."
Ibu pun berusaha sekuat tenaga mengingat siapa yang pernah ibu temui, berteman dengan ibu, dan pernah belajar dan beraktivitas bersama ibu,
karenanya maafkanlah ibu, jika ibu lupa."

Jangan sungkan untuk menyapa, mengucapkan salam dan ulurkan tangan jika berjumpa. Insyaa Allah saya akan menyambut dengan hangat, baik saya berhasil mengingat, ataupun tidak. Karena, saya juga sedang belajar untuk menjadi teman yang baik, yang hangat bagi muslimah lain, bukan karena sok akrab, tapi karena belajar dan berusaha mengikuti tuntunan Nabi kita.

Bukan hal yang sulit untuk tersenyum, mengucapkan salam, berjabat tangan pada sesama muslimah. Walau saya tahu ada juga orang yang enggan melakukan itu pada semua muslimah. Ada orang yang lebih memilih mulutnya terkunci, salam tak terucap, dan enggan berjabat tangan antar sesama muslimah.

Tetapi bagi kita, hanya Allah yang Maha Tinggi yang berhak sombong, meski kita tahu Allah juga Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tidak wajar dan tidak pada tempatnya kita merasa lebih berhak tinggi dan sombong dari Allah? Na’udzubillahi min dzalik. Sekali lagi, maafkanlah, jika saya lupa.

Masjid Baitul Muttaqin Kota Malang, 140719

Senin, 20 Januari 2020

MENJADI DIRI SENDIRI

Senin, Januari 20, 2020 0 Comments
Tanpa disadari, terkadang kita kehilangan independensi dan kesejatian diri. Gaya hidup dipilih atas dasar gengsi, bukan pilihan sadar, terencana, penuh kalkulasi, sesuai kemampuan diri, dan terhindar dari berbagai konsekuensi.

Demi gengsi kadang tanpa sadar kita dicekoki ideologi asing, seperti  kapitalism, materialism, liberalism, pragmatism, dan hedonism. Ideologi asing menjadikan kekayaan, harta, uang, mobil, emas, dan kesenangan dunia sebagai simbol eksistensi dan keberhargaan diri. Demi simbol itu, kita melakukan berbagai upaya untuk memperbanyak kuantitas simbol-simbol tersebut.  Ukuran keberhargaan diri bagi idelogi asing itu adalah kuantitas kepemilikan harta. Semakin kaya seseorang semakin dihormati, diperhitungkan, dan disegani. Untuk itu, mereka memperbanyak jumlah simbol-simbol kekayaan (rumah mewah, mobil mewah, perabotan mewah, perhiasan, aneka  barang elektronik bermerek, canggih keluaran terbaru dll).

Bagi penganut ideologi asing itu,  hanya simbol-simbol tersebut dan kesenangan ragawir yang diperjuangkan. Wajar saja, mereka tidak meyakini hari berbangkit, dan menafikan keberadaan Tuhan dalam hidup mereka. Anehnya, kita yang meyakini Islam sebagai agama sekaligus ideologi pun  terjebak dengan ideologi tersebut, sehingga pandangan kita terhadap kemuliaan manusia pada awalnya pada tingkat ketaqwaan,  bergeser pada pandangan kemuliaan menurut perspektif ideologi asing tersebut. Kita mempersepsi hidup bahwa ukuran kemuliaan manusia adalah banyaknya jumlah simbol-simbol kekayaan seseorang. Semakin kaya semakin dimuliakan, dihormati, disegani, dan disanjung. Sebaliknya semakin miskin, bersahaja, hidup sederhana, dan tidak punya semakin dipandang hina. Terkesan kita menafikan ukuran kemuliaan menurut Pencipta kita.

Demi apa? ya demi gengsi. Kita gengsi dikatakan miskin. Kita gengsi hidup sederhana. Kita gengsi jika tidak punya mobil.  Kita gengsi berjalan kaki. Kita gengsi naik gojek. Kita gengsi jika tidak punya pakaian, tas,  sepatu bermerek. Kita gengsi jika tidak jalan-jalan. Kita gengsi semuanya jika sama dengan orang lain. Kita meletakkan gengsi pada simbol-simbol yang tidak kita buat berlandaskan pemikiran, prinsip, dan ketentuan Pencipta kita. Bahkan kita tidak paham makna gengsi itu sendiri. Kita hanya ikut-ikutan. Kita kadang tidak paham alasan mengapa kita berbuat sesuatu.

Atas dasar ketidaktahuan kita tentang standars hidup Islami. Atas dasar ketidakmengertian kita tentang sistem ekonomi dalam Islam, kita mudah dikelabui dengan istilah "syari'ah" dan "halal." Pengalaman menarik, ketika bertanya pada seseorang yang dianggap mumpuni "Bagaimana menurut almukarram, jika saya ambil pembiayaan pemilikan rumah (PPR) di bank syariah x? Dengan semangat almukarramnya menjawab: "Bagus, menurut saya yg ada label syari'ah itu berbeda akadnya dibandingkan dengan yang konvens. Kenapa? karena segala sesuatu ditentuntukan oleh akad. Orang berzina dan suami istri perbuatannya sama tapi akadnya berbeda, maka hukumnya berbeda, yang satu halal, yang satu haram. Akhirnya  si faqir ilmu fiqih seperti saya menerima pendapat almukarram tersebut. Jadilah ketika itu bambil pembiayaan pemilikan rumah (inilah resiko berbuat tanpa ilmu, semoga Allah mengampuni, aamiin).

Menuntut ilmu itu memang sepanjang hayat. Supaya kita jangan tersesat. Beramal tidak boleh menggunakan ukuran perasaan dan anggapan. Merasa caranya sudah benar, menganggap perbuatan kita sudah benar menurut kita sendiri. Padahal belum sesuai syariat. Kita tidak terkecoh dengan label syari'ah, padahal cara, prosedur kerja, istilah lain yang mengiringi akad itu masih konvensional. Jadi, "kemasannya syariahs isinya tetap konvensional."  Kadang kita tidak peduli, mau syariah, mau konvensional. Sama saja, sama berhutang, masih mendingan dari pada minjam ke tengkulak. Logika ini perlu dikritisi, berutang boleh dalam Islam, asalkan nama, cara, prosedur, dan tujuannya sesuai Islam. Bahkan ayat terpanjang dalam surat al-Baqarah adalah tentang utang, namun harus berlaku syarat dan ketentuan Islam.

Ironisnya, sebagian kita yang sudah tahu hukum suatu perbuatan melanggar ketentuan. Demi apa? Demi gengsi. Kita tidak peduli, asalkan ambisi mempertahankan gengsii tercapai, asalkan kita dianggap gaul, berkelas tepenuhi, cara apapun sah-sah saja, dan aneka bentuk ngeles lainnya. Untuk hal ini logika kita seolah menghadirkan sejuta argumen. Tapi apakah nanti kita masih bisa ngeles di pengadilan Allah.

Demi gengsi kita kehilangan jati diri. Siapa bilang tidak boleh kaya. Buktinya sahabiyah ada yang kaya, bacalah kehidupan Khadijah binti Kuwailid. Kaya itu boleh, yang tidak tepat ingin kaya demi gengsi, demi pandangan orang, dan demi dianggap berada, demi gayag hidup seperti orang berideologi di luar Islam. Demi itu semua, kita rela terjerat hutang Ribawi, membayar kredit mobil, bayar premi asuransi, nyicil rumah, bayar angsuran talangan haji, ikut multi level marketing, deposito, dan bermain saham. Kita beranggapan itu sah-sah saja, karena semua orang melakukan, berarti hukumnyah boleh, tidak apa-apa, riba-riba sedikit tidak masalah.

Kita memilih gengsi dibandingkan rasa takut terhadap sanksi Ilahi. Kita berdalih yang penting akadnya syari'ah, seperti Mudharabah, syirkah, wakalah dll. Apakah cukup hanya sampai diakadnya saja. Bagaimana proses transaksinya, kaitan antar sistem di dalam institusinya, SOP-nya, instansi yang terkait dg akad itu,  dan aturan lain yang menyangkut transaksi itu yg tidak sesuai dengan Islam. Kadang kita masa bodoh dengan semua itu.

Demi gengsi kita merasa sangat hina jika hidup sederhana, hidup bersahaja tanpa hutang. Tidak sampai di situ, kita pun memandang rendah orang yang sebenarnya mampu memnayar cicilan pinjaman Ribawi,  tetapi tidak mau meminjam. Kita mengatakan orang itu bodoh, terlalu idealis, kampungan, tidak pandai mengelola gaji, atau terlalu boros. Padahal kita tidak pernah bertanya bagaimana pandanganya tentang pengelola harta menurut Islam. Penadapatnya tentang pinjaman Ribawi, dan pendapatnya tentang keberkahan hidup. Mana  tahu ia memilih hiduph sederhana, apa adanya, bersahaja, sebagai pilihan sadar dan sukerela karena lebih ringan, lebih rileks, banyak berkah, jauh dari kepura-puraan (pura-pura kaya padahal ngutang, pura-pura hidup mewah padahal ribai,  dan pura-pura elit padahal kredit).

Tidak masalah kita kaya asalkan fondasi pemahaman Islam kita mantap, sehingga kita shalih dan lebih  berakhlak pada orang yang hidup kekurangan, dan lebih menghargai orang yang memilih cara berbeda mengelola hartanya. Boleh kita berpunya, asalkan pondasi ekonomi kita kuat, sehingga tidak terjerat perbuatan Ribawi. Tidak masalah kita punya mobil mewah asalkan tidak leasing, dan mobil kita beli jika butuh dengan  mobilitas  yang  padat, super sibuk, banyak agenda kegiatan, sering keluar kota mengelola bisnis, atau untuk memudahkan berdakwah.  Asal jangan beli mobil demi gengsi, prestise, dan harga diri di mata orang lain, atau karena tidak mau kalah dengan teman sebelah.

Mendingan buang dan kubur gengsi dalam-dalam. Nikmati hidup kitak sesuai pilihan kita. Syukuri semua kondisi sebab itu hidup terbaik menurut Ilahi. Terlihat sederhana itu tidak dosa, asalkan pilihan rela. Terlihat tidak punya apa-apa itu tidak masalah, asalkan berkah. Meskipun dipandang sebelah mata, senyumin aja,  karena mulia tidak ditentukan manusia. Pemberi Rezki juga bukan manusia. Sejatinya kita memang tak memiliki apa-apa, Yang Maha Kaya adalah Allah. Jika diberi kesempatan kaya oleh Allah, itu amanah terbesar, sekaligus ujian keimanan. Apakah semakin taat, tawadhu' semakin dekat pada Sang Pemberi Rezki atau sebaliknya.
Allahu A'lam Bissawab

SURAT CINTA ANAKKU

Senin, Januari 20, 2020 0 Comments
Kebiasaan merapikan sesuatu kadang menjadi momentum istimewa. Isi lemari agak masih rapi, hanya saja ada letak dokumen, faktur, bukti pembayaran pendidikan sekolah anak, struk listrik dan ppede-a-m, sedikit berantakan. Meskipun agak sedikit capek dan kurang sehat, berusaha untuk membenahi dokumen tersebut. Tujuannya, ketika ada faktur atau dokumen penting yang diperlukan mudah didapatkan. 

Ketika menyusun dokumen lapor semester, tiba-tiba ada satu surat beramplop putih. Surat apa ini? tanpa ragu surat tersebut dibuka berlahan, ternyata sepucuk surat dari anak sulungku “

"
Ayah dan Ibu, aku akan berusaha untuk tidak melawan, maupun menyusahkan Ayah dan Ibu. Tolong....tolong....maafkan aku Ayah dan Ibu.
Kalau aku besar nanti, aku akan berusaha untuk membawa Ayah dan Ibu ke Tanah Suci dengan rezeki Allah. Aku akan memberi mahkota cahaya kepada Ayah dan Ibu di akhirat kelak, Insyaa Allah.
MAAFKAN AKU AYAH DAN IBU
MAAFKAN AKU AYAH DAN IBU
Terima kasih atas kasih sayang Ibu dan Ayah.
Aku akan membalas semua jasa Ayah dan Ibu, yang telah menyayangi aku dari kecil sampai saat ini. Aku tidak akan mengecewakan Ayah dan Ibu. Aku akan membanggakan Ayah dan Ibu. Terima kasih, karena Ayah dan Ibu telah berusaha untuk menyekolahkanku di sekolah terbaik dan favorit buat aku.
Maafkan aku Ayah dan Ibu, tolong maafkan aku Ayah dan Ibu. AKU SANGAT SAYANG DAN CINTA KEPADA AYAH DAN IBU.
Ayah dan Ibu...!

Pada lembaran kedua tertulis cita-cita dan target penting anakku baik jangka pendek, menengah, dan jangka panjang di akhirat kelak (sensor ya, tidak pantas dituliskan di sini).  Berulangkali membaca surat tersebut sambil menghayati setiap konten yang tertulis. Tanpa terasa air mata ini menetes. 

Ada rasa haru, bersyukur, bahagia, dan sedih sekaligus mengaduk-aduk isi hatiku. Anggapanku selama ini, anakku hanya seorang anak, sama dengan anak-anak lainnya. Ternyata hari ini dialah anak sangat istimewa minimal dalam penilaian ibunya sendiri. Meskipun tidak tahu persis alasan anakku menulis surat tersebut. Satu hal yang pasti, do'a seorang ibu tetap terbaik untuk semua anak "

Pintu maaf seorang ibu senantiasa terbuka untuk semua anak-anaknya, sebesar apapun kesalahan anak-anaknya tersebut. Tidak hanya maaf, bahkan semua do'a terbaik selalu dimohonkan kepada Rabb untuk kebaikan, kemudahan, kelancaran, dan keberkahan hidup anak-anaknya. Itulah ibu yang rela mengorbankan nyawa demi melahirkan, rela tidak tidur demi menjaga anak-anak, dan rela hidup menderita asalkan anak-anaknya senang dan bahagia.

Tidak ada kebahagiaan yang paling bahagia, ketika Allah mengabulkan sepenggal do’a “

"Indikator keshalihan anak menjadi starting poin setiap keberhasilan duniawi. Anak boleh juara kelas asalkan dia shalih/shalihah, anak boleh juara olimpiade asalkan dia shalih/shalihah, anak boleh juara di berbagai bidang asalkan tetap dalam keataan kepada Rabb-Nya, sebab tidak satupun keberhasilan manusia yang terlepas dari hukum syarak. Semua cara yang digunakan untuk meraih keberhasilan, dan keberhasilan itu sendiri harus ada keterikatan dengan Allah Subhanahu Wata'ala, karena hidup bukan sekadar bermanfaat dan berprestasi, tetapi sejauhmana manfaat dan prestasi tersebut sejalan dengan ketentuan dan ridha Allah. 

Nak...teruslah belajar tentang Penciptamu, Nabimu, Kitabmu, Dienmu yang mulia! hingga engkau tahu hakikat hidupmu: "Dari mana?, Untuk apa?, dan Mau kemana?. Engkau akan kenal siapa Rabb kita. Jika engkau paham semua manusia, alam semesta, dan kehidupan berasal dari Allah, engkau akan memahami bahwa hidupmu harus sesuai dengan aturan Allah yang terdapat dalam kitab suci kita dan sejalan dengan perkataan, perbuatan dan diamnya Rasulullah (Al-Quran dan Sunnah). 

Nak...kita hidup dunia bukan sekadar hidup. Kita lahir, anak-anak, remaja, dewasa, bekerja, menikah, punya anak, tua, kemudian mati. Bukan sekadar untuk itu kita hidup nak. Kita hidup untuk menyembah Allah, memurnikan aqidah kita dari setiap yang kita istimewakan selain Allah, tujuan tertinggi hidup kita mencari ridha Allah. Maka jangan pernah kamu mengistimewakan nilai rapormu, hapalanmu, shalat tahajjudmu, shalat dhuhamu, kehebatan otakmu, kegantengan parasmu, kepintaran ustadmu, banyaknya tabunganmu, tapi istimewakanlah Allah dalam hidupmu, karena semua keistimewaan itu bersumber dari Allah Yang Maha Istimewa. Jadikan semua perbuatanmu  memenuhi kriteria ihsanul amal: (1) niat ikhlas karena Allah, dan (2) cara melakukannya sesuai ketentuan syarak. Apapun perbuatan baik yang kamu lakukan jika tidak ikhlas dan cara melakukannya tidak sesuai ketentuan Allah maka amalanmu tidak bernilai amal shalih di sisi Allah. Mungkin di sisi manusia terlihat baik, dan bermanfaat, tetapi belum bernilai pahala di sisi Allah. Untuk itu nak, murnikan niat setiap amalmu, hindarkan dirimu dari sifat riya', sumaah, dan kibr (sombong), karena akan menghanguskan semua pahalamu nak.

Nak...jika engkau paham mau kemana kita setelah mati? maka kamu akan memahami bahwa kita akan menghadap Allah. Semua kita akan meninggalkan dunia ini. Tidak ada yang kita bawa selain keimanan dan semua amal shalih kita. Meskipun kamu kaya raya, kekayaanmu akan menjadi warisan. Meskipun kamu memiliki kenderaan mewah, tetap kenderaan terakhirmu hnya keranda. Walaupun kamu memiliki istana mewah, tetap yang menjadi rumah terakhirmu adalah kuburan. Untuk itu nak, perkuat aqidahmu, perbanyak amal shalihmu, perbagus akhlakmu, jika memungkinkan perbanyak hafalan al-Quranmu hingga 30 Juz. Kamu boleh kaya seperti Usman bin Affan dan  Abdurrahman bin Auf, tetapi infaq dan shadaqahmu mesti seperti sahabat nabi itu juga. Kamu boleh memiliki kenderaan mewah, asalkan kenderaan mewahmu itu digunakan untuk meninggikan dienmu, berdakwah dan membela agama Allah. 

Nak ketika manusia mati. Itu adalah awal kehidupan yang sesuangguhnya. Tempat pertanggungjawaban semua yang kita lakukan di dunia ini. Kita akan melewati alam barzakh, firnah barzakh, azab kubur dan nikmat kubur sampai hari kiamat. Kiamat adalah terminal kedua sedelah barzakh, hari kebangkitan semua umat manusia. Di sana ada padang mashar, ada hari perhitungan amal (yaumul hisab), ada mizan dan akuntabilitas semua perbuatan kita, ada sirat. Ketika kita mampu melewati semua itu, maka kita akan memasuki syurga Allah. Nak...keyakinan kita terhadap hari berbangkit dan seluruh prosesi yaumul hisab membuatmu hati-hati dalam beraqidah, beramal, berakhlak, dan berjuang untuk agamamu. 

Anakku...setiap sujud ibu berbisik ke bumi, harapan terdengar di langit (kalangan malaikat) dan diijabah oleh Allah “Suatu saat semua anak-anak ibu, dan kita semua berhasil memasukki syurga Firdaus tanpa hisab, bertetangga dengan para Nabi, bersebelahan kamar dengan kekasih Allah (Muhammad, SAW), aamiin. Cita-cita tertinggi ibu adalah Kita semua dapat melihat wajah Allah, Rabb, Pencipta, dan Pengatur hidup kita dari jarak paling dekat di syurga nanti. Semoga semua berjalan lancar semua ikhtiar dan mujahadah kita berjalan mulus, hingga syurga menjadi tempat reuni terindah kita, aamiin Ya Mujiib.

Selasa, 06 Januari 2015

WANITA SHALIHAH

Selasa, Januari 06, 2015 0 Comments
Tulisan ini ditujukan untuk diri sendiri, si faqir ilmu, pendosa, dan jauh dari kesempurnaan.

Siapakah wanita shalihah itu, dialah wanita beriman, beraqidah kuat, amalan sesuai syariat, dan pejuang tangguh meninggikan kalimat Allah di muka bumi.

Wanita shalihah bukan wanita biasa, tetapi wanita beriman dan bertaqwa dengan sesungguhnya.

Wanita shalihah bukan wanita biasa, tetapi wanita yang senantiasa menjaga muru'ah, iffah, izzah, dan al-haya' di manapun berada.

Wanita shalihah bukan wanita biasa, tetapi wanita yang memahami pesan Rabb dan Rasulnya untuk berhijab sempurna sesuai tuntutan al-Qura'an dan As-sunnah.

Wanita shalihah bukan wanita biasa, tetapi wanita perindu jannah, tidak mudah tergoda oleh kemilau dunia fana.

Wanita shalihahI bukan wanita biasa,tetapi wanita terhormat dan mulia di sisi Tuhan-Nya meskipun dipandang rendah oleh manusia biasa, karena tidak bisa bergaya, dan mengupload foto selfinya yang menggoda di dunia maya. Demi mencari "like" "suka" atau "jempol" temanya, yang belum tentu diberikan atas dasar suka sesungguhnya.

Wanita shalihah bukan wanita biasa, tetapi wanita yang merindukan eksis di langit, bukan eksis di elektronik. Wanita shalihah tidak membutuhkan posting diri untuk diakui, walau dengan niat menginspirasi, memotivasi untuk berhijab syar'i.

Wanita shalihah bukan turis lokal yang mendatangi setiap destinasi wisata untuk mencari spot selfi terkenal, sambil memasang mahkota bunga, topi gaul, dan hijab warna-warni, atau berhias melebihi dengan celak tebal, eyeliner, dan soflense bervariasi.

Wanita shalihah bukan wanita biasa, tetapi wanita yang merasa kaya walau hidup sederhana dan bersahaja, rajin sedekah, dan qanaah. Wanita salihah bukan penikmat aneka kuliner dunia yang memposting setiap makanan yang sempat dicicipinya. Wanita shalihah bukan wanita biasa yang menyukai berpoya-poya dengan uang halalnya, belanja barang mewah di mall-mall mewah laksana kaum elit "sosialita".

Wanita shalihah bukan wanita biasa, tetapi wanita berjuang menggapai jannah dengan segenap iman, amal shaleh, dan semua kebaikanya, mencontoh Khadijah, Aisyah, Fatimah, atau sofia yang menyejarah dan dijamin syurga karena taqwa dan keshalehanya, bukan karena postingan wajah cantiknya.

Wanita shalihah sangat menyadari bahwa ajal tidak menunggu taubat atau tua, tidak seorangpun dapat menjamin akhir hidup husnul khatimah. Maka muhasabah menjadi amal yaumiyah. adakah postingan di dunia maya berpotensi pahala atau justru setumpuk dosa jariyah, jika tidak segera hijrah menghapus semua postingan yang kurang maslahah, dinikmati lelaki non mahram yang sempat tergoda, akhirnya berbuat dosa, maka semua akan dibayar dengan pahala pada hari penghisaban di yaumul kiyamah.

Wanita shalihah bukan wanita biasa, tetapi wanita yang memahami pesan Rabb-Nya bahwa eksistensinya mulia dan diabadikan dalam surat an-Nisa', Allah telah mengangkat derajatnya dari semua sejarah wanita di dunia. Wanita yang menghayati amanah Rasul-Nya untuk menjaga diri dari azab neraka, karena ketika mi'raj rasullullah melihat paling banyak  isi neraka adalah wanita.

Wanita shalihah bukan wanita biasa, tetapi wanita yang menjadikan semua aktivitas rumah tangga sebagai wadah  jihadnya, selalu menyenangkan dipandang suaminya, senantiasa menjaga kehormatan diri dan harta suami, dan senantiasa  bermujahadah tanpa kenal lelah. jika belum bisa dia berusaha hijrah totalitas tanpa batas, sampai Allah menghentikannya dengan peripisahan dengan alam dunia. Dia lah wanita yang selalu dicemburui bidadari syurga. Posisi shalihah seperti ini dijamin Rasulullah bebas masuk dari delapan pintu syurga, untuk mencapai posisi tertinggi menjadi ratu bidadari syurga. Allahu A'lam Bissawab

BERLOMBA DALAM KEBAIKAN

Selasa, Januari 06, 2015 0 Comments

Hidup bukan hal sederhana, namun kompleksitas keinginan, kebutuhan, aktifitas, perasaan, dan akibat. Semua berkompilasi menjadi rangkaian utuh deskripsi sejarah hidup seseorang. 

Sejarah hidup kadang diciptakan sendiri oleh individu. Kadang dipaksakan orang lain. Kadang direncanakan secara internal. Kadang juga dikebiri secara eksternal.

Hidup dalam kondisi dan situasi bagaimanapun tetap harus dijalankan dengan baik, dengan benar, dan normatif. Kita diajarkan oleh orang tua untuk mencintai kebaikan, suka berbuat baik, dan berjuang untuk menegekkan kebaikan. Dengan tujuan dan maksud baik, tetapi sebagian kita mungkin jarang mempertanyakan alasannya, mengapa harus begitu?. 

Kita hanya menerima pesan kebaikan apa adanya, karena memang mengandung kebaikan. Bersama berlalunya waktu, aku meragukan pesan tersebut, dan mencoba mencari jawaban. Ternyata kutemukan, mencintai kebaikan itu memiliki multi efek, baik secara personal maupun sosial. 

Secara personal menurut perspektif psikologis ternyata menenangkan, menenteramkan hati, dan meningkatkan kesehatan mental, sedangkan secara sosial, kita mampu menyelamatkan hidup, diri, dan masa depan orang lain. 

Kebaikan idealnya komprehensif, mulai dari niat atau keinginan, cara melakukan atau proses sampai pada tujuan kita. Artinya kebaikan itu murni terlihat dan terasa baik oleh kita terutama sekali orang lain. Distorsi akan terjadi ketika kita ingin seseorang menjadi baik, namun cara kita salah maka akan terasa tidak baik baik bagi orang lain. Begitu juga cara kita baik namun tujuan dan niat kita tidak baik, kita akan dilabeli sebagai orang munafik bagi orang lain. 

Jadi, apabila kita ingin berbuat baik pada orang lain, atau ingin atau bertujuan memperbaiki orang lain, cara kita memperbaikinya juga ma'ruf dari hulu hingga hilir, dari awal sampai akhir, atau dari niat sampai tujuan juga baik. 

Kehidupan adalah lahan untuk menyemai kebaikan. Mewujudkan manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain, diri kita dan dunia. Ikhtiar secara berkesinambungan untuk menggapai kemaslahatan. 

Hati kita menolak jika ada yang mengatakan: "Sebenarnya tujuan saya baik, agar dia lebih baik di masa yang akan datang" Tujuan baik saja tidak memadai, jika cara kita mencapai tujuan baik menurut kita, dengan menyakitkan hati orang. 

Kata nenek saya: "Maksud hati ingin mendirikan masjid, namun terlihat seperti camp penyiksaan. Hal ini mungkin merefleksikan pada kita, bahwa kita sering kali berdalih dengan mencari alasan yang seolah-olah terlihat rasional, namun sebenarnya kita sangat marah bahkan benci pada orang lain. 

Kita mungkin pernah tidak jujur dangan hati kita sendiri. Kebaikan tidak terkontaminasi dengan maksud dan dalih apapun. Bagaimanapun kita bersikeras mengatakan, bahwa itu demi untuk kebaikan. Jika cara kita salah tetap dinilai sebagai hal yang tidak baik. 

Kabaikan itu hal yang agung. harus dijunjung tinggi, dihargai dengan cara dan tujuan baik. Makanya kita dituntut untuk berlomba dalam kebaikan, bukan siapa ingin memperbaiki siapa, tetapi Siapa yang yang mencintai kebaikan. Selalu Berniat, Bertujuan, Berkata, dan Berbuat Baik. Selalu Berbuat Baik dimanapun, kapanpun, dan kepada siapapun.

Batusangkar,06 Januari 2015

Senin, 24 November 2014

MUHASABAH TENTANG AJAL

Senin, November 24, 2014 0 Comments
Aku bukan siapa-siapa,
Hanya calon jenazah perindu husnul khatimah,
Diamanahi pendengaran, penglihatan, dan qalbiyah,
Beserta aqliyah, ruhiyah, dan nafsiyah,
Untuk suatu tujuan mengabdi seutuhnya,
Menghamba secara sempurna,
Mengoptimalkan sami’na wa’athaqna,
Mengusahakan bermanfaat bagi sesama,
Hingga kepastian itu datang,
Aku akan pulang...


Aku tidak perlu cemaskan jasadku terbujur kaku tak diurusi,
Karena aqidah, ibadah, dan akhlakku yang ringkih.

Bila ajalku datang....

Bila ajalku datang...

Bila ajalku datang...

Bila ajalku datang...

Bila ajalku datang...

Bila ajalku datang...

Bila ajalku datang...

Bila ajalku datang...

Bila ajalku datang...

Bila ajalku datang...

Minggu, 07 September 2014

MENULIS ITU GAMPANG

Minggu, September 07, 2014 0 Comments

Repost Oleh Darimis

Menulis itu gampang bagi penulis berpengalaman. Namun, bagi amatiran menulis adalah latihan memperbaiki pola pikir, pola analisis, pemetaan ide, dan keterampilan menuangkan ide dalam bentuk tulisan secara terus menerus. Tulisan ini adalah catatan berharga dari workshop penulisan dengan nara sumber Dr. Irwan Abdullah, dengan materi Kiat Menulis Karya Ilmiah Berstandar Nasional. Karena setiap kata dalam makalah daging semua, maka dikemukakan semuanya di bagian berikut.

Pendahuluan

Sebuah tulisan yang hadir dalam satu jurnal atau buku dan dibaca berbagai kalangan jarang sekali dilihat sebagai suatu hasil dari proses panjang, sejak pemilihan topik, mencari dukungan data, memaksa diri untuk menuliskannya, hingga menjamin suatu tulisan menjadi menarik. Tidak jarang untuk menyelesaikan tulisan itu seseorang harus pergi ke perpustakaan, atau ke suatu lokasi untuk mengumpulkan data, ke suatu instansi, dan bahkan mendiskusikan dengan orang-orang lain. Pendek kata, suatu tulisan selalu melibatkan banyak pikiran, waktu, dan pengorbanan dalam berbagai bentuk.

Sebuah tulisan indah dan menarik serta bermutu hampir selalu dihasilkan oleh suatu proses yang membutuhkan komitmen, perjuangan, kesungguhan, dan kesabaran. Ketika ia hadir di tangan pembaca, tulisan itu telah menjadi milik publik yang otoritas penilaian sudah berpindah tempat, kekuatan dan kelemahannya mulai dinilai oleh orang lain yang seterusnya menentukan perjalanan hidup sebuah tulisan itu.

Ketika suatu tulisan terbit dalam berbagai bentuk (jurnal atau bab dalam suatu buku), tulisan itu bisa cepat atau lambat dilupakan, tulisan itu bisa diacu oleh banyak orang, atau ia bisa mempengaruhi lahirnya tulisan-tulisan lain dari orang lain yang membacanya, bahkan dapat mempengaruhi suatu kebijakan. Suatu tulisan dapat saja memprovokasi lahirnya protes kaum muda (seperti tulisan Marxist atau kelompok kiri) atau melahirkan kemarahan ummat (tulisan Salman Rusdhi, Ayat-ayat Setan), dan berbagai kemungkinan lain yang sangat perlu disadari kemungkinan dan potensi yang dimiliki oleh suatu tulisan. Dengan demikian, suatu tulisan dapat dititipi nilai atau kepentingan moral-kultural atau politik-struktural di dalamnya, tergantung siapa penulisanya dan terkait dengan situasi kultural dan struktur yang memayungi atau ”menekan” sang penulis.

Sebuah tulisan yang baik dapat lahir atas sejumlah persyaratan yang kemudian menentukan daya pengaruh dari tulisan itu. Pemilihan isu di dalam menulis sangat penting karena tingkat aktualitas/kebaruan dari suatu isu yang dipilih memperlihatkan betapa pentingnya membaca suatu tulisan dan akan memberikan, paling tidak, suatu informasi baru. Kalau pun isu baru tidak ditemukan, masih ada peluang untuk melakukan perumusan ulang terhadap isu lama yang sudah jenuh dibicarakan. Isu terkait ”ulama”, misalnya, telah menjadi isu yang usang dan sudah banyak sekali ditulis, namun suatu formulasi baru yang kreatif dalam melihat ulama dapat menjadi topik yang menarik untuk ditulis kembali. Sebagai contoh, ulama dalam kaitanya dengan media (bagaimana ulama menggunakan teknologi dan media dalam dakwah) atau ulama dalam kaitannya dengan pemilu (bagaimana legitimasi ulama dalam pilihan partai), atau ulama dalam hubungannya dengan bencana (bagaimana ulama memberi peran penting di dalam trauma healing). Tentu saja banyak isu lain yang dapat dikembangkan secara kreatif dan inovatif yang menunjukkan sifat aktual dan kontekstual dari suatu tulisan.

Menarik tidaknya suatu tulisan juga ditentukan oleh kemampuan bahasa dan gaya penulisan yang memperlihatkan ciri khas dari suatu tulisan. Tulisan yang ditulis oleh seseorang seyogyanya memiliki karakter yang khusus yang membedakan tulisannya dengan tulisan orang lain. Pola dan karakter semacam ini harus dibangun, baik melalui pilihan kata, susunan kalimat, maupun gaya pengungkapan. Selain hubungan antarkalimat menjadi penting dalam suatu tulisan, juga teknik-teknik mengungkapkan sesuatu dengan cara tertentu perlu dipelajari. Daripada menulis ”... perubahan sosial adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari”, lebih menarik mengatakan ”... perubahan sosial adalah suatu yang niscaya...” atau ”... hanya perubahan yang bersifat kekal....” Tentu saja tingkat kelengkapan dari unsur-unsur atau aspek-aspek pembahasan akan sangat menentukan kekuatan dari suatu tulisan, sebagaimana halnya analisis yang tajam yang menyebabkan suatu tulisan enak dibaca dan mencerdaskan.

Makalah ini merupakan panduan teknis selain untuk memberikan pemahaman tentang seluk beluk menulis karya ilmiah, juga memberikan petunjuk praktis untuk meningkatkan skill (keahlian) teknis di dalam menulis karya ilmiah sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan dan standar yang berlaku. Tulisan ini dititikberatkan pada tiga kompetensi pokok: pemahaman strategi penulisan, keahlian di dalam menyusun tulisan, dan kemampuan di dalam meningkatkan kualitas atau standar tulisan. Ketiga pokok pembicaraan itu akan diuraikan satu persatu pada bagian berikut ini.

Pemahaman Strategi Penulisan
Strategi JITU dalam Menulis. Pertanyaan yang perlu diajukan dalam proses penulisan adalah: Bagaimana suatu tulisan yang berkualitas dapat dihasilkan? Apa ukuran pokoknya? dan Bagaimana melakukannya secara tekniks?. Seringkali kita tahu suatu tulisan berkualitas atau tidak, tetapi untuk mewujudkan tulisan yang berkualitas itu tidak mudah. Menurut hemat saya, tulisan paling tidak memenuhi syarat atau standar yang saya sebut sebagai JITU (Jelas, Intensif, Tepat, dan Unik). Empat hal ini menjadi ukuran penting tentang suatu tulisan yang baik, baik dalam pengertian substansi maupun sistematika berpikir di dalam menulis. Ukuran-ukuran lain tentu saja dapat digunakan, namun keempat hal inilah yang selama ini telah saya gunakan dan ikuti di dalam praktik menulis yang memberikan banyak kemudahan dalam proses kreatif dan apresiasi yang menggembirakan.

Setiap penulis sesungguhnya dapat mengembangkan caranya sendiri-sendiri untuk memungkinnya menghasilkan sesuatu secara produktif dan berkualitas. Keempat indikator tersebut membentuk suatu strategi dalam penulisan karya ilmiah yang masing-masing dapat dijelaskan sebagai berikut.


Jelas

Suatu tulisan haruslah memiliki fokus yang jelas karena suatu tulisan merupakan respons terhadap suatu isu khusus sehingga arah dari tulisan itu semestinya cukup jelas bagi si pembaca. Pada saat seseorang menulis perubahan sosial, misalnya, maka suatu tulisan tentang perubahan sosial haruslah menegaskan fokus yang akan ditulis: apakah menyangkut perubahan dalam hubungan sosial, atau pengelompokan sosial, atau struktur sosial. Istilah perubahan sosial sama sekali tidak jelas menegaskan apa yang sesungguhnya yang mau dibahas dalam suatu tulisan. Perubahan sosial dapat justru dibicarakan dalam judul ”perubahan solidaritas antarorang atau kelompok”. Ketidakjelasan itu bermula dari judul, rumusan masalah, hingga uraian unsur-unsur yang dipilih dalam suatu tulisan.
Kejelasan suatu tulisan dapat pula dilihat pada sistematika tulisan yang urut yang menunjukkan kejelasan arah. Hal ini terefleksi pada rumusan masalah atau isu yang dibicarakan dalam suatu tulisan. Pada saat kita berbicara tentang konflik, tentulah topik itu sangat luas karena tidak jelas arahnya. Namun demikian, kalau konflik itu dilihat dari ”faktor pendorong/penyebab konflik” atau ”dampak dari adanya konflik”, tentu akan menjadi jauh lebih jelas apa yang akan ditulis dalam suatu tulisan. Urutan logika yang jelas dalan suatu tulisan tehtu saja perlu dilengkapi dengan atau tampak dari kalimat-kalimat yang digunakan yang mudah dipahami.


Intensif

Intensif pada saat suatu tulisan dibaca tidak jarang muncul kesan bahwa tulisan itu ditulis dalam satu malam karena alur berpikir yang sangat runtut dan tidak terputus hubungan antara gagasan satu dengan gagasan lain. Dari halaman pertama hingga terakhir tulisan tersebut tidak menimbulkan kebosanan atau kesulitan untuk dibaca karena ditulis secara intensif. Tingkat intensitas dari suatu tulisan memang ditentukan oleh kemampuan konsentrasi sang penulis yang mampu membangun tulisan secara utuh dari depan hingga belakang secara utuh. Keterpaduan menjadi syarat bagi menariknya suatu tulisan, dalam pengertian bahwa hubungan setiap unsur harus dipelihara dan ditegaskan dalam berbagai kesempatan dan media. Kualitas semacam ini juga dapat dicapai dengan menjamin suatu konsistensi dalam gaya bahasa yang sangat menentukan kelayakan suatu tulisan untuk dikutip sang pembaca. Kekuatan suatu tulisan memang terletak pada tingkat keutuhan dari bagian pendahuluan, seting, bagian-bagian isi atau analisis, hingga penutup atau kesimpulan. Konsentrasi sang penulis selain tampak dari ketepatan komposisi dan hubungan satu bagian dengan yang lain, juga tampak dari tingkat kedisiplinan menjaga hubungan-hubungan antarbagian dan antaralenia dalam suatu tulisan. Satu tulisan memberi kesan utuh dan jalin menjalin antara satu aspek pembicaraan dengan aspek pembicaraan yang lain atau satu unsur dengan unsur lain dalam suatu bahasan.

Tepat
Ketepatan dalam suatu tulisan terkait dengan bagaimana suatu tulisan disusun atas dasar bahan yang tepat, baik menyangkut referensi yang digunakan dalam menentukan lahirnya suatu tulisan, maupun dalam pengertian kelompok bahasan dan tempat yang dijadikan landasan suatu tulisan. Bahan pustaka yang diterbitkan pada tahun 1980-an tentu menjadi tidak tepat jika sudah ada bahan pustaka yang terbit tahun 2000-an. Bahan-bahan yang sudah out of date itu tentu saja dapat digunakan jika sifatnya yang tua tersebut sebagai objek dari penjelasan. Misalnya, suatu tulisan memang bertujuan untuk menganalisis konstruksi pemikiran tentang agama dan konflik sejak tahun 1950-an. Suatu pustaka juga membawa implikasi aliran yang perlu diperhatikan dalam mengutip dan menggunakannya sebagai rujukan, apakah pustaka tersebut betul-betul relevan.

Demikian halnya dengan tempat, ketepatan dalam memilih tempat yang menjadi acuan tulisan sangat dibutuhkan. Apakah studi agama tepat kita bicarakan di Bali atau di Sumatera Barat; untuk studi konflik agama dibicarakan tentang Poso atau Aceh; untuk studi migrasi internasional Pontianak atau Banjarmasin yang dijadikan kasus; demikian pula pada tingkat kabupaten, kecamatan, atau desa dan dusun. Pertanyaan yang lebih rinci adalah: jika membahas masalah relijiusitas, apa tepat suatu perumahan dijadikan kasus acuan atau di suatu perkampungan orang Arab?

Banyak pertimbangan dan alasan yang perlu dikomunikasikan untuk menjamin bahwa suatu tulisan memang didasarkan pada pilihan-pilihan yang tepat. Meneliti kemiskinan tentu harus di tempat di mana kemiskinan itu betul-betul terjadi dan pada kelompok yang memang mengalami kemiskinan tersebut. Ketepatan juga perlu dibangun pada setiap pilihan kata dan kalimat yang digunakan karena pengertian yang ingin dibangun melalui suatu tulisan harus dikendalikan sedemikian rumah. Apakah, misalnya, perlu menulis ”banyak anggota masyarakat setempat menghadiri acara pengajian” atau ”kaum perempuan setempat menghadiri acara pengajian”. Anggota masyarakat yang dimaksud ternyata kaum perempuan karena itu memang pengajian untuk kaum perempuan. Analisis dalam suatu tulisan juga harus dilakukan dengan tepat, yakni harus didasarkan pada data yang dikumpulkan dengan metode yang tepat dan analisis dapat dilakukan dalam batas-batas yang dimungkinkan oleh data. Unik Suatu tulisan sesungguhnya memperlihatkan kepribadian dari sang penulisnya karena suatu tulisan memang disusun untuk memperlihatkan suatu kecerdasan dalam mengkaji dan mengkomunikasikan sesuatu pada pembaca. Untuk mencapai karakter semacam ini, suatu tulisan harus memperlihatkan suatu keunikan karena itu pula menyebabkan suatu tulisan menjadi perlu dibaca. Harus terpikir dalam benak bahwa isu atau topik yang dipilih belum banyak diperhatikan orang lain atau, paling tidak, berbeda dalam hal fokus dan analisis. Sebaliknya, pastikan bahwa kita tidak sedang menulis suatu isu atau masalah yang telah atau sedang ditulis oleh puluhan orang lain. Menulis tentang peranan ulama pastilah bukan pilihan yang tepat dalam arti keunikan ini, tetapi bagaimana kiprah ulama dalam dunia pengobatan dapat menjadi topik penting. Seringkali dibutuhkan kreativitas di dalam memilih isu atau topik untuk dibahas, yakni dengan membahas topik yang sama dengan perspektif yang berbeda, pada kelompok yang berbeda, atau pada masa yang berbeda (kontekstual).

Unik
Keunikan suatu tulisan memang dapat dibangun dengan sadar dalam berbagai bentuk, seperti menggunakan pilihan kata yang sangat berbeda dengan penulis lain. Kata-kata ”niscaya”, ”piawai”, ”dahsyat”, ”pertikaian”, ”murka”, dll, dapat menjadi karakter dari suatu tulisan. Keunikan suatu tulisan juga menjadi kunci dalam keterlibatan seseorang dalam berbagai dunia akademik dan publikasi.

Strategi JITU tersebut merupakan panduan untuk menjamin bahwa sang penulis paling tidak telah memperhatikan beberapa indikator untuk melahirkan sebuah karya ilmiah. Tanpa panduan semacam itu seringkali membuat kita menulis secara meraba-raba tanpa mengetahui apa saja yang penting diperhatikan dan bahkan dihindari dalam menulis. Seorang penulis umumnya mempelajari bagaimana menulis dari tulisan orang lain yang dengan cara itu juga tidak diketahui secara persis kiat tulisan itu dihasilkan. Untuk menerapkan strategi JITU tersebut, perlu dimulai dengan kemampuan mendefinisikan struktur tulisan secara sistematis. Struktur tulisan yang terumuskan dengan baik akan memperlihatkan alur berpikir yang sistematis dan mudah dibaca serta dipahami. Struktur Tulisan Ilmiah Sebuah tulisan selalu terdiri dari empat bagian yang saling kait: Pendahuluan, Seting/Gambaran Umum, Analisis, dan Kesimpulan.

Pendahuluan
Pada bagian pendahuluan dibicarakan alasan-alasan mengapa suatu isu atau topik menarik untuk ditulis, rumusan masalah atau fokus tulisan, dan bagaimana isu tersebut akan dikaji serta sistematika penulisan. Bagian Pendahuluan ini harus disusun secara menarik karena ia merupakan kunci dari arah suatu tulisan yang dapat menentukan pembaca akan meneruskan membaca tulisan itu atau tidak. Walaupun demikian, bagian Pendahuluan ini tidak boleh ditulis panjang lebar sebaliknya dipaparkan secara padat dan membantu pembaca memposisikan diri di mana.

Setting/Gambaran
Bagian seting atau gambaran umum seringkali terdiri lebih dari satu bab sehingga bab tulisan menjadi lebih banyak. Seting yang pertama adalah lokasi dan yang kedua adalah institusi yang dikaji atau bahkan kelompok yang dibahas atau suatu program yang perlu dipaparkan. Dalam penelitian tentang Implementasi Program Pengentasan Kemiskinan di Kabupaten Kubu Raya, misalnya, seting yang harus dibicarakan menyangkut: (1) Kubu Raya sebagai tempat; dan (2) Program Pengentasan Kemiskinan. Kedua bagian tersebut merupakan latar belakang untuk membahas isi pokok yang menyangkut isu implementasi program. Namun demikian, suatu tulisan dapat saja hanya terdiri dari satu seting, entah itu hanya Seting Wilayah atau hanya Seting Isu/Persoalan. Studi tentang teks atau kitab tentu saja tidak membutuhkan uraian tentang wilayah. Bagian seting kemudian hanya terdiri dari satu bab yang mendeskripsikan teks tersebut secara umum untuk memberikan dasar bagi isi dan analisis.

Analisis
Isi atau analisis suatu tulisan secara ideal dibagi ke dalam tiga bagian sesuai dengan rumusan masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang telah dibicarakan pada bagian pendahuluan. Karena bagian tiga merupakan bagian analisis maka pada bagian ini dijawab pertanyaan secara seksama. Jika pertanyaan tersebut menyangkut faktor maka bagian pertama dalam isi pokok tulisan ini dapat berupa Analisis Faktor Sosial, bagian kedua Analisis Faktor Ekonomi, dan bagian ketiga Analisis Faktor Budaya Analisis faktor ini juga dapat berupa faktor agama atau budaya, tergantung pada relevansinya atas kajian yang sedang dilakukan.

Bagian Analisis dapat juga berupa analisis proses atau analisis dampak. Jika analisis proses yang ingin digunakan dalam suatu tulisan maka penjabaran bab atau bagian tulisan menjadi tahapan-tahapan dari proses tersebut, yakni berupa tahapan 1, tahapan 2, dan tahapan 3 atau dalam studi kebijakan akan berarti: tahap formulasi, tahap implementasi, dan tahap evaluasi. Demikian pula halnya dengan analisis dampak yang dapat disusun kemudian menjadi dampak individu, dampak keluarga, dan dampak pada komunitas. Analisis tentu saja dapat dibagi secara sistematis dengan berbagai cara, apakah itu pembagian tegas, tataran/tingkatan dari yang terbatas ke luas atau yang rendah ke tinggi, dan dapat pula berbagai kategori yang lain yang dianggap logis dan relevan.

Kesimpulan
Kesimpulan Bagian terakhir dari suatu tulisan tentu saja bagian kesimpulan yang seringkali disebut sebagai penutup. Bagian ini berisi pernyataan tentang hal-hal yang paling penting yang dapat dikomunikasikan terkait dengan pembahasan yang dilakukan. Suatu kesimpulan harus berupa suatu kecerdasan yang hanya dapat diperoleh ketika sesuatu itu dikaji atau ditulis melalui suatu perenungan. Dengan kata lain, suatu kesimpulan tidak dapat ditulis jika kajian atau evaluasi atau diskusi tentang isu tertentu tidak dilakukan. Untuk sampai ke arah itu, permasalahan atau pertanyaan yang diajukan pada bagian awal tulisan diharapkan dapat dijawab pada bagian kesimpulan.

Seringkali bagian kesimpulan ini digunakan sebagai kesempatan untuk memposisikan tulisan atau kajian dalam hubungannya dengan kajian-kajian yang ada dalam bidang yang sama. Untuk menulis suatu artikel dari bagian pendahuluan hingga bagian kesimpulan/penutup tersebut dibutuhkan kemampuan teknis dan strategi yang tepat. Pertama, perlu diputuskan berapa halaman tulisan perlu ditulis. Untuk kepentingan artikel ilmiah kita bisa mulai dengan menulis 10-12 halaman 1 spasi. Untuk memulai menulis, perlu disadari bahwa setiap halaman 1 spasi berisi 3 alenia dengan asumsi per alenia terdiri dari 12-15 baris.

Artikel ditulis dengan cara yang sama maka dengan sendirinya tulisan akan terdiri dari kurang lebih 12 halaman satu spasi yang sudah memenuhi standar untuk sebuah artikel jurnal. Tentu saja alenia-alenia yang ditulis dapat mengikuti tiga tipe alenia, yakni alenia deskriptif, alenia deduktif, dan alenia induktif sesuai dengan kebutuhan dan karakter dari sang penulis.
Pentingnya Analisis dan Ketajaman Ketika secara teknis suatu tulisan sudah memenuhi syarat, maka kualitas substansi dari suatu tulisan akan dipertanyakan. Kualitas suatu tulisan sangat ditentukan oleh kemampuan memindahkan kumpulan data atau informasi yang bersifat deskriptif menjadi suatu pembahasan analitis yang mengandung penjelasan dan pemahaman yang komprehensif, kontekstual, dan mendalam. Peralihan tulisan dari deskriptif menjadi analitis membutuhkan serangkaian tahapan.

Paling tidak lima tahap dapat membantu memberi jalan untuk mencapai suatu tingkat analitis yang lebih baik dari suatu tulisan:


Pertama, deskriptif, yang tampak dari ciri tulisan terdiri dari paparan sifat-sifat atau unsur dari suatu gejala yang sedang dibicarakan. Kecenderungan ini dalam tulisan tampak dari adanya tabel atau data statistik atau kutikan hasil wawancara yang dihadirkan dengan berbagai cara dalam suatu tulisan. Teknik deskripsi ini dibutuhkan untuk hal-hal yang bersifat informatif agar si pembaca dapat mengetahui wujud dari sesuatu yang sedang dibicarakan.


Kedua, eksplanatif yang berisi penjelasan atas data atau suatu deskripsi. Suatu tulisan akan lebih berkualitas jika tidak hanya memaparkan, tetapi juga mampu menjelaskan ”mengapa” sesuatu itu terjadi atau berlangsung seperti yang dipaparkan. Deskripsi tentang prosentase pemilih Partai Demokrat dalam Pemilu 2009 yang berisi angka-angka berbagai kategori harus segera diikuti oleh suatu penjelasan atas pertanyaan ”mengapa” Partai Demokrat berhasil memenangkan Pemilu?

Ketiga, diskursif yang merupakan tataran yang lebih tinggi yang tampak dari kecenderungan tulisan memasukkan berbagai data lain dari berbagai sumber sebagai perbandingan dalam memahami apa yang sedang dibicarakan. Diskursif ini tampak dari kutipan teori atau literatur lain yang dihubungankan dengan tulisan kita agar memperlihatkan usaha kontekstualisasi tulisan ke dalam suatu perdebatan yang sedang terjadi. Jika kita berbicara tentang hubungan agama dengan perubahan sosial ekonomi, maka tulisan tidak bisa menghindarkan dirinya untuk tidak mengutip Max Weber. Pada saat kita menulis perlu mengambil sikap bahwa tulisan kita sesungguhnya merupakan bagian dari satu debat yang sedang terjadi di berbagai tempat oleh berbagai orang.

Keempat, interpretif yang memperlihatkan bahwa suatu tulisan sudah mampu membangun pemahaman atas sesuatu melalui pengertian dan makna suatu gejala yang dibicarakan. Interpretasi ini dapat dilakukan melalui kontekstualisasi ruang dan waktu yang memperlihatkan relevansi atas apa yang sedang ditulis.

Kelima, implikatif yang berisi analisis akibat dari adanya sesuatu yang sedang ditulis, baik itu bersifat teoretis-konseptual maupun praktis-teknis yang kemudian melahirkan pemahaman dan kebijakan baru terkait dengan isu yang sedang ditulis.
Ketika kelima tataran analisis ini dapat dipraktikkan dalam menulis, maka ketajaman sebuah tulisan akan muncul. Sebuah tulisan akan memberikan dampak yang lebih besar karena di satu sisi tulisan memberikan keluasan wawasan dengan kemampuan penulis memasukkan berbagai unsur yang kompleks dalam setiap narasi, di lain sisi tulisan memiliki ketajaman di dalam analisis dengan kemampuannya membahas suatu isu dengan menggunakan berbagai perspektif.

Suatu isu paling tidak dapat dilihat pada lima dimensi yang berbeda yang akan memberikan kekuatan suatu tulisan.

Pertama, setiap isu atau pokok bahasan dapat dibahas melalui definisi atau pengertian yang terkandung di dalamnya. Definisi atau pengertian tidak selalu berarti definisi formal suatu konsep, tetapi dapat juga berupa definisi operasional atau pemahaman secara umum tentang sesuatu yang sedang dibicarakan. Pada saat kita membicarakan relijiusitas, tentu saja selain definisi formal tekstual dapat pula dikemukakan pemahaman umum tentang relijiusitas yang menunjuk pada komitmen ibadah seseorang atau sekelompok orang.

Kedua, suatu pembicaraan dalam suatu tulisan perlu memaparkan bentuk atau format atau aspek-aspek dari apa yang kita sebut sebagai, misalnya, relijiusitas tersebut: apakah yang dimaksudkan dengan relijiusitas itu menyangkut dimensi/bentuk ideal/gagasan seperti tingkat penguasaan atau pemahaman agama, aspek/dimensi nilai atau sikap yang memperlihatkan tingkat relijiusitas seseorang, atau aspek prilaku/tindakan yang menunjukkan komitmen waktu dan fisik dalam melakukan ritual. Format atau bentuk serta dimensi/aspek dari suatu yang dibicarakan dalam tulisan akan secara langsung memperlihatkan seberapa luas kemampuan seseorang dalam memahami suatu pokok bahasan. Aspek atau dimensi ini dapat diperluas sesuai dengan topik atau isu yang dibicarakan.

Ketiga, relijiusitas, seperti juga fenomena yang lain, dapat dibahas dari sudut proses atau mekanisme operasionalnya yang menyangkut bagaimana relijiusitas itu berlangsung. Apakah itu melibatkan institusi agama, peraturan, atau tekanan-tekanan dalam masyarakat. Relijiusitas dapat juga terjadi akibat kontrol sosial dengan karakter yang berbeda pada seting sosial keagamaan dan politik yang berbeda. Pembicaraan tentang proses dapat juga berarti pemaparan nerdasarkan tahapan-tahapan yang relevan. Proses atau mekanisme ini membentuk suatu perspektif dalam melihat suatu pokok bahasan sehingga akan menyumbangkan pada ketajaman sebuah tulisan. Bahasan tentang proses merupakan suatu pernyataan tentang bagaimana suatu gejala ditempatkan dalam konteks yang lebih dinamis yang memungkinkan pemahaman secara lebih komprehensif.

Keempat, suatu pokok bahasan dapat dilihat atau dibicarakan dari faktor atau prakondisi kehadirannya atau keberadaannya. Faktor dapat menjadi dasar suatu pemahaman yang juga menyangkut sejarah lahirnya atau keberadaan sesuatu yang sedang dibicarakan dalam tulisan. Realitas sosial dapat diasumsikan sebagai suatu bentukan atas kekuatan-kekuatan yang berlaku yang perlu dibahas secara seksama dalam suatu tulisan. Pemahaman tentang faktor akan memungkinkan melihat suatu pokok pembicaraan dari perspektif yang berbeda yang memungkinkan munculnya pilihan-pilihan dalam analisis atau pemahaman suatu pokok bahasan. Kualitas tulisan akan tampak pada saat analisis faktor memberikan wawasan baru di balik suatu deskripsi yang telah diberikan tentang suatu isu atau pokok bahasan.

Kelima, suatu pokok isu dapat dibahas dari dampak atau implikasi keberadaan sesuatu yang menyangkut hasil dari adanya suatu gejala atau proses. Relijiusitas dapat dibicarakan dari dampaknya bagi tingkah laku individu atau bagi penataan sosial secara kolektif. Relijiusitas sebagai suatu praktik kolektif dapat bermakna atau berfungsi harmoni bagi kehidupan bermasyarakat yang dapat menjadi pokok bahasan yang menarik. Implikasi sesuatu juga dapat berarti implikasi teoretis atau konseptual yang muncul atas suatu gejala atau proses atau pokok bahasan dalam suatu konteks kajian. Pembicaraan tentang dampak akan memberikan kekuatan bagi tulisan karena memberikan dimensi yang lebih kompleks dan memperlihatkan ketajaman di dalam suatu analisis.

Kelima pokok pikiran di atas merupakan kemungkinan yang terbuka untuk dimanfaatkan dalam proses menulis yang sangat menentukan kekuatan suatu tulisan. Menulis dengan sistematis dan dengan penjabaran logis berdasarkan kelima pokok pikiran tersebut akan memungkinkan suatu tulisan bergeser dari tulisan deskriptif menjadi suatu tulisan analitis yang secara akademik memiliki mutu yang jauh lebih tinggi.

Penutup
Menulis itu gampang jika secara teknis kita menguasai caranya, yakni dengan memiliki keahlian dalam menjalankan tahap demi tahap penulisan. Menemukan ide untuk menulis, memformulasikan suatu isu yang akan dijadikan fokus, pembuatan outline tulisan, mencari dukungan data atas isu yang akan ditulis, memilih gaya penulisan, hingga teknik menulis dan menghasilakn sebuah karya. Paling tidak, tiga hal pokok dapat disimpulkan dalam keseluruhan proses tersebut.

Pertama, untuk menulis perlu terlebih dahulu dipahami dengan baik sasaran yang ingin dituju dan diacu dalam suatu tulisan. 


Apakah kita hendak berkomunikasi dengan pembaca kalangan berpendidikan yang cerdas dan kritis, atau kelompok masyarakat umum yang awam dalam bidang tertentu dan tulisan yang dihasilkan merupakan mandat untuk menjakankan misi mencerdaskan bangsa. Tulisan yang ditujukan untuk kalangan akademisi tentu saja berisi analisis tajam tentang isu tertentu yang kemudian melahirkan debat konseptual dan bahkan melahirkan teori baru dalam memahami suatu gejala. Ketika suatu tulisan ditujukan kepada pembuat kebijakan dan pengambil keputusan, maka suatu tulisan diharapkan berorientasi pada pemecahan masalah. Hasil dari analisis dalam tulisan tersebut berupa wisdom (pandangan bijak) yang dapat diacu dalam pemecahan masalah secara praktis dan teknis. Suatu tulisan yang ditujukan kepada publik yang lebih luas tentu saja harus memiliki bobot informatif yang lebih dominan dalam rangka perluasan wawasan untuk mendorong lahirnya kesadaran baru tentang sesuatu yang ingin dikomunikasikan.


Kedua, suatu tulisan sangat tergantung pada kekuatan gagasan yang dipilih dan dibangun.

Apakah suatu tulisan didasarkan pada suatu kejadian, peristiwa atau fenomena yang sedang terjadi di dalam masyarakat yang kemudian ditulis untuk memberi jawaban atas pertanyaan tertentu. Suatu ide dapat juga muncul akibat suatu keprihatinan individual atau kolektif atas ancaman-ancaman moral atau agama yang sangat perlu pemecahan masalah demi suatu kepentingan yang lebih besar. Tidak jarang ide menulis datang dari pihak lain atau pesanan untuk tujuan-tujuan tertentu. Dalam upaya memenangkan suatu partai dapat saja seseorang diminta menulis isu tententu yang menyebabkan tulisan tersebut mengandung bias yang merugikan. Pemilihan tema/topik/isu menulis memang bisa datang dari diri sendiri akibat perenungan atau suatu pengamatan, namun dapat juga datang dari orang lain yang memberikan ide atau bahkan memberikan uang untuk suatu kajian dan tulisan tertentu. Tentu saja integritas sang penulis dipertanyakan dalam hubungannya dengan kemandirian seorang penulis dalam menghasilkan suatu karya ilmiah. Paling tidak, kualitas suatu tulisan sangat ditentukan oleh gagasan atau isu yang dijadikan acuan dalam menulis sebuah karya.

Ketiga, menarik tidaknya suatu tulisan tidak dapat dipisahkan dari cara atau gaya pengungkapan tulisan itu sendiri. 


Pembeda satu penulis dengan penulis lain adalah gaya di dalam menulis, baik itu dalam pengertian kemampuan menggunakan bahasa secara efektif maupun dalam cara membangun argumen atau logika berpikir yang berbeda dengan kebiasaan umum. Pada saat satu tulisan mengatakan bahwa ”konflik merupakan suatu yang niscaya, yang kehadirannya dibutuhkan untuk penataan sosial yang lebih baik...,” maka tulisan itu sudah mengundang pertanyaan dan keinginantahu pembaca. Gaya penulisan semacam ini akan menjadikan tulisan menarik dan khas.

Banyak penulis yang memilik cara sendiri-sendiri dalam menggunakan berbagai teknik langsung atau idiom dalam mengungkapkan sesuatu dalam karyanya.

Di balik semua itu, menulis sesungguhnya membutuhkan komitmen untuk duduk dan menulis. Tidak banyak orang memiliki waktu atau mampu menggunakan waktunya untuk betul-betul duduk dan menulis. Memilih waktu duduk dan menulis adalah satu cara untuk bisa melahirkan suatu tulisan. Penulis yang berhasil, sebagian besar, adalah orang yang mampu memaksa dirinya untuk duduk di pagi buta dan menulis satu dua halaman setiap hari. Dan satu dua halaman itulah yang menjadikannya seratus halaman dalam tiga bulan. Selamat mencoba!