Follow Us @soratemplates

Rabu, 03 Februari 2021

MELUKIS KANVAS CINTA

Rabu, Februari 03, 2021 0 Comments


Melukis Kanvas Cinta

"Lukisan indah terpajang di hati generasi selanjutnya tergantung kepiawaian ayah dan ibu menggambar kanvas masa lalu."


Kepiawaian ayah dan ibu menciptakan suasana sakinah hingga berkesan dan terpatri di dinding hati anak-anaknya. Meskipun waktu berlalu, kisah selesai bersama kematian, namun  lukisan kenangan indah masih berjejer rapi dalam ingatan anak-anak.


Semua kisah seolah terjadi kemarin. Semua kenangan, kebersamaan, keindahan, kelembutan, kesabaran, ketegasan, pola pengasuhan, dan keistiqomahan ayah ibu tetap tergambar jelas di pelupuk mata mereka. Terlihat jernih di layar ingatan,  tentang kisah penuh canda, tawa, tangis, bahagia melewati masa-masa indah dan masa sulit dalam rajutan kasih sayang terbaik. 


Persepsi anak-anak di masa depan tergantung warna dan cara kita melukis kanvas kehidupan bersama mereka. Semua pragmen kehidupan  adalah kumpulan kenangan yang akan kita tinggalkan. Alangkah sedih, tatkala kita dikenang sebagai pelaku maksiat. Shalat sering terlambat, suka buka aurat, kadang berkianat, dan jarang bertaubat. Sementara usia kita di dunia begitu singkat. Sebatas lahir sampai wafat. 


Mungkin kenangan kelam atau kelabu itu akan teronggok di sudut ruang masa depan, yang pantas dicampakkan jauh-jauh. Kita menyesal, anak-anak kita pun menyesal dan malu. Namun sayang taqdir tak bisa diubah. Mereka tidak bisa memesan, merequest kepada Pencipta dilahirkan dari orang tua seperti apa, ayah dan ibu dengan tipe bagaimana.


Mau dikenang seperti apa ayah ibu kelak oleh anak-anak sangat ditentukan kemampuan kita  menggoreskan kuas di atas kanvas kehidupan anak-anak. Jika dilukis dengan gambar menarik, kombinasi warna serasi, konten lukisan bermakna, berkesan, diberi pigura indah kuat, dibungkus plastik rapi, maka lukisan bertahan lama. Tersimpan dengan pengamanan berlapis di alam bawah sadar anak-anak.  Kapanpun mereka dapat memandang lukisan itu, sambil tersenyum "Inilah ayah dan ibuku,  mereka sangat berarti bagiku, mereka penuh cinta dan istiqamah dalam kebenaran, semoga ayah ibuku bahagia di sisi-Mu Ya Rabb." Aamiin


Sangat sedih jika kita melukis kanvas kehidupan anak-anak terselip persoalan ketidaktuntasan persoalan hidup "unfinish business" kita tanpa sengaja. Kita menambah beban kenangan dan memperburuk lukisan mereka.  


Usahakan keluhan dan kebencian kita tidak menjadi keluhan dan kebencian mereka, kecuali kebencian terhadap kemungkaran dan kemaksiatan. Anak hanya benci pada segala sesuatu yang dibenci Allah dan Rasul-Nya. 

 

Pastikan kita melukis kecintaan pada hati, pikiran, dan perasaan anak-anak hanya cinta pada Allah semata. Cinta pada makhluk termasuk nabi, ulama, orang shalih, ortu, istri-suami, anak, dan harta hanya karena dan untuk mencintai Allah Subhanahu Wata'ala. 


Cinta Ilahi wujudkan kebahagiaan hakiki. Bahagia dalam taat. Bahagia beribadah. Bahagia membaca, menghafal, dan mengamalkan al-Qur'an. Bahagia menghadiri majlis ilmu, dan bahagia dalam setiap gerak muraqabatullah. 


Refleksi diri, kadang kita masih sibuk dengan kekosongan-kekosongan dan kesia-sian. Kadang ikutan-ikutan trend tanpa kejelasan alasan dan tujuan. "Yang penting happy" begitu bisikan keinginan." Waktu pun berlalu dan menyeret diri ke usia senja. Sementara kita masih memilih kuas dan kanvas terbaik untuk melukis cinta di hati anak-anak kita. 


Perlu kerja keras menggoreskan kuas di atas kanvas kehidupan anak-anak, dengan penuh rasa cinta dan kasih tak bertepi. Hingga kerinduan dan impian menjadi orang tua yang layak disebut dalam bait-bait do'a anak-anak shalih bukan sekadar harapan kosong.


Mudahkan kami melukiskan kuas cinta di atas atas kanvas kehidupan buah hati kami Ya Rabbana...aamiin. 


Salam ukhuwah 

Darimis

Kamis, 28 Januari 2021

JILBAB ITU JATI DIRIMU

Kamis, Januari 28, 2021 0 Comments


 

Entah mengapa tiba-tiba muncul keinginanku untuk mematut diri di cermin. Aku mencoba amati diriku dari ujung kaki sampai ujung rambut dalam balutan hijab sempurna. Kulihat sesosok wanita disana. Wanita dengan jilbab yang menutup seluruh bagian tubuhnya. Timbul sebuah pertanyaan dalam hati. “Siapa aku? Dengan jilbabku ini apa yang bisa kulakukan, baik kini maupun di masa datang? apakah aku akan mendapat pekerjaan yang layak?. Pertanyaan-pertanyaan itu muncul tiba-tiba. Tanya dalam keraguan ini mengingatkanku pada komentar seseorang dua minggu lalu.


Sore itu selepas pulang kuliah seperti biasa aku kembali ke kos-an dengan bersepeda. Memang jarak dari kampus ke kos ku tidak terlalu jauh tidak sampai satu kilometer. Lagi pula naik sepeda itu sehat dan aku menyukainya. Jadilah sepeda lipat berwarna putih ini yang selalu menemaniku setiap pergi ke kampus. Dalam perjalanan pulang aku mampir ke sebuah warung makan, membeli soto ayam kesukaanku untuk menu makan malam nanti. Ketika menunggu soto ayam ku selesai dibuat, aku duduk di sebuah kursi yang telah disediakan. Seorang bapak duduk di sebelahku. Bapak itu tersenyum kepadaku. Usianya kutaksir sekitar limapuluh tahun. Terjadilah sebuah percakapan antara aku dengan bapak itu.


“Baru pulang kuliah, Nak?” tanya bapak itu memulai percakapan.
“Iya pak..” jawabku sambil membalas senyumnya.
“Kuliah fakultas apa?” kembali bapak itu bertanya.
“Saya kuliah di fakultas pendidikan, Pak.” jawabku.
“Oalaa… Kamu kuliah di fakultas pendidikan toh. Wah sepertinya kamu salah jurusan, Nak. Coba deh kamu pikir nanti kamu bisa jadi apa? jadi guru, jilbab panjangmu itu cocoknya jadi ibu rumah tangga yang mengurus suami dan mendidik anak. Percuma deh kamu kuliah  susah-susah.” kata Bapak itu membuatku terkejut.


Aku terdiam, tak dapat berkata-kata. Rasanya aku ingin menyangkal semua perkataannya, tapi tak bisa. Untunglah keadaan yang tidak mengenakkan ini segera berakhir karena pesanan soto ayam ku telah selesai di buat. Aku pun segera membayar, tersenyum tipis kepada bapak itu, lalu bergegas beranjak dari tempat itu.


Aku benar-benar tak menyangka beliau akan mengatakan hal seperti itu. Rasanya aku ingin membantahnya. Menjelaskan semuanya bahwa pandangannya itu salah. Aku dan para muslimah lainnya  juga bisa berprestasi sama seperti yang lainnya. Jilbab kami bukanlah sebuah penghalang untuk mengukir prestasi. Justru dengan jilbab ini salah satu bentuk taat terhadap perintah Allah. Kami dapat menunjukkan kepada dunia bahwa muslimah juga bisa berkarya dan mereka tak boleh memandang kami sebelah mata.


Setelah semuanya siap, aku pun bergegas pergi ke kampus. Pagi cukup cerah. Sinar matahari terasa hangat disertai udara sejuk yang menyegarkan. Menjadi sebuah harmoni indah di pagi akhir bulan November. Ya, tapi sayangnya cuaca cerah pagi ini tak sanggup mengubah suasana hatiku yang masih terusik dengan perkataan bapak itu kemarin sore. “Coba deh kamu pikir nanti kamu bisa jadi apa? Kamu dengan jilbab panjangmu itu cocoknya jadi ibu rumah tangga yang mengurus suami dan mendidik anak. Percuma deh kamu kuliah teknik susah-susah.” kalimat itu terngiang-ngiang selama perjalananku ke kampus.
“Bapak itu pasti salah kok. Aku yakin kami para muslimah bisa sukses sama seperti yang lain.” Gumamku di dalam hati. Saat ini aku memang belum meraih apa-apa, belum mengukir suatu prestasi. Tetapi aku sebagai mahasiswa baru akan berusaha semaksimal mungkin untuk belajar dan terus belajar hingga satu persatu harapan dan cita-citaku dapat tercapai.


Sesampainya di kampus aku segera menghampiri Shyfa, teman sekelasku. Kebetulan Shyfa memang sudah tiba di kampus dan sekarang sedang duduk di dalam kelas menunggu kuliah yang lima belas menit lagi akan di mulai. Sudah tak sabar aku ingin menceritakan kejadian kemarin sore kepadanya.


“Assalamualaikum, Shyfa. Udah dateng?” sapaku menghampiri lalu duduk di sampingnya.
“Waalaikumsalam. Iya ini baru nyampe juga kok.” jawabnya tersenyum kepadaku.
“Fa, aku punya satu pertanyaan deh.” kataku serius.
“Pertanyaaan apa?” Shyfa mulai penasaran.
“Hmm menurutmu kita ini salah gak sih kuliah jurusan pendidikan?” tanyaku kepadanya.
“Hah? Maksudmu apa, Ra?” jawab Shyfa bingung karena tiba-tiba aku melontarkan pertanyaan aneh seperti itu.



“Iya, maksudku kita ini kan perempuan, pakai jilbab. Jelasku kepada Shyfa.
“Zahra, sekarang aku balik tanya sama kamu. Apakah kuliah itu pilihanmu sendiri?” Shyfa menatapku serius.
“Iya.” jawabku yakin.
“Apakah ada yang memaksamu?” Shyfa bertanya lagi.
Aku menggelengkan kepala.
“Lalu untuk apa kamu bertanya seperti itu. Ini sudah menjadi pilihanmu. Harusnya kamu yakin atas pilihan yang telah kamu putuskan.” jawab Shyfa penuh kebijaksanaan.



“Iya aku yakin kok dengan pilihanku ini. Tapi ada hal yang mengusikku. Kemarin sore ada seorang bapak yang mengatakan bahwa aku yang berjilbab ini tidak pantas kuliah di karena nantinya aku tidak dapat berkarier dan hanya bisa mengurus suami serta mendidik anak. Tentu saja aku sangat tidak setuju. Identitas kita sebagai wanita serta jilbab ini, bukan penghalang untuk berprestasi dan sukses dalam berkarir kan, Fa?” tanyaku pada Shyfa.
“Iya betul sekali, Ra. Justru dengan identitas kita sebagai wanita harusnya kita mampu membuktikan kepada orang-orang bahwa wanita juga dapat berprestasi dan sukses dalam karir. Jilbab yang kita kenakan sebagai identitas keislaman kita juga bisa menjadi sarana dakwah, yaitu memperkenalkan pada masyarakat bahkan kepada dunia bahwa wanita muslim tidak hanya bisa menjadi istri dan ibu yang baik, tetapi kita juga bisa memberi manfaat kepada banyak orang dengan ilmu yang kita miliki. Tidak hanya di bidang kita, bidang apapun yang kita geluti dapat kita kembangkan dan di amalkan di masyarakat.” Jawab Shyfa meyakinkanku.


“Aku setuju, Fa. Nah, berarti sekarang kita harus berusaha keras untuk mencapai itu semua sehingga dapat mengubah pandangan mereka tentang kita.” kataku penuh keyakinan.
“Iya sip. Semangat!. Oya, Ra jangan lupa besok sore ada sharing sama Mbak alumni seorang guru muda. Dia wanita berjilbab yang sukses dan mau berbagi pengalamannya ke kita,” kata Shyfa mengingatkanku.



“Ah iya aku lupa.” aku memang lupa tentang agenda sharing besok sore.
“Hmm kok bisa lupa? Tapi besok kamu dateng kan, Ra?” tanya Shyfa kepadaku.
“Iya Insyaa Allah, Fa. Aku tidak ingin melewatkan kesempatan berharga untuk mendengar cerita pengalaman dari orang sukses. Apalagi beliau yang berbagi pengalaman adalah seorang muslimah yang berjilbab panjang. Hmmm sharing besok sangat sesuai dengan apa yang kita bicarakan sekarang ini. Ya kan?”
“Iya, sharing besok pasti seru banget deh. Aku juga harus dateng.” jawab Shyfa penuh semangat.



Di tengah perbincangan kami, Dosen pun masuk kelas. Dengan senyum ramahnya, beliau berkata “Hari ini kita kuis ya..”
Aku dan Shyfa langsung bertatapan. Bergegas membuka catatan kemudian membacanya secepat kilat. Ya, ini memang pagi yang luar biasa. Sebuah kuis ‘dadakan’ menyapa kami di pagi yang indah ini.


Hari ini aku bangun lebih semangat. Salah satu alasannya karena hari ini ada mata kuliah kesukaanku dan tentu saja alasan lainnya adalah agenda sharing dengan Mbak alumni ba’da Ashar nanti. Oh ya, kemarin aku diberitahu bahwa Mbak alumni yang akan berbagi pengalamannya di sharing nanti sore bernama Mbak Syahnaz. Hmm tak sabar bertemu dan mendengarnya berbagi pengalaman. Dengan meluruskan niat demi meraih ridha-Nya, aku langkahkan kaki menuju kampus, berharap banyak ilmu yang kudapat hari ini. Bismillah…


Setelah keluar dari kelas mata kuliah kesukaanku, aku dan Shyfa bergegas menuju Masjid untuk melaksanakan Sholat Ashar. Usai melaksanakan sholat, kami langsung berkumpul dengan akhwat-akhwat lainnya untuk menghadiri acara sharing bersama Mbak Syahnaz.
“Ra, liat deh. Itu ya yang namanya Mbak Syahnaz?” tanya Shyfa sambil menunjuk kearah seorang wanita berjilbab merah muda.



“Iya itu Mbak Syahnaz. Cantik ya?” sahut Alya akhwat yang duduk di sebelahku.
Aku menoleh ke arah wanita yang mereka maksud. Dan benar saja, aku melihat seorang wanita memakai gamis merah muda. Cantik sekali. Wajahnya cerah bercahaya. Tatapan matanya meneduhkan dan senyumnya mendamaikan. Benar-benar sosok wanita muslimah idaman.


Acara sharing pun dimulai. Kami mengawali sharing ini dengan ucapan Basmalah. Mbak Hana adalah akhwat yang bertugas menjadi moderator pada sharing kali ini.
“Teman-teman akhwat, hari ini kita kedatangan tamu spesial nih. Seorang muslimah yang luar biasa hebat, cantik, sholehah, dan tentunya sangat cerdas. Beliau ini baru saja dua bulan lalu melahirkan anak keduanya. Nah, penasaran kan dengan cerita inspiratif dari beliau, langsung saja kepada Mbak Syahnaz dipersilakan untuk berbagi pengalamannya.” kata Mbak Hana membuka sharing ini.



“Assalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh.” Mbak Syahnaz mengucapkan salam sambil tersenyum kepada kami.
“Waalaikumussalam warahmatullahiwabarakatuh.” kami menjawab salamnya dan membalas senyum cantiknya itu.
“Alhamdulilllahirabbil a’lamin. Senang sekali rasanya bisa berada di tengah-tengah wanita sholehah calon penghuni surga-Nya Allah. Aamiin. Hmm sebenarnya saya merasa belum pantas untuk menjadi pembicara di forum ini karena saya juga masih dalam tahap belajar sama seperti teman-teman semua. Nah, jadi disini kita akan saling sharing saja ya agar ilmu kita sama-sama bertambah. Aamiin.” Mbak Syahnaz mengucapkan kata demi kata dengan begitu lembut dan nada yang teratur.


“Akhwat-akhwat cantik yang Insyaa Allah dimuliakan oleh Allah, dilahirkan menjadi seorang wanita adalah sebuah takdir indah yang telah Allah gariskan untuk kita. Sebagai seorang wanita sudah sepatutnya kita bersyukur karena Islam adalah agama yang paling memuliakan wanita. Allah memerintahkan kita untuk menutup aurat dengan jilbab sebagai bentuk perlindungan agar kita terlindung dari kejahatan-kajahatan laki-laki yang berniat buruk. 


Jilbab ini menempatkan wanita di posisi yang tinggi supaya keindahan-keindahan yang Allah anugerahkan kepada kita tidak dapat dinikmati oleh sembarang orang. Keistimewaan lainnya yang Allah berikan kepada wanita adalah dari rahim kita ini kelak akan lahir generasi-generasi calon pejuang Islam. Kita di amanahkan untuk mendidik anak kita nanti agar dapat menjadi seorang yang berguna bagi agama. Sebuah amanah yang mulia, bukan? Belum lagi kelak sebagai seorang istri kita akan menjadi wanita yang akan melayani suami dengan sepenuh hati, membuatnya tersenyum, memberinya motivasi, dan saling berbagi dengannya ketika senang maupun susah.”



“Dua amanah yang akan kita emban ketika berumahtangga kelak adalah kewajiban yang harus kita tunaikan dengan baik. Muslimah harus bisa menjadi istri dan ibu yang baik untuk suami dan anak-anaknya. Namun, apakah sebatas itu yang bisa muslimah lakukan? Tidak. Tidak hanya menjadi istri dan ibu yang baik yang bisa kita lakukan. Muslimah juga bisa menjadi apa yang ia cita-citakan, menjadi dokter, dosen, penulis,  tentu muslimah bisa meraihnya. Usaha keras dan niat yang ikhlas karena Allah adalah kunci utamanya. Namun, ingat dalam meraih semua itu kita akan menghadapi tantangan dan rintangan, diantaranya tingkat persaingan yang tinggi dan pandangan masyarakat tentang para muslimah. Mengapa saya bilang pandangan masyarakat tentang para muslimah menjadi salah satu dari tantangan? Karena sebagian masyarakat masih menganggap para muslimah hanya bisa menjadi ibu rumah tangga tanpa karier yang cemerlang. Mereka masih menganggap muslimah tidak mampu untuk bersaing dengan yang lain dalam hal karier. Oleh karena itu, tantangan kita adalah mengubah pandangan masyarakat mengenai muslimah. Kita harus membuktikan bahwa kita mampu menjadi dokter, dosen, dan penulis hebat.”



“Pengalaman saya ketika menempuh S2 di Jerman, dimana Islam menjadi agama minoritas disana, dan wanita berjilbab menjadi suatu hal yang langka, menjadi sebuah pengalaman yang berkesan untuk saya. Berada di lingkungan yang sama sekali berbeda dengan kota tempat saya tinggal di Indonesia adalah sebuah tantangan tersendiri. Namun, menjadi minoritas disana justru membuat saya semakin bersemangat untuk mengukir prestasi-prestasi. Saya ingin mengubah pandangan mereka, pandangan dunia tentang para muslimah. Dan jilbab yang saya kenakan sebagai identitas keislaman saya ini, juga menjadi sarana dakwah Islam, memperkenalkan lebih jauh tentang Islam kepada mereka.” Mbak Syahnaz memberikan penjelasan bak menghipnotis kami dengan kata-katanya yang bijak dan cara penyampainnya yang enak di dengar.


“Wah, luar biasa sekali ya penjelasan dari Mbak Syahnaz. Hmm pasti banyak yang ingin bertanya kan? Ya kita buka sesi pertanyaan ya..” kata Mbak Hana.
Aku pun segera mengangkat tangan untuk mengajukan pertanyaan kepada Mbak Syahnaz.
“Iya silakan Zahra” Mbak Hana mempersilakanku menyampaikan pertanyaan.
“Perkenalkan nama saya Zahra. Mbak Syahnaz saya ingin bertanya, kan saat ini berarti Mbak mengemban tiga tugas sekaligus, sebagai istri, ibu, dan wanita karier. Nah, bagaimana Mbak bisa menjalankan tiga tugas itu dengan baik?” aku menyampaikan pertanyaanku.



“Ya Zahra, pertama yang harus dilakukan adalah ikhlas dan niatkan semuanya untuk Allah karena segala sesuatu yang diawali dengan niat yang ikhlas karena Allah, yakinlah pasti Allah akan memberikan kemudahan di setiap langkah-langkah kita. Mengenai tugas sebagai istri dan ibu bisa tetap bisa kita laksanakan kok, asal kita bisa memanajemen waktu dengan baik dan menjadi wanita yang cekatan. Insyaa Allah ketiganya dapat berjalan beringingan tanpa ada satu tugas yang terbengkalai.” jawab Mbak Syahnaz dengan bijak.


Akhirnya setelah beberapa pertanyaan diajukan, sharing kali ini di tutup dengan sebuah kalimat kesimpulan dari Mbak Syahnaz.



“Jadi, sebagai muslimah kita tidak hanya bisa menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik, kita harus bisa menunjukkan kepada dunia bahwa muslimah juga mempunyai sisi yang lain yakni prestasi dan sukses dalam berkarier. Dengan demikian, dunia tidak hanya melihat muslimah sebagai wanita yang sukses di satu sisi, melainkan sukses di berbagai sisi.” kata Mbak Syahnaz memberi kesimpulan.


Sharing kali ini benar-benar membuka pikiranku, menambah pemahamanku mengenai muslimah yang sebenarnya. Pandangan dunia mengenai muslimah yang hanya bisa menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga adalah salah. Muslimah juga mempunyai kesempatan yang sama untuk dapat meraih cita-citanya. Dan ketika muslimah mampu berprestasi dan sukses meraih yang ia cita-citakan ia akan menjadi sosok wanita yang hebat. Wanita hebat yang sukses menjadi istri dan ibu yang baik, juga hebat karena dapat meraih cita-citanya.

TIPS HINDARI BAPER DI MEDSOS

Kamis, Januari 28, 2021 0 Comments
Medsoa hanya alat, manfaat dan mudarat tergantung pengguna



Hidup di era media sosial dituntut kemampuan spesial. Bergabung dengan kaum milenial, membutuhkan keterampilan dan skill tingkat tinggi di bidang sosial. Mereka generasi digital native  terlahir di era digital. berbeda dengan generasi X, Y, dan Z yang serba manual. Makanya harus meningkatkan kemampuan dua kali lipat dibandingkan generasi milenial.


Oke..lanjut... apa hubungannya generasi abjad dengan generasi milenial dan baper di medsos? tentu ada hubungan bos. Generasi abjad kurang melek teknologi, sementara generasi milenial luar biasa eksis di medsos. Kadang gampang baper (bawa perasaan) gegara medsos. Menguras perasaan dan mudah digembos, sehingga persoalan karakter atau integritas kepribadian menjadi problem serius generasi tersebut.


Berangkat dari pengalaman pribadi yang mencoba memetakan baper di medsos. Sementara saya menduga, kebanyakkan mereka gampang baper gegara media sosial terutama pada sampel yang diobservasi ditemukan, rata-rata beraktivitas sesuai dengan kecenderungan life style teman di media sosial. cara berpakaian ikut teman, pola liburan ingin seperti teman, kecenderungan hobi hampir sama dengan teman. seolah-olah hidup mereka identik perkembangan trend gaya hidup teman di media sosial.  


Jika satu orang posting berbagai macam gaya di tempat wisata, yang lain tidak mau ketinggalan. Berusaha sekuat tenaga untuk meniru gaya hidup tersebut. seakan-akan hidup di dunia maya adalah perlombaan kegiatan mengunjungi tempat wiasata. Jika satu orang posting poto makanan yang lain berusaha memasak dan ikut posting poto makanan. Seolah dumay menjadi ajang perlombaan tata boga. Paling aneh, sakit hati, konflik interpersonal pun di bawa-bawa sampai ke medsos. Orang lain menulis tentang apa, ditujukan ke siapa tidak tahunya malah temannya yang sakit hati, lalu terjadi sindir menyindir bahkan 'saling balas' komentar dan status di medsos. 


Mencermati fenomena baper ini, saya tertawa sendiri. Inilah gambaran tingkah pola umat dalam bermedia sosial. Barangkali ceo atau owner medsos tertawa geli melihat kinerja mereka telah menciptakan tools ini dan berhasil. Mereka mudah memetakan kecenderungan generasi akhir zaman. Mereka gampang menilai selera dan kemampuan generasi, sehingga gampang menyusun strategi  gozwul fikri atau gozwul tsaqofi. Itu pendapat saya lho ya...


Sebagai pengamat generasi umat akhir zaman, sekaligus terlibat dalam pendidikan generasi akhir zaman, saya menyarankan kepada sahabat-sahabat yang mempergunakan medos, beberapa tips hindari bape di medsos.


1. Jangan Gampang Percaya

Percaya hanya pada enam rukun iman, selebihnya no way. Status baik, alim, bijaksana, dan religius belum tentu orinya begitu. Bisa jadi orang berbeda, aslinya dia sendiri yang tahu. Jika gampang percaya, kita akan kehilangan daya analisis dan filter kebenaran.
Begitu juga ketika lihat foto selfie cantik and manis di pesta, kumpul bareng, makan, jalan-jalan, berkenderaan, dan laporan aktivitas harian di medsos. Jika gampang percaya akan mudah baper, di samping kepo.


Coba saja refleksi diri sendiri. Ketika ingin posting poto selfie, gambar, atau konten, pasti diseleksi secara ketat. Dipilih, disortir, ditanya sana sini "ini bagus gak?" Kadang diedit pakai beberapa aplikasi, setelah terlihat 'waw' baru diposting. Konten biasanya juga demikian, sebelum menulis punya ide, dipikir dan dianalisis dulu. Kadang lakukan survey, baca buku, lihat YouTube, dan pelajari materi latihan, setelah itu ditulis. Kadang sehari belum tentu selesai menulis. Membuat suatu konten tidak sekali jadi, baca lagi, ceck and receck lagi, revisi, setelah fix baru diposting.

2. Selektif dan Solutif


Orang baper biasanya sensitif, terlalu 'peduli' pada sesuatu yang tidak mesti dipedulikan. Melihat sesuatu yang tidak harus dilihat. Mendengar sesuatu yang tidak butuh didengar. Memperhatikan segala yang tidak perlu diperhatikan. Kuncinya, selektif dan solutif dalam bermedsos, dan jaga sikap selektif dan solutif tersebut. Baca dan lihat yang dibutuhkan, ambil yang bermanfaat, selebihnya biarkan, EGP (emang gue pikirin) Egepe...gitu katanya...


Kadang kita perlu bersikap bodo amat atau cuek pada sesuatu yang tidak perlu. Apalagi tidak berkontribusi untuk kebaikan diri, agama, dan akhirat kita. Menghabiskan waktu, menguras pikiran jika berlama-lama di situ. Scroll aja ke layar berikutnya, cari postingan menarik dan dibutuhkan.
Kadang ada status nyampah. Perlu tahu juga ciri status sampah itu bagaimana. Nah ini perlu disearching untuk ide konten selanjutnya.

3.  Pergunakan Fitur Medsos Secara Tepat


Medsos itu laksana samudera luas. Di dalamnya terdapat berbagai ikan, karang, mutiara, dan aneka sumber daya alam. Di dalamnya juga terdapat sampah, kotoran, racun, dan bahaya menakutkan. Media Bermedsos ada manfaat ada mudharat. Ada baik ada buruk. Ada yang penting dan tidak penting. Fokus pada yang bermanfaat, positif dan penting saja membuat kita tidak gampang baper. Jika ada yang membuat kita terganggu gunakan tombol yang ada misalnya unfollow, remove, delete, unlike, block, dan sebagainya. Gunakan tombol itu secara bijak.


4. Santuy dan Tenang


Santai itu perlu agar kita selalu waras. Tenang itu penting agar kita tetap terkendali. Jika kita diremove atau diunfollow di medsos, santai dan tenang saja. Dunia Maya tidak selebar daun "marunggai" eh daun kelor.

Jika tujuan kita bukan eksis di dumai untuk apa gulana diunfollow atau diremove teman?.Toh 5000 teman di FB tidak berkontribusi bagi kebaikan diri.
Jika tujuan kita berbagi kebaikan, mencari pahala, berdakwah, tidak tergantung dengan banyaknya teman. Satu orang yang mengamalkan kebaikan dari postingan kita, insyaa Allah pahalanya mengalir ke sampai akhirat. "Pahala jariyah" kata ustadz, apalagi jika banyak yang mengamalkan. Sungguh pahalanya luar biasa.

5. Bersabar

Sabar itu banyak modelnya. Sabar dalam taat, sabar meninggalkan maksiat, sabar dalam musibah. Di medsos ketiga sabar itu bisa diterapkan. Sabar dalam menyebarkan konten kebaikan, hikmah, solusi, dan kiat secara ikhlas adalah sabar dalam taat. Sabar tidak melihat, membaca, dan membagikan keburukan termasuk sabar dalam meninggalkan maksiat. Sabar ketika kita diunfollow atau diremove teman termasuk sabar dalam musibah. Ini sih pendapat pribadi, jika salah mohon dikoreksi sobat....

Salam Ukhuwah 
Saudarimu
Darimis

Kamis, 22 Oktober 2020

SEUTAS NARASI DI HARI SANTRI

Kamis, Oktober 22, 2020 0 Comments

Peringatan Hari Santri di PPMDS

Terlepas dari segala polemik penetapan hari Santri 22 Oktober,  yang konon katanya makin mempolarisasi umat khususnya generasi muda, antara santri dan bukan santri. Bahkan dikawatirkan akan memperlebar jurang pemisah antara generasi muda. Faktanya hari santri telah ditetapkan dan diperingati.


Penetapan hari santri tidak terlepas dari peristiwa historis. Sejarah mencatat, betapa besar peran para santri  dalam melawan kolonial Belanda hingga mampu meraih kemerdekaan. 


Masa penjajahan, pesantren menjadi salah satu kubu pertahanan mental dan fisik, terhadap berbagai bentuk  imperialisasi dan kolonialisasi bangsa lain. Penjajah bahkan  para anteknya, melakukan berbagai bentuk deislamisasi pada pemuda. Para misionaris yang diutus kolonial mengajak pemuda, dan menyebarkab propaganda tentang mulianya peradaban Barat. 


Salah satu golongan yang menentang propaganda misionaris utusan kolonial ketika itu, adalah pesantren. Para santri memiliki semangat dan pemahaman tentang kebenaran dan kebatilan secara jelas. Hingga menentang ajakan tersebut, ruh jihad fisabilillah mengalir deras di sepanjang urat darah mereka. Ruh ini tidak bisa diusik, diganggu gugat, dilemahkan, dan dihilangkan oleh musuh-musuh agama ini. 


Hari ini, 22 Oktober 2020, adalah pepringatan hari Santri. Idealnya hari santri menjadi momentum strategis bagi santri dan semua umat Islam, betapa pentingnya semangat perjuangan menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran dengan dakwah dan jihad. Demi mempertahankan harga diri, kehormatan, jiwa raga, dan kebesaran Islam. 


Hari Santri idealnya menjadi cermin yang merefleksikan semangat perjuangan mencapai kebangkitan umat di seantero jagat. Merefleksikan kekuatan pikiran, iman, aqidah, syariah, akhlak dan semangat santri jaman dahulu dalam mencapai kebangkitan. Memerdekakan diri dan bangsa dari kolonial. 


Hari santri, idealnya kian meningkatkan kesadaran kita. Betapa urgennya perjuangan dan ikhtiar optimal membela agama Allah Subhanahu Wata'ala. Perjuangan bukan semata bersungguh-sungguh dalam bekerja, tetapi berjuang menegakkan dan menentang kemungkaran dan kemaksiatan di muka bumi, dan menegakkkan Islam secara totalitas dalam semua aspek kehidupan, hingga rahmatan lil 'alamiin menjadi suatu keniscayaan. 


Peringatan hari santri idealnya memahamkan kita, betapa banyak hukum-hukum Allah Subhanahu Wata'ala yang belum mampu kita terapkan di semua sisi kehidupan. Kita masih memilih ayat yang disukai dan menafikan ayat yang tidak  disukai, laksana kita memilih hidangan prasmanan. 


Peringatan hari santri mengingatkan kita pada sosok santri sebagai individu tangguh pantang menyerah, berilmu, memiliki tekat kuat, sungguh-sungguh dalam thalibul di llmi, dan berprestasi dan berkontribusi bagi umat. 


Peringatan hari santri mengingatkan kita pada sosok  santri yang selalu mengabdikan dirinya pada guru, institusinya dan umat. Tanpa kenal lelah, hingga umat tercerahkan dan tercerdaskan dengan ilmunya. Umat sadar dan berpihak pada Islam sebagai sistem kehidupan yang sangat komprehensif di muka bumi. 


Peringatan hari santri idealnya mengingatkan kita pada sifat mulia seorang santri. Santri yang memiliki ketaatan, keshalihan pribadi dan sosial, patuh dan taaat pada semua aturan syariat dengan selalu sami'na wa'atha'na pada perkataan Allah dan Rasulullah. 


Peringatan hari santri idealnya mengingatkan kita pada sosok santri, yang selalu hati-hati dalam berbuat. Menghindarkan diri semua pemikiran yang tidak Islami.  Menolak pemikiran asing. Memilih tidak pacaran. Gelisah ketika agama dan atribut agakanya dilecehkan. Berikhtiar  sekuat tenaga membangkitkan kesadaran umat. Selalu berusahaka mengubah kondisi yang tidak ideal menjadi ideal. 


Secara pribadi, hari santri bukan sekadar peringatan, lalu berbangga diri bahwa salah seorang kita anak belajar di pesantren, tetapi jauh lebih agung dari itu semua, adanya kesadaran kita bahwa cita-cita dunia hanya angan kosong tanpa nilai ruhiyah. Hanya cita-cita akhirat agar suatu saat anak jadi ulama besar, dapat membawa keselamatan dan keberkahan dunia dan akhirat. Cita-cita dunia sebatas mencari rezeki, sementara rezeki setiap hamba sudah ditentukan Allah Subhanahu Wata'ala. 


Peringatan hari santri, sedikit menambah pemahaman kita bahwa  pesantren adalah salah satu institusi pendidikan yang dapat diandalkan untuk mencetak generasi kuat aqidah, syariah dan akhlak.  Setidaknya dalam konteks Indonesia saat ini. Coba cek fakta, agar pernyataan ini valid dan shahih.  


Pesan terbaik saya, "Wahai ananda semua santri...! Jadilah santri beraqidah kuat, beriman tangguh, bersyariat menyeluruh, berakhlak kukuh, belajar sungguh-sungguh, istiqamah selalu meskipun langit runtuh. Tiada yang abadi di dunia ini selain iman dan amal shaleh. Sebagai bekal terbaik kita untuk pulang ke haribaan Allah Subhanahu Wata'ala, aamiin. Wallahu A'lam Bisshawab. 


Senin, 05 Oktober 2020

PEMUDA TANGGUH, SOSOK BERPENGARUH

Senin, Oktober 05, 2020 0 Comments

 


Membaca judul, berbagai tanya tumbuh. Siapa sebenarnya sosok pemuda tangguh? Banyak pendapat yang disuguh. Ada yang menjawab dari sisi sifat, kriteria, karakter, sampai kelebihan pemudah tangguh. Namun jawabannya perlu analisis menyeluruh, hingga deskripsinya utuh.

 

Ada yang berpendapat pemuda tangguh adalah pemuda kuat. Badannya sehat. Gerakkannya cepat. Otaknya hebat. Analisisnya cermat, dan dia seorang yang taat. 


Pendapat lain mengatakan, pemuda tangguh itu pemuda pecinta alam. Kegiatannya banyak di alam. Menyukai arung jeram. Selalu bergerak atau tidak pernah diam. Semangatnya tak pernah padam. Kadang jika kurang paham suka mencari ilham.


Sebagian lagi berkata pemuda tangguh adalah pemuda berpenampilan menarik. Jika perempuan pipinya tirus alis matanya lentik. Selalu berpakaian apik. Kadang berbicara setengah berbisik. Berteman dengannya asyik. Pokoknya identik dengan semua hal yang menarik. 

 

Deskripsi di atas bukan representasi lengkap tentang pemuda tangguh. Sejarah banyak memaparkan pemuda tangguh itu sosok berpengaruh. Pemuda hebat, berkualitas, sosok iconik, pembaharu, pendobrak kebekuan peradaban, beriman teguh, beraqidah kukuh. Bersyariat secara menyeluruh. Selalu patuh dengan semua aturan Allah Yang Maha Tahu. Apapun yang Allah ï·» dan Rasulullah ï·º sampaikan, dia selalu patuh dan bersimpuh. Menjalankan syariat secara ikhlas, tanpa mengeluh, Meskipun jasmaninya melepuh. Dialah sosok pemuda dengan syaksiyah Islamiyah utuh dan menyeluruh.

 

Sejarah mencatat dengan tinta emas, kisah pemuda tangguh sangat inspiratif. Pemuda hebat dijaman Rasulullah ï·º. Seperti Zubair bin Awwan, sosok pemuda tangguh, mitra diskusi Rasulullah ï·º yang sangat komunikatif. Dia termasuk tujuh orang pertama masuk Islam di awal (assbiqun awwalun) di tengah kondisi iman dan Islam belum kondusif. Ketika umurnya masih 15 tahun, sangat energik dan produktif. Dia diberi hidayah di usia belia, ketika perasaan masih berfluktuatif. Namun imanya produktif, bahkan dijamin masuk surga sebelum wafat, sungguh merupakan sosok inspiratif.

 

Sosok pemuda tangguh berikutnya adalah  Thalhah bin Ubaidillah. Seorang pembesar utama barisan Islam di Makkah. Singa podium handal, pelindung Nabi saat perang Uhud berkecamuk, dengan tujuh puluh luka tusuk tombak, donator utama fii sabilillah. Mendapat julukan dari Rasulullah ï·º dengan Thalhah si pemurah, Thalhah sidermawan di usianya yang masih sangat muda, berpotensi untuk tergoda, nanum imannya kukuh dan gampang tergugah.

Kita juga kenal Sa’ad bin Abi Waqash, seorang kesatria berkuda Muslimin paling berani di saat 17 tahun usianya. Ia dikenal sebagai pemanah terbaik dan sahabat utama. Dialah Syahid pertama. Muslim pertama yang mengalirkan darahnya untuk Islam paripurna. Dia  lelaki yang disebut Rasulullah sebagai penduduk surga.

Kita juga Zaid bin Tsabit, pada usia 13 tahun susah mendaftar jihad fii sabilillah. Dia pemuda jenius, mahir baca-tulis berbagai bahasa dengan mudah. “Wahai Zaid, tulislah….”, begitulah Rasulullah  ï·º memerintah. Dia mendapat tugas maha berat, menghimpun wahyu, di usia 21 tahun benar-benar tugas berat, namun menggugah. Berkat jasanya Islam bisa ditulis dalam bentuk naskah.

 


Pemuda lainnya, kita kenal Usamah bin Zaid, sejak usia 12 tahun sudah terkenal harum namanya. Kuat fisiknya. Rasulullah
ï·º pernah menunjuknya sebagai panglima perang, ketika 20 tahun usianya.  Dia memimpin armada perang menggempur negara adikuasa Romawi di perbatasan Syiria. Akhirnya kaum muslimin mendapatkan kemenangan gemilang dan berjaya.

 

Kemudian Mus’ab Bin Umair seorang pemuda tangguh, sahabat, sekaligus delegator pertama yang diutus Rasulullah ï·º ke Yastrib (Madinah) untuk membuka jalan dakwah Islam. Pemuda yang berpenampilan keren menawan, selalu wangi, lemah lembut, sangat baik, seorang bangsawan, keren dan berbakti pada ibunya. 



Kita juga kenal dengan sosok pemuda tangguh Muhammad al-Fatih. Usia 22 tahun memimpin pasukan untuk menaklukkan Konstantinovel ibu kota Bizantiun. Untuk membuktikan dirinya sebagai pemuda yang dijanjikan Rasulullah
ï·º sebagai penakluk kota besar dunia. Dialah panglima perang terbaik, dan memilik pasukan terbaik.



Sosok pemuda tangguh tidak saja didominasi laki-laki, ada muslimah tangguh yang dideskripsikan al-Qur’an. Seperti Maryam binti Imran, Asiyah binti Muzahim, Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Aisyah binti Abu Bakar, dan sahabiyah lainya. Maryam binti Imran, dikenal sebagai muslimah hebat, menjaga ketat kesucian dan kehormatan dirinya.
Tidak bergaul dengan laki-laki, dan sibuk beribadah untuk persiapan akhiratnya. Hingga suatu hari dia diamanahi Allah untuk mengandung bayi tanpa ayah atas kekkuasaan Allah ï·». Lahirlah nabi Isa “Alaihi salam.

 

Kita juga kenal sosok Asiyah binti Muzahim, istri Fir’aun. Wanita beraqidah teguh, menafikan kenikmatan istana dari iman di dada. Rela disiksa asalkan iman kuat di dada.

 

Siti Khadijah binti Khuawailid, istri pertama Rasulullah. Wanita bangsawan, menghabiskan semua hartanya untuk memodali berkembangnya Islam di kota Makkah dan Madinah. Wanita yang beriman pertama, tatkala semua wanita belum beriman. Pengorbanannya luar biasa untuk Islam, sehingga di akhira hidupnya memiliki 89 tambalan pakaian.

 

Aisyah sosok muslimah sangat cerdas, hafal ribuan hadis, dan menjadu salah seorang perawi hadis di kalangan muslimah. Kita juga kenal dengan Fatimah binti Muhammad SAW. Seorang muslimah yang selalu diuji dengan kemiskinan dan kekurangan. Hari-harinya sering berpuasa dan merasakan lapar dari pada hidup kenyang. Namun di tengah kekurangannya masih mengutamakan bersedekah.


Remaja tangguh adalah sosok yang diberikan kabar gembira oleh Rasulllah “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah ï·» pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya,” lalu beliau menyebutkan di antaranya, “Seorang pemuda yang tumbuh dalam penyembahan kepada Rabbnya.”

 

Sosok pemuda tangguh di atas adalah sosok pemuda muslim yang berdiri dan lantang menyuarakan dan menyebarkan kebenaran. Melaksanakan amanah dakwah sebagai kewajiban pribadi pada Islam dan umat. Sosok pemuda yang benar-benar paham dan bangga dengan Islam. Selalu membekali diri dengan ideologi Islam, dan selalu membangun pemahaman  umat tentang kemuliaan dan kesempurnaan Islam di seluruh penjuru dunia.

 


Islam sa
ngat Memperhatikan Pemuda

 

Pemuda, enam huruf bermakna, menggugah, mengubah, dan luar biasa. Bahkan ia mampu menobrak dan mengguncang dunia. Islam sangat memperhatikan pemuda. Pemuda sebagai generasi penerus peradaban Islam di setia massa. Di tangan pemuda estafet perjuangan, penegakkan Islam, dan pemimpin peradaban dunia. Pemuda adalah sosok ideal yang bukan sekadar agent of change, iron stock, social control atau moral force, tetapi penakluk negara adidaya, memperkenalkan dan mengislamkan semua umat manusia, hingga mengundang berkah dan rahmat Allah ï·».

 

Membawa umat dari kemaksiatan menuju ketaaatan, dari kegelapan menuju cahaya Islam. Dari kedzaliman dan penindasan menuju kemenangan dan kejayaan. Mereka menggantikan pemimpim hari ini di masa depan. Melanjutkan tugas-tugas mulia, mengaplikasikan, dan beramal demi kegemilangan peradaban.

 

Berbagai fakta pemuda di masa kegemilangan Islam. Sibuk belajar, menghafal al-Qur’an, membaca, meneliti, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Hingga lahir berbagai penemuan. Hingga mengantarkan kehidupan umat Islam ke puncak ketinggian peradaban. Kecemerlangan di segala aspek kehidupan.

 

Pemuda-pemuda tangguh yang dikemukakan di atas menjadi saksi sejarah. Pemuda Islam tumbuh, berkembang dan sosok menggugah. Sosok pemuda berpengaruh, penemuannya dikenang sampai sekarang bahkan sepanjang  usia. Mereka semua sosok luar biasa baik di dunia bahkan sampai ke jannah.

 

 

Strategi Islam Mencetak Pemuda Tangguh

 

Pemuda adalah seorang anak manusia yang sedang berada pada usia rentan, dalam semua rentang kehidupan. Suatu tahapan kehidupan antara tahapan anak-anak dengan tahapan dewasa mapan. Progresi linier menandai perkembangan. Multidimensi terjadi dalam perubahan. Bukan saja perubahan biasa dalam perkembangan. Multidimensi juga, atinya terjadi transformasi bertahap atau metamorfosis agar bermanfaat bagi kehidupan.

Tidak mudah menjadi pemuda Islam yang tangguh luar biasa. Butuh pengembangan menyeluruh,  dari segi jasmani dan nalurinya.  Mampu menghadapi tantangan dan problema. Di antaranya, kemampuan mempersiapkan fisik, ilmu, aqidah, syariah, dan syakhsiyah Islamiyah. Sebab kesuksessan pemuda diukur dengan keberhasilan pemuda menjalani proses pertumbuhan dan menjalani setiap proses perubahan dan tantangan  secara positif dan benar. Ukuran positif dan benar muslim hanya Islam.  Artinya setiap proses perubahan dan menghadapi tantangan perkembangan harus sesuai dengan ketentuan Islam. Jika pemuda muslim menjalani proses perubahan, dan menghadapi tantangan perubahan, tidak sesuai dengan ketentuan Islam, itulah kegagalan perkembangan. 



Menurut Islam, pemuda adalah generasi penerus dari generasi sebelumnya. Pemuda  penyambung estafet tugas dan kewajiban kepemimpinan sebelumnya.  Begitu pentingnya peran kepemimpinan yang akan diemban pemuda di masa datang. Maka dalam bahasa Arab disebutkan “Syubanu al-yaum rijalu al-ghaddi”, artinya Pemuda hari ini adalah tokoh pada masa yang akan datang. Oleh sebab itu, Islam memberikan perhatian besar, sangat serius pada pemuda.



Pemuda yang dibentuk dengan Islam, banyak mencapai kegemilangan, kejayaan, dan kemajuan di masanya. Seperti  di masa Rasulullah ï·º,  masa Khulafaur Rasyidin, Tabiin, Tabit-Tabi'n, sampai masa Kekalifahan Turki Ustmani. Telah banyak bermunculan pemuda hebat, kuat, dan taat. Di antara mereka ada yang menjadi Mufti, sekretaris Nabi, pendakwah sukses, delegator hebat, bahkan menjadi panglima perang penakluk kota besar di negara adidaya di jamannya.



Mengapa pemuda di masa kegemilangan Islam bisa demikian? Jawabanya, karena pemuda  benar-benar dididik dengan Islam. Tidak saja dididik setelah lahir oleh orang tuanya, tetapi dipersiapkan jauh sebelum itu. Salah satunya dengan mencari pasangan berdasarkan pondasi Islam, proses pernikahan berdasarkan Islam, dan menjalani rumah tangga sejalan dengan syaruat Islam. Bagaimana strategi Islam membentuk pemudah tangguh, yuk kita baca uraian berikut.

 

1.    Menanamkan dan menghunjamkan aqidah Islamiyah

 

Menurut Iwan Januar, banyak keunggulan mendidik generasi berbasis aqidah, yaitu:

 

(a)    Aqidah Islam adalah konsep yang mudah dicerna oleh siapa saja. 

Aqidah diperoleh dari proses berpikir secara komprehensif tentang ciptaan Allah ï·». Betapa diri manusia, alam semesta dengan segala isinya memiliki keteraturan, keharmonisan, dan sangat indah di pandang mata. Kekaguman terhadap keindahan alam semesta mengantarkan pada aqidah, bahwa semua itu diciptakan oleh Sang Pencipta.

 

(b)   Aqidah Islam membentuk generasi teguh dengan prinsip.

Betapa keimanan para sahabat, tabi’in, tabit tabi’in begitu kokoh, mereka memilih tersiksa atau mati  mempertahankan aqidah. Ternyata Rasulullah ï·º menanamkan aqidah bukan secara dokriner, tetapi menggunakan metode berpikir (thariqah aqliyah), sebagaimana cara yang tertera dalam al-Qur’an. Betapa banyak ayat yang memerintahkan manusia untuk menggunakan akal, menyuruh berpikir tentang penciptaan Allah yang terdapat di muka bumi, termasuk dalam diri manusia sendiri. Cara ini akan kuat menghunjam di hati terdalam, dan sulit tergoyahkan.

 

(c)    Aqidah Islam akan menjadikan generasi memiliki sandaran kehidupan hakiki, yaitu Allah ï·»

Generasi Islam dengan basis aqidah Islamiyah yang kokoh akan memiliki kekuatan mental dan kepercayaan diri yang tinggi. Kenapa tidak, pemahamaanya tentang qadha dan qadar sangat jelas. Semua kajadian di dunia ini dipahaminya hanya ada dua wilayah. wilayah yang tidak dikuasainya, yaitu wilayah qadha (ketetapan Allah ï·»), dan wilayah yang dikuasainya, yaitu wilayah ikhtiar. Semua perbuatan manusia dan yang menimpa manusia pada wilayah qadha adalah hak prerogatif Allah ï·». Manusia tidak bisa ikut campur. Manusia diminta untuk menerimanya dengan ridha, ikhlas, sabar, tawakkal, dan optimis. Sementara kejadian di wilayah ikhtiar manusia wajib mengoptimalkan ikhtiar. Apapun yang diperolehnya setelah mengoptimalkan ikhtiar, itulah hasil terbaik menurut Allah ï·»,

Berdasarkan keyekainnan ini, generasi muda memiliki kekuatan mental. Siap menerima segala tantangan, tahan banting, tidak gampang stress dan prustrasi menghadapi segala situasi dan kejadian.

 

(d)   Basis aqidah Islamiyah, generasi akan mudah taat syariat dan hidup disiplin

Islam mendidik generasi muda dengan aqidah aqliyah dan dalil naqliyah secara jelas dan tuntas, sehingga melahirkan ketaatan terhadap syariat dan disiplin. Islam benar-benar menuntun generasi muda pada kebaikan.

Pendidikan aqidah tidak disampaikan dengan indokrinasi, tekanan, ancaman, paksaan, dan intimidasi. Sebagaimana pendidikan Rasulullah ï·º mendidik dan menguatkan aqidah dengan uslub yang ahsan, seperti ajakan, pujian terhadap setiap perbuatan baik. Sementara untuk perbuatan buruk,  kita harus mencela perbuatan sembari menjelaskan dampak buruk dari perbuatan maksiat tersebut.

 

(e)    Pendidikan berbasis akidah Islamiyah, genersi dilatih berpikir kritis mencermati fenomena alam

Membangun pemahaman generasi muda dengan basis aqidah. Mengajak mereka untuk mengamati berbagai fenomena alam, atau memperhatikan ciptaan Allah ï·» termasuk memperhatikan dirinya sendiri. Hasil pengamatan ini akan meningkatkan keimanan kepada Allah ï·». Pemuda akan paham satu-satunya agama di dunia ini, yang menghormati manusia dan menyelamatkan manusia hanya Islam, tiada ajaran lain.

Makanya genarasi awal yang memeluk Islam, generasi akan semakin cerdas, cinta ilmu pengetahuan, dekat dengan al-Qur’an dan gemar mencari ilmu. Inilah keunggulan pendidikan Islam pada generasi.

 

2.    Mengkaji Islam sebagai Ideologi, bukan sekadar ruhiyah

Pemuda diwajibkan menjadikan Islam sebagai ideologi. Islam adalah ideologi, bukan sekadar agama ruhiyah, untuk dekat kepada Allah semata. Namun Islam juga sistem aturan, yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Tidak ada perbuatan manusia mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali terlepas dengan hukum syarak. Bukan berdasarkan asas manfaat, menghindari mudarat saja, atau sesuai dengan akal saja.

 

3.    Memiliki keberpihakan pada Islam

Pemuda muslim senantiasa memiliki sikap keberpihakan pada Islam, bukan netral, apalagi oportunis demi mencari keuntungan duniawi. Tidak ada kata netral di hadapan kebenaran dan kebatilan. Sebab ukuran perbuatan hanya dua, yaitu baik atau buruk, terpuji atau tercela, pahala atau dosa, atau memilih ahli surga atau penduduk neraka. Tidak ada tempat antara dua pilihan tersebut. Pemuda Islam harus memilih keberpihakkannya hanya pada kebenaran atau Islam semata, tidak yang lain.

 

4.    Istiqamah dengan hidayah

Pemudah Islam yang beraqidah benar, akan istiqamah dalam kebenaran dan Islam. Hidayah adalah harta berharga yang harus dipertahankan sepanjang hayat. Kata orang hijrah itu mudah istiqamah itu sulit. Jika sudah menjatuhkan pilihan pada Islam maka semua resiko dalam pilihan tersebut harus diterima dengan ikhlas.

 

5.    Terlibat dalam dakwah Islam

Pemuda tangguh dalam Islam, adalah pemuda yang terlibat dalam dakwah Islam. Sungguh sosok pemuda tangguh dan beroengaruh sepanjang peradaban bukan pemuda akademisi saja, tetapi pemuda yang berilmu dan memilih jalan dakwah. Ikut berpartisipasi aktif menegakkan Islam. Bukankah sepanjang sejarah perubahan peradaban selalu melibatkan pemuda. Rekam jejak pemuda Ashabul Kahfi, betapa keteguhan iman dan kesungguhan mereka memperjuangkan kebenaran mendapat pertolongan dan perlindungan Allah ï·».

 

Penutup

 

Pemudah tangguh adalah sosok berpengaruh sepanjang zaman. Tidak satupun yang dapat mencetak pemudah tangguh dan berpengaruh selain Islam. Hal ini dideskripsikan dalam al-Qur’an dan hadits Rasulullah ï·º.  Hanya pendidikan Islam yang mampu mendidik genarasi dengan basis aqidah yang kokoh, sehingga menghasilkan keimanan pemuda begitu kokoh, aqidah yang luar biasa kuat, peduli pada umat, senang menuntut ilmu, dan terlibat dalam penegakkan amar makruf nahi mungkar di muka bumi.