Follow Us @soratemplates

Selasa, 04 Agustus 2020

CANTIK KARENA TAAT

Selasa, Agustus 04, 2020 0 Comments
"Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita shalihah
.” (HR. Muslim). 

Semua wanita adalah perhiasan. Hanya wanita shalihah sebaik perhiasan. Setiap perhiasan tentu disimpan, disembunyikan, atau tidak diperlihatkan. Hanya orang-orang yang memiliki legalitas berhak melihatnya. Tidak sembarang orang memandang dan menikmati keindahannya. 

Wanita shalihah sebaik-baik perhiasan dunia. Setiap perhiasan sangat berharga, bernilai, dan bermutu, sehingga di harus dijaga dengan sedemikan rupa. Dalam perspektif Islam, kecantikan seorang wanita, bukan dinilai dari kecantikan fisik semata, namun kecantikan dalam diri berbasis aqidah, ketaatan, dan akhlak mulia. Hanya  Islam yang memuliakan wanita. Tidak ada yang lain. 

Coba dibalik dan dibaca sejarah, dari masa ke masa wanita sering menjadi objek yang diremehkan, derajatnya dianggap lebih rendah dari laki-laki, bahkan sama sekali tidak dihargai. Fatalnya wanita tidak dianggap manusia.  Wanita diposisikan sebagai barang yang bisa dialihtangankan, dijual, dan diwariskan. Hal ini terjadi sebelum kedatangan Islam ke dunia.

Wanita dalam Perdaban Yunani


Pada peradaban Yunani kuno, wanita dianggap sangat rendah, hina, tidak memiliki hak kemerdekaan bahkan diperjualbelikan layaknya budak, tak memiliki hak waris dan hanya menjadi objek pemuas nafsu kaum lelaki. 

Tidak terbayangkan jika hidup di zaman itu. Perlakuan dzalim terhadap wanita sungguh luar biasa. Tidak satupun ideologi dunia mampu menyelamatkan manusia ketika itu. Bahkan para filosof alam seperti Plato, Aristoteles, Socrates, Epicurus dan sebagainya. Dengan ketinggian filsafatnya, toh tidak mampu menyelamatkan wanita ketika itu.

Wanita dalam Peradaban Romawi


Wanita dalam peradaban Romawi berada dalam kekuasaan ayahnya. Ayahnya berkuasa penuh terhadap diri wanita. Mau diapa-apakan oleh ayahnya tidak masalah. Namanya juga berkuasa atas anak perempuan. Terserah ayahnya. Setelah menikah kekuasaan berpindahlah dari ayah ke suaminya. Boleh jadi suaminya lebih kejam dari ayahnya, atau sebaliknya. Ayah lebih kejam dari suaminya. 

Wanita dalam Ajaran Yahudi Konservatif


Wanita dalam ajaran Yahudi konservatif pun dianggap layaknya pembantu dan boleh dijual karena anak perempuan tidak bisa mewarisi apapun jika ayahnya tidak memiliki anak lelaki. Sama halnya dalam ajaran Nasrani yang beranggapan bahwa wanita sebagai pangkal dari sebuah kesalahan dan dosa. Mereka menganggap wanitalah yang bertanggung jawab atas diusirnya Nabi Adam dari surga, karena Hawa lah yang pertama kali termakan rayuan setan. 

Begitu pun dengan bangsa-bangsa lainnya, sebut saja India, Cina bahkan bangsa Arab Jahiliyah yang menempatkan wanita di posisi yang rendah dan hina. Bahkan pada masa jahiliyah bayi wanita  harus dikubur hidup-hidup, karena dianggap aib dalam keluarga. Demikian nasib kaum perempuan di masa lalu awal abad ketujuh sebelum datangnya Islam.

Islam Memperlakukan Wanita


Islam memandang hakikat seorang wanita sangat mulia dari semua peradaban dunia. Allah menciptakan laki-laki dan wanita untuk tujuan yang sama, yaitu untuk menyembah Allah dan taat kepada-Nya. Hak dan kewajiban antar laki-laki dan wanita pun berbeda, disesuaikan dengan kodrat yang telah Allah ciptakan. Misalnya laki-laki memperoleh kemuliaan dengan mencari nafkah, sedangkan wanita memperoleh kemuliaan dengan mengurus rumah tangga. Namun tujuannya sama-sama beribadah kepada Allah Subhanahu Wata'ala, dan mencari Ridha-Nya. 

Di dalam Islam, kemuliaan seorang wanita harus dilindungi, dijaga, dipelihara dengan seperangkat aturan Allah Subhanahu Wata'ala. Ketika kecil dia dimanja orang tuanya. Ketika jadi istri disayangi dan dilindungi suaminya. Ketika tidak punya ayah dan tidak punya suami dijaga oleh saudara lelakinya.

Saking ketatnya penjagaan Allah Subhanahu Wata'ala, maka diturunkan al-Qur'an surat al-Ahzab ayat 59 terang hijab. Agar terjaga kehormatannya. Terpelihara iffah, 'izzah dan muru'ahnya. 

Jadi wanita dalam Islam diwajibkan memakai hijab, bukan untuk mengekang wanita. Namun untuk menjaga kehormatan wanita. Hanya wanita terhormat yang tidak sembarangan orang menyentuh dan melihatnya. Seperti seorang ratu, apakah semua orang menyentuhnya, tentu orang yang berhak saja.

Secara logika, kita saja enggan mencicipi makanan terbuka, apalagi dikerubuni lalat. Kita lebih memilih makanan yang tertutup, diletakkan dalam etalase kaca. Kacanya pun ditutuo, sehingga jauh dari berbagai penyakit, virus, kuman, dan penyakit. 

Seiring perkembangan zaman, menjadikan wanita banyak yang melenceng dari kodratnya. Wanita tak lagi memiliki rasa malu dan senang menampakan auratnya. Kecantikan seorang wanita tak lagi dinilai dari akhlaknya tapi dinilai semata hanya dari penampilan luarnya saja. Kita lihat saja ajang kecantikan dunia, sejatinya wanita ini sedang diekspoitasi tubuhnya, disuruh melenggak-lenggok di atas ‘catwalk’ dengan busana minim bahan alias bikini, dipandangi oleh jutaan pasang mata yang menikmati setiap lekuk tubuhnya. Sayangnya mereka tidak menyadari  semua itu bentuk sebuah eksploitasi, bahkan tampaknya para wanita ini bangga dengan gelarnya sebagai wanita tercantik sejagat raya. 

Saat ini, ada wanita yang kehilangan rasa malu dan gemar mengumbar aurat. Menganggap ini adalah hal yang lumrah. Malu merupakan sifat yang wajib dimilki oleh wanita, karena merupakan sifat yang terpuji yang mampu mengendalikan orang tersebut dari perbuatan yang tidak sepatutunya dilakukan. Karenanya rasa malu  sebagian dari iman. Sesuai sabda Rasulullah SAW “Iman itu terdiri dari 70 sekian cabang. Cabang iman yang paling utama adalah ucapan la ilaha illallah. Sedangkan cabang iman terendah adalah menyingkirkan gangguan dari tempat berlalu lalang. Rasa malu adalah bagian dari iman.” (HR. Bukhari).

Jika wanita sudah tak memilki rasa malu maka sungguh celakalah ia. Sehingga benar apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat. Pertama adalah suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan yang kedua adalah wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian-sekian.” (HR. Muslim). 

Hadits ini merupakan salah satu mukjizat dari Rasulullah SAW dan itulah yang terjadi. Saat ini, banyak wanita yang berpakaian tapi telanjang, bahkan tak berpakaian sama sekali. Banyak wanita yang berjalan melenggak-lenggokkan tubuhnya dan juga wanita yang kepalanya seperti punuk unta. Jangankan surga, bagi mereka mencium bau surga saja tak bisa, padahal wangi surga bisa tercium dari jarak 500 tahun (menurut Imam Malik). 

Ingatlah! Jangan sampai kita para Muslimah tergoda dengan bujuk rayu setan yang akan membawa kita ke jurang neraka. Berkedok seni, tubuh wanita menjadi sebuah objek yang laris manis di pasaran. Berlandaskan kesetaraan gender, perempuan ingin dibuka batasan auratnya sama seperti laki-laki.  Mereka berdalih, ketika kita mencintai tubuh kita maka tunnjukanlah kepada khalayak ramai bagaimana kondisi bentuk tubuh kita. Ketika seorang wanita sudah hilang rasa malunya, sebenarnya wanita tidak lagi menjadi mulia. Allah pun telah mencabut rasa malu dari dirinya. 

Sebenarnya, tak perlu menunjukkan aurat agar mendapatkan gelar sebagai wanita yang cantik. Cantik yang diharapkan hanyalah cantik di mata manusia, tetapi tidak terlihat cantik di hadapan Allah Subhanahu Wata'ala. Jadilah wanita yang cantik karena taat kepada Allah. Jadilah cantik karena malu kepada Allah, malu untuk berbuat maksiat. Jadilah wanita yang cantik bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak. 

Islam menggambarkan perjuangan wanita agar terlihat cantik. Ketika bayi dan anak amat disayangi, di usia hadhonah diurusi dengan siatem Ilahi. Dimasa muda ditempa dengan kemuslimahan sejati, kemudian tanggung jawab melindungi dari ayahnya berpindah dengan mitsaqan galitsa (perjanjian kuat) antara ayah, suami, penghulu, dua orang saksi, disaksikan semua yang hadir, dan disaksikan dan dido'akan oleh malaikat. 

Proses ini membuat wanita menjadi cantik hakiki. Jadi kecantikan itu berkaitan langsung dengan pemahaman wanita itu tentag dirinya sebagai wanita. Ditambah pemahamannya pada anak lelakinya, anak perempuannya, suaminya, harta kekayaannya, kehormatannya, memuliakan suami, dan tentang syakhsiyah Islamiyyah ya secara komprehensif. 

Jadi wanita cantik karena taat, bukan karena bukan karena buka aurat. Wanita itu cantik karena terhormat, bukan karena maksiat. Wanita itu cantik karena pemahaman keislaman dan proses ia paham tentang Islam itu sendiri. Bukan karena  kebebasan atas dasar hak azasi, yang mati suri ketika melihat wanita muslimah didzalimi di berbagai negeri. 

Wallahu A'lam Bissawab.

Senin, 03 Agustus 2020

GELIAT LITERASI UNTUK MENGABADI

Senin, Agustus 03, 2020 0 Comments


Literasi salah satu wasilah untuk mengabdi dan mengabadi. Hampir senada dengan ungkapan paling monumental Pramoedya Ananta Toer “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Ungkapan di atas membuatku merenung tentang urgensi kegiatan literasi. Orang pandai saja jika tidak menulis, akan dilupakan sejarah, apalagi diriku yang jauh dari kata pandai. Aku bukan siapa-siapa, maka aku menulis. Imam Al-Ghazali pernah mengungkapkan “Jika kamu bukan anak raja, bukan pula anak ulama besar, maka menulislah.


Aku sadar, aku bukan anak raja berkedudukan tinggi, bukan pula anak ulama besar yang mumpuni. Tidak ada opsi untuk mengabadi dan mengabdi selain menulis tanpa henti. No Choice Bro...”Kamu kuatkan azam tuk menulis, kamu ikhtiarkan menulis setiap hari, istiqomah di jalan penulisan ini, sampai Pencipta menyuruhmu pulang!” Bisik batinku tiba-tiba.


 Semangat Menulis


Berbekal selembar semangat. Kulangkahkan kaki lambat-lambat. Mencari berbagai maklumat. Mengumpulkan sedikit demi sedikit makrifat. Kuanalisis dengan pikiran sehat, berbagai peristiwa, fakta, fenomena yang terlihat atau yang kuingat. Tentang keperihan hati, galau, stress, frustrasi yang amat sangat. Pengalaman berkesan, dramatis, fantastis, traumatis hebat. Mencoba menuliskan beberapa kiat atau nasehat. Asalkan bermanfaat, bermartabat, asalkan tidak berbau maksiat, kucoba tulis lambat-lambat. Maklum penulis pemula, pendatang baru, amatiran, penggembira, banyak salah, pemalu, tidak percaya diri, seakan menyatu, dan menjelma sebagai mental block atau penghambat. Tidak apa-apa, yang penting ada tekad, insyaa Allah tujuan kian mendekat. Lembaran semangat yang hampir lusuh itu terus kubawa melangkah. Kadang ia meronta untuk keluar dari kekangan berdiam diriku, tanpa menulis apa-apa.


 “Kenapa aku harus dipaksa  duduk manis menyaksikan peristiwa harianmu?, sementara kamu sibuk melakukan rutinitas tak berkualitas.” Bisik semangatku.


Bisikan itu terus menghunjam di pikiran terdalam. Meskipun bisikan itu pelan, namun cukup lumayan menampar keasadaranku, sekadar menuliskan warna rasa, bentuk pikiran, sekelabat pengalaman, atau apa saja yang bermakna untuk ditulis. Akhirnya aku bangkit dan melangkah pelan-pelan. Menuntun secuil semangat itu berjalan di antara puing-puing rasa malas. Ya Rabb, betapa rapuhnya semangat yang kumiliki.


Aku punya wasilah untuk menulis, dari media sosial, seperti face book, instagram, twitter, sampai blog yang jarang kuisi. Apa salahnya aku isi, minimal refleksi atas kejadian dan peristiwa yang kualami. Jika hanya kuisi dengan status unfaedah, seperti narsis, foto selfi sana-sana, rasanya amat sangat rugi. Celakanya, jika semua foto yang sempat kuunggah ke medsos, berpotensi menjadi dosa investasi. Nauzubillah, tsumma nauzubillah.


Aku sempat bertemu dan berteman dengan orang hebat. Satu hal yang aku salut dari mereka, kemampuan untuk memanfaatkan waktu menulis setiap hari. Berkolaborasi dengan para penulis lain, baik kemampuan tinggi, sedang dan biasa. Mereka tidak bersikap seperti menganak kandung dan menganak tirikan orang lain dalam bekerjasama. Tujuan kolaborasi menulis hanya satu, yaitu kaderisasi bagi yang belum mumpuni. Jika aku diberi amanah oleh Rabb Yang Maha pengasih, akan kuco uslub ini.


 Sosok Inspiratif dalam Literasi


Semenjak hijrah aku mengenal Fonder literasi aktif menulis di mana-mana. Beliau membina beberapa komunitas penulis pemula dan penulis banyak karya. Dari kelas anak-anak sampai kelas dewasa. Beliau seorang redaktur surat kabar nasional ternama. Rendah hati, dan rela berbagi kisah bermakna. Persahabatan itu membuat letupan semangatku menyala, membakar tungku jiwa yang hampir kehilangan makna ukhuwah. Di tengah arus peradaban pragmatisme, individualisme, materialisme, bahkan sekularisme, ternyata masih ada insan-insan penuh cinta. Ya Rabb, nikmat-Mu yang mana lagi yang kudustai.” Ratap hatiku lirih.


Setiap sapaan ramah para mastah di komunitas liteasi ideologi itu, sungguh amat sangat istimewa. Menjadi air penyejuk jiwa yang dahaga. Boleh jadi menurut orang lain tergolong sapaan biasa, namun bagi diriku, serasa air segar menyirami kerontang ukhuwah, hati yang tercabik-cabik oleh perilaku arogan, angkuh, dan jauh dari sikap mulia umat Nabi Muhammad Shallallahu “Alaihi Wasallam. Semoga silah ukhuwah yang terjalin erat di komunitas literasi itu menjadi wasilah bagiku untuk menjemput safa’at sahabat taat, penyelamat hingga akhirat, aamiin.


Banyak hal yang aku dapatkan bergabung di grup literasi sahabat taat itu. Dari motivasi setiap hari, kiriman puisi penggugah hati, ungkapan kata mutiara perekat ukhuwah, cerpen kisah persaudaraan yang amat sangat bermakna. Setiap hari ada aja ciletuk menggoda dari founder dan anggota, memotivasi semua anggota, minimal menyapa ramah, agar suasana kondusif ukhuwah tetap terjaga.


Aku jadikan komunitas itu bagai ajang pemanasan kemampuan menulisku. Laksana seorang atlit, meskipun tidak ikut lomba, perlu ikut berbagai turnamen sebagai ajang pemanasan. Seluruh rangkaian kegiatan ajang pemanasan dianggap penting, meskipun tidak masuk hitungan poin sebelum bertanding, di gelanggang sesungguhnya. Hal ini perlu untuk menjaga kebugaran fisik, mempertahankan stamina, dan performan keahlian dan skill.


Seorang penulis, butuh ajang pemanasan sebelum terjun menjadi penulis yang sesungguhnya. Berlatih melemaskan jemari dengan  menulis status di beranda FB. Membuat quote singkat dalam gambar feed, atau stories di instagram. Mengemukakan pendapat tentang postingan sahabat di WA. Bagi yang terbiasa menulis catatan harian (diary), bisa mengisinya secara konsisten dan berkesinambungan dengan cerita dan kisah bervariasi.


“Tulis saja semua rasa yang membuat hari-harimu berbunga!, atau sepenggal rasa sedih ketika harapanmu tidak selaras dengan kenyataan. Seperti kemarin, engkau kecewa dengan dirimu sendiri. Betapa banyak targetmu gagal, karena kurang fokus, dan tidak bisa memprioritaskan sesuatu yang lebih prior. Kamu terlalu banyak alasan untuk menunda.  Argumentasimu segudang, kamu lebih memilih berdiam diri, tidak menulis, lebih menikmati status sahabatmu di beranda FB. Lalu engkau berdecak kagum, betapa hebatnya tulisan mereka. Masih kuingat alasan klasikmu, bingung menulis apa?, mulai dari mana?, tetapi tulisanmu di beranda FB sampai lima belas paragraf. Kamu terlalu Esmeralda.” Tausiyah dua menit semangatku.


"Aku tdak mengajakmu membandingkan diri dengan sahabatmu. Aku hanya menyarankan, agar hidupmu berguna dan bermanfaat bagi sesama. Betapa banyak orang hebat, berilmu, kompeten di bidangnya. Ketika memilih tidak menulis, mereka tidak bisa menghentikan tulisan sesat dan menyesatkan di luar sana. Menulis itu dakwah tulisan juga, Bro...! Ketika engkau tidak bisa menyampaikan kebenaran secara lisan. Ketika berceramah di hadapan orang banyak  ‘public speaking unciety’ kamu kambuh. Maka dakwah aksara jadi alternatif berguna.” Ceracau semangatku.


“Terima kasih untuk nasehatmu hari ini, samangatku. Jasamu padaku takkan terbalas dengan berbagai bentuk kebaikanku. Aku berjanji padamu, insyaa Allah akan menuliskan apa yang terlintas dipikiranku, terasa di hatiku, terlihat di mataku, peristiwa yang kualami atau yang terjadi, pendapat dan opiniku tentang sesuatu. Hingga kamu tidak nyinyir lagi menasihatiku.” Mohon terus nasehatiku!. Terlebih ketika flukstuasi mood menulisku tengganggu. Rasa malas menulis betengger di dahan anganku. I miss you semangatku!. Jangan bosan tausiyahi aku ya...Please.


 Gabung Komunitas Menulis


Pada suatu pagi kami semua dinasehati pembina. Ayo siapa yang belum nulis, siapa yang belum setor PR, sebenarnya tidak masalah, namaun rugi aja. Rumus menulis hanya satu “Menulis ya Menulis Saja.” Formula efektif ini menjadi insigh baru bagiku. Mungkin ini magnet aksara para penulis mastah. Suatu formula menulis laksana percikan api pada busi kemampuan menulis, selanjutnya menggerakkan kemauan untuk melemaskan jemari dalam curah gagasan. Menulis saja, hindari banyak berpikir tentang kesulitan menulis, sebab banyak berpikir tentang kendala dan hambatan menulis menyeret kaki banyak calon penulis potensial, hingga terjatuh dalam jurang kemalasan, kesiaan-sian umur, dan kemiskinan dalam berkarya. Inilah bentuk mental blok menulis paling mengerikan.


Aku terus merefleksi diri. Masalah dominan diriku dalam menulis, ya ini.  Sebelum menulis berpikirnya aneh-aneh. Kawatirnya banyak. Kadang aku jadi deep colector argumentasi basi agar tidak menulis. Terlalu banyak alasan untuk merangkai aksara. Dari mood yang kurang bersahabat, sampai waktu menulis yang sulit didapat. Prokrastinasi berbagai kegiatan menjadikan hidupku stagnan.  Terlalu banyak menunda. “Menulis nanti saja, setelah semua pekerjaan rumah selesai. Selesai semua pekerjaan rumah, lihat ke belakang, adalagi tumpukan cucian. Belum lagi piring kotor setinggi setengah meter yang harus dibersihkan. Selama pandemi, membimbing anak dalam classroom meeting, membantu menyelesaikan seabrek tugas dan pekerjaan rumah anak. Praktek resep makanan yang disearching di google. Cookpad, dan masakan Nusantara. Banyak gagalnya, dari pada berhasilnya.


“Saratnya aktivitas rumah tidak perlu kamu jadikan alasan tidak menulis. Kamu kira semua penulis terkenal itu tidak sibuk? Malah mereka jauh lebih sibuk dari kamu. Sebenanrnya kamu saja yang belum bisa mengelola waktu. Semua orang di dunia ini, dari jaman nabi Adam ‘Alaihi Salam, sampai generasi X, Y, Z, Millenial, bahkan generasi Betha.  Dianugerahkan Allah waktu 24 jam sehari semalam. Lalu mengapa mereka bisa menghasilkan karya monumental. Buku Best seller, memenangkan berbagai tantangan menulis, dan amal prestatif lainnya. Di Era Revlusi Industri 4.0 atau Era Society 5.0 ini, kamu sangat dimanjakan teknologi dalam berkarya. Google itu sama dengan palugada (apa yang kamu perlu semua ada). Meskipun tidak semuanya dia tahu, namun secara garis besar dapat membantumu menemukan berbagai data based. Sebenarnya kamu aja yang malas” Nasehat qalbu terdalamku  secara panjang lebar.


“Kamu malah sudah menulis satu, dua paragraf di beranda facebook. Berbagai perangkat dapat kamu gunakan Bro.  Dulu kamu punya buku diary, kamu isi setiap sedih dan bahagia. Sekarang banyak sekali platform media. Mulai dari  facebook, instagram, line, twitter, email, telegram, google keep, email, line, dan sebagainya. Semua itu media potensial dan bermanfaat untuk mengasah dan mencurahkan isi hati dan kepalamu. Dari pada kamu gunakan sekadar tempat curhat, paling banter kamu gunakan untuk jualan online. Asalkan ada semangat. analisis mendalam dan akurat. Dapat menjadi wadah latihan agar menjadi penulis hebat. Ga’ percaya, coba aja, menulis aja, jangan kebanyakan mikir, Sob.”Ceramah hatiku padaku panjang kali lebar.


Dasar aku saja yang malas, meskipun aku dinasehati hatiku berkali-kali,  disarankan para pakar dalam berbagai pelatihan dan seminar, atau webinar. Tetap saja enggan menulis.


 Ikut Webinar Literasi


Pagi itu, mentari memancarkan cahaya, menembus dedaunan. Kemarau telah lama ungsikan gerimis, hingga tanah kering kerontang dalam kesepian. Kubuka jendela, semerbak wangi bunga melati memaksa masuk melalui jendela. Ada sebongkah semangat memaksaku untuk cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan. Hingga sesegera mungkin duduk manis di depan layar laptop atau smartphoneku, menerima materi webinar Literasi, Sabtu, 11 Juli 2020 atau 19 Dzulqaidah 1441.


Webinar literasi kali ini luar biasa. Prolog acaranya saja sangat istimewa. Berbeda dengan beberapa webinar yang pernah kuikuti sebelumnya. Acaranya benar-benar dipersiapkan secara matang. Bahkan beberapa menit menjelang acara dimulai, sudah dicek semua perangkat, agar terhindar dari gangguan teknis. Begitupun aku,  meskipun sebagai peserta, aku mencoba mengumpulkan semangat, energi, perhatian dan konsentrasi, agar materi luar biasa mampu kuserap secara baik. Tidak lupa, kupersiapkan  alat tulis, secangkir air nabes, dan semangkok singkong rebus. Biar terkesan back to nature gitu sahabat.


Rangkaian demi rangkaian acara tersusun rapi, dari awal sampai akhir. Pembawa acara kreatif. Ada moderator cantik, cerdas, dan lincah. Pematerinya luar biasa semua. Segudang prestasi, menulis banyak buku, mendapatkan berbagai hibah dan beasiswa luar negeri. Benar-benar membuatku terkesima. Pemateri kedua yang tidak kalah menariknya, penulis poluler, selevel selebritis, mayoritas sudah kenal beliau, penulis best seller.


Pelajaran penting yang kudapatkan dari welcoming speech, adalah literasi Islami mampu membendung sampah-sampah media sosial. Ketika itu aku termenung. Kunapaktilasi pengalaman dunia media sosialku. Ternyata media sosial ibarat sungai. Aliran airnya tidak selamanya jernih, berisi, ikan dan udang, dan bermanfaat. Namun sampah-sampah tidak berguna juga sangat banyak. Sampah-sampah ini menyebabkan sungai kotor, tersumbat, banjir, bahkan banjir bandang yang memporak-porandakan pemukiman penduduk.


Sungai  dianalogikan dengan media sosial. Arusnya sangat deras, setiap hari data mengalir sekian KB. Kontenya tidak seluruhnya positif, seperti dakwah, hikmah, nasehat, pelajaran, pengetahuan, keterampilan, aneka kiat dan tips dalam hidup. Banyak juga kontennya negatif, seperti gambar-gambar tidak senonoh, pornografi, video pornoaksi, visualisai kejahatan, penyimpangan, kemaksiatan, perseteruan, narkoba, dan segala perbuatan fujur ada di medsos. Makanya, orang bijak mengatakan “teknologi adalah alat, sarana, piranti teknologi, sama dengan alat lainnya, penggunaan alat tergantung manusia. Jika digunakan untuk kebaikan maka hasilnya baik. Namun jika digunakan untuk kejahatan, maka hasilnya negatif. Konten-konten negatif inilah sampah-sampah media sosial.


Dengan demikian, salah satu cara mengkonter sampah-sampah media sosial adalah dengan geliat literasi Islami. Baik geliat lterasi Iislami untuk negeri, umat, dan Islam, maupun geliat literasi untuk diri sendiri. Terutama untuk mengabdi dan mengabadi. Setinggi apapun ilmu kita jika tidak menulis, maka kita akan sirna dan dilupakan sejarah.


 Materi Webinar Literasi Laksana Intan Berlian


Matahari kian menanjak, sebotol air nabes dan semangkok singkong rebus hampir habis. Materinya semakin menggugah selera menulisku. Serasa aku mengumpulkan butiran mutiara mahal tanpa berenang dan menyelam. Hanya berbekal quota data, duduk diam, menyimak sepenuh hati, mencatat hal-hal inti, materinya dibaca lagi, dihayati, langsung dieksekusi. Maka hasilnya luar biasa sekali.


Semua uraiannya penuh esensi, urgensi, makna, dan sangat filosofi. Menulis berarti bereksistensi secara ruhani. Keinginan untuk beraktualisasi diri. Menggunakan semua modalitas yang diberi. Berinvestasi pahala dengan berekspresi melalui  literasi.


Sifat Maha Baik Pencipta dalam asmaul husna adalah refleksi kerinduan eksistensialis untuk dikenali. Sama halnya dengan manusia, ada kerinduan untuk berkontribusi. Terus mentransformasi diri, dan ingin orang lain tertransformasi. Menulis menjadi motivasi diri mewujudkan modalitas yang diberikan Ilahi. Sebagai hamba Allah (‘abdun) sekaligus menjadi khalifah, bertanggung jawab mengejawantahkan sifat Allah Subhanahu Wata’ala di muka bumi.


Menulis adalah tradisi peradaban dunia. Semua ulama dalam sejarah mengukir kisah dengan berkarya. Begitu juga dengan pemimpin besar, semua mengabadikan tulisannya. Hal ini urgen, sealim-alimnya orang jika tidak menulis, tidak meninggalkan ‘harumnya’. Agar kisah kita menyejarah, gagasan dan konsep kita full faedah bagi sesama, maka menulis wasilahnya.


Usahakan tulisan kita menggerakkan. Semua yang berkecamuk dalam pikiran dan hati dituliskan. Konten berkualitas diutamakan. Eksplor dan ekspos diri kita secara bervariasi, dan baca beragam bahan bacaan.


Berkumpul dengan semua orang, dan bersahabat dengan orang shalih sungguh amalan unggulan. Di sana ditemukan berbagai hikmah kehidupan. Sebab hikmah adalah barang  hilang dari umat, menemukan dan menuliskannya jadi amalan berkekalan. Dengan cara itu, kita mempersiapkan diri di keabadian.


Menulis ejalan dengan tujuan penciptaan manusia ke dunia ini. Yakni sebagai 'abdi ('abdun) atau hamba semata untuk beribadah terhadap  Pencipta. 


Di samping mengabdi, manusia dinobatkan sebagai Khalifah atau pengganti Allah di bumi. Untuk mengejawantahkan sifat-sifat terbaik dan terindah indah Allah Subhanahu Wata'ala di bumi. Nah, literasi menjadi wahana totalitas pengabdian seorang  hamba kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Mengabdi bisa juga berarti menjadi abdi. Kata abdi sering kita dengar, seperti 'abdi negara, abdi masyarakat, abdi dalam abdi lainnya. Pada kamus besar bahasa Indonesia, kata mengabdi berasal dari kata dasar abdi (kata kerja), berarti menghamba, menggambarkan diri, dan berjanji. Seperti ungkapan Najwa Shihab kebanggaan profesi bukan karena materi, tetapi seberapa banyak bisa mengabdi.


Terutama mengabdi dalam konteks berpartisipasi, bahu membahu memperbaiki negeri. Baik kini maupun esok hari. Bersama-sama mengabdi tanpa henti, tanpa tapi dan nanti. Mengabdi dalam konteks ini bermakna berkontribusi dan mendedikasikan diri semata untuk negeri, hingga gemah ripah loh jinawi bukan slogan basi.


Literasi menjadi wahana pengabdian seorang hamba pada Pencipta.  Full makna. Full hikmah. Literasi untu mengabadi, berarti literasi untuk memantapkan posisi hakiki seseorang di hadapan Ilahi, sekaligus sebagai wahana pengabdian pada Ilahi.


Literasi untuk mengabadi. Fokus pada kata mengabadi. Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata abadi berarti kekal, tidak berkesudahan, awet, baka, dan tetap.  Kata mengabadi berarti menjadi abadi, melanggengkan, mengawetkan dan mengelakkan.


Literasi untuk mengabadi berarti menjadikan aktivitas literasi sebagai strategi meraih keberkahan hakiki. Berinvestasi pahala jariyah, ilman nafi'an, dan meraih surga melalui literasi. Kita boleh pergi dari dunia ini, namun karya dan nama tetap dibaca, dipahami, dan diamalkan oleh generasi kini dan nanti. Fisik bisa hancul dimakan cacing tanah dalam bumi. Namun keberkahan umur dan karya tetep terpampang dalam histori.


Literasi untuk mengabadi juga berarti bukan abadi secara biologi.  Tapi abadi dari aspek nama, manfaat, nilai guna, hikmah dan ilmu bagi insani. Langgeng sepanjang masa, bahkan sampai ke akhirat nanti. Lewat literasi pahala aksara mengalir tiada henti. Selagi pembaca mengamalkan ilmu yang terdapat dalam buku atau karya Sang Penulis ini.


Kara kunci kegaiatan literasi ini, membuat aku berpikir seribu kali.  Begitu besar manfaat literasi jika berazam sepenuh hati. Ditekuni, sungguh-sungguh dan konsisten berliterasi. Maka setiap nama penulis mengabadi. Suatu dimensi tertinggi dari eksistensi manusia diciptakan Ilahi.


Bagiku, setiap detik adalah langkah baru investasi pahala via aksara. Hanya saja kaki enggan melangkah. Jemari kaku luar biasa. Apalagi menjalani aktivitas menulis secara terpaksa. Tentu minim hikmah dan makna.


Meskipun demikian, aku mencoba berpartisipasi. Bergabung untuk lahirkan karya Antologi. Alhamdulillah, semoga Allah meridhoi. Meskipun aku bukan siapa-siapa di dunia ini. Namun sahabat sevisi dan semisi menjadi penguat dan penyemangat hati berliterasi. Sungguh kasih sayang Allah abadi, dan tak tertandingi.


 Variasi Bahan Bacaan


Dunia literasi sungguh amat menarik hati. Dua kegiatan inti lierasi, yaitu membaca dan menulis. Lewat bacaan kita temukan berbagai pendapat menguatkan. Seperti pendapat Muhammadi Iqbal, seorang filosofis,  reformis sekaligus sastrawan Pakistan, memberikan wejangan. Menulis adalah buah dari intelektualitas dapat diasah dengan empat jenis bacaan. Pertama bacaan tentang agamamu, kedua buku-buku sastra, ketiga bacaan berhubungan dengan pekerjaan, dan keempat bacaan yang sama sekali tidak kamu kuasai dan tidak disukai.


Pertama, membaca buku tentang agama kita. Sebagai muslimah agama kita  Islam. Kitab Al-Qur'an sebagai Qalam. Nabi kita adalah Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Islam bagi muslim adalah segalanya di alam. Pondasi utama kehidupan baik bagi ahli atau pun awam. Islam adalah konsep, ruh, inspirasi, nilai positif, filter, rambu- rambu sekaligus nutrisi bagi jiwa terdalam.  Maka penulis muslim, Islam adalah ruh, karakter, prinsip, agar dakwah semakin menghunjam.


Kdua, membaca buku-buku sastra. Sastra berfungsi menajamkan rasa. Bacaan sastra melukiskan  suasana batin dan perasaan. Lewat bahasa, rasa dan suasana jiwa diekspresikan. Terbiasa membaca buku-buku sastra, rasa kita akan tajam, sensitif, mudah tersentuh, kelembutan hati, dan proporsional dalam sikap dan tindakan. Bahkan lewat sastra semua rasa bisa terungkapkan. Lewat cerpen  atau cerbung misalnya, kita mampu menjangkau pikiran dan perasaan pembaca, tanpa terkesan mengajarkan.


Ketiga membaca bacaan tentang bidang disukai, semua orang senang membaca bacaan yang dia suka. Dari pada membaca buku yang tidak disuka. Bacaan yang disukai biasanya berkaitan dengan manusia sebagai makhluk sosial, muamalah secara komprehensif, kisah orang ahli dan terkenal, baik sebagai pribadi yang cakep dan profesional, dan bersikap proporsional. Tanpa membedakan orang lain dengan berbagai alasan yang masuk akal, padahal tidak masuk akal.


Keempat membaca bacaan tentang bidang yang tidak kita sukai. Hal ini jarang dilakukan, alasannya karena tidak suka. Padahal informasi yang tidak disukai sebenarnya lebih nancap di alam sadar dan alam tidak sadar. Ia akan menjadi pelengkap puzzle pelengkap pengetahuan tidak utuh yang pernah kita dapatkan.


Dengan demikian, tiada kata, tiada karya yang bertahan selamanya, kecuali membaca dan menulis secara intensif dan berkala. Aku bukan siapa-siapa, bukan anak raja, bukan pula anak ulama ternama. Aku bukan tokoh, bukan pula selebritis idola. Satu-satunya cara untuk mengabdi dan mengabadi hanya lewat menulis, menulis, dan menulis tentang kebenaran, hikmah, dan makna. Benarkan niat Lillahi Ta’ala, semoga menjadi amal jariyah, pahalanya langgeng hingga ke surga, aamiin Ya Rabbana.


 Bumi Allah, 3 Agustus 2020/ 14 Dzulhijjah 1441 H.


Jumat, 31 Juli 2020

IDUL ADHA ISTIMEWA DI TENGAH CORONA

Jumat, Juli 31, 2020 0 Comments




Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillah Hilham
. Segenap rasa syukur ke hadirat Rabb Penguasa Alam. Jiwa-jiwa tabah dan berharap segenap hikmah, mencoba ridha atas ketentuan Rabb Yang Maha Penyayang. Insyaa Allah wabah ini semakin mengajarkan kita tentang urgensi suasana kondusif, aman, nyaman, tenteram, dan normal yang kadang luput kita syukuri. 

Sudah dua kali lebaran dilakukan di tengah pandemi. Pertama lebaran Idul Fitri, kedua lebaran Idul Adha ini. Tidak perlu bersedih atau berkecil hati. Semua sudah ketentuan Ilahi. Kita hanya menepati dan menjalani. Terus mengoptimalkan ikhtiar menjaga diri, keluarga, dan umat ini. Agar terhindar dari pandemi, dengan terus melalukan berbagai upaya secara manusiawi.

Perbesar rasa syukur, agar sejumput iman yang masih bertahan di tengah keadaan, makin menghunjam di hati terdalam. Sebab pandemi mengedukasi hati tentang arti kebesaran Ilahi. Kita makhluk lemah tidak berdaya, bisa tumbang seketika oleh makhluk tak kasat mata. Maka tiada daya dan upaya, melainkan kekuatan Allah Subhanahu Wata'ala.  

Idul Adha di tengah Wabah

Lebaran di tengah Corona amat istimewa. Hanya sejumput asa hendaknya makin gagah perkasa menghadapi suasana. Rasa optimis akan turunnya rahmat dan pertolongan Allah, tetap menggunung dalam jiwa. Minimal kita nihil stress atas suasana tak menentu. Ibarat berlayar belum bertemu pelabuhan. Soalnya sampai Lebaran Idul Adha 1441 H/ vaksin atasi Covid-19 belum juga ditemukan. Maka adaptasi kehidupan baru, mau tidak mau mesti dilakukan.

Idul Adha Tanpa Ibu Tercinta

Lebaran haji tahun ini. Di samping digerogoti Pandemi. Juga perbedaan signifikan di keluarga besar kami. Masih terasa suasana Idul Adha 1440 H,  tahun lalu. Ketika ibunda tercinta masih menyaksikan aku, suami, dan dua anakku pulang kampung. 

Aku masih bisa menikmati indahnya berkumpul dengan ibu dan ayah tercinta. Menghabiskan waktu lebaran, bercerita berbagai hal tentang kehidupan. Tentu saja cerita indah menjalani hari bersama anak-anak, dengan seabrek tingkah polanya. Berbagai fragmen kehidupan menambah khazanah kekayaan batin. Sesekali diselingi dengan tawa, canda dan senyum bahagia.

Kala itu,  kebersamaan, kekeluargaan, dan silaturahim masih menjadi primadona setiap jiwa. Kumpul keluarga menjadi kerinduan tiada bandingnya. Masih kuingat, hari itu ayah pulang ke rumah membawa daging qurban bersama satu kepala sapi, karena ayah tukang sembelih sapi-sapi korban. Daging itu kami masak dan dinikmati bersama. Meskipun hidup kekurangan, namun rasanya kita paling kaya sedunia. 

Waktu pun berlalu, meninggalkan kebersamaan itu. Tiga setelah bulan setelahnya, ibu berpulang ke haribaan Allah Subhanahu Wata'ala. Itulah saat terakhir kami lebaran Idul Adha bersama ibu tercinta. Rasanya baru kemarin, ternyata satu tahun berlalu tanpa terasa. 

Semenjak kepergian ibu tercinta. Semuanya berubah. Suasana indah dan kebersamaan menjadi barang langka, ibarat mencari permata dalam palung lautan paling dalam. Suasana gelap mencekam ibarat malam amat temaram. Hanya segunung do'a yang selalu kumohonkan, semoga ibu senantiasa disayangi, dilindungi, dicintai Allah Subhanahu Wata'ala, aamiin. 

Shalat Idul Adha di Tempat Unik


Mungkin sebagian orang memilih shalat Idul Adha di tempat bonafit. Di lapangan luas, tidak sempit. Tempat berkumpul orang elit dan  berduit.  Namun kami memilih di lapangan  kecil, letaknya agak di dalam,  kampungnya hijau masih asri. Kami sekeluarga (aku suami dan anak bungsuku) dan orang-orang di sana melaksanakan shalat Idul Adha di  Lapangan Volly Tepian Bayua, Balai Labuah Ateh, Batusangkar. Diperkirakan mungkin 200-an orang. Istimewanya, jorongnya kecil semangat berkorban masyarakatnya luar biasa. 21 ekor Sapi dan 10 ekor kambing. Infak dan sadaqah menjelang shalat Idul Adha, terkumpul sampai 5 jutaan. Bahkan donatur besedekah 200 bungkus sate Padang bakda shalat Idul Adha pada jamaah. Perlu diacungkan jempol semangat berkurban masyarakat di sana. Semoga Lillah dan diterima Allah Subhanahu Wata'ala, aamiin.

Sementara itu, anak sulung kami lebaran di Ponpes. Dia tidak pulang, karena libur hanya satu hari. Lagi pula, rawan jika bolak balik Bukittinggi-Batusangkar. Segunung do'a tetap kumohonkan kepada Allah Subhanahu Wata'ala, semoga anakku sehat wal'afiat, aman, nyaman, kondusif, dan terhindar dari semua gangguan penyakit, termasuk virus Corona, aamiin Ya Rabb.

Imam Shalat Idul Adha, Seorang Qori Internasional

Sebelum shalat dimulai, panitia membangkitkan ghirah jamaah shalat Idul Adha, untuk berinfak dan sedekah meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail 'Alaihi Salam. Kemudian dilanjutkan dengan mengingatkan niat, bacaan antara takbir, dan lainnya. 

Shalat dimulai jam 07.15 WIB. Rakaat pertama dan kedua rasanya sangat khusyu'. Betapa tidak, bacaan imamnya sangat menyentuh, iramanya bagus. Seandainya  semua jamaah paham arti bacaan shalat, mungkin akan lebih khusyu. Semua itu, mengingatkanku, akan pertemuan abadi dengan Sang Maha Cinta.

Bacaan imam menggugah kesadaranku. Betapa diri ini hanya sebutir debu di antara milyaran pasir dan benda-benda di jagat raya. Tiada arti dan tiada berguna, jika semua itu menjadikan hidupku sia-sia, apalagi banyak maksiatnya.

Maksiat tidak hanya melakukan kemungkaran, namun meninggalkan kewajiban, melanggar hukum syarak, sering tergoda perbuatan makhruh. Kadang tanpa sengaja tidak berhijab di depan lelaki bukan mahrom, sering ikhtilath (campur baur dengan lelaki bukan mahrom) tanpa alasan syar'i, kadang berdandan ala artis mau shoting, padahal itu termasuk tabarruj (berhias) ala kaum jahiliyah. Ya Rabb, aku hanya butiran debu. Ampuni dosaku.

Inti Idul Adha adalah Pengorbanan Hakiki


Meresapi segenap ikhtiar untuk Dien Islam ini. Aku tiada apa-apa dan belum berarti. Jiwa ini belum sepenuhnya tunduk pada aturan Ilahi Rabbi. Masih banyak alasan untuk mengerjakan ibadah secara totalitas. Masih tergoda dengan pernak-pernik duniawi. Seakan semua itu akan dibawa mati. Padahal Rasulullah bersabda.

"Apabila mati anak cucu Adam, maka terputus semua amalannya, kecuali tiga perkara: sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendo'akan kedua orang tuanya." 

Seharusnya aku harus berkorban demi bahagia di akhirat sana. Hidup dan rezekiku  di dunia sudah dijamin Allah Subhanahu Wata'ala. Sementara bahagia akhiratku tidak ada garansi pasti, kecuali amalan yang kupaksakan, atau tidak dari hati.  Lalu aku berharap surga tertinggi. Rasanya malu dengan pengorbanan Nabi Ibrahim 'Alaihi Salam dan Ismail 'Alaihi Salam. 

Ketermanguan diri membuat hatiku makin merintih. Umur berlalu sementara pahala sulit kuraih. Berbuat baik pada orang lain kadang terkontaminasi pamrih. Banyak tidak tulusnya, jika enggan membantu aku sering berdalih. Banyak tugas, terlalu sibuk dan berteman pilah dan pilih. Jika menguntungkan secara duniawi baru aku terima, namun jika tidak maka aku cuek tidak peduli. Ketika semua urusanku selesai, rasanya aku tidak perlu peduli. Jarang kontak, kecuali ada kepentingan diri.  Ya Rabb senaif itulah diri ini.

Tanpa terasa air mata ini membasahi kedua bola mata, tanpa bisa dibendung akhirnya jatuh di pipi.  Aku laksana debu dari milyaran makhluk di jagat raya. Aku seakan mendengar pesan Terakhir Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam ketika Haji Wada'. 

"Wahai manusia, sesungguhnya darah dan harta kalian adalah suci bagi kalian. Seperti sucinya hari ini, juga bulan ini, sampai datang masa kalian menghadap Allah Subhanahu Wata'ala. Saat itu kalian akan diminta pertanggungjawaban, atas segala perbuatan kalian."

"Ingatlah baik-baik, janganlah kalian sekali-kali kembali kepada kekafiran atau kesesatan sepeninggalku, sehingga menjadikan kalian saling berkelahi satu sama lain."

"Ingatlah baik-baik orang yang hadir pada saat ini. Menyampaikan nasehat ini kepada yang tidak hadir. Boleh jadi sebagian dari mereka mendengar dari mulut orang kedua, lebih dapat memahami dari pada orang yang mendengar secara langsung."

Pesan cinta Rasulullah pada Haji Wada' kembali teringat setiap lebaran haji. Mencoba bermuhasabah diri. Akankah darah dan sejumput harta yang kumiliki suci. Sementara aku terlibat perbuatan ribawi. Meminjam ke bank konvensional atau bank syariah demi gengsi. Suami di kantor menyepelekan waktu, datang terlambat, pulang cepat, istirahat sebelum waktu istirahat, tidak ke kantor lagi setelah istirahat siang. Apakah pantas harta kami suci, jika uslubnya menyalahi aturan dan ketentuan Ilahi. 

Belum lagi, sikapku menganggap remeh orang lain.  Seakan aku yang lebih hebat, pintar, dan berhasil.  Kadang aku cueks, tidak peduli, disapa pun kadang aku tidak menyahuti. Beranggapan orang lain tidak selevel dengan harga diriku yang terlalu tinggi. Padahal aku tahu Ya Rabb..."Tidak ada yang mulia di sisi-Mu, kecuali orang-orang yang bertaqwa." Ya Rabb ampuni kesombonganku. Aku tahu sombong itu selendangmu. Tidak pantas dipakai oleh manusia. 

Lalu aku teringat dengan kisah Nabi Ibrahim 'Alaihi Salam dan Ismail 'Alaihi Salam. Kisah nyata mereka menjadi simbol pengorbanan hakiki. Sang Ayah dengan sepenuh keimanan kepada Allah Subhanahu Wata'ala, mampu dan tidak tergoda bujuk rayu syaitan lakhnatullah mengorbankan buah hati, belaian jiwa demi Allah semata.

Allah Subhanahu Wata'ala tidak meminta seperti beratnya pengorbanan Ibrahim dan Ismail 'Alaihi Salam. Sebagai manusia akhir zaman, aku hanya dituntut untuk menyembelih ambisi-ambisi dunia demi taat kepada Allah. Belajar untuk mengorbankan waktu, berlatih ikhlas dan sabar menanggung segala beban berat dan siap dengan reziko, bahkan mengorbankan apa saja, demi mencintai Allah Subhanahu Wata'ala. 

Momentum lebaran haji, ibadah haji, perjalanan kisah sejati Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail 'Alaihi Salam benar-benar  menginspirasi, tentang pengorbanan hakiki, demi meraih cinta Ilahi. Cinta pada Allah perlu bukti, bukan kata manis di bibir saja, kemudian kering bersama angin lalu. Jika begitu cintaku palsu. Manusia saja enggan menerima cinta palsu, apalagi Rabb Penguasa Alam Semesta.  

Segudang Hikmah Kutbah Idul Adha 

Khutbah khatib Idul Adha kali ini sangat istimewa. Tidak mengulang kisah Nabi Ibrahim dan Ismail 'Alaihi Salam. Mungkin Khatib beranggapan jamaah sudah hafal kisahnya, meskipun belum meresapi dan mengamalkan isinya. Namun khatib membahas fakta-fakta menyedihkan  di zaman ini. 

Fakta pertama

Fenomena menyedihkan di zaman ini, ada lelaki muslim, ber katepe Islam, namun tidak pernah datang ke masjid. Enggan ke masjid, meskipun pada hari  raya Idul Fitri atau Idul Adha. Dia ke masjid ketika sudah meninggal dunia, itupun jika dishalatkan di masjid. Jika tidak, maka seumur hidup dia tidak pernah ke masjid. 

Fenomena Kedua

Seorang muslimah (perempuan Islam) tidak pernah dan malas memakai hijab sampai meninggal. Ketika meninggal dikafani, itulah pertama dan terakhir kali dia memakai hijab. Mungkin dia beranggapan memakai hijab itu tidak wajib. Definisi wajib menurut hukum syarak adalah jika dikerjakan berpahala, jika ditinggalkan berdosa. Maka berdosalah muslimah itu sepanjang hidupnya, karena tidak berhijab. Belum lagi dosa lain. 

Fenomena Ketiga

Seorang muslim atau muslimah jarang atau tidak pernah bersedekah seumur hidup. Kawatir jika bersedekah hartanya habis, minimal berkurang. Padahal menurut Islam harta jika disedekahkan akan bertambah, jika pelit kuburannya sempit. 

Fenomena Keempat

Ada muslim atau muslimah shalat terlambat, tidak menyesal ketinggalan shalat. Mendengar suara azan hatinya dongkol "Kog azan lagi, azan lagi, tanggung nih." Sebenarnya tanpa sadar dia sedang merejec Allah Subhanahu Wata'ala dalam hatinya. 
Aku juga merenung kita sering terburu-buru melakukan pekerjaan dunia. Takut terlambat datang ke kantor. Takut telat masuk kelas belajar. Kita segera ke bandara, takut ketinggalan pesawat. Segera ke stasiun kereta api, takut ketinggalan kereta. 

Sementara kita masih lalai mengerjakan shalat. Jarang menjawab panggilan azan. Padahal panggilan ibadah paling mesra di seluruh dunia adalah suara azan. Bagusnya kita sahuti meskipun dalam hati, minimal diam ketika dengar suara azan.

Masih ada di antara kita lalai dalam shalat. Mungkin kita berasumsi tidak mengapa meninggalkan shalat. Tidak masalah sekehendak hati mengerjakan shalat, ketika mood shalat, ketika tidak mood tidak shalat. Urusan paling penting di dunia itu menyembah atau beribadah kepada Allah, salah satunya adalah Shalat. Jika urusan paling penting saja kita remehkan, lalu apa yang lebih penting dalam hidup kita?. Cari uang, kuliah, gelar, Entahlah...

Waktu adalah Ibadah


Saya tidak menggunakan motto "Times is money" tapi waktu adalah ibadah. Setiap detik waktu kita adalah perjalanan menuju pintu kematian. Jangan terkecoh dengan usia muda, sebab meninggal tidak tergantung tua. Jangan tertipu dengan sehat, sebab wafat tidak tergantung sakit. Isilah setiap detik waktu kita dengan ibadah. Jika tidak kita akan jadi orang merugi. Merugi .mungkin tidak nampak jelas di dunia. Namun nanti di akhirat kita kurang bekal memasuki surga Allah. 

Lalu siapakah orang yang tidak merugi? Adalah orang yang meletakkan iman di dadanya, beribadah dengan semua anggota tubuhnya, dan berpikir terus untuk shalih/shalihah dan menshalihkan orang lain. 

Idul Adha di tengah Pandemi. Membuat aku dan kita makin teruji. Apakah kita siap berkorban dalam makna hakiki, atas sekadar menghiasi hari, dengan perbuatan tidak berarti. Kembali kepada Allah itu pasti. Namun sudah sudah siapkah aku untuk kembali? Tidak sekadar siap, namun kembali dalam kondisi Husnul khatimah. 

Aku terus merenungkan, Allah terus menguji atau memberi cobaan dengan wabah Corona. Pola kehidupan kita berubah, rencana banyak diganti. Semoga semua ini jadi pelajaran berharga bagi kita semua, bahwa kita butuh Sang Pencipta. Di sinilah letak Idul Adha Istimewa di tengah Corona.

Wallahu A'lam Bisshawab.
Salam ukhuwah



Kamis, 30 Juli 2020

MENCINTAI DIRI SENDIRI

Kamis, Juli 30, 2020 0 Comments


Rasa tak pernah dusta. Seperti pikiran kadang membohongi diri. Rasionalisasi menjadi tameng terbaik pikiran untuk mengelak luka. Pikiran menghibur dibalik rasa sakit. Kita pernah berkata pada diri sendiri. "Semua akan berjalan  baik-baik saja." Padahal tidak sedang baik. 

Pikiran sedang menghibur diri. Sering kita dengar" ini hanya caraku untuk menghibur diri." Ketika luka di hati berdarah. Mengenang di ruang batin. Pikiran kadang berdusta pada perasaan. Menghadirkan alasan-alasan, kelihatannya masuk akal. Namun sebenarnya tidak realistis. 

Aku sendiri juga seperti itu. Banyak kejadian, perlakuan orang lain, membuatku sedih. Hingga membuatku berhenti. Tak mau melangkah. Tak mau pulang. Tanya itu, selalu berputar dari itu ke itu saja. Aku terus bertanya apa yang salah pada diriku? Ada apa denganku? Kenapa tak ada yang menyukaiku. Mengapa mereka begitu tega padaku. Aku sama dengan mereka, aku ingin didengar. Aku juga ingin berbagi tentang keluh kesahku. 

Saat aku berbicara semua salah. Orang-orang tidak suka. Kadang mereka memotong pembicaraanku. Pura-pura tak mendengar. Menutup telinganya rapat-rapat. Aku merasa sangat hina, tak berharga, tak berarti, tak diharapkan. Bahkan ketika aku jauh, tak satupun sudi menghubungiku. Kecuali orang-orang terdekat. 

Anehnya. Ketika ditanya. Mereka bilang tidak apa-apa. Mungkin bagi mereka  tidak apa-apa. Namun bagiku sangat bermasalah. Ada juga yang berkata,  "Aku tidak peka, aku tidak peduli aku cuek. Atau alasan apapun namanya. Bagiku hanya alasan yang sengaja dibuat, agar mereka menjauh. Kata mereka aku egois. Padahal aku sudah mengalah, berkali-kali. Namun mereka tak tau, atau tak mau tau.

Aku terus bertanya dimana salahku, apa yang harus kulakukan agar aku bisa diterima. Meniru-niru orang lain. Melelahkan, karena itu bukan aku. 

Aku terus mencari. Bertanya. Dimana tempat aku bisa diterima? Selain oleh kedua orangtuaku. Tak ada. Tak pernah benar-benar ada. Aku akan selalu sendiri. Tak ada yang mengerti.

Pada satu titik aku menyerah. Di saat mereka mulai menunjuk-nunjuk wajahku. Melempar segala kesalahan itu padaku. Pada saat itu aku mengerti, kesalahan itu bukan pada mereka, tapi pada diriku.Mungkin beberapa cara dapat kulakukan, minimal menenangkan diriku sendiri:

Latihan di Depan Cermin

Meskipun semua orang mengatakan dan salah, namun tidak mau menunjuki apa salahku. Aku hanya divonis bersalah. Bagi mereka semua yang kulakukan salah, bahkan cara melihatku saja salah. Aku ingin membela diri, namun aku tidak cukup kuat. Aku coba berkali-kali latihan di depan cermin. Belajar bagaimana caranya melihat. Belajar bagaimana cara mendengar. Bahkan belajar untuk membunuh kemampuan asertifku. Suatu prinsip yang diajarkan nenekku "Jangan pernah mengaku salah, jika kamu tidak bersalah, justru pengakuan salah, atas sesuatu yang tidak kamu lakukan, berarti kamu merendahkan amanah Rabb untuk membela kebenaran."

Berbagai kesalahan terus di lempar padaku. Sementara mereka semua mencuci tangan, seolah manusia paling suci dibandingkan malaikat. Apakah keinginan mereka menjadikan aku kecil, secuil dan hampir menghilang. Aku mungkin dikira orang parno (paranoid). Takut keramaian. Takut pada orang-orang. Dan kurasa aku mengidap rasa enggan untuk bergabung di keramaian, lebih menikmati kesendirian. Kesendirian mengajarkanku banyak hal, terutama arti Kebersamaan bersama Rabbku Yang Maha Penyayang. 

Berdiri dan Menatap Cahaya

Jika aku terus disibukkan oleh rasa bersalah, atas ketidakbersalahan. Akan menguras habis energiku. Lebih baik aku bangkit, berdiri, berjalan, jika perlu berlari menatap cahaya. Tidak perlu berlama-lama menatap wajah-wajah ramah namun menyimpan sejuta kebencian. Mendingan manfaatkan waktu tuk hijrah, dan berbenah. Masih ada di ujung sana para sahabat shalihah, membentangkan tangan dalam ukhuwah dan dekapan dakwah. Mencintai karena iman semata, demi berharap pertemuan abadi selayak sahabat di surga nanti. 

Belajar Tersenyum

Aku tidak perlu sibuk menjelaskan apa dan bagaimana diriku pada mereka. Sebab mereka tidak perlu dan tidak peduli penjelasaanku. Peduli apa mereka tentang aku, sekian lama kepergianku, lalu siapa yang bertanya hanya adik, kakak, ayah ibu, dan saudara senasib dan saudara seaqidah. Bukan munafik, namun aku selalu belajar tersenyum di tengah kepedihan. Kuusahakan sunggingan senyumku karena Rabb semata. Bukankah Dia menyukai diam dalam kesabaran dan selalu tersenyum menghadapi saudara seaqidah. Alasan aqidah ini yang membuatku selalu berbuat baik.  

Bagaimana pun, penilaian orang tidak bisa dipaksakan. Bagaimanapun baiknya orang setelah hijrah, yang jadi pegangan adalah diri kita di masa lalu. Aku tidak perlu pengakuan atas perubahan dan hijrah hatiku. Sebab urusan dienku terlalu besar dari pada membujuk sekeping luka yang berdarah. Umat butuh pencerahan atas idealan kondisi. Jika aku berkutat dengan segelintir orang, maka akan menghalangi untuk berbuat baik pada banyak orang. 

Fokus Pada Orang-orang yang Mencintai Kita

Aku akan membuang tenaga jika aku berteriak. Mengatakan pada dunia, bahwa aku tak bersalah. Mengungkapkan seluruh rasa sakitku. Cukuplah Allah Subhanahu Wata'ala yang Maha Tahu sikon hatiku. Dia Maha Melihat, Maha Mengetahui, dan Maha Memberi Pembalasan. Aku serahkan semu urusan padanya. Aku tidak dihisab atas penderitaan batinku, namun aku akan dihisab atas sikap dan tanggapanku pada mereka. Satu yang pasti, aku lebih bahagia dan lebih produktif berpihak pada orang yang mencintaiku, menghargaiku, dan peduli padaku.Hal itu lebih produktif dan kreatif.

Meski aku terluka. Luka yang tak bisa disembuhkan. Aku tidak mau fokus pada luka itu, dan tidak mau tahu dengan mereka yang membuatku terluka. Aku konsentrasi menerima cinta dan kepedulian kedua orangtua, suamiku, anak-anakku, adikku, kakakku, dan sahabat taatmu dalam hijrah. Bagi mereka aku segalanya. Berkat mereka aku memutuskan mencintai diriku.

Ya, hanya cinta yang bisa menyembuhkan luka. Kau tak bisa memaksa orang-orang memahami dirimu. Karena yang cinta ga butuh alasan dan yang benci ga akan peduli.

Maka kuputuskan melawan keinginan itu. Bertahan dengan apapun pendapat mereka. Mendengarnya. Menikmatinya. Menerimanya. Aku akan mengunyah rasa pahit itu, untuk kutelan jadi obat. 

Selalu Memaafkan

Aku tak kuasa mengubah pendapat orang atau mereka tentangku. Tapi aku bisa mengubah diriku seperti apa menyikapi mereka. Aku tidak perlu ousing, perilaku dzalim apalagi yang akan mereka lakukan padaku. Aku hanya bisa ikhtiarkan bahwa kupastikan bahwa ruang hatiku selalu terbuka untuk memaafkan. 

Karena ku tau, setiap manusia punya masalahnya. Stres yang menimpa diri. Bullying oleh teman-teman. Kegagalan. Diabaikan dan ditinggalkan. Di dunia ini, bukan hanya aku satu-satunya yang terluka. Jadi, aku tak perlu merasa heboh paling terluka. 

Mereka yang melukai, bisa jadi karena terluka. Bisa saja itu cara mereka mengekpresikan hidupnya. Jika dipikir-pikir siapa yang tidak stres dengan sistem rusak ini? 

Beri Penghargaan untuk Diri Sendiri


Namun saat seseorang itu memilih untuk bangkit. Tidak lari dari masalah. Berani bertanggungjawab. Tak ada masalah kecuali membuat dia lebih dewasa.

Aku belajar mencintai diriku. "Memberi penghargaan untuk dirimu sendiri. Sudah lah orang-orang menjatuhkanmu, kenapa kau tambah jatuhkan lagi?" Bisik batinku.

Percayalah bahwa kau tidak pernah sendiri. Bahkan di saat kau benar-benar sendiri, di sanalah waktu terbaik itu. Ada Allah yang akan selalu mendengar kesahmu.

Islam itu berarti menerima, ikhlas dan ridho. Menerima qadha dan qadarnya dengan lapang dada. Apapun itu, Allah tak pernah menzalimi hamba-Nya. Hanya dengan begitu kau bisa menikmati hidup, dan menikmati indahnya kasih sayang-Nya. 

BELAJAR ISTIQAMAH DARI ASIYAH BINTI MUZAHIM

Kamis, Juli 30, 2020 0 Comments

Asiyah binti Muzahim, perempuan super hebat, cantik, taat, sangat sopan, santun, dan istiqamah. Keteguhan mempertahankan keimanan dan kebenaran, di tengah godaan harta dan kekuasaan imperium terbesar sejagat raya ketika itu.

Siapa yang tidak kenal dengan Fir'aun, seorang raja diraja, ternama. Mengendalikan kerajaan dengan kecanggihan teknologi di zamannya. Kira-kira perempuan mana yang tidak senang dan sejahtera bersuamikan seorang raja. Lengkap dengan kemilau kemewahan, kekayaan, gemerlap kehidupan kaum borjouis. 
.
Sebagai permaisuri raja diraja, Aisyah mampu menjaga iman, aqidah, dan ketaatannya pada Sang Pencipta. Ia tetap  sabar mendampingi suaminya, menjalankan kewajibannya sebagai istri, meskipun sang suami bertangan besi, dan mengklaim dirinya Tuhan, yang harus disembah seluruh rakyat.
.
Tidak tanggung-tanggung, ketaatannya Asiyah pada Allah Subhanahu Wata'ala. Ia besarkan seorang nabi di istana (Nabi Musa 'Alaihi Salam), meskipun harus menghadapi sikap paranoid suaminya. Membunuh setiap anak lelaki yang lahir, yang dikawatirkan kelak menghabisi hegemoni kekuasaannya sebagai Fir'aun.
.
Saking hebatnya Asiyah menghadapi sang suami yang dipanggil rakyat dengan “Yang Maha Mulia Tuhan Firaun.” Ia mampu memberikan argumentasi kuat dan meyakinkan sang raja, agar kehidupan Musa tetap berlanjut. Risalah tauhid tetap eksis di muka bumi. 

Dialah salah satu dari empat perempuan mulia dan terhebat sepanjang sejarah. Selain Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid, dan Fatimah binti Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam. Berharap cinta Allah semata. Tak ada yang lain.

Refleksi diriku, tidak terbayangkan, berada dalam posisi Asiyah. Hidup dalam gelimang kemewahan dan kekayaan, dan dikelilingi dayang-dayang. Semua keinginan  pasti terpenuhi. Bahkan berlibur ke negara lain mungkin jadi agenda rutin sang permaisuri. Belum lagi menikmati setiap pakaian, dan perhiasan mewah, demi prestise. Itu mungkin pemikiran wanita biasa seperti diriku.
.
Berbeda dengan Asiyah. Ia tetap mampu mempertahankan dan menjaga aqidah dan ketaatanya pada Allah Subhanahu Wata'ala. Meskipun dipaksa oleh Firaun, suaminya sendiri untuk mengakui Tuhan Fir'aun, dan menyembahnya sebagai Tuhan.

Mungkin bagi istri sepertiku, sangat dilematis. Terlalu sulit menentukan keberpihakkan, ikut suami sekaligus memyembahnya sebagai Tuhan, atau mengimani Allah sebagai Rabbnya dan mendukung ajaran Musa. Mendukung ajaran Tauhid yang diamanahkan Allah Subhanahu Wata'ala kepada Musa. Sungguh suatu pilihan yang sulit. Wanita lemah seperti aku, mungkin akan memilih suami, kekuasaan dan kemewahan dunia. 

"Ngapain capek-capek cari kekayaan dan kesenangan. Lagi pula raja diraja seperti Fir'aun, hanya satu-satunya sejagat raya ketika itu." 

Berbeda dengan Asiyah, ia tetap istiqamah, walaupun disiksa, diikat dengan besi kedua tangan dan kakinya, namun ia tetap mempertahankan aqidah yang diajarkan Musa  Alaihi Salam. 

Fir'aun tak henti-henti menganiaya dan menyiksa Asiyah karena aqidah atau keimanannya. Asiyah tetap sabar dan tabah. Dia tidak minta dilepaskan dan tunduk menyembah Fir’aun. Asiyah berdo’a pada Allah Subhanahu Wataala “ Ya Rabbku, bangunkan untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam syurga dan selamatkan aku dari Firaun dan perbuatannya, dan selamatkan aku dari kaum yang dzalim (QS. Surat At-Tahrim [66] ayat 11).
.
Asiyah tidak berpikiran pragmatis dan materialis seperti aku. Demi sedikit kesenangan kadang rela melepaskan prinsip kebenaran. Demi kenikmatan dunia yang setetes, aku rela meninggalkan aturan Allah Subhana Wata'ala. 
.
Kadang aku malu, banyak pengetahuanku, namun belum bisa sedikit mencontoh keistiqamahan Asiyah. Kadang aku gampang tergoda untuk melanggar hukum syariat demi meraih keinginanku. Aku kadang malas keluar dari zona nyaman,  mempertahan kuantitas dan kualitas ketaatanku yang apa adanya. Dengan argumentasi basi.

"Kelapa muda kupas-kupasin, kelapa tua tinggal batoknya. Ketika muda puas-puasin ketika tua tinggal taubatnya." 

Betapa bodohnya aku. Waktu berlalu, umurku hampir mendekati senja. Sedangkan aku masih menganggap remeh keberadaan iman, dan memandang remeh dosa.

Kadang, aqidah bagiku hanya orasi ilmiah di mimbar-mimbar keagamaan.
Padahal Aqidah itu sangat berharga dari dunia dan segala isinya. Iman itu mahal dari berlian dan permata. Istiqamah dalam iman, aqidah, dan ketaatan pada Pencipta itu adalah perjuangan penuh darah dan air mata.

Aku tidak mau keluar dari zona nyaman. Enggan sedikit berkorban untuk belajar Islam secara intensif, minimal dua jam seminggu. Mana tahu hatiku semakin tunduk dan khusyuk kepada Sang Khaliq.  

Aku sudah puas, jika aku sudah shalat, puasa, zakat, dan haji. Bahkan ibadah-ibadah itu aku cukupkan, dan anehnya aku sering lakukan secara terpaksa. Fatalnya, aku ingin setiap ibadah itu, aku siarkan ke semua orang. Agar orang di dunia ini tahu bahwa aku sudah melaksanakan ibadah. Bahkan aku merasa sudah sempurna menjalankan aturan Rabbku. 
.
Aku sering tidak peduli, Islam mengatur semua sisi kehidupan. Mulai dari urusan paling sepele sampai urusan paling kompleks dan fundamental dalam hidup.

Aku sering beranggapan orang berpakaian syar'i dan istiqamah dalam Islam, itu teroris, fundamentalis, ekstrimis, dan radikalis. Sebagaimana yang dipropagandakan orang lain kepadaku. 

Aku memiliki segudang impian semu. Aku ingin populer, top, terkenal, wanita karir, pangkat tinggi, memiliki seabrek gelar akademik, aktif di berbagai kegiatan, sehingga mendatangkan decak kagum orang lain. Aku sangat puas jika hal itu aku dapatkan.
.
Aku sedang belajar tentang pribadi Asiyah. Sosok perempuan agung tidak tergoda oleh kemewahan kerajaan Firaun. Ia tidak menjual aqidahnya dengan harga murah, dan menukar imannya dengan kesenangan kerajaan, dan tidak gentar membela kebenaran di hadapan Tirani Firaun yang dzalim. 

Inilah kisah wanita agung yang dijamin syurga oleh Allah. Darinya aku belajar istiqamah dengan aqidah dan iman, apapun yang terjadi. Darinya aku belajar bahwa raja bukan Tuhan, menentang kezaliman raja bukan berarti teroris, radikalis, fundamentalis, atau ekstrimis. Jika hal itu salah, Allah tidak akan  menjelaskannya dalam al-Qur'an. Terlalu besar instink survival dan insting mempertahankann diriku, di hadapan hawa nafsu.

Ya Rabb mudahkan aku mencontoh keistiqamahan Asiyah binti Muzahim. Hingga cara hidupku berubah dari hidup sekadar hidup lalu mati. Namun bagaimana hidupku mulia, dan matiku Husnul khatimah, aamiin. 

Ahad/ 5 Dzulhijjah 1441 H

Salam ukhuwah

STRATEGI PEMBENTUKKAN KEPRIBADIAN ISLAMI

Kamis, Juli 30, 2020 0 Comments
Setiap orang mengenal kata kepribadian. Namun tidak semua orang memahami hakikat kepribadian. Kepribadian bukan dinilai dengan ukuran-ukuran kenyataan. Seperti cantik, manis, ganteng, tampan, gagah, dan memikat. Tidak juga dilihat dari kelas ekonomi, status sosial, dan keturunan.
.
Kepribadian merupakan kompleksitas perwujudan cara berpikir ('aqliyah) dan cara bertindak (nafsiyah). Integrasi antara 'aqliyah dan nafsiyah tersebut dinamakan kepribadian (syakhsiyah). 
.
Cara berpikir, pola pikir, atau mindset merupakan cara pandang, perspektif, atau pemikiran seseorang  dalam menanggapi, merespon atau menyikapi berbagai fakta  yang ada di sekelilingnya. Cara ini ditentukan oleh mabda' atau ideologi yang diyakininya. 

Contoh, individu A berpikir manusia bebas, merdeka, tidak perlu terikat dengan berbagai aturan, jika ideologi yang diyakininya membolehkan kebebasan. Individu B beranggapan tidak masalah makan makanan haram, jika ideologi yang diyakininya membolehkan memakan makanan haram. Begitu juga individu C sah-sah saja pacaran sebelum nikah, jika ideologi yang diyakini membolehkan pacaran. Bahkan individu D, berpendapat muslimah tidak harus berhijab,  jika ideologi yang diyakininya membolehkan buka-bukaan.

Pola pikir menentukan kepribadian. Kepribadian sangat terkait dengan nilai dasar keyakinan, atau ideologi yang mengarahkan seseorang. Ideologi kapitalis membentuk kepribadian kapitalis. Ideologi sosialis komunis membentuk kepribadian sosialis-komunis. Ideologi Islam akan membentuk kepribadian Islami (syakhsiyah Islamiyyah).

Kepribadian Islami sangat ditentukan oleh pola pikir Islami  ('aqliyah Islamiyyah), dan pola sikap Islami (nafsiyah Islamiyyah). Pola pikir Islami dibentuk oleh aqidah Islam dan ilmu-ilmu keislaman yang memadai dalam membangun gagasan, ide, konsep, dan pandangan seseorang.

Sementara pola sikap Islami menjadi kuat, jika menjadikan aturan Islam sebagai cara dalam memenuhi kebutuhan biologis (makan, minum, berpakaian) dan kebutuhan naluri (beribadah, bergaul, berketurunan, dan bermuamalah). Setiap muslim berpotensi berkepribadian Islami, jika  kokoh aqidahnya, tinggi tingkat berpikirnya, dan kuat ketaatannya. 

Strategi Pembentukan Kepribadian Islami

Secara umum strategi Pembentukan kepribadian Islami adalah mengelola dan  meningkatkan aqliyyah dan nafsiyah individu. Strateginya adalah:

1. Menambah ilmu-ilmu Islam Syakhsiyah Islamiyyah). 


Menuntut atau menambah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat bukan sekadar perintah biasa. Namun perintah istimewa agar manusia memiliki tsaqafah Islamiyyah.  Tsaqafah Islamiyyah yang memadai membantu individu untuk beraqidah benar,  beriman, bertaqwa, beribadah sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, mengerti fiqih dan paham Akhlakul Karimah. 

2. Melatih Diri Berbuat Taat


Pembentukan kepribadian Islami dalam bentuk nafsiyah Islamiyyah, dapat dilakukan dengan selalu melatih diri berbuat taat. Terikat dengan semua aturan Islam dalam semua aspek kehidupan.  

Berbuat Taat juga termasuk melaksanakan semua ibadah, baik ibadah wajib dan ibadah sunnah. Selalu meninggalkan yang subhat apalagi haram.

3. Membiasakan Diri Berakhlak Mulia


Akhlak mulia tidak berdiri sendiri sebagai akhlak, terlepas dari aqidah dan syarak. Namun akhlak mulia bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dengan aqidah dan syarak. Logikanya perilaku jujur lahir dari keimanan yang kuat pada Allah, mengamalkan aturan Allah tentang perilaku jujur, maka  akhlak sehari-hari terbentuk perilaku jujur.

Dengan cara di atas, kepribadian Islami akan semakin kuat dan meningkat. Pemikiran Islami semakin cemerlang. Jiwa Islami semakin mantap. Istiqamah dalam ketaatan, dan semakin dekat dengan Allah Subhanahu Wata'ala.
.
Tiada cara lain agar berkepribadian Islami, selain mengelola sedemikan rupa pola pikir dan pola sikap dalam memenuhi kebutuhan fsikis, mengelola Gharizah, menuntut ilmu, selalu bergaul dengan orang shalih, memahami dan mampu menjawab  pertanyaan besar dalam hidup. Dalam konteks itu, kepribadian Islami bisa dibentuk. 
.
Wallahu A'lam Bisshawab.

Bumi Allah, 29 Juli 2020

Selasa, 26 Mei 2020

UJIAN PERSAUDARAAN

Selasa, Mei 26, 2020 0 Comments


Tanpa terasa waktu berlalu. Empat puluh tahun lalu. Kehadiran demi kehadiran yang lain menambah suasana haru. Kita terus tumbuh waktu demi waktu. Hingga tak lagi seperti dulu...

Masa-masa indah dulu telah menjadi kenangan. Bersama waktu dan perjalanan angan. Ujian dan cobaan terus berjalan. Hingga sampai di persimpangan jalan.
Jalan ujian dan cobaan yang tak mampu dipecahkan. Karena ego diri yang sulit diruntuhkan.

Inilah hidup, medan ujian selalu menanti. Ketika tak mau lagi menyatu dalam kata dan ikatan hati.
Inilah ujian sejati, ketika tidak bersama-sama lagi...

Akankah suasana itu masih sama. Ketika dahulu terganggu, sebentar, lalu kebersamaan hadir seketika. Tanpa masa, tanpa rasa yang ada hanya cinta dan rasa senasib yang sangat kentara...

Ketika ada yang mengganggu...dipanggil salah satu...dengan segenap upaya membela, karena merasa sama. Tiada sekat, tiada tabir, apalagi jurang menganga.

Ketika membela karena bersalah atau membela karena benar tidak dipikirkan. Hal terpenting hanya karena bagian dari perasaan dan ikatan. Demi sebuah kata yaitu ikatan keabadian. Idealnya berharga dari semua ikatan. Meskipun dibeli dengan selaut kekayaan.

Dulu, ketika makan dihidangkan...berbagi bersama menjadi kebiasaan. Meskipun makan dengan nasi putih dan ikan asin, terasa penuh kenikmatan....

Ketika sang pemimpin gubuk pergi, kemudian pulang ke rumah membawa sekotak nasi. Berebut makanan kesukaan hati. Makan bersama selalu dinanti. Untuk saling ikatkan hati. Namun kini hanya tinggal mimpi. 

Betapa indah memori masa-masa itu. Ketika moment kebersamaan tinggal kenangan yang tercatat di lembaran masa lalu. Kian kelabu dan berdebu. Sementara pelataran sukses dunia menjadi pemisah yang paling tabu.

Ketika salah satu sukses yang lain merasa jelata. Semua berbeda. Merasa tidak ada lagi rasa. Ikatan kian terlepas di tengah masa. Tanpa berusaha untuk mempertahankannya.

Ketika satu merasa terhormat, yang lain merasa bukan siapa-siapa. Namun ikatan tetap ikatan sampai dunia binasa. Bahkan sampai perpisahan sebenarnya tiba. Tahukah kita bahwa perpisahan sebenarnya adalah ketika satu masuk surga yang lain masuk neraka.

Berasal dari tempat yang sama. Dibesarkan dengan cara yang sama. Hingga dewasa. Kemudian pindah, karena pilihan hidup dan nasib berbeda. Namun ternyata pilihan hidup tidak saja membuat berbeda, namun cara memandang dan merasakan ikatan juga berbeda.

Ikatan yang sama, tidak lantas membuat sama. Banyak perbedaan yang sengaja diperlebar hingga jurang pemisah semakin terbuka. Hingga sepenggal harap untuk saling mengirim do'a begitu langka luar biasa.

Dunia tempat ujian, tempat menguji iman, kekuatan, dan daya tahan untuk bertahan dengan penuh keistiqamahan. Bukan tempat berjuang mati-matian mengumpulkan kefanaan. Hingga harus melupakan semua ikatan yang digariskan Yang Maha Pengatur kehidupan...

Dunia adalah wadah mengumpulkan bekal untuk pulang kampung ke surga. Tempat Kakek Adam 'Alaihi Salam, dan Nenek Hawa diciptakan Sang Pencipta. Maka hidup di dunia tentang siapa yang layak masuk surga dengan keunggulan taqwa. Bukan tentang siapa yang punya harta benda sampai sepenuh dunia. Lalu bangga dan merendahkan yang lainnya.

Dunia tempat ujian tanpa spasi, tanpa henti, hingga kita berhenti sendiri atau dihentikan Ilahi. Hal ini mengajarkan tentang arti hidup hakiki adalah nanti, bukan sekarang ini. Jika kita menghabiskan semua masa dengan rasa unfaedah, maka kita akan kalah oleh masa. Tau-tahu ajal tiba. Tanpa ada yang dapat diubah, hanya akan menambah deretan duka. Lalu di Padang Mahsyar saling mencari karena ada luka yang terus dipelihara.

Kini...di sini..menyendiri dalam sepi. Dalam kesendirian menyisihkan hati, semata untuk Ilahi. Jika semua ruangan sepi dan sunyi, hanya dzikir yang selalu mengisi hati. Sedih sejati adalah ketika Allah benar-benar tak peduli lagi. Itulah kehilangan sejati.

Di sini, si sudut sepi, mengejar mimpi tuk berarti bagi Ilahi. Ketika satu pintu tertutup, niscaya pintu lain akan terbuka untuk berbagai terhadap insani. Masih banyak manusia menanti, walau sekadar belajar cara mengeja hati, mengukir mimpi, atau berarti di dunia ini. Jika dilakoni sepenuh hati, Insyaa Allah menjadi ilmu yang bermanfaat di akhirat nanti. seperti dikatakan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam:

"Apabila mati anak cucu Adam, terputus semua amalnya, kecuali tiga perkara: Sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendo'akannya.".

Semua perjuangan di tempat ini, menjadi amal jariyah di akhirat nanti. Semoga menjadi Ilmu yang bermanfaat yang akan dipetik nanti. Aamiin Ya Rabbii

Di sisa umur ini, mencoba menata amalan. Mengurangi angan keduniawian. Jika harus dibuang di tengah jalan. Mencoba menerima dengan penuh keikhlasan. Mungkin begini nasib badan. Hanya pada dua penyambung angan, titip asa, cita-cita dan pesan.Tetaplah perjuangkan  ketaqwaan. Hanya taqwa posisi mulia di sisi Pencipta Kehidupan.

Bumi Allah, 2 Syawal 1441 H

Rabu, 13 Mei 2020

MENYUSURI CAHAYA

Rabu, Mei 13, 2020 0 Comments

Sahabat Shalihah...
Hidayah itu harus diikhtiarkan,
Bukan ditunggu dalam ketermanguan. 
Kebaikan itu diusahakan, bukan dimimpikan dalam tidur panjang semalaman. 

Hidayah dan kebaikan laksana rumah di perbukitan hijau. Untuk mencapai rumah itu kita mesti manaiki batu cadas, jurang terjal dan lembah yang begitu dalam. 
Kita lihat di kejauahan ada lentera menyinari ruangan.  Kita yakin cahaya lentera itu takkan pernah padam, meski ada badai datang menghantam. Kita pun percaya setiap penjelajah belantara atau pecinta alam akan menemukan rumah mungil itu untuk berteduh dari hujan dan panas kehidupan. 

Sahabat..
Jika kita yakini cahaya itu mampu menyinari sisi gelap hidup kita. Penyelamat diri kita dari keterpurukan dalam lumpur nista. Menyinari hidup kita tentang jalan Mustaqim menuju Rabb kita yang Maha Penyayang. Maka tidak berlebihan jika kita sama-sama melangkah, beriringan menuju cahaya itu. Walaupun aku sadari, kakiku tak kuat melangkah, tanganku pun lemah dalam bergantung.  Saat itu juga, aku akan minta pertolonganmu.

Jika hal yang sama kamu alami. Kamu bosan dengan rutinitas hidup yang tak pernah habis. Hingga kakimu lemah,  dan tidak kuat melangkah. Aku bersedia menjadi andalanmu dalam melanjutkan langkah yang sama-sama tertatih ini. 

Sahabat...
Aku heran setiap aku mengajakmu melangkah menuju cahaya itu. Kamu menatapku dengan rasa curiga. Seakan ada rencana lain yang aku susun.  Dengan setengah menolak kau tepis jari jemariku yang mengajakmu menuju cahaya itu Sembari berkata:

"Biar aku sendiri berjalan menuju cahaya itu, selamatkan saja hidupmu. Aku lebih senang hidup seperti air mengalir jangan pernah ikut campur dalam hidupku."  

Sahabat...
Aku terkejut mendengar jawabanmu. Pengetahuan yang kupunya tak cukup mampu menerjemahkan hidup seperti air mengalir. Jika hidup selaksa air. Air itu amat sangat berguna. Sebagian besar hidup kita terdiri dari air. Sifat air itu jernih, bening, suci dan mampu menyucikan. 
Air akan berubah sesuai wadah, dan ia patuh dengan proses perubahan. Jika dimasak, atau diproses jadi minuman, dan diminum akan menghilangkan dahaga dan menyegarkan. Jika kamu konsisten dengan hidup laksana air maka hidupmu bisa tenang dan pikiranmu jernih. Makrifat mendekatimu, dahaga dunia terpenuhi, dan hidayah mudah menyapamu. Lantas mengapa kamu masih sakit hati dengan orang-orang dimudahkan rezkinya oleh Allah, orang sukses dalam pendidika, dan berprestasi di segala bidang. Berarti pikiran bodohku mengatakan kamu belum konsisten dengan filosofi air. 

Sahabat....
Jika hidupmu mengalir seperti air. Mengalir menurut terjemahan bodohku adalah berjalan terus-menerus tiada henti, melewati banyak halangan dan rintangan menuju muara, bertemu samudera luas. Seperti perjuangan air, mengalir dari hulu ke hilir sesuai sunatullah. Tak pernah berhenti. Jika ia digunakan manusia. Maka ia berdaptasi dengan bentuk wadah yang ditempatinya. Secara kasat mata kita lihat air tak pernah lelah memberi manfaat pada manusia. 

Jika selesai tugasnya ia akan terus mengalir lagi menjalani sunatullah. Mencari tempat yang rendah, menjalani sungai, menumbuhkan tanaman, menguatkan akar, masuk ke dalam bumi, dan mengalir hingga ke laut. Ketika Allah titahkan air dia akan menguap ke udara diserap awan, kemudian tersublimasi dalam awan hitam, yang siap menurunkan hujan. Kemudian hujan turuan membawa Rahmat menyirami bumi, menyuburkan tanaman. Air terus berproses dan terus memberi manfaat. Lantas jika kamu memakai filosofi air mengalir, apakah kamu sudah berproses seperti air hingga memberikan manfaat bagi banyak orang? 

Sahabat...
Jika kamu pakai filosofi air mengalir. Bisakah kamu kendalikan  mengalirmu ke mana saja. Air sangat patuh dengan perintah Allah. Air yang menyelamatkan umat nabi Nuh. Air yang menyelamatkan Nabi Musa as dan umatnya dari kejaran Pasukan Fir'aun. Lantas kamu sudah sepatuh air  dalam taat dan patuh  pada Allah? Jika kamu hidup laksana air mengalir. Bisakah kamu kendalikan mengalirmu ke tempat-tempat tak terpuji, seperti comberan, got,   menjadi minuman khamar dan lainnya. Jika jawabannya tidak, maka filosofi air yang digunakan hanya argumentasi basi yang kau gunakan untuk menghindarkan diri dari ajakanku mengejar cahaya. Kau lebih memilih merawat zona nyamanmu, tak mau terikat dengan hukum syarak. 

Sahabat...!
Hidup kita ibarat perjalanan panjang. Dari ruh yang ditiupkan Allah ke dalam rahim ibu kita ketika berumur 120 hari. Lahir ke bumi untuk beribadah semata, kemudian wafat menemui Allah kembali. Kita tidak bisa hidup tanpa cahaya. Baik cahaya Islam atau cahaya ilmu yang sejalan dengan Islam. Ilmu tidak datang sendiri. Tapi harus dicari. Memang perjuangan menuntut ilmu itu berat, tatapi Allah janjikan kita mudah jalan ke syurga.  

Sahabat...
Amanah menjadi hamba Allah itu berat. Tidak cukup hanya belajar di sekolah saja. Godaan hidup juga banyak. Ditambah lagi setan tak pernah lelah membisikkan godaan agar kita tergelincir dari cahaya. Kemudian menjauhkan kita dari jalan yang lurus. Lantas engkau mengikuti orang-orang yang mengatakan bahwa Islam hanya sekadar shalat, zakat, puasa dan haji. Dengan semua itu kamu sudah merasa shalih, dengan hanya membaca al-Qur'an dan bersedekah. Namun tak terpikir bahwa Islam tak sebatas hablumminallah. Lantas bagaimana dengan ayat-ayat hablumminannas? 

Sahabat...!
Menuntut ilmu dunia, ilmu umum, ilmu pengetahuan dan teknologi itu hukumnya fardhu kifayah. Jika sudah ada di antara umat yang mendalami ilmu itu, maka kewajiban kita sudah ditunaikan. Lain halnya dengan ilmu akhirat, ilmu Islam maka hukum mempelajarinya fardhu a'in. Kewajiban setiap orang. Dengan ilmu aqidah, ilmu fiqih, ilmu al-Qur'an dan lainnya. Dengan itu menentukan batal dan diterimanya amalan, berpahala dan berdosanya, terpuji dan tercelanya perbuatan, dan menentukan masuk syurga atau nerakanya dirimu.  

Kini niat baikku membawamu mengenal dan mengejar cahaya kau tepis dengan alasan dunia. Namun aku tetap ingatkan dirimu. Karena itu kewajibanku. Aku tidak perlu tahu betapa kayanya dirimu. Aku juga tidak perlu kepo sebanyak apapun deretan mobil dan jet pribadimu. Aku juga tidak perlu paham sebanyak apapun prestasi anakmu. Aku hanya peduli bahwa  keselamatan akhiratmu adalah kewajibanku. 

Sahabat...! 
Sahutilah ajakanku ini. Kita sama-sama melangkah menyusuri Cahaya itu. Hingga akan hidup di rumah kecil itu. Untuk selanjutnya kita akan bawa cahaya lentera itu untuk menyinari gelapnya dunia. 
Insyaa Allah...

Batusangkar, 13 Mei 2020