Follow Us @soratemplates

Rabu, 30 September 2020

POTENSI KEHIDUPAN

Rabu, September 30, 2020 0 Comments


Setiap manusia lahir ke dunia, dilengkapi berbagai potensi hidup yang amat  berharga.   Agar hidup menjadi hidup dan bermakna. Potensi hidup tersebut  membuat manusia mampu menjalani dan mengelola kegiatan. Dengan potensi itu pula manusia melakukan semua perbuatan dan aktivitasnya. Tentu saja aktivitas tersebut senantiasa menggunakan standar aturan Allah Subhanahu Wata'ala yang paripurna. 


Manusia memilikil potensi yang sama dengan makhluk hidup di lainnya. Potensi tersebut mendorong manusia melakukan berbagai aktivitas dalam rangka memenuhi kebutuhan jasmani dan mengelola naluri berbasiskan aturan Allah Subhanahu Wata'ala.


Manusia adalah hamba Allah ('abdullah), bukan hamba harta, bukan pula hamba tahta dan hamba dunia. Penghayatan tentang status sebagai hamba Allah akan memunculkan kesadaran,  bahwa hidup untuk menyembah Allah semata. 


Manusia ada bukan sekadar ada. Tapi ada untuk mengabdi pada Yang Kuasa. Berikhtiar sekuat tenaga, menjadi hamba taat dan bertaqwa. Mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya, untuk bahagia di akhirat sana. 


Hidup manusia bukan acak tak terencana. Lahir ke dunia, bukan untuk berbuat sekehendaknya.  Bukan pula hidup suka-suka. Kemudian meninggal dunia. Habis semua perkara. Tetapi hidup untuk beribadah, mengabdi seutuhnya. Bermanfaat untuk agama dan umat manusia. Kemudian kembali kepada Allah Subhanahu Wata'ala, mempertanggungjawabkan semua perbuatan kepada Pencipta. 


Kategori Potensi Manusia

Pencapaian visi hidup tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu perencanaan,  keras keras dan perjuangan. Untuk itu, Allah Subhanahu Wata'ala menganugerahkan potensi hidup, yaitu  potensi bawaan, dan potensi bentukkan. 


A. Potensi Bawaan


Potensi bawaan, artinya potensi hidup yang dibawa semenjak lahir. Diciptakan Allah Subhanahu Wata'ala dengan sedemikian rupa sebelum manusia dilahirkan. Potensi ini dianugerahkan Allah  satau paket dengan ketentuan rezeki, umur, ajal dan pertemuan. 


Macam-macam Potensi Bawaan


1. Kebutuhan Jasmani (Hajatul 'Udhawiyah)


Setiap manusia memiliki kebutuhan jasmani (hajatul 'udhawiyah). Menusia memiliki kebutuhan fisik, agar bisa berdiri, tumbuh, berkembang, menjadi besar, dan mampu berdikari dan mandiri. 


Kebutuhan jasmani adalah segala sesuatu yang dibutuhkan oleh tubuh manusia, karena manusia terdiri dari sel-sel yang butuh pasokan nutrisi, oksigen, dan istirahat.  Jadi, kebutuhan jasmani adalah kebutuhan yang lahir dari kerja struktur organ tubuh manusia. 


Organ tersebut butuh keadaaan tidur, istirahat, suhu, dan kondisi tertentu. Organ itu juga butuh benda, seperti makan, minum, dan udara atau oksigen. Organ juga butuh aktivitas seperti makan, bernafas, dan membuang kotoran. Jika kebutuhan jasmani tidak terpenuhi menyebabkan kerusakan diri dan kematian. 


Secara fisik manusia memiliki berbagai sel, bentuk, warna dan tugas berbeda. Menurut para ahli neurologi manusia memiliki lebih dari 200 juta sel. Setiap sel terdiri dari membran (dinding sel) dan nukleus (inti sel) yang dikelilingi sitoplasma. Sitoplasma mengelilingi inti sel terdiri dari beberapa kromosom. Terdapat 46 kromosom dalam sel sperma laki-laki dan sel telur perempuan. 


Kebutuhan jasmani dimanifestasikan dalam bentuk makan, minum, berkeringat, buang air kecil dan besar, tidur, istirahat, dan bernafas setiap saat. Jasmani manusia tumbuh menjadi besar dan berkembang baik kuantitas dan kualitasnya. Jasmani juga mengalami perubahan baik peningkatan atau penurunan. Saat tertentu jasmani letih, lelah, mengantuk, lapar, dan haus. Bahkan pada saatnya tiba kinerja jasmani akan berhenti, ketika nyawa (sirrul hayah) diambil oleh Allah Subhanahu Wata'ala. 


Jasmani menghendaki pemenuhan kebutuhan, ketika ada rangsangan dari dalam diri, berupa sinyal-sinyal yang dikirim otak ke seluruh tubuh dalam bentuk reaksi emosi (perasaan). Seperti rasa lapar, haus, lelah, mengantuk dan ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam diri. Jika kebutuhan jasmani tidak dipenuhi mengakibatkan kerusakan diri dan bisa menimbulkan kematian, atau sirna di permukaan bumi.


2. Naluri (Gharizah)


Di samping kebutuhan jasmani, manusia memiliki gharizah atau naluri (instink). Terdapat tiga naluri pada diri manusia, yaitu (a) naluri beragama (gharizah tadayun), (b) naluri melanjutkan keturunan (gharizah na'u) dan (c) naluri untuk mempertahankan diri (gharizah baqo'). 


Gharizah muncul akibat rangsangan dari luar, berupa fakta, realita, dan pemikiran tentang sesuatu terkait dengan salah satu gharizah. Gharizah ini perlu dikelola dengan seksama, menggunakan akal dan agama (syarak). Jika gharizah ini tidak terpenuhi tidak akan menimbulkan kerusakan diri dan kematian, tetapi hanya mendatangkan kegelisahan dan penderitaan.


2.1. Naluri Beragama (Gharizah Tadayun)


Naluri beragama adalah naluri untuk mengagungkan, mensucikan, dan memuliakan sesuatu di luar diri. Ada perasaan diri lemah, tidak berdaya, terbatas, kurang, kosong , dan tidak berarti. Perasaan tidak berdaya ini membutuhkan suatu kekuatan di luar dirinya. Itulah Pencipta dan Pengatur Kehidupan.


Naluri beragama perlu dikelola, dengan cara terbaik dan benar menurut syarak. Oleh karenanya, seorang mukmin memenuhi tuntutan naluri ini dengan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata'ala, mengagungkan Allah, melakukan shalat, berpuasa,membayar zakat, melaksanakan amalan-amalan sunnah, seperti shalat tahajjud, dhuha, membaca al-Qur'an dan lain-lain. Naluri beragama ini dikemukakan Allah dalam QS. Az-Zumar ayat 8:


"Dan apabila manusia ditimpa kesusahan, maka ia memohon kepada Rabbnya dengan kembali kepada-Nya."


Kembali kepada Allah, artinya memohon perlindungan dan keselamatan dari segala kesusahan dan penderitaan.Seorang mukmin mengungkapkan semua kisah, suka-duka, kesulitan dan deritanya kepada Sang pencipta. Menumpahkan seluruh rasa, curhat, dan mengadu kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Hal ini adalah fakta kongkrit bahwa manusia memiliki naluri beragama.


Tidak hanya manusia yang memiliki gharizah tadayun, binatang pun memiliki gharizah ini, dengan cara mensucikan atau bertasbih kepada Allah Subhanahu wata'ala sesuai dengan kapasitas, cara, dan tabiatnya binatang.  


Binatang saja bertasbih kepada Allah dengan caranya sendiri. Lantas, alasan apa sebenarnya yang membuat diri ini enggan mendekatkan diri kepada Allah (bertaqarrub ilallah)?. Bahkan orang yang mengklaim dirinya tidak beragama  (Atheis) sekalipun, pada waktu tertentu,misalnya dalam kondiri kritis, goncang dan menakutkan, secara otomatis akan memanggil sesuatu yang ditaqdiskan, dengan kata "Oh My God


Jika ditelusuri secara mendalam. Orang-orang yang tidak mengakui adanya Pencipta atau 'Tuhan" sebenarnya tidak benar-benar mengakui tidak adanya Pencipta, tetapi ego mereka terlalu tinggi dan terlihat terlalu sombong untuk mengakui Pencipta. Padahal faktanya mereka sedang mengalihkan pengagungan kepada selain yang mereka sbut Tuhan. Misalnya orang-orang berpengaruh, atau mengagungkan akal mereka sendiri, tanpa mereka sadari. Bagaimanapun naluri beragama akan tetap menghendaki pemenuhan kebutuhan. Manusia tidak kuasa menolak kebutuhan tersebut.


2.2. Naluri Melestarikan Jenis (Gharizah Na'u)


Gharizah Na'u adalah keinginan untuk merasa dekat dan akrab dengan manusia lain, baik orang tua, anak, suami atau istri, sahabat ataupun teman. Manifestasi naluri ini adalah adanya rasa cinta, kasih sayang, dekat, peduli pada lawan jenis, pada suami atau istri, anak, dan orang tua. Hal ini terdapat dalam al-Qur'an Surat al-Baqarah ayat 124:


"Dan ingatlah apabila Ibrahim  diuji Rabbnya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan) lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman Sesungguhnya Aku aku akan menjadikan kamu imam bagi seluruh manusia. Ibrahim berkata dan saya mohon juga keturunan saya. Allah berfirman janji-Ku tidak akan mengenai orang-orang yang dzalim."


Selanjutnya dalam surat Yusuf ayat 24:


"Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu dengan Yusuf dan Yusuf pun bermaksud melakukannya) dengan wanita itu, seandainya dia tidak melihat tanda-tanda (dari) Rabbnya."


Begitu juga kecintaan terhadap keturunan, anak, suami, istri, orang tua, kerabat, dan teman, menjadi bukti adanya naluri melestarikan jenis. Begitu juga adanya syahwat  kepada lawan jenis membuktikan adanya naluri seksual ini.


2.3. Naluri Mempertahankan Diri (Gharizah Baqo')

 

Gharizah Baqo' adalah keinginan untuk mempertahankan diri, bertahan hidup, dan eksis di tengah-tengah masyarakat. Manifestasi dari naluri ini adalah adanya perasaan tidak percaya diri jika diri ada kekurangan diri, dan adanya ungkapan  suasana hati seperti menangis, galau, dan marah, kecewa, dan sebagainya. 


Di samping itu, manusia memiliki keinginan untuk eksis dan narsis. Seperti obsesi seseorang mengikuti berbagai life style, fashion, trend kekinian, ingin tampil cantik menarik, dan menawan. Berbagai upaya dilakukan, mulai dari skin care, senam, erobik, salon dan perawatan kecantikan. Kadang menghabiskan uang yang tidak sedikit. Naluri mempertahankan diri terdapat juga pada makhluk lain, seperti ayam marah anaknya diganggu, kucing mengeong ketika lapar, atau monyet ribut ketika mengambil buah-buahan di kebun manusia, lebah atau binatang lain membuat sarang di pohon kayu untuk berlindung. Dalam QS. An-Nahl ayat 68 dikemukakan:


"Dan Rabbmu mengilhamkan kepada lebah. Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pokok-pokok kayu dan tempat-tempat  yang dibuat manusia."


Ayat ini menjelaskan bahwa manusia dan binatang seperti lebah diberi potensi oleh Allah Subhanahu Wata'ala untuk membangun tempat tinggal agar dapat melindungi dari serangan makhluk lain, udara buruk, iklim, dan gangguan lainnya.


Perbedaan Kebutuhan Jasmani dan Gharizah


a. Aspek Rangsangan: 

Kebutuhan jasmani berasal dari dalam diri manusia, sementara gharizah berasal dari luar diri manusia, yaitu datang dari realitas, rangsangan dan pemikiran.


b. Aspek pemenuhan:

Kebutuhan jasmani menghendaki segera dipenuhi, sedangkan gharizah bisa ditunda. 


c. Jika tidak dipenuhi:

Kebutuhan jasmani jika tidak dipenuhi menimbulkan kerusakan jasmani, membahayakan jiwa, bahkan kematian. Sedangkan gharizah jika tidak dipenuhi hanya menimbulkan kegelisahan saja.


Semua perbuatan yang dilakukan manusia di dunia ini, tidak terlepas dari cara manusia memenuhi kebutuhan jasmani, dan memenuhi rangsangan naluri. Sebut saja semua kegiatan, aktivitas atau perbuatan, maka semua kegiatan tersebut dikategorikan untuk memenuhi kebutuhan jasmani, atau memenuhi naluri. 


Naluri tidak dibunuh atau dihancurkan tetapi dapat ditekan dan dialihkan. Perlu ada kompensasi dengan cara menjauhkan, atau mengalihkan realitas, fakta, kejadian atau pemikiran, yang bisa menstimuli atau membangkitkan naluri tersebut.


Mengalihkan naluri harus sesuai syariat. Seperti hadist Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam

"Wahai pemuda, siapa di antara kalian yang telah mampu berumah tangga, maka menikahlah. Sebab menikah itu dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Namun siapa yang tidak mampu maka hendaklah berpuasa, sebab puasa itu dapat melindungi (benteng)" (HR. Bukhari). 


B. POTENSI BENTUKKAN (AKAL)


Potensi bentukan artinya potensi kehidupan yang diperoleh melalui proses belajar atau pendidikan. Bersifat eksternal, didapatkan dari luar diri, berdinamika, sejalan dengan perkembangan  informasi, berpikir, dan kebenaran informasi yang didapatkan. Manusia harus jeli dan teliti mencari dan menerima informasi yang benar. Potensi  bentukkan ini adalah akal.


Akal adalah potensi dan keistimewaan yang diberikan Allah pada manusia. Akal memiliki kemampuan mengaitkan fakta dengan informasi sebelumnya, sehingga lahir penafsiran, kesimpulan, keputusan dan sebagainya. 


Akal berbeda dengan otak. Makna hakiki dari akal ialah berpikir. Meski hewan memiliki otak, tapi ia tidak berakal atau berpikir.  Keberadaan otak saja tidak cukup mewujudkan aktivitas atau proses berpikir, tapi diperlukan komponen lain. Makanya terdapat empat komponen dalam berpikir: (1) fakta atau realitas, (2) indera, (3) otak, dan (4) informasi sebelumnya yang tersimpan di otak.


Akal adalah potensi khas manusia. Akal yang membuat manusia mampu mengerti dan memahami hukum syara’ dan mengikatkan diri pada hukum syark tersebut. Akal berfungsi sebagai pengontrol bagi manusia ketika memenuhi kebutuhan jasmani dan naluri. Sebagai alat kontrol, akal harus tunduk dan patuh pada wahyu Ilahi. Jangan terbalik, akal digunakan untuk mengotak-atik wahyu Ilahi, sehingga mencari cara agar wahyu harus sesuai dengan akal. 


Manusia adalah makhluk paling utama, bahkan lebih utama dari malaikat. Keutamaan manusia terletak pada akalnya. Akal yang telah mengangkat kedudukan manusia lebih tinggi dari malaikat, yang menyebabkan para malaikat tunduk kepada Nabi Adam 'Alaihi Salam, dengan kemampuan akalnya dia mampu menghafal nama-nama atas kehendak Allah Subhanahu Wata'ala.


Definisi Akal


Akal ('aql), pemikiran (fikr), dan kesadaran (al-idrak) adalah sama, yaitu proses pemindahan penginderaan terhadap fakta melalui panca indera ke dalam otak, yang disertai adanya informasi terdahulu, yang akan digunakan untuk menafsirkan fakta tersebut. 


Pemikiran atau akal tidak akan terbentuk tanpa ada fakta. Pengetahuan yang tidak ada faktanya hanyalah kayalan atau ilusi, atau imajinasi. Artinya fakta adalah asas pemikiran, sedang pemikiran adalah pengungkapan atau penilaian terhadap fakta. Tanpa ada fakta tidak ada proses pemikiran. 


Kecepatan berpikir terletak pada kecepatan pemindahan fakta ke dalam otak, dan kecepatan dalam mengaitkan fakta tersebut dengan informasi sebelumnya (ma’lumat sabiqoh), yang tersimpan di dalam otak. Kemudian informasi sebelumnya digunakan untuk menjustifikasi fakta tersebut, hingga menghasilkan respon berupa kesimpulan, keputusan, dan tindakan.


Berpikir merupakan perkara alamiah dalam diri manusia. Hanya saja aktivitasnya membutuhkan penyengajaan. Berpikir membutuhkan pengamatan cermat terhadap fakta. Pencermatan ini sangat diperlukan di awal berpikir, agar mampu menghasilkan kesimpulan yang cermat pula. Ketidakcermatan pengamatan maka akan melahirkan kesimpulan keliru. Maka dibutuhkan pengamatan berulang kali terhadap fakta, butuh banyak informasi tentang fakta, fakta harus valid bukan hoax, sehingga menghasilkan analisis yang memadai.


Ada tiga macam berpikir, yaitu (1) berpikir dangkal, (2) berpikir mendalam, dan (3) berpikir cemerlang (ini tidak diuraikan sahabat, kawatir terlalu panjang artikelnya). Pada kasus tertentu kita perlu berpikir cepat. Berpikir cepat tidak berarti menafikan berpikir mendalam  dan berpikir cemerlang. Ia hanya menafikan berpikir lambat. Sebab, dalam aktivitas berpikir cepat sering kali disertai dengan berpikir mendalam dan cemerlang. Berpikir cepat pada sebagian orang adalah proses alami, yang sudah melalui pembiasaan dalam berpikir mendalam dan cemerlang.


Aktivitas yang membutuhkan berpikir mendalam dan cemerlang contohnya berpikir tentang keberadaan (eksistensi Allah) dan sifat-sifat Allah Subhanahu Wata'ala. Dalam hal ini berpikir mendalam dan cemerlang diperlukan agar aktivitas berpikir mendatangkan manfaat dunia akhirat, menyelamatkan aqidah dari pengaruh tahayul, bid'ah, dan khurafat (TBC), sekaligus dapat menghemat waktu untuk taat totalitas kepada Allah Subhanahu Wata'ala. 


Soalnya ada manusia yang malas berpikir tentang eksistensi dan sifat-sifat Allah, enggan keluar dari zona nyaman, tidak mau keluar dari kondisi aman, sehingga dari hari kehari cara beragamanya tidak berubah. Misalnya nyaman tidak mengkaji ayat-ayat Allah, nyaman shalat terlambat, nyaman dengan besarnya dosa riba, nyaman mengghibah saudara seiman, dan merasa lega membicarakan keburukan orang lain. 


Akan berbeda ketika berpikir dan mengamati segala yang ada di dunia in. Kita senang berpikir tentang hakikat hidup, hakikat alam semesta, dan segala sesuatu yang ada di dunia ini. Hasil pemikiran itu, insyaa Allah akan mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa di balik alam semesta, manusia dan hidup, terdapat Sang Pencipta. Allah Subhanahu Wata'ala menciptakan akal agar manusia mau mempergunakannya untuk menemukan dan memperkuat keimanan kepada-Nya.


Pemikiran mendalam dan cemerlang mengantarkan kita pada pemahaman, bahwa  segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh akal, hanyalah manusia, alam semesta dan kehidupan. Sementara segala sesuatu yang gaib tidak dapat dijangkau akal, walaupun dipaksakan sekuat tenaga, akal manusia tidak akan mampu menjangkaunya. Sebab akal manusia amat terbatas. Untuk beriman kepada yang tidak terjangkau akal (gaib) maka kita harus mempergunakan nash dari al-Qur'an dan hadits Nabi. 


Berpikir tentang manusia berarti kita berpikir tentang wujud fisik, organ tubuh, sel-sel, sifat, kepribadian, potensi, dan perilaku manusia. Berpikir tentang alam semesta berarti berpikir tentang segala hal yang ada di sekitar manusia, baik berupa wujud fisik seperti hewan, tumbuhan, benda-benda mati seperti batu, laut, gunung, matahari, bulan, angin, planet-planet serta kegunaan (khasiat) yang dimiliki benda-benda tersebut.  Seperti pisau berkhasiat memotong, api berkhasiat membakar, atau berkhasiat membasahi. Berpikir tentang kehidupan berarti berpikir tentang segala sesuatu yang bernyawa, kemudian mengalami kematian.


Aktivitas berpikir adalah aktivitas penyengajaan, juga aktivitas alamiah pada diri manusia tentang segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh akal. Sebab akal manusia manusia bersifat terbatas, lemah, serba kurang, dan saling membutuhkan satu sama lain. Jika ada orang yang menjustifikasi, bahwa manusia memiliki sifat yang lemah, terbatas, serba kurang dan saling membutuhkan, adalah benar dan faktual. 


Tidak ada fakta satu orangpun, semenjak nabi Adam hingga sekarang yang memiliki sifat tak terbatas. Ia pasti melalui tahapan pertumbuhan dan perkembangan, mulai kelahiran, tumbuh berkembang, hingga akhirnya mati. Tidak ada manusia pun mampu menahan rasa kantuk, tidak tidur, tidak makan, tidak minum berhari-hari. Ini menandakan bahwa manusia memiliki sifat terbatas, lemah dan serba kurang. 


Demikian juga halnya dengan kehidupan dan alam semesta. Kehidupan berakhir pada setiap diri individu. Tidak ada individu hidup sepanjang masa. Alam semesta merupakan kumpulan benda-benda angkasa juga memiliki sifat terbatas. Himpunan dari segala sesuatu yang terbatas,  pasti terbatas pula sifatnya. Kesimpulannya segala sesuatu yang bersifat terbatas pasti ada batasnya. Ia pasti memiliki awal dan akhir. Ia pasti tidak kekal. Segala sesuatu yang berawal dan berakhir, pasti diciptakan oleh sesuatu yang lain. Dia Allah Subhanahu Wata'ala.


Allah bersifat Azzali, tidak berawal dan tidak berakhir. Dia kekal, tidak diciptakan oleh sesuatu yang lain, juga tidak menciptakan diri-Nya sendiri. Jika dia diciptakan oleh yang lain maka dia pasti bukan Tuhan. Dia tidak serupa dengan ciptaan-Nya, jika serupa berarti Dia bukan Pencipta. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, jika beranak dan diperanakkan berarti dia bukan Tuhan. 


Demikian akal manusia, jika ia digunakan untuk berpikir secara mendalam ia akan menemukan keberadaan Penciptanya, yaitu, Allah Subhanahu Wata'ala. Manusia, alam semesta dan kehidupan tidak layak, bahkan sangat hina jika dijadikan sebagai Rabb.  


Jika kita menemukan ada manusia menyembah manusia, batu, bulan, bintang, matahari, bahkan Iblis. Berarti manusia itu belum atau tidak mau mempergunakan akalnya untuk berpikir secara mendalam dan cemerlang, untuk menemukan Pencipta sesungguhnya. Sebab jika ia mau mempergunakan akalnya secara mendalam dan cemerlang insyaa Allah akan menemukannya. Orang Arab Badwi (pedalaman dan tradisional) saja mampu memberikan jawaban yang tepat, ketika ditanya bagaimana ia mengenal Rabbnya:

"Bagaimana kamu mengenal Rabbmu? Ia menjawab: "Tahi unta menandakan adanya unta, dan jejak kaki menandakan ada orang yang berjalan."


Akal Mampu Membuktikan Islam Agama Shahih


Berpikir mendalam dan cemerlang membuat manusia mampu membuktikan bahwa Islam adalah agama paling benar. Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah utusan Allah, dan Al-Qur’an adalah benar-benar firman Allah. Sebab berpikir, meski ada secara alamiah pada diri manusia, namun prosesnya memerlukan penyengajaan, yaitu proses pencermatan terhadap fakta yang ada. Inilah yang disebut dengan istilah penggunaan kecerdasan. Seorang muslim, penggunaan kecerdasan mulai muncul saat ia beranjak baliqh. Bagi laki-laki ditandai oleh mimpi basah, dan perempuan ditandai dengan haid.  Pada saat inilah segala kewajiban hukum syara’ (taklif) mulai berlaku pada dirinya. Karena pada usia tersebut, penggunaan kecerdasan atau akal telah sempurna. Oleh karena itu, Islam mewajibkan setiap orang baliqh (mukhallaf) untuk mencapai keimanan melalui  proses berpikir.


Setiap mukallaf wajib mempergunakan akalnya untuk  membuktikan adanya Sang Pencipta, yaitu Allah Subhanahu Wata'la di balik setiap penciptaan alam semesta, manusia dan kehidupan. Optimalisasi kemampuan akal akan mengantarkan pada keimanan, sebaliknya tidak mau menggunakan akal akan mendatangkan pengingkaran terhadap Pencipta. Penyebab manusia tidak mau menggunakan akal, boleh jadi karena malas, bisa juga karena kedudukan.


Penggunaan akal menjadikan pembeda antara mukmin dan non mukmin. Akal membedakan manusia beriman dan tidak beriman. Keimanan menjadi pembeda  manusia yang beruntung dan manusia yang celaka. Orang beriman akan mendapat syurga-Nya, sementara yang tidak beriman ditempatkan di neraka. Akal menjadi penentu manusia selamat dan celaka di akhirat.  Hadit Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam:

"Pena diangkat (dibebaskan) dari tiga golongan: (1) orang yang tertidur sampai dia bangun, (2) anak kecil sampai mimpi basah (baligh), dan (3) orang gila sampai ia kembali sadar (berakal)." (HR. Abu Daud).

Jadi akal adalah potensi kehidupan sangat istimewa diberikan Allah Subhanahu Wata'ala pada manusia. Keselamatan dunia dan akhirat berawal dari penggunaan akal. manusia dihisab di yaumul hisab juga karena akal. Untuk itu bertapa banyak perintah Allah agar manusia menggunakan akal. Allah mengajak manusia untuk memikirkan Penciptaan langir dan bumi beserta isinya, semua dijadikan berpasang-pasangan. Ajakan berpikir bagaimana langit ditinggikan, bumi di hamparkan, hujan diturunkan dari langit, dan bagaimana kapal berlayar di lautan. Tujuannya hanya satu agar manusia mempergunakan akal untuk mendekatkan diri, tunduk dan patuh pada-Nya. Wallahu A'lam Bisshawab.

 

Bumi Allah, 30 September 2020.



Kamis, 03 September 2020

BERSAHABAT DENGAN MASALAH

Kamis, September 03, 2020 0 Comments


Mentari tak selamanya bersinar, begitu juga malam tidak selamanya gulita. Justru dengan redup sinar mentari kita bisa menikmati semilir angin. Dengan pekatnya malam pertanda fajar akan menyingsing. 


Justru pergantian siang dan malam, benar-benar tanda bagi orang-orang yang berpikir. Menyadarkan orang yang berakal, tentangnya urgensi pergantian waktu. Pada akhirnya berkontribusi meningkatkan ketaatan pada Sang Pemilik Waktu.


Jangan pernah menolak gelap, disebabkan ketidakpahaman terhadap gulita.  Jangan pernah mengutuk panas, karena tidak mengerti manfaat sinar mentari. Jangan menolak sesuatu lantaran tidak suka. Sementara suka dan tidak suka bukan ukuran kebenaran.  


Terus Melangkah


Ibarat berjalan kita bisa terjatuh berkal-kali, untuk kemudian menemukan cara yang tepat dalam melangkah. Kita bisa saja gagal berulang-ulang, untuk selanjutnya menemukan strategi sukses dalam suatu bidang. Terus berjalan walau kaki sulit melangkah, sebab ayunan langkah mengantarkan kita ke tujuan. Kita tidak akan pernah sampai, ketika kita berhenti, apalagi tidak memulai dan tidak mau melangkah. 

  

Nikmati Proses


Hidup adalah perjuangan. Setiap perjuangan membutuhkan kerja keras, konsentrasi, dan kesungguhan. Bukan seberapa banyak keberhasilan kita, tetapi seberapa sabar dan istiqamah kita menjalani proses. Sebab pelajaran berharga bukan terletak pada hasil, tapi pada tahapan aktivitas mewujudkan hasil. Akan selalu ada pelajaran berharga pada setiap proses yang dilalui. 

Berani

Jangan paksa diri berlari bersama mentari, ketika kaki lelah melangkah. Cukup arahkan wajah ke depan. Tatap target dengan mata hati.  Revisi rencana sesuai kemampuan. Hadapi semua masalah dengan gagah berani. Katakan "Hai masalah tidak ada masalah besar, yang ada hanya Rabbku Yang Maha Besar." Kita tidak harus menjadi sempurna di mata orang-orang, sebab kita punya jadi diri, bakat, dan potensi berbeda  dari orang lain. Setiap kita punya pijar di antara gulita malam.

Mengukur Kesungguhan

Setiap  rintangan perjalanan adalah cara terbaik mengukur kekuatan tekad, kesungguhan, dan keseriusan. Kadang kita tidak sungguh-sungguh melakukan sesuatu.  Kadang tekad kita lemah didistorsi keraguan. Kehadiran masalah membuat kita sadar bahwa kita harus sungguh-sungguh memperjuangkan tujuan. Kendala bisa saja batu loncatan agar kita bisa melompat lebih tinggi. 

Tetap Optimis

Tetap optimis menatap masa depan. Sebab hidup tidak bergerak ke belakang. Jika lelah kita boleh istirahat, sembari menghitung kekuatan diri, dan bekal perjalanan. Hirup udara segar hembuskan berlahan. Hindari polusi yang membuat nafas sesak. Jika tenaga pulih lanjutkan perjalanan, sebab di sana sukses menanti. 

Rencana Rabbmu Terbaik

Hadirnya masalah, tak lantas membuat kita terpuruk. Meratapi nasib. Jika tujuan kita tercapai itu memang rencana kita, namun ketika tujuan kita tidak tercapai itulah rencana Allah. Allah mengabulkan kebutuhan kita. Namun tidak mengabulkan setiap keinginan kita. Dan itulah yang terbaik. Ketika satu pintu tertutup, maka pintu-pintu lain dibuka oleh Allah. Kita tidak tahu alasan ditutupnya suatu pintu. Mana tahu di belakang pintu ada jurang kerusakan. Kita hanya perlu berusaha  menemukan pintu yang lain.


Kesimpulan


Jangan ditolak gulita malam, lantaran kita tidak paham cahaya. Tapi pelajari, pahami, dan kuasai materi cahaya kita bisa membedakan mana cahaya mentari dan mana cahaya lilin. Jangan samakan setiap cahaya. Sebab sumber dan hakikatnya berbeda. Syukurilah kegelapan, sebab kegelapan itu menyingkap tekad untuk lebih memahami dan memperjuangkan cahaya.


Wallahu A'lam Bisshawab.


Sabtu, 29 Agustus 2020

HIKMAH SAHABAT TAAT

Sabtu, Agustus 29, 2020 0 Comments


Sahabat taat, indah didengar, sejuk dipikirkan, senang dilihat, dan menyelamatkan di dunia, dan memberi syafaat hingga akhirat.

Perspektif Sahabat Taat

Mungkin ada di antara kita berpendapat, "Ah Teori" mana ada zaman now sahabat seperti itu. Jangankan memberi syafaat di akhirat, ketulusan persahabatan di dunia aja susah didapat. Sering berselisih, bahkan konflik jadi romantika harian.  


Mungkin ada yang meyakini, jangankan sahabat taat, yang peduli dan empati dari hati sulit dicari. Senyum saja pakai pretensi. Tersenyum jika ada mau, maksud, ada udang di balik bakwan...eh batu. Hari ini sangat langka persahabatan tanpa pamrih.


Namun tahukah kita...mengapa kita langka bertemu sahabat taat? Dan kita belum menemukan sahabat taat. Barangkali hidup kita masih dicekoki pemikiran  trend kekinian, bernuansa kapitalis, liberalis, materialistis, dan hedonis. Bersikap baik kepada orang lain, jika orang lain itu juga baik dan bermanfaat. 


Semua diukur dengan manfaat. Kita seakan menjadi orang pragmatis berpikir praktis. "Jika tidak ada untung, mengapa harus berteman denganya". Jika tidak memberikan manfaat bagi saya, ngapain repot-repot peduli." Kita seakan terlalu lugu ('Lu, Lu, Gua, Gua)....ha...ha.


Ada kesan dalam hidup  jaman now, semua nilai persahabatan seperti nilai insaniyah, ruhiyah, khuluqiyah sirna, hanyut dibawa arus nilai materi (madiyah). Akibatnya, pengkhianatan, gunjingan, sikut mengikut, sakit hati, dendam, permusuhan, dan pendangan sinis mewarnai interaksi dan pergaulan kita. Sehingga tidak heran ada ungkapan, "Tidak ada teman yang abadi, tidak ada musuh yang abadi, yang ada hanya kepentingan yang merajai...eh abadi."

Hikmah Punya Sahabat Taat

Makanya tiada nikmat senikmat-nikmatnya, tiada sesyukur-sesyukurnya jika kita memiliki sahabat terkasih, dan serelung hati. Sahabat tersayang bukan kepalang. Dia menerima diri kita apa adanya. Di saat susah maupun senang. Dia yang merangkul diri kita, di saat sedih maupun bahagia.


Paling luar biasa adalah sahabat taat. Suka ngomelin kita kalau kita salah. Hampir keliru saja langsung diceramahi. Mendiskusikan dengan serius jika keliru kita selangit. Mengingatkan untuk terus di jalan yang lurus.  Belok sedikit langsung menjewer telinga. Kalau putar arah langsung dikejar  dan menyalib kita dari belakang. Tidak pernah bosan tuk ingatkan selalu beramal shalih.


Sahabat taat, yang  menguatkan hati tuk tetap melangkah dan istiqamah. Kita mengeluh sedikit saja, dia menyemangati, bahwa derita kita belum apa-apa dibanding para sahabiyah. Jika kita merasa lemah, dia ingatkan komitmen kita, bahwa kita berjual beli dengan Allah Subhanahu Wata'ala. Jika kita melanggar hukum syarak dia selalu sebutnya pertanggungjawaban di Yaumul Hisab dan panasnya neraka. Itulah sahabat, yang seiring sejalan dalam ketaatan dan selalu mengajak ki pada kenikmatan surga Allah. 


Tiada keindahan seindah permata, selain sahabat taat, seperjuangan bercita-cita surga. Takkan mampu dibayar dengan intan berlian paling mahal. Dialah sahabat yang mempersamai kita dunia akhirat. Senada dengan ungakapan Umar bin Khattab:


“Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (sesama muslim) yang saleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang saleh maka pegang lah erat-erat.” [Quutul Qulub 2/17]


Bahkan jika kita masuk neraka, pun dia selamatkan, dengan syafaat yg diberikan Allah Subhanahu Wata'ala. Imam Muslim meriwayatkan dalam haditsnya bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, “Hingga setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan keselamatan untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari Kiamat. Mereka memohon, Wahai Rabb kami, mereka itu (sebagian yang tinggal di neraka) pernah berpuasa, shalat, dan juga haji bersama kami.”


Lalu dikatakan, ‘Keluarkan (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal.’ Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka. Kemudian para mukminin ini pun mengeluarkan banyak saudaranya yang telah dibakar di neraka. Kemudian orang mukmin itu berdoa:  “Wahai Rabb kami, orang yang Engkau perintahkan untuk dientaskan dari neraka sudah tidak tersisa.” (HR.Muslim)

Mencari Sahabat Taat

Itu di antara keagungan sahabat taat. Namun tidak semua orang berminat. Seakan sulit didapat, kecuali dalam kisah para sahabat. Sebenarnya logika kita yang kurang tepat. Mencari sahabat taat dengan alasan sesaat.  Mengutamakan asas manfaat, terkesan salah niat. Makanya sahabat taat langka didapat. Mungkin diri kita yang belum pantas untuk mendapat sahabat taat. Sebab, seperti diri ini yang masih jauh dari taat. Maka sah-sah saja belum ketemu dan dipertemukan dengan sahabat taat. 


Kata murabbi saya, jika ingin mendapatkan sahabat taat. Carilah dia di majelis-majelis ilmu. Di liqa'-liqa' Di kajian-kajian Islam. Di sana berlangsung majlis dzikir, dinaungi dan dido'akan para malaikat. Di tempat itu, kita akan temukan sahabat sevisi, semisi, sestrategi, dan seperjuangan. Memperbaiki diri tiada henti. Tholibul 'ilmi tuk berkepribadian Islami. Di sana akan berkumpul hati-hati penuh kasih, seiring sejalan menuju ridha Ilahi.


Memang kita akui, sekarang masa pandemi. Kurang kondusif mencari sahabat taat dalam kehidupan sehari-hari. Apa salahnya kita ikuti kajian online. Bergabung banyak komunitas kajian Islami. Asalkan ada niat paling tulus di hati, insyaa Allah diberi kemudahan. Hanya saja diri ini terlalu egois untuk duniawi. Lebih memilih komunitas ilmiah, literasi, kadang ibu sosialita agar eksistensi diakui. Mengikuti trend terkini, seolah komunitas kita paling bergengsi. Meskipun kadang kesadaran terdalam meronta tak terperi, karena tidak mendapatkan faedah dan makna di sisi Ilahi. Selain capek dan rugi duniawi dan ukhrawi.


Sahabat taat diperjuangkan dengan meningkatkan taat diri lebih dahulu. Jika kita menginginkan sahabat taat, diri sendiri belum taat, tentu tidak akan mau bersatu antara penjual minyak wangi dengan tukang besi. Tentu akan sulit seirama dalam kata dan tingkah laku. Yang satu membolehkan riba, yang lain menganggap riba dosanya luar biasa. Setiap hari akan  berselisih tentang hukum syarak yang haramnya sudah pasti, bersumber dari dalil qarh'i. Satu suka bersolek (tabarruj) yang lain bersolek hanya di depan suami, mungkin menilai teman tidak satu frekuensi. Akhirnya berpisah di simpang jalan, karena berbeda kecenderungan.


Memang susah-susah gampang menemukan sahabat taat. Banyak susahnya dari pada gampangnya. Namun bukan berarti mustahil untuk dilakukan. Mencari jodoh shalih dan shalihah saja susah, kata jofisa jumlahnya "satu banding seribu" mungkin sahabat taat juga begitu. Tapi bukan berarti kita menghentikan langkah, karena lelah. 


Mengejar kebaikan itu butuh kerja ekstra. Tidak cukup hanya berdo'a, lalu kita menunggu Allah mengirimkan bidadari tanpa sayap  dari surga. Kalau di surga memang seperti itu, ketika ingat langsung datang. Ini dunia Sister Fillah...semuanya butuh perjuangan, karena memang sunatullahnya dunia tempat berjuang. Bukan untuk bersenang-senang. Kalau untuk bersenang-senang besok, di surga...Insyaa Allah semua kita akan pulang kampung ke sana...


Mencari dan menemukan sahabat taat itu sangat perlu. Hal ini diingatkan oleh Imam Syafi'i, "Jika engkau punya teman yang selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah, maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah kau lepaskan. Karena mencari teman baik itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah sekali."


Kadang logika dan nafsu kita  berkata "Untuk apa punya sahabat nyinyir seperti itu, sedikit-sedikit taat, sebentar-sebantar Allah. Itu bisikan setan Sisterfillah...Waspadalah, setan selalu bergembira di atas dosa dan maksiat kita. Nanti di akhirat ia akan berlepas tangan alias tidak bertanggung jawab. Dia sampaikan pidato paling menyentuh hati di hadapan penghuni neraka. Pidato setan ini diabadikan Allah dalam surat Ibrahim ayat 22, artinya:


 “Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: ‘Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekadar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.’ Sesungguhnya orang-orang yang dhalim itu mendapat siksaan yang pedih." (QS. 14:22)


Untuk itu, sesekali kita kita eksekusi pendapat Al Hasan Al Bashri, "Perbanyaklah sahabat-sahabat mukminmu, karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat.''


Ibnul Jauzi pun pernah berpesan kepada sahabat-sahabatnya sambil menangis, ''Jika kalian tidak menemukan aku di surga bersama kalian, maka tolonglah bertanya kepada Allah tentang aku, 'Wahai Rabb kami, hamba-Mu fulan sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau. Maka masukanlah dia bersama kami di surga-Mu.''


Ya Rabb...bantu hamba menemukan sahabat taat...dan perbanyaklah Sabahat taat hamba dari yang ada sekarang, aamiin.


Bumi Allah, 29 Agustus 2020.



Kamis, 20 Agustus 2020

HIJRAH SEBAGAI TRANSFORMASI DIRI MENUJU RIDHO ILAHI

Kamis, Agustus 20, 2020 0 Comments


Waktu berlalu meninggalkan setiap hamba Allah. Tanpa peduli dan tanpa kompromi, datang tahun baru Islam, 1 Muharram 1442 H.

Sementara diri ini masih seperti itu, seperti itu saja, tidak berubah, berbenah, apalagi hijrah. 

.

Perkataan menohok diri ini,  yang kadang enggan melakukan perubahan. Suatu hari, Ibnu  Mas'ud menyesal, karena waktu berlalu, ajalnya berkurang, tetapi amal shalihnya tidak bertambah. Seorang shalih, dan bertaqwa sekaliber Ibnu Mas'ud, yang hari-harinya penuh dengan kebaikan masih menyesal, apatah lagi diri ini, manusia biasa penuh khilaf dan salah.

.

Ulama lain pun menyatakan, "Siapa yang melalui harinya bukan untuk kebenaran, atau fardhu yang ditunaikan, maka dia telah mendurhakai waktunya, dan mendzalimi dirinya." Aku semakin merenungi hidup ini. Betapa banyak hari kulewati yang menyelisihi kebenaran. Ghibah tanpa sadar dikerjakan. Maksiat kecil kadang dilakukan. Perbuatan fardhu atau wajib sering dilalaikan.  Shalat wajib kadang di ujung waktu dilaksanakan. Shalat  terburu-buru tanpa dzikir dan permohanan (do'a). Belum lagi dosa lain di luar pengetahuan. 

.

Jika aku baca lagi pendapat Al-Hasan al-Bashri, seorang tabiin agung pernah berkata "Wahai Anak Adam, kalian adalah kumpulan hari. Jika sehari berlalu, maka sebagian dirimu telah hilang." Anak Adam atau cucu Adam 'Alaihi Salam semua insan termasuk diri ini.

.

Semenjak lahir ke dunia, aku adalah kumpulan hari. Jika sehari berlalu, maka sebagian diriku telah hilang. Artinya hilang kesempatan beramal shalih, hilang waktu memperbanyak taubat, dan berbuat maslahat. 


Tanpa kusadari, tahun 1441 H telah berlalu. Aku hanya bisa mengenang dan memuhasabah diri. Baru secuil kebaikan yang kulakuka.  Banyak keburukan yang ditorehkan.  Amal shalih entah bagaimana? Infak dan pertolongan belum seberapa untuk agama Allah. Padahal di Yaumul Hisab nanti, semua cacatan amal dibuka, semua peristiwa akan diceritakan tanpa tabir. QS. Al-Zalzalah ayat 4, artinya "Pada Hari itu (Kiamat) dia akan menceritakan peristiwanya."

[Q.s. Az-Zalzalah 4]


Untuk itu,  hari ini, Kamis, 1 Muharram 1442 H, saatnya aku membuat resolusi hijrah maknawiyah. Memaknai hijrah sebagai transformasi diri menuju Ridha Ilahi. Sebab puncak kebahagiaan seorang hamba adalah Ridha Allah Subhanahu Wata'ala.

.

1. Transformasi Pemikiran


Pemikiran ini masih banyak jahiliyahnya. Aku harus hijrah dari pemikiran bahwa hidup hanya sekadar lahir, bayi, anak-anak, remaja, dewasa, menikah, bekerja, lansia, dan wafat, ke pemikiran bahwa hidup adalah ibadah.

.

Hidup itu dari Allah, untuk Allah, dan untuk kembali kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Ini harus dijawab dengan aqidah Islam, suatu pemikiran yang menyeluruh tentang alam, manusia dan kehidupan, kaitan antara sebelum dan sesudah kehidupan ini. Hidup untuk beribadah bukan hanya retorika, sekadar pemanis pembicaraan. Namun benar-benar direncanakan, diniatkan secara matang, lengkap dengan  strategi terbaik untuk merealisasikan visi abadi, "Bahagia di sisi-Nya"

.

2. Transformasi Standar Perbuatan


Sebagai manusia lemah, faqir iman dan ilmu, biasanya aku mengukur segala sesuatu dengan kenikmatan dan kepuasan. Makan untuk memuaskan nafsu makan. Berumah tangga sekadar memuaskan sexual instink. Bekerja untuk memuaskan ego atau survival instink. Maka hijrah adalah momentum strategis bagiku untuk mengubah standar makanan dengan ukuran halal atau haram. Rezeki yang halal saja yang dimakan, dan yang haram harus dihindari segenap kemampuan.


Hijrah menjadi kesempatan emas, mengubah standar perbuatan dengan sunnah, wajib, mubah, makhruh, dan haram. Optimalkan perbuatan Sunnah dan wajib, dan hindarkan seoptimal mungkin perbuatan haram dan makruh. Sementara mubah boleh dilakukan atau ditinggalkan. 

.

Dengan cara mengubah standar hidup, aku bisa menyelamatkan diri ini. Memaksimalkan catatan pahala, meminimalisir catatan dosa.  Dengan cara ini pula, aku mempersiapkan hujjah (arguemtasi, atau alasan) di pengadilan Allah, di Yaumul Hisab nanti. Ketika semua amalku diperiksa, diadili, divonis, ditimbang, dan diberi kitab amal, semoga diri ini, salah satu dari ashabul Yamin. Aamiin.

.

3. Transformasi Ikatan Kemanusiaan


Selama ini, pola interaksi dengan manusia berdasarkan kepentingan dan asas manfaat. Terjebak dengan pemikiran pragmatis, individualis, materialis dan hedonis.  Jika merasa suatu interaksi, pertemanan sesama manusia tidak memberi manfaat atau menguntungkan, ditinggalkan.

.

Akhirnya aku sadar, ternyata ikatan paling agung adalah ikatan aqidah. Ikatan aqidah paling kokoh sampai akhirat, full manfaat.  Sabahat dalam taat kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Memberi syafaat bahkan penyelamat dari api neraka (ada tulisanku tentang ini, suatu saat insyaa  Allah  diposting). 


Sesama muslim bersaudara, ibarat satu tubuh. Ummatan wahidah. Tidak terikat nasab, suku, asal daerah, sekampung, dan lainnya.  Seperti yang dicontohkan oleh Kaum Muhajirin (Dari Mekkah) dan kaum Anshar (di Habasyah/Madinah). Kisah ini sering dibicarakan ustads dalam ceramah, peringatan 1 Muharram. 


4. Transformasi Pemahaman tentang Ukuran Kebehagiaan


Dulu menurutku bahagia adalah jika semua keinginan dan nafsu terpenuhi. Aku tidak peduli cara mendapatkannya bagaimana, yang penting aku puas. Namun ternyata aku keliru.  Bahagia parameternya Ridha Allah Subhanahu Wata'ala. 

.

Tidak masalah kita kaya asalkan Allah Ridha. Tidak masalah kita tidak memiliki apa-apa asalkan Allah ridha. Sebab bahagia terletak di hati yang qana'ah. Bahagia terletak dalam hati (internal) bukan di luar hati atau di luar diri (eksternal). 

.

Jika berkaca pada para sahabat Nabi, seperti Salman Al Farizi, seorang miskin tapi ia merasa bahagia. Abdurrahman bin Auf sahabat terkaya kemudian uangnya diinfaqqan semua di jalan Allah. Abu Bakar Ash-Shiddiq yang menghabiskan uangnya di jalan Islam. Belum lagi Khadijah binti Khuwailid, istri Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Seorang saudagar perempuan, kaya raya, keturunan bangsawan, semua kekayaannya habis membiayai dakwah Rasulullah, toh mereka semua bahagia.  Tidak sekadar bahagia di dunia, namun Allah sendiri yang menyampaikan salam kepada mereka dan memberi kabar gembira atas imbalan surga untuk pengorbanan mereka. 


Aku semakin paham bahwa status paling mulia di sisi Allah adalah taqwa. Kesejahteraan hakiki adalah ketika selamat dari sirath, dan masuk surga. Kerinduan sejati seorang mukmin atau mukminah adalah melihat wajah Allah Subhanahu Wata'ala dalam posisi paling dekat.  

.

Minimal empat bentuk transformasi diri yang harus kulakukan, sebagai hasil memaknai kembali tentang hijrah. Kadang aku malu dengan diriku ketika membaca pendapat seorang ahli strategi perang Israel, Moshes Dayan (1915-1981) yang menyatakan bahwa kelemahan utama umat Islam adalah malas baca sehingga literasinya jeblok, anjlok, dan rendah. Seandainya pun membaca, ia tidak mengerti. Jika ia mengerti, tetapi tidak bertindak. Inilah yang makin memperburuk citra Islam. 

.

Maka tidak ada yang dapat kulakukan, selain melakukan transformasi diri, yaitu HIJRAH. Agar eksistensi penciptaanku sebagai hamba ('abdun) benar-benar terealisasi. Aamiin.

.

Selamat Tahun Baru Islam

1 Muharram 1442 H

Mohon maaf atas semua kesalahan.

Rabu, 19 Agustus 2020

MET MILAD BUKAN BUDAYAKU

Rabu, Agustus 19, 2020 0 Comments

 

Dulu aku sama seperti sahabat...pernah mengucapkan selamat ulang tahun atau met milad kepada keluarga, guru, dosen, dan teman-teman. Menurutku ketika itu, mengucapkan met milad suatu ritual wajib, rasanya berdosa jika tidak mengucapkan itu. Ketika itu, aku masih jahil dalam hidup ini. Boleh jadi gelar ada, namun ternyata pengetahuan agamaku tidak berbanding lurus dengan pengetahuan  akademikku.

 

Sampai suatu hari, aku mengucapkan met milad kepada murabbiku. Niatku rasanya bagus, untuk menghormati dan menghargai guruku. Tatkala itu murabbiku...diam saja tidak menjawab aamiin, apalagi terima kasih. Siap belajar, beliau memberikan tulisan pada kami murid-muridnya. Katanya untuk kami pelajari. Biar kami tidak kelirulogi. Ternyata uraian demi uraian dalam tulisan itu menampar sadarku, membuat aku terduduk lemas, menyadari betapa bodohnya aku. Sering ikut-ikutan, latah, ingin dianggap modern, dan kekinian.

 

Sahabat...! aku bukan siapa-siapa. Tujuanku hanya satu, berbagi pengetahuan tentang pragmen hidup yang pernah kujalani. Semoga menjadi ibrah bagi sahabat semua. Jika ada yang setuju, menerima, ragu, atau menolak, itu hak kita.

 

Sejarah Ulang Tahun

 

Jika dicermati ternyata ulang tahun tidak ada dalam Al-Qur’an. Ulang tahun hanya ada dalam Injil Matius 14:6,  Tetapi pada hari uang tahun Herodes, menarilah anak Herodes yang perempuan, Herodias, di tengah-tengah mereka akan menyukakan hati herodes.” Kemudian pada Injil Markus 6:21, “Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada hari ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang –orang yang terkemuka.”

 

Tidak hanya berbahasa Indonesia dalam kitab Bible, Matthew 14:6 and Mark 6:21, “Celebrating of birthday is Paganism, and Jesus (Isa, peace be upon him) doesn’t to do it, but Herod.” Sama halnya pada Matthew 14:6  But when Herod’s birthday was kept, the daughter of Herodias danced before them, and pleased Herod."

 

Secara historis, jika dibaca dalam buku (A.D. El. Marzdedeq, berjudul Parasit Aqidah Jakarta: Syaamil, hal 298) dikemukakan beberapa penjelasan. Pada masa-masa awal Nasrani generasi pertama (Ahlul Kitab atau Kaum Kawariyyun atau Pengikut Nabi Isa) mereka tidak merayakan Upacara UlangTahun, karena mereka menganggap bahwa pesta ulang tahun itu adalah pesta yang munkar dan hanya pekerjaan orang kafir Paganisme. Namun kemudian orang Nasrani yang pertama kali mengadakan pesta ulang tahun adalah orang Nasrani Romawi. Dengan cara beberapa batang lilin dinyalakan sesuai dengan usia orang yang berulang tahun. Sebuah kue ulang tahun dibuatnya dan dalam pesta itu, kue besar dipotong dan lilinpun ditiup.

 

Berdasarkan penjelasan Marzdedeq di atas, izinkan aku berpendapat, bahwa tradisi ulang tahun bukan tradisi yang muncul dari agama Islam, namun tradisi orang-orang Yahudi, Nasrani, dan kaum Paganisme. Jadi, aku pikir kurang pas, jika aku ikut merayakan sesuatu yang bukan berasal dari agamaku. Terlepas dari hukumya apa, cukuplah pemahaman jahil dahulu menghukumku dengan rasa bersalah. Aku bertaubat, aku sangat berharap Allah Subhanahu Wata’ala mengampuni dosa-dosakuku. Kala itu, pengetahuanku minim tentang aqidah, sehingga aku terjebak dalam ritual paganisme ini.

 

Dulu dan sampai hari ini, masih kulihat di televisi, media massa. Bahkan di medsos sangat gencar menyiarkan dan mempublikasikan seremonial megah ini. Coba lihat, cerita seleb tanah air, betapa besar biaya yang dikeluarkan untuk merayakan hari lahirnya.

 

Ketika anak-anakku sekolah di PUAD, TK, dan SD dulu, hampir satu kali seminggu membawa sekantong makanan pulang sekolah. Kata mereka “Beberapa teman ulang tahun Bu. Kami di kasih ini oleh Umminya.” Anakku sengaja aku pilihkan Sekolah Islam, agar mereka terhindar dari ritual-ritual semacam ini. Tapi, itulah...akupun tidak bisa komentar apa-apa.

 

Bahkan aku sendiri di tempat kerja, di medsos, dan dalam kehidupan nyata mendapatkan ucapan “Met milad, barakallah fi umrik...semoga makin dewasa dan makin sukses ya Sob.” Di Medoso biasanya aku jawab emoji saja. Tidak mengucapkan terima kasih. Namun di dunia nyata, biasanya aku tersenyum saja, jika memungkinkan aku berdiskusi tentang ini.

 

Hanya sedikit sekali yang kupahami, bahwa mengucapkan selamat ultah atau milad kepada siapa pun yang sedang ulang tahun, pada hari kelahiran tidak pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. Padahal menurut pikiran bodohku, Rasulullah adalah orang yang paling mengerti cara berinteraksi, bersosialisasi, berkomunikasi, dan bergaul dengan masyarakat. Rasulullah tahu persis bagaimana menyenangkan dan menghormati sahabat-sahabat dan keluarga Beliau. Rasulullah paling paham cara mensyukuri setiap nikmat, rahmat dan anugerah Allah Subhanahu Wata’ala. Rasulullah paham betul. Tapi mengapa Rasulullah tidak melakukannya?, Mengapa para sahabat, tabi’in, tabit tabi’in, dan para shalafus shalih tidak melakukannya? Ini yang membuatku berpikir untuk mencari jawaban terbaik dan memuaskan rasa ingin tahuku.

 

Mencermati Beberapa Sabda Rasulullah

 

Kembali aku ulangi, aku bukan sok alim, aku bukan siapa-siapa di dunia ini, hanya pendosa. Ini hanya caraku berbagi sesuatu.

 

Ada Hadits, yang artinya “Sebaik-baik umat manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi’in) dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi’ut tabi’in).” (H.R. Mutafaqun ‘Alaih). Hadit ini menjadi pegangan bahwa Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam, para shabat, tabi’in, dan tabit tabi’in saja yang sudah mendapat gelar khusus sebagai manusia dan generasi terbaik tidak merayakan hari ultah. Apalagi aku yang bukan siapa-siapa, hanya manusia pendosa, setiap hari ada aja hukum syarak yang tidak dipahami, akhirnya dilanggar.

 

Rasulullah Shallallahu ‘Laihi Wasallam bersabda: “Kamu akan mengikuti cara hidup orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga jika mereka masuk ke dalam lobang biawak kamu pasti akan memasukinya juga”. Para sahabat bertanya, ”Apakah yang engkau maksud adalah kaum Yahudi dan Nasrani wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: ”Siapa lagi jika bukan mereka?!” Berdasarkan hadits ini, aku kawatirkan diriku, anak-anakku latah dan ikut-ikutan cara hidup orang-orang non Islam, sedikit demi sedikit. Ketidaktahuanku tentang ini bisa jadi menyeretku untuk latah merayakan sesuatu yang tidak ada dalam agamaku. Kadang demi menyamakan kebiasaan, agar seirama dan satu frekuensi dengan orang lain, kita ikut-ikutan sesuatu yang unfaedah. Apalagi ada dalih “Sekarang semua orang telah merayakan ultah, masa kita saja yang tidak merayakan, apa kata dunia?.”

 

Hadits berikutnya, artinya “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.”( HR. Ahmad dan Abu Daud dari Ibnu Umar). Hadits ini banyak digunakan oleh teman-teman yang tidak mau merayakan ultah. Tidak apa-apa sih, yang penting ketika mecermati fenomena kehidupan, kita sedikit paham dalil. Kita harus tahu juga bahwa Allah telah wanti-wanti mengingatkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra ayat 36“ Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran , pengelihatan, dan hati, semuannya itu akan diminta pertanggung jawabannya.”
(QS. Al-Isra’:36). Kemudian dalam Al-Qur’an Surat Annur ayat 15, “… dan kamu mengatakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikitpun juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (QS. an-Nuur : 15)

 

Ya Rabb...hadits dan ayat-ayat di atas makjleb bener buatku. Aku yang dulu ikut-ikutan sesuatu, karena tidak mengerti hukum syarak, tanpa mengerti dari mana asal perayaan itu, aku latah memperingati ulang tahun. Aku meninggalkan tuntutan yang ditinggalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Padahal aku sedikit tahu Rasullullah telah meninggalkan dua pedoman (Al-Qur’an dan Hadits) jika aku berpegang teguh pada keduanya, niscaya aku akan selamat. Tidak saja selamat di dunia, namun selamat sampai akhirat. Namun jarang aku baca, aku pelajari jika ada waktu luang saja.

 

Dulu, aku pernah menghadiri acara ulang tahun, karena kejahilanku. Terkecoh ketika itu, acara ulang tahun, namun berlabel syukuran, dan selamatan. Setelah sampai di tempat acara, baru aku tahu ternyata acara ulang tahun. Teman-teman ketika itu mengucapkan “Selamat Milad, Met Milad, Barakallahu fii Umrik. Aku juga ucapkan Barakallah fii umrik (berkah Allah atas umurmu). Aku benar-benar latah. Aku kira dengan ucapan itu agak Islami, karena memang lebih kedengaran Islami, dengan bahasa Arab. Mengganti selamat ulang tahun dengan met milad..., didahului dengan membaca basmalah, dan diakhiri dengan ucapan alhamdulillah. Islami banget menurutku ketika itu.

 

Belakangan baru aku tahu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan umatnya, “Barangsiapa beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami padanya,  maka amalan tersebut tertolak (tidak diterima oleh Allah).” (HR. Muslim). Hadits ini menohokku, betapa banyak perbuatanku yang hanya ikut-ikutan, tidak ada perintah Allah dan Rasulullah tentang hal itu. Boleh jadi akal pikiranku menganggapnya baik, padahal baik (khair) dan buruk (syar) landasannya aturan Allah dan Rasulullah,  bukan akalku yang terbatas, apalagi kebiasaan. Meskipun logika bodohku kadang berpikir, Nabi, para sahabat, dan para shalafus shalih, jika beranggapan perbuatan ultah itu baik, maka beliau-beliau itu pasti lebih utama mengamalkannya. Namun mereka tidak mengamalkannya, berarti perbuatan itu tidak dikategorikan baik.

 

Sebenarnya aku bisa berpikir, ketika sampai di hari kelahiran, berarti satu tahun usiaku berkurang. Semakin berkurang umurku, semakin dekat aku dengan kamatian. Meskipun kematian tidak tergantung umur. Idealnya aku mempersiapkan bekal kematian, bekal amal pahala yang akan aku bawa menghadap Allah Subhanahu Wata’ala. 

 

Benar kata murabbiku...”Setiap muslim dtuntut untuk muhasabah setiap hari, karena setiap saat, detik, menit, dan jam yang dilalui tidak akan pernah kembali. Semua perbuatan yang tidak bermanfaat tidak akan berguna, dan tidak akan menolong di akhirat, kecuali iman dan amal shalih.”

 

Untuk itu semua, sudah sekian lama aku meninggalkan tradisi mengucapkan selamat ulang tahun, dan tradisi merayakan hari ulang tahun. Maafkan aku sahabat...jika di hari lahirmu aku tidak mengucapkan selamat milad, barakallah fii umrik. Cukuplah doa terbaik, yang kumohonkan kepada Allah setiap shalat untuk kebaikan sahabat. Semoga setiap do’aku untukmu diijabah oleh Allah Subhanahu Wata’ala, dan menjadi pahala bagiku.

 

Bumi Allah, 19 Agustus 2020/

 

 

Selasa, 18 Agustus 2020

MENGEMBAN DAN MENUNAIKAN AMANAH

Selasa, Agustus 18, 2020 0 Comments

 

Tiada iman pada seseorang yang tidak menunaikan amanah, dan tiada agama pada seseorang yang tidak menunaikan janji." (HR.Ahmad dan Ibnu Hibban)

Amanah itu berat, seberat apa yang diamanahka, dititipkan atau dipercayakan. Jika dipercayakan uang sepuluh ribu, maka amanah itu beratnya sepuluh ribu. Jika dimanahkan itu jabatan, maka berat amanah itu seberat jabatan. Apalagi jika diamanahkan menjaga umat, dan mengajaknya kepada kebaikan dan meninggalkan kemungkaran. Maka amanah ini luar biasa berat. Bukan berat ringannya yang jadi persoalan, namun akuntabilitas kepada manusia yang mengamanahkan, Bahkan lebih berat lagi mempertanggungjawabkan amanah tersebut kepada Allah Subhanahu Wata’ala di Yaumul Hisab nanti.

Amanah bagiku amat berat, mengemban amanah ilahiyah dan nubuwah itu amat sangat berat. Meskipun demikian amanah ini harus kuemban. Secara alamiah perjalanan hati, akal, dan amalanku sudah mengehnadaki agar aku mengambil amanah ini. Sudah empat tahun berlalu, aku mengenal bahwa hidup bukan hanya sekadar hidup. Namun hidup adalah menjawab pertanyaan besar hidup ini. Itu sudah kudapati melalui tholibul ‘ilmi.

September 2016 lalu, aku mengenal risalah nubuwah lewat sahabat taat. Kini hampir September 2020. Berarti hampir empat tahun aku mendalami keyakinan, arah, dan visi hidupku. Sudah tiga panduan besar kuselesaikan, itupun harus mengulang satu panduan agar pemahamanku mantap. Selama tiga pertemuan setiap pagi Rabu berturut-turut, semenjak 22, 29 Juli, 05 dan 12 Agustus mengkaji dan memahami lembaran-lembaran cinta. Tepatnya Hari Rabu 12 Agustus 2020 jam 10.30 aku dan seorang temanku menerima dan mengambil amanah terberat ini. Bismillah...mudahkan hamba Ya Rabb. Hari ini aku ambil amanah terberat ini. Jika nanti di jalan ini aku harus kembali, mudahkan jalanku menuju-Mu Ya Rabb.

Sepekan sebelumnya sudah disugesti, agar aku beristigfar, memohon ampun, mohon petunjuk, shalat istikharah, menguatkan hati untuk mengambil tanggung jawab ini. Hari ini aku diingatkan kembali, dengan segala beban, amanah, dan tanggung jawab yang harus kutunaikan. Ya Rabb, meskipun akalku berbisik gamang, namun ini pilihan terbaik dan terpenting sepanjang hidupku. Di lembaran ini aku mencoba mentarbiyah diri, agar mampu menunaikan amanah berat ini. Cara berikut mungkin meringankan bebanku memikul amanah ini.

Cara Mengemban Amanah

1.    Niatkan menerima amanah karena Allah Subhanahu Wata’ala

Hidup tidak lepas dari amanah, sebab “Setiap orang dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban." (HR Muslim). Setiap kita adalah pemimpin bagi diri kita sendiri. Dan setiap apa yang kita pimpim akan diminta pertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala. Dengan demikian amanah itu banyak. Menjadi muslim, mukmin, muttaqin, muhlisin adalah amanah. Menjadi istri, suami, ibu, ayah, anak adalah amanah. Menjadi karyawan, atasan, dan jadi apapun kita adalah amanah. Maka terima setiap amanah karena Allah, bagi Allah, untuk Allah. Bukan untuk orang yang mengamanahkan.

Boleh saja orang yang mengamanahi lengah. Tidak meminta apa-apa, tidak ada akuntabilitas. Tidak minta laporan pertanggungjawaban. Kecuali komitmen hati, dan janji pribadi masing-masing. Hal itu tidak lantas menjalankan amanah sesuka hati. Yakinlah meskipun manusia lengah, Allah Subhanahu Wata’ala tidak pernah lalai, lupa, dan melupakan. Sekecil apapun perbuatan, perkataan, gerak langkah, bahkan bisikan hati, selalu dalam pantauan-Nya. Suatu saat akan dimintai pertanggungan jawab.

2.    Yakinkan diri, menjaga amanah adalah jalan ke surga Firdaus

Amanah itu berat. Saking beratnya tidak semua orang mau menerima amanah. Banyak yang enggan terlibat dalam proyek besar kehidupan. Menikmati zona nyaman. Hidup mapan. Aku harus yakin dibalik beratnya amanah, pasti Allah memberikan besarnya imbalan. Melipatgandakan kekuatan. Bukan semata karena imbalan amanah ditunaikan, namun karena rasa malu diri ini terhadap Rabb yang menciptakan.

Maka orang-orang yang menunaikan amanah dirindukan surga Firdaus. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, artinya: Orang-orang yang menunaikan amanah dan menepati janji...mereka itulah yang mewarisi, yakni mewarisi Surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya (QS al-Mu'minun [23]: 8-11).

Demikian juga sebaliknya. Bagi orang yang mengkhianati amanah mendapatkan konsekuensi yang bersangatan. Allah Subhanahu Wata’ala mengharamkan sikap mengkhianati amanah, sebagaimana firman-Nya, yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul-Nya. Jangan pula kalian mengkhianati amanah-amanah kalian. Padahal kalian tahu (QS al-Anfal [8]: 27).

Menurut Ibnu Abbas ra. ayat di atas bermakna, "Janganlah kalian mengkhianati Allah SWT dengan meninggalkan kewajiban-kewajiban-Nya. Janganlah kalian mengkhianati Rasul saw. dengan meninggalkan sunnah-sunnahnya. Janganlah kalian bermaksiat kepada keduanya." (Al-Qinuji, Fath al-Bayan, 1/162).

3.    Mencontoh para sahabat dan shalafus shaleh

Orang yng diberi amanah bukan hanya kita, namun orang-orang terdahulu semenjak Nabi Adam ‘Alaihi Salam juga diberi amanah. Para Nabi dan Rasul juga diberi amanah. Bahkan para sahabat, salafush-shalih juga diberi amanah. Mereka orang-orang yang layak kita contoh.

Umar bin al-Khaththab Radhiallahu ‘Anhu ketika menjadi khalifah, beliau pernah dihadiahi minyak wangi kesturi dari penguasa Bahrain. Beliau lalu menawarkan kepada para sahabat, siapa yang bersedia untuk menimbang sekaligus membagi-bagikan minyak wangi kesturi itu kepada kaum Muslim. Saat itu, istri beliau, Atikah radhialla ‘anha., yang pertama kali menawarkan diri. Namun, beliau dengan lembut menolaknya. Sampai tiga kali istri beliau menawarkan diri, beliau tetap menolak keinginan istrinya. Beliau kemudian, berkata, "Atikah, aku hanya tidak suka jika engkau meletakkan tanganmu di atas timbangan, lalu engkau menyapu-nyapukan tanganmu yang berbau kesturi itu ke tubuhmu. Sebab dengan demikian berarti aku mendapatkan lebih dari yang menjadi hakku yang halal." (Al-Kandahlawi, Fadha-il A'mal, hlm. 590).

Pada riwayat lain juga pernah kita baca bahwa Khalifah Umar bin al-Khathab Radhiallahu ‘Anhu, pernah menjodohkan salah satu putranya, Ashim, dengan seorang gadis, anak penjual susu yang amanah. Kisahnya bermula saat sang Khalifah, sebagaimana kebiasaannya, berkeliling malam hari untuk memantau keadaan rakyatnya. Tak sengaja beliau mendengar percakapan dua orang wanita. Ibu dan putrinya, di sebuah gubuk kecil. Ibunya, merintahkan putrinya untuk mencampur susu dengan air. Kata ibunya, "Toh Amirul Mukminin tidak akan tahu." Namun, putrinya berkata, "Amirul Mukminin memang tidak akan tahu perbuatan curang tersebut. Namun, Tuhannya  Amirul Mukminin, Allah Subhanahu Wata’ala pasti tahu."

Khalifah Umar bin al-Khaththab Radhiallahu ‘Anhu, yang secara diam-diam mendengar percakapan itu pun bergegas pulang. Beliau lalu meminta putranya, `Ashim, untuk segera menikahi putri penjual susu tersebut karena ia gadis yang shalihah (Abdullah bin Abdul Hakam, Sirah `Umar bin `Abdil `Aziz, hlm. 23).

Hendaknya kita meneladani sifat amanah para sahabat dan salafush-shalih. Tidak ada tokoh lain di dunia ini, yang layak dijadikan referensi sifat amanah. Kita meneladani mereka karena keimanan, ketaqwaan, keistiqamahan, dan ketaatan mereka, bukan yang lain.

4.    Selalu berdo’a mohon dikuatkan Allah Subhanahu Wata’ala

Azamku kuat sudah tak bertepi, apalagi berbelah. Kuatkan Hamba Ya Rabb...di pundak rapuh ini diletakkan amanah terberat ini. Azamku semakin kuat dan semoga menjadi penguat. Memilih berada di barisan perjuangan, adalah nikmat terbesar yang selalu kuingat dan kucatat.

Inilah pilihan terbaik, di antara pilihan penting dalam hidupku. Di umur yang tidak lagi muda, hanya tinggal sisa hidup untuk menghadap Pencipta dan Pengatur Kehidupan. Jika aku belum jua berada di barisan ini, lalu kapan aku akan berbenah. Meskipun ajal rahasia Allah Yang Maha Kuasa.

Ikhtiar menjadi bagian dari pejuangan kebenaran adalan pilihan. Tidak ada jaminan, jika aku berpangku tangan. Agama ini tetap eksis di sisi Allah. Baik ada kita atau tanpa kita. Hidup adalah pilihan, mau mengambil peran perjuangan atau tidak. Jika kita tidak mengambil peran, pasti ada yang lain akan menggantikan. Bukan agama yang memerlukan kita, namun kita yang memerlukan agama. Betapa banyak orang biasa sepertiku disibukkan oleh urusan remeh temeh duniawi. Menghabiskan waktu, tenaga, harta dan energi. Apakah ada jaminan Allah untuk bahagia di akhirat sana?, Wallahu a’lam.

Aku selalu berdo’a, semoga langkahku memilih amanah ini menjadi langkah penting untuk meraih surga, menggapai kemenangan hakiki, menjemut bisyarah Rasulullah Shallallhu ‘Alaihi Wasallam. Aku tidak pernah menyesal dengan pilihan hidupku. Kadang nafsuku berkata, dan mengajakku untuk menggapai berbagai obsesi duniawi. Otak kecilku kadang dijejali  penilaian kanan kiri.  Sebagai insan lemah yang memiliki naluri, kadang berpikir untuk menuruti. Agar bisa hidup memukau dengan kekayaan berkilau. Kadang orang memandang apa yang kumiliki. Mengapa aku memilih hidup bersahaja, semua tidak punya, yang ada hanya selembar jiwa berlumur dosa. Hanya dengan memilih amanah terbesar ini, menjadi wasilahku untuk bahagia di sana. Sebagaimana Firman Allah pernah kubaca:

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginy, dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia,  dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat.” (QS. Asy-Syura[42]: 20).

Ini jalan yang sengaja, ikhlas, dan direncanakan dipilih. Memilih dengan penuh kesadaran dan kehangatan iman. Aku tidak akan sesali pilihan penting ini. Sebab di ujung sana ada pintu kebahagiaan sejati. Meskipun di mata manusia aku tidak punya apa-apa. Tidak mendapatkan apa-apa. Aku hanya bercermin pada pejuang sebelumnya, mereka nyaris tidak memiliki apa-apa, demi menggengam ridha Ilahi. Bahkan mereka mengorbankan semua yang dimiliki. Baik waktu, jiwa, harta, bahkan nyawa di jalan ini. Kadang aku menangis belum mampu setegar itu.

“Suatu hari Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dia diutus oleh Allah untuk menanyakan keadaan Abu Bakar Radhiallahu ‘Anha.,  yang kala itu berada di sebelah sang Nabi. Ia mengenakan jubah yang tak layak disebut jubah, karena hanya sehelai kain panjang yang dibelah dua lalu ia kenakan pada tubuh kurusnya yang menjulang. Jibril bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, mengapa pakaian itu yang dikenakan oleh Abu Bakar?. Tentu sebuah pertanyaan retoris, karena Allah telah tahu jawabannya. Sang Nabi menjawab hal itu dilakukan Abu Bakar karena semua hartanya telah dihabiskan sebelum penaklukkan Mekkah. Jibril lalu berkata, “Katakan padanya, duhai Muhammad, Rabbmu menanyakan kepadanya ‘Apakah ia ridhlo kepada-Ku dengan kefakirannya ataukah ia marah?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  meneruskan perkataan Jibril kepada Abu Bakar. “Duhai Abu Bakar, ini Jibril membacakan salam untukmu dari Allah Ta’ala, dan Dia berkata, ‘Apakah engkau ridlo kepadaKu dalam kefakiranmu, ataukah engkau marah?” Abu Bakar terhenyak mendengar ucapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Sambil bercucuran air mata ia menjawab, “Apakah kepada Rabbku aku marah? Aku ridho pada Rabbku, aku ridho pada Rabbku.”(Hilyatul Auliya, juz &, hal 105, Maktabah asy-Syamilah).

Aku malu dengan kisah ini. Perjuanganku baru dimulai. Kadang amalku pakai pretensi, minimal ingin dapat pahala, bahkan minta surga tertinggi. Aku terlalu pede, dengan amal secuil, lalu aku berharap surga Firdaus. Memang jalan perjuangan ini tidak mudah. Aku harus berupaya melatih kesabaranku. Merenungkan hidupku, bahwa keadaanku jauh lebih mulia di sisi Rabbku jika menolong agama ini. Semua kuserahkan pada-Nya. Hal terpenting aku harus optimalkan do’a, ikhtiar, dan daya juangku. Apapun qadha-Nya harus aku terima.  Aamiin...Bismillah.

 

Rabu, 12 Agustus 2020

REZEKI HAKIKI, BUKAN HANYA MATERI

Rabu, Agustus 12, 2020 0 Comments


Kembali merefleksi hakikat rezeki, bukan diukur dengan banyaknya materi. Bukan pula ditakar dengan  banyaknya harta dan besarnya tabungan pribadi. Rezeki sesungguhnya adalah semua nikmat, rahmat, hidayah, inayah, dan istiqamahnya insan memegang dan memperjuangkan kebenaran Ilahi.


Persoalan rezeki bukan persoalan iman, namun persoalan takaran taqdir yang ditetapkan Allah Subhanahu Wata'ala pada setiap insan.Lima puluh ribu tahun sebelum bumi diciptakan. Jumlah, bentuk, jenis, cara sampai pada setiap insan memiliki perbedaan. 


Jika rezeki diukur dengan aqidah dan taqwa. Maka para Rasul dan Nabi, ulama besar, dan orang paling shalih, tentu kaya semua. Namun banyak di antara mereka hidup susah, sederhana, bersahaja, dan jauh dari harta dan kemilau dunia.


Sebaliknya banyak orang-orang non Islam, tidak muslim, tidak beriman, bahkan atheis, bahkan banyak yang  milyader. Memiliki banyak aset, kekayaan pantastis membuat kita ngiler. Kemana saja pakai jet pribadi, punya pulau, villa mewah, dan semua urusan mereka serba super. Apakah pertanda bahwa Allah Subhanahu Wata'ala cinta dan sayang pada mereka secara bener?


Tiada nikmat yang pantas disyukuri. Selain hidayah, hijrah, dan terus berbenah. Mulai dari berbenah fikrah, thariqah,  aqliyah, nafsiyah, sampai syakhsiyah. Bertemu sahabat taat dalam hijrah, menyatu dalam ukhuwah. Aqidah dan tsaqafah Islam menjadi rabithah, penguat silah ukhuwah. Memang bukan karena ukhuwah kita hijrah, namun tanpa ukhuwah hijrah bisa  goyah, jika tidak Lillah. Bukan karena ukhuwah kita berbenah, namun tanpa ukhuwah, berbenah kurang menggugah. 


Sungguh, fikrah, thariqah Rasulullah, perpaduan antara antara keduanya, menentukan manusia berubah, menuju taat dan berbuat tuk kemajuan ummah. Tanpa fikrah dan thariqah yang valid, maka hijrah sekadar merubah arah. Awalnya  awam, akhirnya paham makna syahadah. Namun dalam kehidupan menganggap sepele pelanggaran hukum syariah. Meskipun setiap pagi dan sore dilafalkan doa' rabithah di akhir almathsurah.


Banyak organisasi yang dimasuki, dari sekuler sampai taat menurut kacamata insani, hingga sedikit hafal tabiat beberapa organisasi. Dari sekadar kumpul-kumpul berdiskusi. Sampai kegiatan bermanfaat secara manusiawi. Dari hanya sekadar mencari sensasi, gengsi, partisipasi, sampai memperjuangkan nasib di legislasi. Hanya satu yang demikian nyantol di Hati. 


Sampai pada suatu massa. Muncul persepsi, ibadah sunnah yang dilakukan, seperti shalat Dhuha, shalat Nafilah, Tahajjud, dan sedekah adalah ibadah luar biasa, untuk menjemput dan membuka rezeki dari Allah Subhanahu Wata'ala. Kala itu menduga rezeki hanya berwujud harta. Banyak uang, orderan berlimpah,  banyak usaha, lancar bekerja.  Setiap bulan tabungan bertambah nominalnya. Ada aset di mana-mana. Kala itu, berpikir rezeki hanya harta, kaya, jika kaya bisa bahagia. 


Kemudian berusaha menguatkan aqidah, menambah tsaqafah Islamiyyah, akhirnya persepsi tentang rezeki diperbaiki. Memang diakui,  harta termasuk uang memang rezeki. Namun harta dan uang adalah rezeki yang paling rendah dan hina di sisi Ilahi. Makanya nabi mengatakan celaka pada hamba materi. "Celaka hamba Dinar, celaka hamba dirham, celaka hamba busana, celakalah hamba perut bila terpenuhi dia merasa tenang, bila tidak, ia tidak merasa tenang" (H.R. Bukhari).


Logikanya, Nabi tidak memuji  hamba harta. Nabi yang kuat imannya, maksum dari dosa, dan istimewa di hadapan Allah Subhanahu Wata'ala, menganggap celaka hamba harta.  Tentu kita sebagai umatnya harus sami'na wa'atha'na pada Rasulullah. Kita hanya manusia biasa, gampang tergoda, dan mudah terkesima. Tentu harus ekstra hati-hati terhadap harta. Bukan tidak boleh berharta, namun jangan jadi hamba harta. 


Beranjak dari fakta ini, baru disadari, bahwa rezeki itu luas sekali. Semua yang ada dalam diri, dan di luar diri asalkan maslahah  menurut Allah Subhanahu Wata'ala adalah rezeki. Ketika lahir dengan potensi fitrah, punya akal, hati,  dapat anugerah dan mampu memenuhi kebutuhan jasmani adalah rezeki. 


Ketika  memiliki kemampuan mengelola gharizah beragama, gharizah melangsungkan keturunan, dan gharizah mempertahan diri, selaras dengan ketentuan Allah Subhanahu Wata'ala adalah rezeki. 


Ketika kita mampu mengelola dan  memberdayakan akal dan nafs kita agar sesuai dengan ketentuan syarak yang terdapat dalam al-Qur'an dan Hadits Nabi adalah rezeki.


Ketika kita diberi Allah kesehatan, kesempatan, kemauan, dan kekuatan untuk merealisasikan belajar Islam adalah fardhu 'ain (wajib bagi setiap individu) adalah rezeki.


Ketika kita diberi  Allah kesempatan, kesehatan, dan kemudahan untuk mengamalkan ilmu yang kita pelajari, menyesuaikan semua amalan dengan aturan Ilahi, dilindungi dari berbuat bit'ah, kurafat, dan tahayul adalah Rezeki. Sehingga kita beraqidah benar, beribadah shahih, bermuamalah benar adalah rezeki. 


Ketika Allah memudahkan kita untuk beramal shalih kemudian berjuang untuk menshalihkan orang lain secara intensif,  kontinue, konsisten dan istiqamah adalah rezeki. 


Ketika kita dikelilingi oleh orang-orang baik, orang shalih, sahabat taat dan shalihah, bertaqwa, mengingatkan kita tentang eksistensi hidup di dunia,   pentingnya aqidah dan taat pada adalah rezeki.  


Ketika masih memiliki kedua orang tua, meskipun sering marah-marah dan berulah, lalu kita lelah, kurang tabah menghadapinya adalah rezeki. Bakti pada orang tua merupakan ladang pahala, mengumpulkan banyak berkah.  Do'a orang tua diijabah, terutama ibu pembuka pintu surga. Berbakti sepenuh cinta, sebagaimana dulu ketika kecil orang tua menyayangi kita, maka pantaslah kita memohon do'a mohon perlindungan dan cinta Allah Subhanahu Wata'ala, dianugerahkan pada ortu kita.


Ketika kita memiliki sekeping hati, sebongkah otak,  secantik dan sekuat raga. Bersih dan suci hati terhadap sesama, jauh dari penyakit hati yang menyiksa,  dicondongkan untuk mencintai Allah dan Rasulullah. Itu adalah rezeki. 


Ketika semua harapan tidak menjadi kenyataan.  Cita-cita yang sulit dicapai, dihadapkan pada situasi sulit, banyak penderitaan, dan penuh keterbatasan, itu adalah rezeki. Sebab jika diringankan dan dimudahkan oleh Allah. Mana tahu kita akan kehilangan arah. Akhirnya berulah, dan jauh dari kata shalih dan shalihah. 


Tubuh yang sehat atau sakit keduanya adalah rezeki. Sehat dan sakit boleh jadi ujian, bisa jadi juga musibah dari Allah Subhanahu Wata'ala. Ujian untuk menaikan level keimanan, sedang musibah adalah cara Allah menggugurkan dosa hamba-Nya. Keduanya adalah baik di sisi Allah.  


Buya Hamka pernah menjelaskan pada anaknya, "Rezeki bukan bermakna kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan,  namun juga termasuk apa yang Allah anugerahkan padamu."


"Kamu belajar tentang shirah, Maryam binti Imran tidak menikah, tapi dapat anak. Itulah rezeki. Aisyah binti Abu Bakar menikah dengan Baginda Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, namun tidak punya anak. Itupun rezeki."


"Allah Subhanahu Wata'ala mendatangkan Nabi Musa 'Alaihi Salam ke rumah Fir'aun sebagai anak angkat untuk membawanya ke syurga. Namun Fir'aun tetap menjadi manusia celaka dengan memilih masuk neraka."


"Allah juga mengantarkan Nabi Nuh 'Alaihi Salam untuk menyelamatkan kaumnya,  tetapi anak isterinya sendiri durhaka dan enggan menerima dakwahnya."


"Pelajarilah sesuatu dari kisah-kisah seperti itu. Sungguh kamu akan paham bahwa rezeki setiap orang tidak sama."


"Setiap orang yang punya suami atau punya isteri, ada anak, dan ada tanggung jawab. Mudah dapat pahala. Tapi juga mudah dapat dosa."


Bagi yang tidak bertemu jodoh, yang tidak dikaruniai anak pun suatu rezeki juga.  Terlepas dari tanggung jawab dan resiko mau menjawab apa di hadapan Allah Subhanahu Wata'ala nanti."


Sebagai insan berpikir, bagusnya kita pahami konsep rezeki. Sebelum mengeluh atau galau  hati. Tidak ada yang semestinya untung dan tidak ada semestinya rugi.  Setiap kita mendapatkan apa yang kita kehendaki. Ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, bukan berarti kita tidak berhak mendapatkan rezeki. Qadha Allah itu sifatnya misteri. Ketika menerima setiap qadha apakah kita meneteskan air mata Ridha dan ikhlas, tabah dan tawakkal yang akan menghanyutkan kita ke Surga Allah Rabbul 'Izzati. Justru rezeki itu bukan bermakna kamu mendapatkan apa yang kamu kehendaki. Tetapi kamu Ridha dan ikhlas menerima apa yang Allah beri. Sebab kebahagiaan paling hakiki bukan terletak pada qadar rezeki yang Allah beri, tetapi sejauhmana manusia ridha menjalani setiap perjuangan, dan berupaya dalam setiap amalan mencapai taraf Ridha Ilahi.


Wallahu A'lam Bisshawab.