Follow Us @soratemplates

Sabtu, 07 Maret 2020

MERDEKA BELAJAR

Sabtu, Maret 07, 2020 0 Comments



Sebuah buku menarik tentang merdeka belajar terdapat dalam buku yang berjudul “Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela. Penulis. Ditulis oleh Tetsuko Kuroyanagi, Alih Bahasa Widya Kirana. Buku ini diterbitkan oleh  PT. Gramedia Pustaka Utama, di Jakarta, tahun 2017, cetakan ke-24, dengan ketebalan buku 272 halaman.

Menurutku buku ini mendeskripsikan tentang merdeka belajar. Ada beberapa catatan menarik, menggugah, dan bermakna terdapat dalam buku tersebut. Misalnya ungkapan "Kau adalah anak yang sangat baik. Kau tahu itu kan?" Ucapan Mr Kobayashi selalu terngiang-ngiang dan tertancap kuat dalam benak Totto-chan. Gadis cilik itu tak pernah merasa dirinya bermasalah. Ia selalu tampil penuh percaya diri.

Bentuk didikan positif yang dideskripsikan buku ini sangat bagus dan menggugah para pendidik, termasuk aku yang faqir ilmu ini. Pantas saja buku ini memperoleh banyak pujian. Sebuah buku yang diangkat dari kisah nyata. Berisi pengalaman seorang gadis cilik di saat dia masih Sekolah Dasar. Buku ini sangat menginspirasiku dan makin menguatkan keyakinanku tentang urgensi menulis buku diary. Tatkala orang lain tidak ada waktu mendengarkan curhatan, ada buku yang bisa menampung keluh kesah kita tanpa protes, tanpa interupsi. Hanya saja kita yang kadang lelah menuliskan segunung peristwa di dalamnya.

Pengalaman seorang anak ketika dia masih SD, ternyata begitu berkesan, membekas, dan tersimpan kuat di alam ketidaksadaran seseorang hingga dewasa. Pengalaman tersebut jika ditulis dengan detail, sistematis, atau runut mampu menghipnotis pembaca hingga dapat mengubah paradigma jutaan orang, terutama tentang konsep pendidikan. Tatkala seorang guru membuat suasana pembelajaran yang menyenangkan tanpa harus membatasi kreativitas peserta didik mereka.

Deskripsi detail susana, metode, dan semua proses pembelajaran yang dikemukakan penulis buku ini, sepertinya yang menginspirasi lahirnya sekolah-sekolah alam, sekolah terpadu, dan sekolah-sekolah berbasis pengembangan karakter, sebagai ikon sekaligus orientasi pendidikan Indonesia  saat ini. Meskipun tidak seeksplisit  itu dituangkan oleh pengarang dalam buku tersebut.

Buku itu menggambarkan secara gamblang pengalaman sang penulis ketika bersekolah di Tomoe Gakuen. Sebuah gerbang pendidikan yang out the box dalam memperlakukan secara positif dan menyenangkan setiap keunikan setiap peserta didiknya.

Pada bagian suasana kelas penulis menceritakan suasana yang amat berbeda. Dengan setting zaman perang dunia kedua menambah penasaran peserta didik tentang pentingnya sejarah dalam timbulnya-tenggelamnya peradaban manusia. Tidak sama dengan sekolah konvensional lainnya berbentuk tembok gedung parmanen. Namun kreativitas para pendiri sekolah menyulap bekas gerbong kereta  menjadi ruangan belajar yang menyasikkan dan menyenangkan.



Peserta didik tidak diharuskan duduk di satu kursi tetap setiap hari. Peserta didik boleh memilih tempat duduk sesuai dengan mood dan keinginannya yang memang cenderung berubah setiap saat. Bahkan peserta didik tidak terlalu larut dalam duka ketika ada temannya meninggal dunia, sebab peserta didik tidak dihadapkan dengan bangku yang tiba-tiba kosong.



Peserta didik dibebaskan oleh kepala sekolah untuk memulai pelajaran apa hari itu. Kadang peserta didik belajar menggambar. Peserta didik dibolehkan mencoret-coret lantai aula sampai mereka puas. Setelah puas mereka harus menghapusnya sampai bersih. Kadang rasa lelah yang muncul ketika membersihkan lantai tidak menyurutkan minat mencoret lantas. Pelajaran ini sekaligus mendidik peserta didik untuk tidak mencoret sembarang tempat.

Di sekolah ini sista tidak diharuskan mengenakan pakaian seragam.Hal yang membuat penulis terkesan, mereka diharuskan mengenakan pakaian terjeleknya. Agar peserta didik bebas mengeksplorasi  berbagai hal, tanpa kawatir dimarahi ketika baju yang digunakan ke sekolah menjadi sobek, rusak, kotot, kena cat. Penulis sering pulang ke rumah dalam kondisi baju sobek, bahkan hingga dalaman. Namun mamanya tidak pernah marah.

Totto-chan merupakan salah satu siswa yang beruntung sekolah di Tomoe. Dia tidak pernah tahu mengapa sekolah itu yang dipilihkan mamanya, ketika dia di DO dulu. Mamanya hanya menyarankan sekolah kamu pindah ya? Tanpa perlu penjelasan “bahwa dia dikeluarkan dari sekolah dulu karena nakal. Cap nakal pada anak akan membuat anak depresi,  rendah diri, tidak percaya diri, kurang mau berprestasi. Meskipun kemampuannya hebat. Dia mengakui, mamanya memang hebat. Jauh sebelum berkembang.

Padahal anak seusia dia, di sekolah dasar belum tahu menahu tentang konsep nakal. Meskipun sebagian guru memberi label ‘nakal’ terhadap anak yang sedikit kreatif, senang mengeksplorasi alam, dan terkesan memilih cara berbeda dari teman-temannya. Pernah suatu hari, ketika pelajaran sedang berlangsung dia sengaja mendekati jendela, memandang ke luar, berbicara dengan burung-burung, “Engkau sedang apa?” hanya untuk memuaskan rasa ingin tahunya tentang burung-burung. Namun guru tidak pernah menghardik, membentak, dan memarahi di hadapan teman-temannya.

Pernah juga suatu hari, ketika sedang belajar dia memanggil pemusik jalanan,sing agar memperdengarkan lagunya. Hal ini membuat kelas menjadi gaduh dan bising. Namun guru membiarkan. Kemudian dia duduk, membuat suara berisik dengan membuka dan menutup laci meja ratusan kali, untuk memasukkan dan mengeluarkan alat-alat tulis. Sang guru tidak bisa menyalahkan, karena sebelumnya semua guru mengatakan “Kalian semua hanya boleh membuka dan menutup laci saat mengeluarkan atau memasukkan peralatan belajar.”Dia hanya melakukan itu. Padahal di sekolah lain, tatkala dia melakukan hal yang sama, peserta didik yang lain gaduh, guru pun tidak tahan, ibunya di panggil, dan Totto-chan harus mencari sekolah lain.

Dia sangat beruntung dimasukkan ibunya ke Tomoe Gakuen. Sekolah yang didirikan oleh seorang pakar pendidikan Jepang, Mr. Sosaku Kobayasi yang menerapkan konsep “Merdeka Belajar” Istilah yang dipakai Bapak Nadiem Makarim. Seorang kepala sekolah yang sangat disayangi dan dikagumi Totto-chan. Ucapan kepala sekolah yang selalu membesarkan hati semua peserta didiknya adalah “Kau adalah anak yang sangat baik. Kau tahu itu khan?”

Ucapan membesarkan hati itu memberi rasa percaya diri pada semua peserta didiknya. Totto-chan tidak merasa dia nakal, bahkan berbagai kelakuan yang tidak lazim yang dilakukan peserta didik, tidak sedikitpun dicela. Misalnya suatu hari dia menjatuhkan dompet kesayangannya ke penampungan kotoran. Totto-chan  mengaduk tumpukan kotoran itu hingga berantakkkan. Kepala sekolah tidak memarahinya, hanya bilang, “Kau akan mengambalikan semuanya seperti semula, kan? Dan itu yang akhirnya dilakukan Totto-chan, mengembalikan dompet seperti semula. Walau untuk hal itu dia harus berjuang keras.

Untuk melatih rasa percaya diri peserta didik di sekolah ini. Peserta didik harus membawa bekal dua jenis makanan yang disebut kepala sekolah. Satu makanan yang berasal dari laut, dan satu makanan yang berasal dari gunung. Di sela-sela acara makan bersama di aula, akan ada anak yang dipergilirkan setiap hari untuk meaju dan bercerita tentang apa saja di depan kelas. Hal ini sangat seru, anak-anak boleh cerita semampunya, peserta didik yang lain sangat menghargai, bertepuk tangan.

Sekolah ini semacam sekolah alam. Peserta didik belajar langsung praktik di alam. Misalnya peserta didik di ajak ke makam pahlawan. Walau jauh berjalan, Totto-chan dan teman-temannya amat senang dan bersemangat. Mereka diajarkan menghargai setiap perjuangan, dan perjuangan orang lain.

Suatu ketika kepala sekolah memanggil petani. Dia menjadi guru pertanian mengajarkan peserta didik cara bercocok tanam. Mereka juga diajarkan menghargai makanan. Menghargai jasa dan usaha para petani. Menjelang liburan datang mereka diajak menginap bersama di tempat-tempat terindah di alam, sehingga setiap peserta didik merasakan kedekatan dan keakraban dengan teman-temanya dan tahu bagaimana memperlakukan orang lain.

Totto-chan sangat menikmati suasana pembelajaran bersama teman-temanya di Tomuo-Gakuen. Temannya banyak, di antaranya Yasuaki Yamamoto, Akira Takahashi, Miyo Kaneko, Sakko Matsuyama, Taiji Yamanouchi, Kunio Oe, Kazuo Amadera, Aiko Saisho, Keiko Aoki, Yoichi Migita, dan Miyazaki. Kelak, mereka menjadi orang sukses semua.

Sayang sekali, sekolah alam Tomoe Gakuen yang dibangun tahun 1937 tersebut tidak berumur panjang. Sekolah hebat tersebut hancur akibat bom Amerika pada Perang Pasifik 1945, karena dibangun atas biaya sendiri, tidak mudah bagi Mr. Kobayashi untuk membangun kembai. Buku ini terbit pertama kali tahun 1981. Sebuah novel yang terdiri 63 bab pendek. Buku ini sudah diterjemahkan dalam puluhan  bahasa di dunia dan dibaca puluhan juta orang, karena sangat inspiratif.

Dari sekian bab buku tersebut, satu bab yang kurang pas untuk konteks budaya Indonesia, apalagi masyarakat Islam. Yakni ketika anak-anak kelas 1 Tomoe dibiarkan berenang dengan bugil. Dengan argumentasi kepala sekolah  agar peserta didik dapat menghilangkan rasa minder, dan meyakinkan peserta didik, mereka sama saja, bahka anak yang kekurangan fisik tidak lagi merasa malu dan rendah diri dengan terbiasa mandi telanjang dengan teman-temannya.

Batusangkar, 07 Maret 2020



Minggu, 01 Maret 2020

MENYAMBUNG SILATURAHIM

Minggu, Maret 01, 2020 0 Comments
Silaturrahim antara adik-kakak tidak selamanya berjalan mulus. Kadang putus, hampir putus, atau tidak mau bersambung secara tulus. Kadang terucap perkataan ketus. Tidak jarang  muncul pertengkaran, konflik, dendam dan bermusuhan terus-menerus. Ada juga percekcokan hebat sampai parang terhunus. Dibacok, dilukai, masuk rumah sakit, dan diinfus. Bahkan ada yang meninggal, diawali oleh pertengkaran serius.

Banyak penyebab disharmoni silaturahim antara adik-kakak. Terentang dari penyebab individual sampai keluarga. Penyebab individual, biasanya ketidaktahuan bahaya memutuskan silaturahim, lemahnya ketaqwaan, menyalahkan, lamanya berpisah, merasa memberatkan, pelit, ketidakadilan, sibuk dengan dunia, tempat tinggal berjauhan, jarang berkomunikasi, kurang sabar, sombong, hasad, dengki, fitnah, celaan, dan perangai buruk lainnya.
  
Penyebab disharmoni silaturrahim adik-kakak bisa juga berasal dari keluarga, yaitu pola asuh orang tua yang kurang sehat. Ketika orang tua keliru melakukan pengasuhan pada anak, maka bibit-bibit keretakkan hubungan antara adik-kakak sudah ditanamkan. Kelak setelah tumbuh dewasa ikatan silaturahim di antara adik-kakak amat rapuh, mudah pecah, bahkan menimbulkan dendam kesumat tidak berkesudahan.

Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Kedatangan Islam memutus semua ikatan. Ikatan silaturahim tidak semata dipertahankan, tetapi  diperintahkan untuk selalu disambungkan, dipelihara, dipupuk, dan dikuatkan setiap waktu dan kesempatan. Tidak ada perbedaan pendapat ulama bahwa menjaga hubungan silaturahim hukumnya wajib, dan memutuskannya adalah dosa. Sebagaimana firman Allah dalam Surat An-Nisa’ ayat 1:



"Silaturahim termasuk perkara yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Bahkan kedudukan seseorang di syurga nanti sangat ditentukan oleh seberapa kuat ia menjaga silaturrahim."

 Seperti sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: Artinya "


Makna Silaturrahim

Imam An-Nawawi mengartikan silaturahim adalah berbuat baik kepada karib kerabat sesuai dengan keadaan orang yang hendak menghubungkan dan keadaan orang yang hendak dihubungkan. Terkadang berupa kebaikan dalam hal harta, kadang memberi bantuan tenaga, terkadang dengan mengunjunginya, dengan memberi salam dan cara lain (Syar Shahih Muslim, 2/201).

Ibnu Katrsir menjelaskan silaturahim merupakan istilah untuk perbuatan baik kepada karib kerabat yang memiliki hubungan nasab, atau kerabat karena hubungan pernikahan, serta berlemah lembut, kasih sayang kepada mereka, memperhatikan keadaan mereka. Demikian juga andai mereka menjauhkan diri atau suka mengganggu. Memutus silaturrahim adalah kebalikan dari hal itu semua (Nihayah fi Gharibil Hadits, 2/191-192, dinukil dari Shilatul Arham, 5).

Jadi, yang dimaksud silaturrahim adalah menjalin hubungan baik dengan kerabat, sanak, atau saudara yang masih memiliki hubungan rahim atau hubungan darah. 

Keutamaan Silaturrahim

Islam sebagai agama sempurna memerintahkan untuk menyambungkan silaturahim antar keluarga dan kerabat, termasuk dengan adik-kakak. Banyak keutamaan menyambungkan silaturrahim, yaitu:

Silaturrahim adalah Konsekuensi Iman kepada Allah.

Silaturrahim adalah tanda seorang beriman, atau indikasi beraqidah kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Silaturahim menjadi indikasi seseorang beraqidah. 
Diberi Umur Panjang dan Diluaskan Rezkinya

Orang yang suka mengunjungi sanak saudaranya serta menjalin silaturahim, akan dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya. Sebagaimana hadist Rasullullah  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

 Terhubung dengan Allah Subhanahu Wata’ala
Menjaga dan menghubungkan silaturahim berarti seseorang menghubungkan dirinya dengan Allah Subhanahu Wataala. 

Penyebab Masuk Syurga dan Dijauhkan dari Neraka

Allah menjanjikan pada orang yang menyambungkan silaturahim akan didekatkan dengan surga dan dijauhkan dari api neraka. 

Bentuk Ketaatan kepada Allah

Menyambungkan silaturrahim diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala.


Bersedekah terhadap Keluarga lebih afdhal dari pada  sedekah pada orang lain.

Mengunjungi sanak-saudara dan bersedekah adalah salah satu perbuatan mulia dan memiliki faedah yang besar. Bersedekah kepada keluarga lebih diutamakan daripada bersedekah kepada orang lain, dan bisa menghindarkan diri dari sifat riya’. 

Cara Menyambungkan Silaturahim

Cara menyambungkan silaturahim secara invidual dapat dilakukan dengan cara berikut:

(1)  Menyambung Silaturrahim

Menyambung silaturrahim sebenarnya adalah orang yang menyambung kembali terhadap orang yang telah memutuskan hubungan kekerabatan. Seperti adik memutuskan silaturrahim dengan kakak, atau sebaliknya kakak memutuskan siaturrahim dengan adik. Dalam hal ini Rasulullah dalam hadits Abdullah bin ‘Amr dari Beliau bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا


Ibnu Hajar mengatakan: “Peniadaan sambungan tidak pasti menunjukkan adanya pemutusan, karena mereka ada tiga tingkatan: (1) orang yang menyambung (

(2)  Terus Berbuat Baik Pada Saudara

Silaturahim dapat dilakukan dengan cara selalu berbuat baik kepada adik  atau kakak. Meyakini bahwa silaturahim merupakan ibadah yang agung, mudah dan membawa berkah. Terus berbuat baik dapat dilakukan dalam bentuk berziarah atau berkunjung, bergaul  secara baik atau ma’ruf, menutup aib mereka, beramar ma’ruf nahi mungkar, saling bersedekah, saling memberi hadiah, memberi nafkah, berlaku lemah-lembut, bermuka manis (senyum), memuliakannya, dan semua yang dianggap orang lain sebagai bentuk silaturahim.

Teruslah berbuat baik kepada saudara atau adik kakak, meskipun saudaranya berbuat jelek kepadanya, tidak akan rugi sedikit pun. Bahkan akan selalu ditolong oleh Allah. Justru adik atau kakak yang tidak mau membalas kebaikan itulah yang mendapat dosa yang besar akibat perbuatan mereka. 

Cara Orang Tua Menguatkan  Silaturrahim antar Anak

Ada beberapa langkah yang wajib dilakukan oleh orang tua dalam mendidik dan mengasuh anak-anaknya, sehingga antar anak terpelihara silaturrahimnya, yaitu:

1.    Istimewakan setiap anak

Anak terlahir dari rahim seorang ibu, tapi mereka punya karakter, minat, dan kemampuan berbeda. Mungkin si sulung berprestasi dalam akademik, tapi yang nomor dua cekatan dalam urusan fisik, dan nomor tiga lamban tapi lebih teliti dan lebih peduli. Oleh sebab itu, istimewakan dan muliakan setiap anak-anak agar mereka tak merasa ada yang dianakemaskan dan dianaktirikan.

2. Adil dalam pemberian

Perbedaan karakter, bentuk fisik, dan prestasi anak kadangkala membuat orang tua lebih mengistimewakan anak tertentu. Namun, Nabi SAW. mewajibkan orang tua adil dalam pemberian. Jangan karena keunggulan seorang anak, maka saudara kandungnya diabaikan.

Mengapresiasi prestasi anak itu penting, namun janganlah pemberian hadiah atau pujian padanya membuat saudara-saudaranya merasa diremehkan. Bijaklah dalam menghargai prestasi anak agar tetap menjaga kebersamaan antar anak-anak kita.
  
3.  Membiasakan saling menolong

Ajarkan pada setiap anak untuk terbiasa dengan tolong menolong, menghilangkan sikap egois, dan menumbuhkan sikap saling berkorban.

Pujilah mereka ketika memperlihatkan akhlak mulia ini, tegur dengan bijak anak yang egois serta tidak perhatian pada kesusahan saudaranya. Ajarkan yang besar untuk menyayangi adiknya, dan ajarkan sang adik untuk menghormati kakak-kakak mereka.

 4.    Kikis rasa hasad di antara mereka

Kadangkala anak merasa cemburu pada saudaranya, bisa karena prestasi, pemberian, atau fisik. Di sinilah Ayah Ibu harus bisa menjelaskan pada anak-anak bahwa setiap orang punya kelebihan sebagai karunia Allah. Setiap anak muslim harus belajar bersyukur dan tidak iri hati pada kelebihan saudaranya, karena yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.

5. Membiasakan saling memaafkan

Sejak kecil diupayakan saling memaafkan sebagai salah satu habit positif. Ketika mereka bertengkar segera damaikan dan dorong untuk saling meminta maaf dan saling memaafkan. Dengan begitu kelak saat dewasa, berdamai dan saling memaafkan menjadi hal yang tak sulit untuk dilakukan.

6. Berdoalah pada Allah agar hati mereka terpaut selamanya dalam keimanan.

Ayah Ibu jangan hanya berdoa untuk rizki mereka, tapi mohon juga agar hati mereka senantiasa terikat dalam persaudaraan karena Allah. 

Idealnya silaturrahim adik-kakak selalu erat. Beragam gelaja berpotensi disharmoni di atasi secara cepat. Agar keharmonisan silaturahim tetap terjaga, hangat dan kuat. Adik kakak akan menikmati kasih sayang Allah, lantaran selalu menyambungkan silaturrahim yang sangat ditekankan syariat Islam.


Minggu, 23 Februari 2020

PERPISAHAN SESUNGGUHNYA

Minggu, Februari 23, 2020 0 Comments
Kita tidak selalu bersama. Kadang pergi, kadang kembali. Kadang pergi namun tidak pernah kembali. Ada juga yang tidak pergi ke mana-mana. Kemana pun kita pergi, tidak ada jaminan apakah dalam waktu sebentar atau lama. Bisa jadi kita pergi untuk selama-lamanya. Logika kita sering mengatakan setiap kepergian atau tidak bersama diwaktu dan tempat yang sama adalah perpisahan. Baik perpisahan sebentar karena safar alasan menuntut ilmu atau ketaatan lainnya, atau perpisahan selamanya karena kematian.

Logika manusia cenderung mengartikan perpisahan selamanya, itulah kematian. Seolah kita tidak akan pernah bertemu lagi. Berbeda dengan hati yang disinari Ilahi, akan mempersepsi kematian bukanlah perpisahan mutlak. Kita berpisah hanya sebentar. Perpisahan sesungguhnya antara dua orang manusia terjadi ketika di akhirat nanti  jika satu masuk surga dan yang lainnya masuk neraka dan kekal di dalamnya.

Perpisahan sesungguhnya bisa disebabkan adanya  "kesepakatan" dan bekerjasama untuk menjadi penduduk neraka. Segala keindahan kebersamaan, keserasian, keharmonisan hubungan, saling mencintai, saling menyayangi akan sirna. Ketika sama-sama dimasukkan ke neraka. Di antara mereka akan saling menyalahkan, saling menuntut, saling menghujat, dan saling menuduh seperti musuh "Kenapa di dunia dahulu tidak saling mengajak ke jalan ketaqwaan dan amal shalih. Allah berfirman:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az Zukhruf: 67).

Lain halnya dengan orang-orang yang beriman. Kematian bukanlah perpisahan sesungguhnya. Kematian adalah lebih dahulunya seseorang dipanggil dalam nomor antrian panjang menghadap Allah Yang Maha Penyayang. Kemudian yang lain nomor antriannya masih lama dipanggil oleh Allah. Hakikinya mereka bukan berpisah, tetapi menunggu waktu untuk bertemu di tempat yang lain. Kelak mereka akan dikumpulkan Allah pada tempat yang lebih baik,  keabadian, kesenangan yang tidak berkesudahan.

Jika dikatakan perpisahan karena kematian adalah perpisahan sesungguhnya, maka itulah logika manusiawi. Bukan pengetahuan ma'rifah yang bersumber dari keimanan.  Tidak tepat mengatakan perpisahan karena salah satu di dunia, dan yang lainnya di alam barzakh suatu perpisahan sesungguhnya. Bahkan kurang tepat disebut perpisahan. Kehidupan dunia hanya ruang tunggu keberangkatan menuju keabadian hidup. Tidak ada lagi kehidupan setelahnya. Dua orang muttaqin akan dikumpulkan kembali oleh Allah di bawah naungan rahmat-Nya.

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شِيْءٍ

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka.”(QS. Al-Thûr: 21)

Imam Al-Qurthubi (w. 671 H) menukil perkataan Sa’id bin Jubair:

يَدْخُلُ الرَّجُلُ الْجَنَّةَ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ أَيْنَ أَبِي وَجَدِّي وَأُمِّي؟ وَأَيْنَ وَلَدِي وَوَلَدُ وَلَدِي؟ وَأَيْنَ زَوْجَاتِي؟ فَيُقَالُ إِنَّهُمْ لَمْ يَعْمَلُوا كَعَمَلِكَ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ كُنْتُ أَعْمَلُ لِي وَلَهُمْ، فَيُقَالُ أَدْخِلُوهُمُ الْجَنَّةَ

Seorang lelaki masuk surga, lalu dia berkata: ‘wahai Tuhan, mana ayahku, kakekku, dan ibuku? Mana anakku, mana istri-istriku?’ Lalu dikatakan kepadanya: ‘mereka tidak beramal seperti amalmu’. Maka lelaki tersebut berkata: ‘wahai Tuhan, aku beramal untukku dan untuk mereka’, maka dikatakan: ‘masukkan mereka semuanya ke dalam surga.” (Al-Jâmi’ Li Ahkâm Al-Qur’ân, Juz 15, hlm. 296) [1]

Dari Ibnu ‘Abbas diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ ذُرِّيَّةَ الْمُؤْمِنِ مَعَهُ فِي دَرَجَتِهِ فِي الْجَنَّةِ وَإِنْ كَانَ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ لِتَقَرَّ بِهِمْ عَيْنُهُ

Sesungguhnya Allah ‘Azza Wa Jalla betul-betul akan mengangkat dzuriyyat seorang mukmin sesuai dengan derajatnya di surga walaupun dzuriyat tadi tidak beramal seperti amalnya dalam rangka menyenangkan orang mukmin tersebut.” [2]

Tentu perolehan ini ada syaratnya, yaitu mereka semua keturunan itu meninggal dunia dalam keadaan beriman, sebagaimana ditegaskan Syaikh Isma’il Haqqi:

(أَلْحَقْنا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ) اى بشرط الايمان

“(Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka) yakni dengan syarat adanya iman.”(Rûh Al-Bayân, Juz 7, hlm. 10). [3]


Berdasarkan beberapa dalil di atas, dapat disimpulkan bahwa kematian orang beriman bukanlah suatu perpisahan, tetapi hanya mendahului yang lain dalam perjalanan panjang menuju Ilahi. Kelak akan berkumpul kembali di tempat kesenangan yang abadi, yaitu syurga. 

Untuk itu, jika kebersamaan hakiki yang dicari, maka keimanan menjadi syarat perjalan ke alam lain. Jadikan dunia tempat melipatgandakan ikhtiar untuk saling membahagiakan. Bahagiakan orang tua, istri, suami, anak dan semua cucu dengan amal shalih berkesinambungan. Saling mendukung dalam ketaqwaan.  Saling bergandengan tangan beramal shalih. Hingga reuni terindah di syurga tercapai dengan mudah. 

Mengapa kita hanya berusaha saling mensupport di dunia untuk meraih prestasi juara kelas, juara olimpiade, juara dunia di bidang tertentu. Bekerja keras untuk membangun rumah megah, membeli kenderaan mewah, mengusahakan liburan ke tempat wisata terindah.  Namun kita lalai saling mensupport dalam amal shalih dan ketaqwaan. Bahkan saling mendukung dalam mencapai derajat tertinggi dalam ketaqwaan. 

Sukses abadi adalah berprestasi di hadapan Allah. Semua sukses dunia akan sirna, sukses akhirat itu abadi selamanya. Jangan cukupkan diri dengan sukses-sukses dunia saja, tetapi ditingkatkan lagi sukses dunia untuk menuju sukses akhirat. 

Meraih sukses akhirat tidak mudah, seperti membalikan telapak tangan. Manusia punya nafsu yang gampang tergoda kenikmatan dunia. Hingga kita kadang menjadikan setiap sukses dunia sebuah perolehan, capaian atau prestasi yang harus dibanggakan, disiarkan, disampai pada semua manusia. Kita berharap semua manusia yang ada di jagad raya ini memuji, mengucapkan selamat. Kapan perlu dengan berkilometer karangan bunga. 


Daftar Pustaka:

[1] Al Qurthuby, Al-Jâmi’ Li Ahkâm Al-Qur’ân (Kairo: Dâr al-Kutub al-Mishriyah, 1964), Juz 15, hlm. 296; Ismail Haqqi al-Barousawi, Rûh Al-Bayân (Beirut: Dâr al-Fikr, tt), Juz 9, hlm.192.

[2] Al Qurthuby, Al-Jâmi’ Li Ahkâm Al-Qur’ân, Juz 17, hlm. 66.

[3] Ismail Haqqi al-Barousawi, Rûh Al-Bayân, Juz 7, hlm. 101.

https://mtaufiknt.wordpress.com/2019/06/27/kematian-bukanlah-perpisahan/


Jumat, 31 Januari 2020

DIAM EMAS BICARA BERFAEDAH

Jumat, Januari 31, 2020 0 Comments
Tidak selamanya diam itu emas, dan tidak selamanya juga berbicara itu berfaedah. Diam menjadi emas jika diam itu lebih baik dan menyelamatkan diri dan orang lain dari kerusakan dunia dan akhirat. Berbicara menjadi berfaedah atau bermanfaat jika berbicara itu mendatangkan kebaikan diri dan orang lain baik di dunia dan akhirat.

Hari ini, ketika orang mengagungkan harta benda, kebebasan berbicara, dan hak azasi. Diam dan berbicara tidak pada tempatnya. Ketika situasi menghendaki harus diam malah dia berbicara. Ketika kondisi mengharuskannya berbicara malah memilih diam. Hidup dijaman kebablasan, harus lebih hati-hati, karena sulit membedakan orang baik dan tidak baik. Susah mencari teman shalih dan kadang pura-pura shalih padahal salah.

Memilih untuk diam di rumah, tidak keluar kecuali ada keperluan, tidak suka ngumpul atau kongkoi-kongkoi malah dibilang aneh-aneh. Padahal hidup itu pilihan. Bukan seberapa bagus kita memilih, tetapi seberapa tepat pilihan itu berdasarkan standar syariat. Ukuran baik dan buruk, terpuji dan tercela berdasarkan hukum syarak, bukan akal apalagi nafsu. Suatu perbuatan dikategorikan baik disebabkan dua hal, hal yang mendorong perbuatan itu, dan apa tujuan suatu perbuatan. Suatu perbuatan itu didorong oleh niat ikhlas karena Allah, dan tujuan perbuatan itu untuk mendapatkan ridha Allah maka perbuatan itu adalah baik. Jika perbuatan itu didasarkan niat bukan karena Allah dan tujuannya untuk menyenangkan manusia lain, itulah perbuatan buruk, meskipun di mata manusia baik dan bermanfaat.

Kadang aneh. Melihat orang suka ngumpul dan bicara macam-macam. Pagi hari, setelah sarapan ngumpul sama tetangga, ngomongin orang lain? Siang menunggu anak pulang sekolah ngumpul lagi, ngomongin orang lain. Sore habis mandi ngumpul lagi ngerumpikan orang lain. Malam bersemangat bercerita dengan suami gunjingkan orang lagi. Membicarakan orang lain sangat enak, dibumbui dengan cerita tambahan sebagai penyedap. Nampak orang lewat dibilang macam-macam. Habis bahan obrolan, kucing lewat jadi pembicaraan. Pokoknya masalah-masalah sepele yang tidak pantas dibicarakan jadi omongan hangat. Kira-kira apa manfaatnya ya? apakah senang? bahagia? bangga? puas? mengetahui permasalahan orang lain, meskipun tidak jelas kebenarannya. Kadang suka mengorek-ngorek aib orang hanya yang harus ditutupi karena tidak layak jadi konsumsi umum. Kemudian aib itu menjadi konsumsi renyah untuk disebarkan ke banyak orang. ketika aib orang viral, ia bertepuk tangan di belakang kegelisahan dan kegalauan orang lain. Padahal yang disebarkan itu hanya hasil melihat secuil, mendengar sepotong, membaca sebaris, menganalisis sedikit, sudah berani menyimpulkan seutuhnya. Semua perbuatan di atas adalah sekilas contoh berbicara yang tidak berfaedah, malah menambah dosa.

Ketika yang diomongkan nyata dan benar keadaanya pada orang yang dibicarakan maka itu disebut perbuatan menggunjing, mengghibah, dan menggossip. Orang menggunjing itu sama dengan memakan bangkai saudaranya (QS.Al-Hujurat [49]:12). "


Ketika yang diomongkan itu hanya berdasarkan prasangka dan dugaan saja, tidak benar beritanya, maka itu adalah fitnah. Sementara fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Firman Allah "


Boleh berkumpul dengan tetangga, boleh membicarakan sesuatu, asalkan sesuatu yang dibuacarakan itu tidak berkaitan dengan orang lain, atau aib orang lain, singkatnya bicara sesuai standar syariat. Misalnya membicarakan tentang tentang cara mendidik anak, meningkatkan nafsu makan anak, kuliner terenak di dunia, permasalahan umat, naiknya gas melon, pencabutan subsidi, kontraversi BPJS, dll, dianalisis secara mendalam untuk mencari penyebab, hingga ditemukan solusi cerdas bagi kesejahteraan umat. Sesekali diganti dengan membicarakan ilmu, wajibnya menuntut ilmu, akibat tidak berilmu, manfaat ilmu, atau bicara hikmah, motivasi kehidupan, cara meningkatkan ketaatan dan ketaqwaan, karakter muslimah shalihah, wajibnya hijab (jilbab dan khimar), dan peran muslimah di tengah kancah peradaban dunia. Inilah contoh bicara yang berfaedah. Ketika semua orang yang berkumpul mengeluarkan pendapatnya maka sikap yang lebih baik juga berbicara, ikut menimpali, memberikan pendapat, menawarkan solusi, membandingkan dengan teori-teori yang sedang berkembang, bagaimana solusi Islam atas masalah itu. Jangan memilih diam, justru diam dalam konteks ini adalah diam yang tidak emas, tetapi diam seolah-olah tidak tahu, dan terkesan tidak intelek.

Jadi, tidak setiap diam itu emas, dan tidak pula setiap bicara itu berfaedah. Namun emas dan berfaedah diukur dari hukum syarak. Seorang muslim semua perbuatannya terikat dengan hukum syarak. Perbuatan manusia tidak terlepas dari perintah dan larangan Allah. Jika perintah itu pasti dan jelas hukumnya wajib, jika perintah itu tidak pasti hukumnya sunnah, jika larangan itu pasti hukumnya haram, jika larangan itu tidak pasti hukumnya makruh,  jika hukumnya pilihan boleh melakukan atau tidak melakukan hukumnya mubah. Contoh perbuatannya silahkan cari sendiri. Di situlah kewajiban setiap muslim dan muslimah untuk menuntut ilmu, terutama ilmu Islam, sehingga paham perbuatan mana yang tergolong wajib, sunnah, mubah, haram dan makruh. Hindari menjalankan perintah agama tanpa ilmu. akibatnya bisa terbalik-balik yang wajib dikatakan tidak wajib, yang sunnah dikatakan haram. Ketidaktahuan terhadap hukum syarak, bukan hanya salah dalam beramal, tetapi menyebabkan amalan tersebut tidak bernilai pahala. Sudah capek, habis waktu melakukan suatu amal, ee ujung-ujungnya kosong melompong.

Keep hamasah untuk terus belajar.

Kamis, 30 Januari 2020

BERDANDAN KONTEKSTUAL

Kamis, Januari 30, 2020 0 Comments

Fenomena muslimah hari ini, di rumah berpenampilan biasa. Biasa pakai daster, bau minyak goreng, bau bawang, plus bau keringat. Namun jika keluar rumah, penampilannya luar biasa. Pakai pemerah pipi atau blos on, lipstik, eye liner, celak, eye shadow, buku mata anti badai, sampai memakai minyak wangi yang wanginya semerbak dan tercium dalam radius sekian meter. Ketika ditanya pada salah seorang muslimah, apa alasannya memakai seperti itu?, jawabanya "Tidak percaya diri jika keluar rumah tanpa berdandan." Kurang tepat barangkali, jika meletakkan rasa percaya diri pada dandanan, yang sifatnya berada di luar diri muslimah. Rasa percaya diri yang sesungguhnya adalah keyakinan akan kemampuan diri dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki sebagai anugerah terbesar dari Maha Pencipta.  Setiap orang punya kelebihan sekaligus kekurangan. Kelebihan untuk disyukuri dan dipergunakan seoptimalkan mungkin untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia di hadapan Pencipta, membantu orang lain untuk mencapai kemuliaan hidup, dan senantiasa dikembangkan untuk meninggikan dienul Islam. Sementara kekurangan yang dimiliki disadari, diterima dengan penuh keikhlasan, kesabaran, dan senantiasa belajar dan berikhtiar untuk meminimalisirnya.

Ada lagi muslimah yang lain, mengapa berdandan keluar rumah? Jawabanya: "Kalau tidak berdandan terkesan tidak cantik, tidak gaul, tidak modern, dan terkesan sederhana dan kampungan." Subhanallah serendah itukah muslimah yang tidak berdandan keluar rumah? Paling ironis adanya muslimah berhijab syar'i namun dandananya luar biasa menor, seperti ibu-ibu mau pergi kondangan, tambah sepetu atau sandal tinggi. Barangkali itulah muslimah hebat dan bermartabat menurut persepsi mereka. Bahkan ada sebagian muslimah yang meremehkan muslimah lain yang memilih tidak berdandan seperti dirinya, dengan anggapan "Wanita seperti itu terlalu bodoh, tidak pandai berdandan, jika hari ini tidak pandai berdandan apa kata dunia."Subhanallah... Kadang hanya mengurut dada mendengar ungkapan dan melihat fenomena dandanan muslimah hari ini.
Ukuran gaul, maju dan modern muslimah hari ini telah bergeser, dari berdandan sesuai syariat dengan berdandan sesuai manfaat dan segala ukuran kemodernan dengan standar hawa nafsu.

Muslimah modern sebenarnya adalah wanita taat syariat, muslimah perindu syurga, berilmu tinggi, shalihah, sehingga senantiaasa mengasah dirinya dengan berbagai wawasan dan pengetahuan yang diperlukan diri dan ummat sebagai istri, ibu, mengelola rumah tangga, dan mempersiapkan generasi unggul di masa datang (termasuk akhirat). Kita perhatikan shirah nabawiyah, kisah para sahabiyah,  ummahtul mukminin, atau perempuan shalihah dalam sejarah. Kemajuan mereka jauh melampau zamannya, bahkan sampai hari ini nama mereka tetap dikenang, hidup mereka menjadi teladan para muslimah perindu syurga. Kisah mereka menyejarah. Mereka dikenang bukan karena dandanannya yang aduhai, tetapi kapasitas dan kapabilitas sebagai muslimah tangguh menyiapkan generasi shalih dan shalihah, dan berjuang sekuat tenaga untuk meninggikan Islam, keistiqamahan mereka pada kebenaran sejati, walau mereka kehilangan jiwa raga.

Jadi, ukuran maju dan mundurnya muslimah bukan dari aspek dandanan, tetapi aspek yang jauh lebih tinggi dan agung di atas dandanan. Ketika ukuran maju, gaul, dan modern  adalah para selebritis, bintang iklan, model women, atau wanita dari kalangan Borjuis atau kalangan sosialita, maka seorang muslimah sudah kehilangan figur, idola, panutan, atau tokoh identifikasi diri yang sesungguhnya. Seharusnya setiap muslimah menggunakan standar kemajuan adalah agamanya, ketentuan syarak, contoh dari nabinya, ketentuan kitab sucinya, dan wanita shalihah yang telah dijamin syurga oleh Allah. Bukan mengukur sesuatu sesuai dengan apa yang dipandang maju dan baik  oleh akal dan nafsu.  Hal yang dipandang baik oleh akal belum tentu baik menurut syarak. Akal hanya menguatkan sesuatu yang dipandang baik dan terpuji menurut akal.

Jika demikian, berarti muslimah tidak boleh berdandan. Siapa bilang muslimah tidak boleh berdandan. Sangat boleh berdandan. Namun berdandanlah secara kontekstual. Berdandan secara kontekstual dimaknai silahkan setiap muslimah berdandan sesuai konteks, baik tempat, waktu, dan untuk apa, dan dihadapan siapa dia berdandan. Jika muslimah berdandan di dalam rumah, pada waktu tidak ada lelalki bukan mahram, untuk mencari pahala sebanyak-banyak, di depan kekasih halal (suami tercinta) malah sangat dianjurkan oleh syarak. Namun jika muslimah berdandan tidak kontekstual, ia berdandan ketika keluar rumah, di pada waktu banyak interaksi dan dilihat oleh lelaki asing bukan mahram, niat berdandan untuk dipuji dan mempesona orang lain. Itulah berdandan yang tidak dianjurkan syariat. hal itu tergolong

Apa itu

Sebenarnya tanpa berhiaspun muslimah itu sudah menarik. Allah menciptakan setiap wanita itu mempesona, menarik bagi setiap lelaki. Setiap wanita dapat membuat kagum laki-laki, bahkan menyita ruang angan dan imajinasi lelaki untuk mengkayalkan yang aneh-aneh tentang wanita. apalagi jika wanita tersebut berdandan, ia bisa disulap seperti bidadari. Bahkan sejelek-jeleknya wanita menurut penilaian wanita lain, tetap mempesona bagi seorang laki-laki. Apatah lagi wanita itu memang sudah cantik dari sononya, berdandan dan tidak berdandan pun tetap mempesona. Dengan kecantikan, syaitan menjebak kaum lelaki, sehingga memandang wanita disertai syahwat. akhirnya muncul imajinasi terlarang, dan itu awal dari awal dari berbagai pelecehan seksual. Dalam hal ini yang salah siapa? lelaki yang berpikiran kotor, atau wanita yang berhias tidak sesuai konteks? kedua-duanya salah, wanita salah dengan dandananya di luar konteks, dan lelaki juga salah mengikuti pandangan pertama dengan pandangan mempesona sehingga dijebak setan hingga berkayal sesuai keinginan setan.

Kesimpulannya, jika ingin berdandan, berdandanlah secara kontekstual. Perhatikan konteks berdandan (waktu, tempat, tujuan, dan untuk siapa berdandan). Jika sesuai konteks silahkan berdandan semaksimal mungkin. Eksplorlah kecantian seluas mungkin. Konteks berhias yang berpahala adalah dihadapan kekasih halal. Dihadapan suami tercinta. Di ruang privat. untuk menyenangkan mata fisiknya. Jadi berhias secara kontekstual.

Selasa, 28 Januari 2020

URGENSI RASA MALU

Selasa, Januari 28, 2020 0 Comments
Fakta kehidupan menyampaikan bahwa rasa malu kian tergerus dalam kehidupan orang. Contohnya di media sosial. Ditemukan banyak foto, baik foto biasa maupun foto selfi berbagai gaya, dari gaya klimis, narsis, romantis, sampai agamis. Begitu juga video, komentar, celotehan, ungkapan rasa hati, kecewa, bahkan rahasia pribadi diumbar tanpa rasa malu. Bahkan ada yang mempublikasikan keromantisan yang seharusnya dirahasiakan di belakang pintu kamar pribadi. Ada juga membuat status tentang aktivitas dan kemajuan pekerjaan setiap hari, sehingga orang lain sampai hafal karakternya di media sosial. Jika tidak sempat posting status satu kali saja, kita akan bertanya:"Ada apa gerangan, kok tidak buat status hari ini?"

Tidak masalah kita buat status di media sosial, asalkan isinya kebaikan, nasehat, dakwah, hikmah, motivasi, atau informasi terkini. Tidak masalah juga posting video, jika dengan video itu diri kita dan orang lain mendapat pelajaran berharga tentang dien kita dan kehidupan. Namun jika semua sisi kehidupan kita posting, akan menguras tabungan privasi diri dan kehormatan kita di hadapan orang lain. Kita perlu menyisakan privasi dan rahasia pribadi dan rahasia kehidupan kita sebagai indikator bahwa kita masih memiliki rasa malu. Tidak semuanya harus diumbar. Tidak semuanya harus diketahui orang. Paling ironisnya, mengumbar amal shalih lewat foto dan video dengan caption "Alhamdulillah sudah selesai tilawah 1 juz", "Alhamdulillah sedang transit di Dubai menuju Mekkan dan Madinah", "Alhamdulillah lagi di Muzdalifah". Kira-kira dari foto dan video ibadah itu pesan apa yang mau disampaikan? dakwah?, motivasi?, entahlah. Seolah-olah dua Malaikat Allah tidak mampu mencatat secara rinci semua amal shalih seorang hamba.

Rasa malu juga berfungsi sebagai filter kewarasan. Orang waras masih memiliki rasa malu ketika berbuat sesuatu di luar kewarasan. Berbeda dengan orang gila, tidak ada lagi rasa malu melakukan perbuatan tidak waras. Ya iya lah, orang gila memang tidak waras. Lebih gila lagi ketika orang waras, melakukan perbuatan tidak waras. Orang gila melakukan sesuatu yang tidak waras masih dimaklumi orang. Namun orang waras melakukan hal yang tidak waras, berarti ada gangguan kewarasan.

Ketiadaan rasa malu pada orang waras adalah awal kehancuran suatu kaum atau suatu bangsa. Sebagaimana Sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam "Jika Allah hendak menghancurkan suatu kaum, maka terlebih dahulu Allah melepas rasa malu pada kaum itu."(HR. Bukhari dan Muslim).

Pepatah Minangkabau juga mengatakan "

Rasa malu mendatangkan kebaikan. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam Bersabda: "

Jadi rasa malu adalah seluruhnya mengandung kebaikan. Rasa malu yang tepat adalah rasa malu karena syariat, bukan rasa malu karena manfaat, apalagi rasa malu yang tidak tepat. Adakah rasa malu yang tidak tepat?. Ada. Ketika rasa malu tidak pada tempatnya. Mengatasnamanakan rasa malu padahal sebenanrnya gengsi. Misalnya malu pakai jilbab dan kerudung, malu pakai kaos kaki, malu melaksanakan shalat, malu puasa, malu membaca al-Qur'an, malu memutar murathal al-Qur'an, malu bicara Islam, malu nanti dibilang sok alim, sok suci, sudah hijrah, dan malu berbuat amal shalih lainnya. Inilah malu yang tidak tepat. Menenmpatkan rasa malu terhadap manusia di atas rasa malu terhadap pencipta. Padahal Rasulullah menegaskan: "

Kedudukan rasa malu dalam syariat Islam sangat tinggi. Sebagaimana sabda Rasulullah:"

Senin, 27 Januari 2020

PERBEDAAN ZONA WAKTU

Senin, Januari 27, 2020 0 Comments

Setiap tempat di muka bumi memiliki waktu  shalat berbeda. Waktu shalat Subuh di Malang jam 04.00 WIB. Di Padang masuk waktu Subuh jam 05.00 WIB. Tidak berarti waktu Subuh di Padang lambat, dan waktu Subuh di Malang cepat. Bukan pula bermakna Malang lebih hebat dibanding Padang. Pada kedua kota ini waktu bekerja sesuai zona atau waktu masing-masing.

Demikian juga orang. Ada orang  yang wisuda lebih dahulu, lebih cepat, dan pas waktu yang ditargetkan. Ada pula yang wisuda kemudian, agak lambat, dan molor dari waktu yang ditargetkan. Ada yang cepat naik pangkat, dua tahun sekali, dan biasa-biasa saja, tidak menonjol dan seheboh orang-orang. Namun ada juga orang yang tidak naik-naik pangkat, padahal produktif, orator ulung, dan dikenal hebat. Apakah yang dahulu naik pangkat lebih hebat dari yang tidak naik-naik pangkat. Kenyataanya tidak.

Setiap orang memiliki zona waktu. Intinya setiap orang memiliki qadha dan qadar, episode hidup, dan momentum masing-masing. Setiap orang mendapatkan sesuatu sejalan dengan kecepatannya sendiri-sendiri. Cara kerja masing-masing, itulah kekhassan dan kesejatian diri setiap orang. Setiap orang juga memiliki ukuran baju masing-masing yang hanya sesuai dan pas dengan badannya. Akan longgar atau kekecilan jika dipakaikan pada orang lain. 

Hal terpenting adalah  menyelaraslan cara mencapai keberhasilan tersebut dengan standar dan ketentuan Pencipta. Maka itulah momentum terbaiknya, sebab keberhasilan bukan sekedar hasil di dunia, tetapi harus bermakna di sisi Rabb dan kebahagiaan akhirat.  Setiap pencapaian  adalah  momentum terbaik seseorang  menurut Pencipta untuknya. Tidak masalah kapan kita mencapai, namun bermasalah ketika mencapai sesuatu dengan merendahkan orang lain.

Setiap orang berjalan dan berlari dalam garis perlombaan, jalur, pintasan atau garis waktunya sendiri. Kapan sampai di garis finish tergantung kecepatannya sendiri. Kecepatan itu tidak dapat disamakan dengan orang lain, apalagi dipaksa sama dengan orang yang lebih dahulu sampai. Itu artinya setiap orang hanya boleh membandingkan dirinya yang dulu dengan dirinya yang sekarang. Dirinya yang kemarin dengan dirinya hari ini. Apakah aku yang hari ini sama dengan aku yang kemarin, atau aku yang sekarang berbeda dengan aku yang dulu dalam hal positif.

Jika membandingkan diri dengan orang lain. Menurut perspektif zona waktu tidak relevan, karena alat pembandingnya berbeda, jika dipaksa menggunakan pembanding orang lain, menimbulkan stress, sakit hati, kecewa, putus asa, dan tidak bersyukur atas semua pencapaian. Orang lain bisa saja mungkin "kelihatan" lebih maju, lebih unggul, lebih hebat dari diri sendiri, karena ukuran, standard, episode hidup, rencana, qadha dan qadar Allah berbeda atasnya. Dengan alasan apapun tidak akan pernah bisa membandingkan diri dengan orang lain. Anda pun punya zona waktu tersendiri. Kita tidak cepat, dan tidak pula lambat atas waktu kita sendiri. Bahkan kita sangat tepat waktu dengan waktu kita sendiri. Setiap orang ada waktunya, setiap momentum pas pada waktunya.

Untuk itu, tidak pada tempatnya seseorang iri, dengki, hasat, dan sakit hati dengan pencapaian orang lain. Apalagi pencapaian itu berkaitan dengan aspek dunia yang fana, akan hancur, dan tidak dibawa mati. Iri yang dibolehkan syariat hanya iri melihat pencapaian ukhrawi seseorang. Kita boleh iri dengan ketaqwaan, keshalihan, kedermawanan, kejujuran, keistiqamahan dalam prinsip kebenaran dan idealisme diri, daya juang untuk meninggikan diennya, dan seabrek amalan akhirat lainnya. Iri terhadap aspek akhirat seseorang di samping dibolehkan syariat, juga dapat memotivasi diri untuk lebih baik, dan lebih baik lagi di sisi Pencipta. Maka perjuangan untuk meraih keberkahan Ilahi adalah upaya sungguh-sungguh tak pernah kenal lelah dan kata berhenti. Wallahu A'lam Bisshawab.





MEDIA SOSIAL HANYA ALAT

Senin, Januari 27, 2020 0 Comments
Media sosial hanya alat, sarana, atau piranti teknologi, sama  dengan sarana kehidupan lainnya. Kemaslahatan  dan kemudaratan suatu alat tergantung pengguna dan penggunaannya. Apakah alat itu digunakan untuk mengumpul pahala sebanyak-banyaknya atau menumpuk dosa  tergantung niat, tujuan, cara, konten, penggunaannya.

Di era revolusi industri 4.0 ini. Peluang dan tantangan hampir sebanding dalam penggunaan teknologi. Kita hidup di dunia nyata dan kadang juga beraktivitas di dunia maya, medsos misalnya. Pertanyaanya apakah ada singkronisasi keberadaan kita di dunia nyata sama dengan di dunia maya. Tampil tawadhu' di dunia nyata juga tampil rawadhu di dunia maya. Jangan-jangan selama ini kita terlihat tawadhu' di dunia nyata, namun terlihat riya' di dunia nyata. Semua sisi hidup dan prestasi kita unjuk di dunia maya. 

Faktanya memang demikian. Ketika berselancar di dunia maya. Terutama media sosial, yang dominan terlihat adalah deretan keberhasilan, aktivitas harian, kegiatan, kesenangan, bahkan kegiatan ibadah. Posting depan Ka'bah,  Jabal Nur, di depan masjib, menyerahkan santunan pada anak yatim misalnya. Terlepas dari niat atau gunakan alasan syiar dakwah, yang dilihat orang hanya itu. Orang lain tidak bisa niat atau tujuan syiar lewat gambar, sebab niat dan tujuan urusan hati. 

Sesekali ajak hati dan nurani paling bening merenungkan eksistensi diri di dunia ini. Bagaimana keberadaan  kita di dunia nyata dan di dunia  maya. Evaluasi dengan jujur, sudah berapa banyak postingan kita yanga bernilai pahala dan seberapa banyak postingan kita berpotensi dosa. Bagaimana cara kita menyeimbangkan dua dunia itu untuk memperbanyak dan mempermudah jalan kita menuju ridha-Nya.

Kadang kita merasa. Jangankan di dunia maya, di kehidupan dunia nyata saja, kita sudah berpotensi dosa. Kemudian, begitu on di media sosial dosanya bertambah, bahkan berlipat ganda. Kok bisa? Tak perlu heran jika di dunia nyata dan dunia maya kontennya sama, seperti

Sebaliknya, ada juga di dunia nyata berhasil mengumpulkan pahala, begitu juga di dunia maya mampu meraup pahala berlipat ganda. Mengapa?, karena dia di dunia nyata dan dunia maya bicara atau menulis kebaikan, hikmah, nasehat pada

Berpikir, berperasaan, bersikap dan berperilaku di dunia nyata dan dunia maya (media sosial) adalah pilihan. Setiap pilihan mengandung konsekuensi pahala atau dosa, memilih jalan taqwa atau fujur, diridhai atau dimurkai Allah. Pada akhirnya setiap pilihan memiliki konsekuensi abadi syurga atau neraka.

Sejatinya, setiap sikap dan perilaku kita di dunia nyata atau dunia maya tidak pernah terlepas dari pengawasan Allah Yang Maha Teliti. Tidak sedetikpun luput dari catatan dua malaikat. Semua yang kita tulis dan kita katakan akan ditimbang di hari perhitungan, di depan Hakim Yang Maha Adil. Alangkah malunya diri kita jika catatan kebaikan kita banyak yang kosong.

Hidup di dunia hanya permainan dan senda gurau, penuh kebohongan dan ilusi, namun bukan tanpa arti, semua kita akan kembali membawa amal menghadap Ilahi. Terus berfastabiqul khairat, jangan pernah berhenti, atau terhenti oleh caci-maki, walau semua orang tak peduli, sebab pahala tidak ditentukan oleh manusia, tetapi tergantung oleh keikhlasan, ittiba' 'alar Rasul dan penerimaan Allah Subhanahu Wata'ala. Wallahu A'lam Bissawab.

KETIKA ALLAH RINDU

Senin, Januari 27, 2020 0 Comments
Kerinduan adalah rasa terdalam untuk mendengar cerita indah dan  kisah resah sang kekasih.

Kerinduan menjadi perekat kuat relasi cinta manusia dengan manusia, dan manusia dengan Pencipta. 

Kerinduan antara dua insan sejuta makna terlebih lagi kerinduan Pencipta pada hamba-Nya tentu Maha Luar Biasa. Ketika dulu di alam ruh berikrar setia untuk tetap mengesakan-Nya dalam suka dan duka. Hingga ruh  ditiupkan ke dalam raga, dibentuk-Nya sampai menjadi manusia sempurna.

Bersama waktu, kadang insan lalai dan terlupa untuk mendatangi Sang Maha Cinta, hingga Allah merindukan keluh kesah dan cerita bahagianya yang dikehendaki-Nya. Tatkala Allah merindukan hamba-Nya, Dia tidak anugerahkan kesenangan, tetapi sedikit memberi ujian, rasa sakit, kesulitan, kemarahan, kekecewaan, dan kekurangan agar insan tersebut bersimpuh dan bersujud di sajadah cinta.

Tatkala Allah rindu pada hamba-Nya, Dia tak datangkan intan permata, tetapi mencurahkan setetes hidayah pada qalbu insan agar tetap istiqamah menjalani taat dan ikhlaskan amal dalam mujahadah cinta.

Tatkala Allah rindu pada hamba-Nya. Dia tidak memberikan dunia dan segala keindahannya, tetapi memberi musibah agar insan bermuhasabah atas semua khilaf dan dosa sengaja atau tidak disengaja. Agar ia selalu ingat hidup di dunia hanya pengembara yang sedang mengumpulkan bekal untuk  pulang ke kampung halaman sebenarnya, yaitu Syurga. Wallahu A'lam Bissawab

DUNIA SELAKSA AIR

Senin, Januari 27, 2020 0 Comments
Siklus air adalah simbol kesabaran atas konsensus alam. Air tidak pernah mengeluh ketika dipanaskan, atau didinginkan. Bahkan dengan dua kondisi itu ia dapat memberikan manfaat bagi orang yang membutuhkan. 

Air siap menjadi asin, manis, keruh dan jernih atau bentuk apapun yang alam inginkan. Namun, ketika saatnya ia harus menguap dan naik ke angkasa ia akan menunjukkan wujudnya yang asli yang BENING dan MENSUCIKAN.

Air memiliki fleksibilitas sifat, ia bisa positif bisa juga negatif. Imam Al-Qurtubi menyatakan dunia selaksa air. Air tidak pernah setia pada suatu tempat, ia mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. 

Sama dengan dunia dunia tak pernah setia dengan pencintanya. Seseorang mencintai dunia, maka orang lain diberi cinta lebih banyak oleh dunia.

Air itu menguap dalam kondisi-kondisi tertentu. Dunia juga menguap, semua keindahan dunia menguap, hilang, dan tak berarti. Orang-orang yang membanggakan dunia, dunia akan menguap dari kehidupannya ketika ia menghadap Ilahi.

Air bersifat membasahi, jika bermain dengan air maka akan basah. Jika bermain dengan dunia, dunia akan membasahi bahkan menenggelamkan kita.

Air bermanfaat jika jumlahnya sedikit, sekadar untuk minum melepaskan dahaga, jika jumlahnya banyak, air akan berbahaya. Begitu dunia, dunia akan bermanfaat jika dimanfaatkan secukupnya untuk bekal perjalanan ke akhirat. Jika dunia digunakan terlalu banyak maka dunia melalaikan beribadah, dunia akan masuk ke hati, enggan keluar, menyebabkan para pecintanya mengkultuskan dunia, dan takut pada kematian. 

Air adalah pasukan Allah, yang senantiasa berdzikir dan patuh pada setiap perintah-Nya. Sama-sama air namun fungsi bisa berbda ketika digunakan pada kaum beriman atau orang-orang shaleh.

Air yang mengantarkan Musa As., ke istana Fir'aun. Padahal Musa mungil sedang dalam kondisi terlemah. Seorang bayi yang dimasukkan ibunya ke dalam keranjang yang belum lulus uji anti bocor. Air juga yang menghancurkan pasukan Fir'aun padahal ia sedang dalam masa jaya dengan imperium terkuatnya.

Kita sebagai manusia semua kejadian adalah hikmah, sarat berkah. Jadikan kisah air dan selaksa air sebagai ibrah. Hidup bukan sekadar hidup, seperti air mengalir. Tetapi hiduplah semata-semata meniru ketundukkan air pada semua aturan Pencipta-Nya. Wallahu A'lam Bisshawab.