Follow Us @soratemplates

Senin, 27 Januari 2020

SEDERHANA ITU RINGAN

Senin, Januari 27, 2020 0 Comments
Keindahan dalam pilihan kemuliaan

Sederhana menjadikan pemimpin mulia,
Menjadikan rakyat jelata bermartabat, 
orang kaya dicintai, dan orang miskin terhormat.

Sederhana bukan kemegahan, 
apalagi kemewahan dan gemerlapan. 
Tetapi ..
Perasaan qonaah penuh kesyukuran, 
Mengundang do'a dan ketulusan dalam kerahasiaan.

Sederhana itu pilihan,
Terkadang terlihat rendah di mata insan 
yang mengukur kemuliaan dengan keduniawian, 
namun...terlihat tinggi di mata para perindu jalan kenabian.

Sederhana itu meringankan dan memudahkan.
Sederhana dalam makanan meringankan badan,
Sederhana dalam berpakaian meringankan perjalanan,
Sederhana penampilan meringankan perjuangan,
Sederhana dalam pikiran meringankan tindakan,
Sederhana dalam tutur meringankan hubungan,
Sederhana gaya hidup memudahkan pendapatan.

Sederhana itu menyelamatkan.
Sederhana dalam takut menjauhkan maksiat,
Sederhana dalam harapan menguatkan taat,
Sederhana dalam cinta melezatkan ibadat,
Sederhana dalam keluarga menguatkan ikatan dalam akad.
Sederhana dalam pertemanan menghilangkan hasad.

Sederhana adalah pilihan hidup para Nabi, Rasul, 
Orang shaleh, dan Orang beriman yang belajar taat. 
Menapaki jalan perindu Syurga bukan jalan mulus
 bertabur bunga, tetapi jalan berliku penuh tanjakan,
Tikungan, dan turunan tajam.

Allahu a'lam bissawab.


KEBERHASILAN ITU RELATIF

Senin, Januari 27, 2020 0 Comments
Keberhasilan merupakan kata besar yang terdapat dalam angan. Satu kata berbanding lurus dengan kesulitan dan pengorbanan.

Semua orang sepakat "setiap insan mendambakan keberhasilan, namun tidak sepakat pada aspek makna, ukuran/standar, bentuk, strategi memperoleh, dan  ekspresi emosi merayakan euforia keberhasilan. Perbedaan ini berimplikasi terhadap relativitas batasan keberhasilan. 

Keberhasilan bagi satu individu bisa jadi belum berhasil bagi individu lain. Menurut satu individu menjadi sarjana mungkin keberhasilan, namun menurut individu lain menjadi sarjana hanya satu langkah menuju keberhasilan selanjutnya. 

Menjadi juara olimpiade Kimia mungkin keberhasilan luar biasa bagi satu keluarga, namun belum berhasil bagi keluarga lain yang menggunakan standar keberhasilan pada banyaknya hafalan al-Qur'an. Oleh sebab itu, apapun bentuk dan ukuran keberhasilan, jangan sampai melupakan Yang Memberi Keberhasilan, apalagi menilai orang lain gagal dan rendahan, disertai sikap arogansi atas karunia Ilahi.

Keberhasilan itu relatif, tergantung standardisasi dan ekpektasi jangka panjang  (

Berbeda dengan orang yang memilih standar dan ekspektasi keberhasilan ukhrawi maka dia akan merahasiakan dan mensyukur keberhasilanya. Mengucapkan masyaa Allah tabarakallah, atau mashaa Allah la quwwata illa billah ketika dipuji orang. Dia senantiasa mendekatkan diri dalam ketaatan kepada Sang Pemberi keberhasilan, sebab dia tidak tahu, apakah keberhasilan itu wujud dari sayang atau kebencian Allah. Terlalu sulit membedakan keberhasilan sebagai wujud ujian, musibah, atau istidraj.

Keberhasilan adalah sebagian rezki Allah, ukuran rezki hanya keberkahan.  Keberkahan tidak  ditentukan oleh jumlah, tetapi ditentukan oleh akibat dari keberkahan. Apakah rezeki itu membawa ketenteraman dalam kataatan kepada Allah. Atau sebailknya rezeki itu memabawa kegelisahan dan pembangkangan kepada Allah.

Strategi memperoleh keberhasilan berbeda pada setiap orang. Jika keberhasilan diawali dengan niat mendapatkan keridhaan Allah semata, maka langkahnya dimulai dengan do'a,  ikhtiar optimal, kerja keras, kesungguhan, kegigihan, penuh semangat, memanfaatkan setiap moment dan waktu, dan diakhiri dengan tawakkal. Ketika berhasil dinikmati dengan penuh rasa syukur dan tawadhu'. 

Jika belum berhasil dia ikhlas dan sabar, sembari terus belajar dan memuhasabah diri atas dosa dan kesalahan di sepanjang proses ikhtiar, tetap dalam ketaatan bahwa semua proses bernilai ibadah, dan tetap husnusdzon bahwa itu yang terbaik dan terindah di sisi Allah.

Namun jika keberhasilan diniatkan bukan untuk selain Allah, maka do'a bisa jadi nomor enam puluh delapan, menghalalkan segala cara,  mendzalimi manusia lain, dan memanipulasi segala bahan, sehingga ketika berhasil bersyukur hanya polesan, dan tawadhu' hanya hiasan lisan. Jika belum berhasil ia menyalahkan banyak insan bahkan Tuhan.

Apapun makna yang diberikan terhadap keberhasilan, keberhasilan tetap suatu tingkat pencapaian. Maka jangan paksakan ukuran keberhasilan kita pada siapa pun, jangan banggakan keberhasilan kita pada siapapun, sebab orang punya ukuran dan makna keberhasilan yang berbeda. Walahu A'lam Bissawab.

SAMI'NA WA'THO'NA

Senin, Januari 27, 2020 0 Comments
Kecerdasan adalah potensi atau fitrah penciptaan oleh Ar-Rahman

Kecerdasan manjadi modalitas kehidupan untuk tetap bertahan melakukan amalan.
Kecerdasan membuat insan mudah menemukan solusi setiap persoalan.
Kecerdasan memudahkan manusia berdaptasi dan menganalisis teori keilmuan.
Kecerdasan membantu insan menyusun strategi menggapai berbagai kesuksesan.

Idealitas suatu  kecerdasan membantu manusia meraih kemuliaan.
Melalui ma'rifatullah, ma'rifaturrasul dan ma'rifatul insan.
Menguatkan pemahaman tentang tujuan, eksistensi, dan orientasi penciptaan.
Kecerdasan bukan untuk dipertuhankan atau diidolakan,
Apalagi untuk berdalih menentang
Semua dalil qath'i dalam al-Qur'an.
Atau menolak sebagian Sunnah atau menafikan teladan Sang Qudwah dan Uswatun Hasanah berbagai aspek kehidupan.

Gunakan kecerdasan dengan serius
Memahami Islam, iman, dan ihsan terus-menerus.
Hingga pemahaman menjadi lurus
Tanpa putus oleh kultus, baik situs, tokoh, selebritis atau segepok pulus.
Tidak tergoda kemilau dunia penyebab iman tergerus.

Kecerdasaan piranti kehidupan paling kualitatif.
Untuk membantu berislam secara komprehensif.
Bukan tentatif apalagi relatif
Kecerdasan membantu kondisi iman yang sedang berfluktuasi.
Melalui kajian rutin terhadap ayat-ayat Allah dan Sunnah Rasul secara intensif.

Tundukkan kecerdasan berhadapan dengan Firman Allah dan Sabda Rasulullah (sami'na wa'ath'na=kami dengar dan kami taaati) tanpa berkilah.

Atau menolak dengan analisis logika yang salah.
Tidak mungkin kemampuan otak, kinerja akal melebihi kekuatan Firman Allah.
Lalu alasan apa yang  membuat kita pongah, 
meninggalkan kewajiban dan melanggar perintah Allah.
Kelebihan apa yang membuat kita merendahkan manusia laksana sampah?

Berjalan di muka bumi dengan  menengadah penuh pongah
Padahal tidak ada satupun garansi kita mulia di mata Pencipta kecuali  taqwa dilakukan secara istiqamah.
Tidak ada jaminan kita mati Husnul khatimah, siksa kubur mudah, Yaumil hisab menegangkan sanggupkah, dan masuk syurga tanpa hisab penuh berkah.

Teruslah melangkah dengan gagah.
Penuh tawadhu' dan menjaga muru'ah.
Muliakan setiap diri yang pernah bersyahadah.
Dialah saudara sesungguhnya
Memberi syafaat atas izin Allah
Menyelamatkan kita dari neraka
karena beribadah bersama dalam ukhuwah Islamiyyah.
Wallahu A'lam Bisshawab

TETAP LAKUKAN KEBAIKAN

Senin, Januari 27, 2020 0 Comments
Kebaikan merupakan semua bentuk perkataan dan perbuatan yang  mendatangkan kemaslahatan dan keselamatan bagi diri dan orang lain,  baik di dunia maupun di akhirat.

Kebaikan diukur dengan  syariat bukan ditakar dengan nafsu sesaat.

Kebaikan diinginkan semua insan, menumbuhkan potensi menggapai peradapan, mudah diorasikan namun sulit diaplikasikan, meskipun bisa dilakukan tetapi banyak pengorbanan menahan godaan kiri kanan.

Kebaikan diperjuangkan bukan duduk manis dalam penantian tanpa kegiatan.

Kebaikan demi kebaikan yang direncanakan mesti diaplikasikan dengan target kegiatan, diorientasikan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan akhirat paling diutamakan. Lakukan kebaikan dengan penuh keikhlasan, sebab keterpaksaan dalam kebaikan hanya kesia-siaan.

Kebaikan dilakukan penuh keikhlasan sesuai tuntunan Allah dan Rasulullah mengantarkan insan membanggakan tidak saja bagi manusia tetapi juga para nabi dan Pencipta.

Belajar sepanjang jalan,  sepanjang nafas masih di badan, atau sampai perpisahan dengan dunia dan kehidupan. Cita-citakan terus menerus melakukan kebaikan, dan  berlomba dalam kebaikan, mati dalam kebaikan dan dimasukkan ke syurga Allah karena berbagai kebaikan. Jangan hentikan langkah kebaikan, jangan harapkan pujian insan, jangan lelah dengan kebaikan sebab kebaikan bukan urusan sesama insan tetapi kualitas insan di mata Pencipta (Allah Subhanahu Wata'ala).
Allahu A'lam Bissawab.

MEMAKNAI KEGAGALAN

Senin, Januari 27, 2020 0 Comments
Kegagalan merupakan garis kontinum keberhasilan,
Jika di satu ujung dinamakan kegagalan,
namun diujung yang lain adalah keberhasilan.

Kegagalan adalah cara Allah menguji ketahanan insan
untuk tetap istiqamah dengan amalan demi menggapai keridhaan-Nya, sekaligus pembelajaran sejati mengenai urgensi rasa syukur atas nikmat yang disuguhkan.

Kegagalan bukan indikasi penderitaan dan kesengsaraan, tetapi strategi Allah memperkenalkan makna ikhtiar dan perjuangan, indahnya cara Allah dalam menghadirkan momentum keberhasilan. Allah Dzat Maha Pengatur semua jiwa insan dalam genggaman, menghadirkan apa yang dibutuhkan bukan apa yang diinginkan insan. Yakinlah rencana Allah pada diri setiap insan lebih agung dan penuh kejutan.

Kegagalan diterima dengan segenap kesabaran dan ketabahan, sambil terus membenahi perencanaan dan amalan, mana tahu kesalahan dan kemaksiatan menjadi penghalang keberhasilan. Introspeksi diri lebih diutamakan daripada menyalahkan orang lain atas kegagalan. Refleksi hati atas kegagalan lebih menentramkan, barangkali ada terselip angkuh dan kesombongan yang direncanakan jika keberhasilan di tangan.

Kegagalan adalah pembelajaran sejati untuk kedewasaan dan kematangan dalam ketaqwaan. Jika kegagalan dimaknai dengan keimanan, maka insan mengembalikan urusan kepada Allah yang Maha Penentu keadaaan. Allah Maha Penyayang senantiasa memberikan kemudahan bersama kesulitan.

Tatkala kegagalan dimaknai kesengsaraan. Ada pemahaman terhadap qadha dan qadar yang belum mapan. Bagusnya belajar agama ditingkatkan. Bukan sibuk mencari kambing hitam atas kenyataan. Toh, kambing hitam tak pernah terkait dengan kenyataan. Semua kejadian tak pernah lepas dari kendali Sang Pengatur kehidupan. Cara terbaik menerima kegagalan adalah tetap ridho atas setiap ketentuan. Pada Allah tetap husnusdzon. Tingkatkan kesabaran, sembari belajar berbagai kelemahan kegiatan yang pernah dilakukan. Susun ulang perencaan. Kalkulasikan setiap hambatan, perkirakan solusi mengatasi berbagai hambatan. Kemudian lakukan setiap rencana dengan penuh keikhlasan, kesungguhan, dan ketekunan. Kemudian kuatkan tawakal, sebab Allah adalah semua sandaran.

Allahu A'lam Bissawab.

MAAFKAN, JIKA SAYA LUPA

Senin, Januari 27, 2020 0 Comments
Pagi itu, di salah satu masjid di kota ini. Saya dihampiri akhwat sebelum kajian dhuha dimulai, "Masih ingat saya bu?" saya terdiam, berusaha keras untuk mengingat,  namun gagal. "Dulu, saya mahasiswa ibu," dia mencoba membantu ingatan saya, namun sebegitu keras saya berusaha mengingat, tetap saja saya tidak mampu mengingat akhwat tersebut.

Sebenarnya, saya bisa saja berargumen bahwa mahasiswa yang pernah saya ajar itu banyak. Datang silih berganti setiap tahun akademik. Ditambah lagi saya pernah mengajar tidak di satu perguruan tinggi.

Saya tidak tega melihat ekspresi kecewanya. Wajahnya sangat berharap saya mengingat dia. Namun saya tidak mampu. Saya hanya tersenyum, menanyakan kabar, dan mendo'akannya. Dia menjawab, tapi kelihatan agak kecewa, karena saya tidak menyebut namanya. "Ya Rabb bantu hamba mengingat namanya" do'a saya dalam hati".

Kejadian ini tidak sekali, dua kali terjadi. Ini pengalaman yang tidak menyenangkan, ketika bertemu seseorang yang berusaha mengingatkan saya tentang dia, namun saya berulang kali tidak berhasil mengingat nama, kapan, dan dimana bertemu dengannya. Ini peristiwa memalukan, bahkan menyedihkan bagi saya pribadi. Sama halnya dengan saya, ketika menyapa seseorang, namun orang itu tidak mengenal atau tidak ingat saya, atau pura-pura tidak ingat.

Pengalaman ini pernah terjadi. Ketika saya bertemu seseorang yang sudah saya kenal bertahun-tahun. Kemudian komunikasi terputus, dia hidup di kota lain. Dia sukses dalam karirnya, punya anak berprestasi, rumahnya mentereng, dan memiliki kenderaan mewah. Ketika bertemu, saya ucapkan salam tapi tidak dijawab, jabatan tangan saya tidak dibalas, malah dia pergi seolah tidak pernah kenal saya. Saya heran, ada apa ini? apakah saya pernah menzaliminya? Belakangan, saya dengar dari beberapa teman, memang selama ini dia memang demikian, kecuali pada pejabat, orang berkedudukan, terhormat, kaya, dan berjasa padanya. Barulah dia akrab.

Saya heran, masa sih kita harus demikian? Merasa tak pantas ramah pada semua orang? Terutama pada mereka yang seaqidah dan sesama muslimah? Islam yang saya pahami tidak demikian. Kenapa kita harus lupa daratan, menjadi manusia tinggi hati, dan alkibr. Kriteria alkibr di antaranya: merendahkan dan sengaja melupakan orang lain, tidak menyapa, tidak mengucapkan salam, tidak tersenyum, serta enggan berjabat tangan.

Oleh karena itu, wahai ananda sayang, jika kita pernah membahas sepenggal ayat Allah dalam kelas, maafkan ibu jika ibu lupa nama ananda, ibu hanya manusia biasa yang memiliki keterbatasan."
Ibu pun berusaha sekuat tenaga mengingat siapa yang pernah ibu temui, berteman dengan ibu, dan pernah belajar dan beraktivitas bersama ibu,
karenanya maafkanlah ibu, jika ibu lupa."

Jangan sungkan untuk menyapa, mengucapkan salam dan ulurkan tangan jika berjumpa. Insyaa Allah saya akan menyambut dengan hangat, baik saya berhasil mengingat, ataupun tidak. Karena, saya juga sedang belajar untuk menjadi teman yang baik, yang hangat bagi muslimah lain, bukan karena sok akrab, tapi karena belajar dan berusaha mengikuti tuntunan Nabi kita.

Bukan hal yang sulit untuk tersenyum, mengucapkan salam, berjabat tangan pada sesama muslimah. Walau saya tahu ada juga orang yang enggan melakukan itu pada semua muslimah. Ada orang yang lebih memilih mulutnya terkunci, salam tak terucap, dan enggan berjabat tangan antar sesama muslimah.

Tetapi bagi kita, hanya Allah yang Maha Tinggi yang berhak sombong, meski kita tahu Allah juga Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tidak wajar dan tidak pada tempatnya kita merasa lebih berhak tinggi dan sombong dari Allah? Na’udzubillahi min dzalik. Sekali lagi, maafkanlah, jika saya lupa.

Masjid Baitul Muttaqin Kota Malang, 140719

Senin, 20 Januari 2020

MENJADI DIRI SENDIRI

Senin, Januari 20, 2020 0 Comments
Tanpa disadari, terkadang kita kehilangan independensi dan kesejatian diri. Gaya hidup dipilih atas dasar gengsi, bukan pilihan sadar, terencana, penuh kalkulasi, sesuai kemampuan diri, dan terhindar dari berbagai konsekuensi.

Demi gengsi kadang tanpa sadar kita dicekoki ideologi asing, seperti  kapitalism, materialism, liberalism, pragmatism, dan hedonism. Ideologi asing menjadikan kekayaan, harta, uang, mobil, emas, dan kesenangan dunia sebagai simbol eksistensi dan keberhargaan diri. Demi simbol itu, kita melakukan berbagai upaya untuk memperbanyak kuantitas simbol-simbol tersebut.  Ukuran keberhargaan diri bagi idelogi asing itu adalah kuantitas kepemilikan harta. Semakin kaya seseorang semakin dihormati, diperhitungkan, dan disegani. Untuk itu, mereka memperbanyak jumlah simbol-simbol kekayaan (rumah mewah, mobil mewah, perabotan mewah, perhiasan, aneka  barang elektronik bermerek, canggih keluaran terbaru dll).

Bagi penganut ideologi asing itu,  hanya simbol-simbol tersebut dan kesenangan ragawir yang diperjuangkan. Wajar saja, mereka tidak meyakini hari berbangkit, dan menafikan keberadaan Tuhan dalam hidup mereka. Anehnya, kita yang meyakini Islam sebagai agama sekaligus ideologi pun  terjebak dengan ideologi tersebut, sehingga pandangan kita terhadap kemuliaan manusia pada awalnya pada tingkat ketaqwaan,  bergeser pada pandangan kemuliaan menurut perspektif ideologi asing tersebut. Kita mempersepsi hidup bahwa ukuran kemuliaan manusia adalah banyaknya jumlah simbol-simbol kekayaan seseorang. Semakin kaya semakin dimuliakan, dihormati, disegani, dan disanjung. Sebaliknya semakin miskin, bersahaja, hidup sederhana, dan tidak punya semakin dipandang hina. Terkesan kita menafikan ukuran kemuliaan menurut Pencipta kita.

Demi apa? ya demi gengsi. Kita gengsi dikatakan miskin. Kita gengsi hidup sederhana. Kita gengsi jika tidak punya mobil.  Kita gengsi berjalan kaki. Kita gengsi naik gojek. Kita gengsi jika tidak punya pakaian, tas,  sepatu bermerek. Kita gengsi jika tidak jalan-jalan. Kita gengsi semuanya jika sama dengan orang lain. Kita meletakkan gengsi pada simbol-simbol yang tidak kita buat berlandaskan pemikiran, prinsip, dan ketentuan Pencipta kita. Bahkan kita tidak paham makna gengsi itu sendiri. Kita hanya ikut-ikutan. Kita kadang tidak paham alasan mengapa kita berbuat sesuatu.

Atas dasar ketidaktahuan kita tentang standars hidup Islami. Atas dasar ketidakmengertian kita tentang sistem ekonomi dalam Islam, kita mudah dikelabui dengan istilah "syari'ah" dan "halal." Pengalaman menarik, ketika bertanya pada seseorang yang dianggap mumpuni "Bagaimana menurut almukarram, jika saya ambil pembiayaan pemilikan rumah (PPR) di bank syariah x? Dengan semangat almukarramnya menjawab: "Bagus, menurut saya yg ada label syari'ah itu berbeda akadnya dibandingkan dengan yang konvens. Kenapa? karena segala sesuatu ditentuntukan oleh akad. Orang berzina dan suami istri perbuatannya sama tapi akadnya berbeda, maka hukumnya berbeda, yang satu halal, yang satu haram. Akhirnya  si faqir ilmu fiqih seperti saya menerima pendapat almukarram tersebut. Jadilah ketika itu bambil pembiayaan pemilikan rumah (inilah resiko berbuat tanpa ilmu, semoga Allah mengampuni, aamiin).

Menuntut ilmu itu memang sepanjang hayat. Supaya kita jangan tersesat. Beramal tidak boleh menggunakan ukuran perasaan dan anggapan. Merasa caranya sudah benar, menganggap perbuatan kita sudah benar menurut kita sendiri. Padahal belum sesuai syariat. Kita tidak terkecoh dengan label syari'ah, padahal cara, prosedur kerja, istilah lain yang mengiringi akad itu masih konvensional. Jadi, "kemasannya syariahs isinya tetap konvensional."  Kadang kita tidak peduli, mau syariah, mau konvensional. Sama saja, sama berhutang, masih mendingan dari pada minjam ke tengkulak. Logika ini perlu dikritisi, berutang boleh dalam Islam, asalkan nama, cara, prosedur, dan tujuannya sesuai Islam. Bahkan ayat terpanjang dalam surat al-Baqarah adalah tentang utang, namun harus berlaku syarat dan ketentuan Islam.

Ironisnya, sebagian kita yang sudah tahu hukum suatu perbuatan melanggar ketentuan. Demi apa? Demi gengsi. Kita tidak peduli, asalkan ambisi mempertahankan gengsii tercapai, asalkan kita dianggap gaul, berkelas tepenuhi, cara apapun sah-sah saja, dan aneka bentuk ngeles lainnya. Untuk hal ini logika kita seolah menghadirkan sejuta argumen. Tapi apakah nanti kita masih bisa ngeles di pengadilan Allah.

Demi gengsi kita kehilangan jati diri. Siapa bilang tidak boleh kaya. Buktinya sahabiyah ada yang kaya, bacalah kehidupan Khadijah binti Kuwailid. Kaya itu boleh, yang tidak tepat ingin kaya demi gengsi, demi pandangan orang, dan demi dianggap berada, demi gayag hidup seperti orang berideologi di luar Islam. Demi itu semua, kita rela terjerat hutang Ribawi, membayar kredit mobil, bayar premi asuransi, nyicil rumah, bayar angsuran talangan haji, ikut multi level marketing, deposito, dan bermain saham. Kita beranggapan itu sah-sah saja, karena semua orang melakukan, berarti hukumnyah boleh, tidak apa-apa, riba-riba sedikit tidak masalah.

Kita memilih gengsi dibandingkan rasa takut terhadap sanksi Ilahi. Kita berdalih yang penting akadnya syari'ah, seperti Mudharabah, syirkah, wakalah dll. Apakah cukup hanya sampai diakadnya saja. Bagaimana proses transaksinya, kaitan antar sistem di dalam institusinya, SOP-nya, instansi yang terkait dg akad itu,  dan aturan lain yang menyangkut transaksi itu yg tidak sesuai dengan Islam. Kadang kita masa bodoh dengan semua itu.

Demi gengsi kita merasa sangat hina jika hidup sederhana, hidup bersahaja tanpa hutang. Tidak sampai di situ, kita pun memandang rendah orang yang sebenarnya mampu memnayar cicilan pinjaman Ribawi,  tetapi tidak mau meminjam. Kita mengatakan orang itu bodoh, terlalu idealis, kampungan, tidak pandai mengelola gaji, atau terlalu boros. Padahal kita tidak pernah bertanya bagaimana pandanganya tentang pengelola harta menurut Islam. Penadapatnya tentang pinjaman Ribawi, dan pendapatnya tentang keberkahan hidup. Mana  tahu ia memilih hiduph sederhana, apa adanya, bersahaja, sebagai pilihan sadar dan sukerela karena lebih ringan, lebih rileks, banyak berkah, jauh dari kepura-puraan (pura-pura kaya padahal ngutang, pura-pura hidup mewah padahal ribai,  dan pura-pura elit padahal kredit).

Tidak masalah kita kaya asalkan fondasi pemahaman Islam kita mantap, sehingga kita shalih dan lebih  berakhlak pada orang yang hidup kekurangan, dan lebih menghargai orang yang memilih cara berbeda mengelola hartanya. Boleh kita berpunya, asalkan pondasi ekonomi kita kuat, sehingga tidak terjerat perbuatan Ribawi. Tidak masalah kita punya mobil mewah asalkan tidak leasing, dan mobil kita beli jika butuh dengan  mobilitas  yang  padat, super sibuk, banyak agenda kegiatan, sering keluar kota mengelola bisnis, atau untuk memudahkan berdakwah.  Asal jangan beli mobil demi gengsi, prestise, dan harga diri di mata orang lain, atau karena tidak mau kalah dengan teman sebelah.

Mendingan buang dan kubur gengsi dalam-dalam. Nikmati hidup kitak sesuai pilihan kita. Syukuri semua kondisi sebab itu hidup terbaik menurut Ilahi. Terlihat sederhana itu tidak dosa, asalkan pilihan rela. Terlihat tidak punya apa-apa itu tidak masalah, asalkan berkah. Meskipun dipandang sebelah mata, senyumin aja,  karena mulia tidak ditentukan manusia. Pemberi Rezki juga bukan manusia. Sejatinya kita memang tak memiliki apa-apa, Yang Maha Kaya adalah Allah. Jika diberi kesempatan kaya oleh Allah, itu amanah terbesar, sekaligus ujian keimanan. Apakah semakin taat, tawadhu' semakin dekat pada Sang Pemberi Rezki atau sebaliknya.
Allahu A'lam Bissawab

SURAT CINTA ANAKKU

Senin, Januari 20, 2020 0 Comments
Kebiasaan merapikan sesuatu kadang menjadi momentum istimewa. Isi lemari agak masih rapi, hanya saja ada letak dokumen, faktur, bukti pembayaran pendidikan sekolah anak, struk listrik dan ppede-a-m, sedikit berantakan. Meskipun agak sedikit capek dan kurang sehat, berusaha untuk membenahi dokumen tersebut. Tujuannya, ketika ada faktur atau dokumen penting yang diperlukan mudah didapatkan. 

Ketika menyusun dokumen lapor semester, tiba-tiba ada satu surat beramplop putih. Surat apa ini? tanpa ragu surat tersebut dibuka berlahan, ternyata sepucuk surat dari anak sulungku “

"
Ayah dan Ibu, aku akan berusaha untuk tidak melawan, maupun menyusahkan Ayah dan Ibu. Tolong....tolong....maafkan aku Ayah dan Ibu.
Kalau aku besar nanti, aku akan berusaha untuk membawa Ayah dan Ibu ke Tanah Suci dengan rezeki Allah. Aku akan memberi mahkota cahaya kepada Ayah dan Ibu di akhirat kelak, Insyaa Allah.
MAAFKAN AKU AYAH DAN IBU
MAAFKAN AKU AYAH DAN IBU
Terima kasih atas kasih sayang Ibu dan Ayah.
Aku akan membalas semua jasa Ayah dan Ibu, yang telah menyayangi aku dari kecil sampai saat ini. Aku tidak akan mengecewakan Ayah dan Ibu. Aku akan membanggakan Ayah dan Ibu. Terima kasih, karena Ayah dan Ibu telah berusaha untuk menyekolahkanku di sekolah terbaik dan favorit buat aku.
Maafkan aku Ayah dan Ibu, tolong maafkan aku Ayah dan Ibu. AKU SANGAT SAYANG DAN CINTA KEPADA AYAH DAN IBU.
Ayah dan Ibu...!

Pada lembaran kedua tertulis cita-cita dan target penting anakku baik jangka pendek, menengah, dan jangka panjang di akhirat kelak (sensor ya, tidak pantas dituliskan di sini).  Berulangkali membaca surat tersebut sambil menghayati setiap konten yang tertulis. Tanpa terasa air mata ini menetes. 

Ada rasa haru, bersyukur, bahagia, dan sedih sekaligus mengaduk-aduk isi hatiku. Anggapanku selama ini, anakku hanya seorang anak, sama dengan anak-anak lainnya. Ternyata hari ini dialah anak sangat istimewa minimal dalam penilaian ibunya sendiri. Meskipun tidak tahu persis alasan anakku menulis surat tersebut. Satu hal yang pasti, do'a seorang ibu tetap terbaik untuk semua anak "

Pintu maaf seorang ibu senantiasa terbuka untuk semua anak-anaknya, sebesar apapun kesalahan anak-anaknya tersebut. Tidak hanya maaf, bahkan semua do'a terbaik selalu dimohonkan kepada Rabb untuk kebaikan, kemudahan, kelancaran, dan keberkahan hidup anak-anaknya. Itulah ibu yang rela mengorbankan nyawa demi melahirkan, rela tidak tidur demi menjaga anak-anak, dan rela hidup menderita asalkan anak-anaknya senang dan bahagia.

Tidak ada kebahagiaan yang paling bahagia, ketika Allah mengabulkan sepenggal do’a “

"Indikator keshalihan anak menjadi starting poin setiap keberhasilan duniawi. Anak boleh juara kelas asalkan dia shalih/shalihah, anak boleh juara olimpiade asalkan dia shalih/shalihah, anak boleh juara di berbagai bidang asalkan tetap dalam keataan kepada Rabb-Nya, sebab tidak satupun keberhasilan manusia yang terlepas dari hukum syarak. Semua cara yang digunakan untuk meraih keberhasilan, dan keberhasilan itu sendiri harus ada keterikatan dengan Allah Subhanahu Wata'ala, karena hidup bukan sekadar bermanfaat dan berprestasi, tetapi sejauhmana manfaat dan prestasi tersebut sejalan dengan ketentuan dan ridha Allah. 

Nak...teruslah belajar tentang Penciptamu, Nabimu, Kitabmu, Dienmu yang mulia! hingga engkau tahu hakikat hidupmu: "Dari mana?, Untuk apa?, dan Mau kemana?. Engkau akan kenal siapa Rabb kita. Jika engkau paham semua manusia, alam semesta, dan kehidupan berasal dari Allah, engkau akan memahami bahwa hidupmu harus sesuai dengan aturan Allah yang terdapat dalam kitab suci kita dan sejalan dengan perkataan, perbuatan dan diamnya Rasulullah (Al-Quran dan Sunnah). 

Nak...kita hidup dunia bukan sekadar hidup. Kita lahir, anak-anak, remaja, dewasa, bekerja, menikah, punya anak, tua, kemudian mati. Bukan sekadar untuk itu kita hidup nak. Kita hidup untuk menyembah Allah, memurnikan aqidah kita dari setiap yang kita istimewakan selain Allah, tujuan tertinggi hidup kita mencari ridha Allah. Maka jangan pernah kamu mengistimewakan nilai rapormu, hapalanmu, shalat tahajjudmu, shalat dhuhamu, kehebatan otakmu, kegantengan parasmu, kepintaran ustadmu, banyaknya tabunganmu, tapi istimewakanlah Allah dalam hidupmu, karena semua keistimewaan itu bersumber dari Allah Yang Maha Istimewa. Jadikan semua perbuatanmu  memenuhi kriteria ihsanul amal: (1) niat ikhlas karena Allah, dan (2) cara melakukannya sesuai ketentuan syarak. Apapun perbuatan baik yang kamu lakukan jika tidak ikhlas dan cara melakukannya tidak sesuai ketentuan Allah maka amalanmu tidak bernilai amal shalih di sisi Allah. Mungkin di sisi manusia terlihat baik, dan bermanfaat, tetapi belum bernilai pahala di sisi Allah. Untuk itu nak, murnikan niat setiap amalmu, hindarkan dirimu dari sifat riya', sumaah, dan kibr (sombong), karena akan menghanguskan semua pahalamu nak.

Nak...jika engkau paham mau kemana kita setelah mati? maka kamu akan memahami bahwa kita akan menghadap Allah. Semua kita akan meninggalkan dunia ini. Tidak ada yang kita bawa selain keimanan dan semua amal shalih kita. Meskipun kamu kaya raya, kekayaanmu akan menjadi warisan. Meskipun kamu memiliki kenderaan mewah, tetap kenderaan terakhirmu hnya keranda. Walaupun kamu memiliki istana mewah, tetap yang menjadi rumah terakhirmu adalah kuburan. Untuk itu nak, perkuat aqidahmu, perbanyak amal shalihmu, perbagus akhlakmu, jika memungkinkan perbanyak hafalan al-Quranmu hingga 30 Juz. Kamu boleh kaya seperti Usman bin Affan dan  Abdurrahman bin Auf, tetapi infaq dan shadaqahmu mesti seperti sahabat nabi itu juga. Kamu boleh memiliki kenderaan mewah, asalkan kenderaan mewahmu itu digunakan untuk meninggikan dienmu, berdakwah dan membela agama Allah. 

Nak ketika manusia mati. Itu adalah awal kehidupan yang sesuangguhnya. Tempat pertanggungjawaban semua yang kita lakukan di dunia ini. Kita akan melewati alam barzakh, firnah barzakh, azab kubur dan nikmat kubur sampai hari kiamat. Kiamat adalah terminal kedua sedelah barzakh, hari kebangkitan semua umat manusia. Di sana ada padang mashar, ada hari perhitungan amal (yaumul hisab), ada mizan dan akuntabilitas semua perbuatan kita, ada sirat. Ketika kita mampu melewati semua itu, maka kita akan memasuki syurga Allah. Nak...keyakinan kita terhadap hari berbangkit dan seluruh prosesi yaumul hisab membuatmu hati-hati dalam beraqidah, beramal, berakhlak, dan berjuang untuk agamamu. 

Anakku...setiap sujud ibu berbisik ke bumi, harapan terdengar di langit (kalangan malaikat) dan diijabah oleh Allah “Suatu saat semua anak-anak ibu, dan kita semua berhasil memasukki syurga Firdaus tanpa hisab, bertetangga dengan para Nabi, bersebelahan kamar dengan kekasih Allah (Muhammad, SAW), aamiin. Cita-cita tertinggi ibu adalah Kita semua dapat melihat wajah Allah, Rabb, Pencipta, dan Pengatur hidup kita dari jarak paling dekat di syurga nanti. Semoga semua berjalan lancar semua ikhtiar dan mujahadah kita berjalan mulus, hingga syurga menjadi tempat reuni terindah kita, aamiin Ya Mujiib.

Selasa, 06 Januari 2015

WANITA SHALIHAH

Selasa, Januari 06, 2015 0 Comments
Tulisan ini ditujukan untuk diri sendiri, si faqir ilmu, pendosa, dan jauh dari kesempurnaan.

Siapakah wanita shalihah itu, dialah wanita beriman, beraqidah kuat, amalan sesuai syariat, dan pejuang tangguh meninggikan kalimat Allah di muka bumi.

Wanita shalihah bukan wanita biasa, tetapi wanita beriman dan bertaqwa dengan sesungguhnya.

Wanita shalihah bukan wanita biasa, tetapi wanita yang senantiasa menjaga muru'ah, iffah, izzah, dan al-haya' di manapun berada.

Wanita shalihah bukan wanita biasa, tetapi wanita yang memahami pesan Rabb dan Rasulnya untuk berhijab sempurna sesuai tuntutan al-Qura'an dan As-sunnah.

Wanita shalihah bukan wanita biasa, tetapi wanita perindu jannah, tidak mudah tergoda oleh kemilau dunia fana.

Wanita shalihahI bukan wanita biasa,tetapi wanita terhormat dan mulia di sisi Tuhan-Nya meskipun dipandang rendah oleh manusia biasa, karena tidak bisa bergaya, dan mengupload foto selfinya yang menggoda di dunia maya. Demi mencari "like" "suka" atau "jempol" temanya, yang belum tentu diberikan atas dasar suka sesungguhnya.

Wanita shalihah bukan wanita biasa, tetapi wanita yang merindukan eksis di langit, bukan eksis di elektronik. Wanita shalihah tidak membutuhkan posting diri untuk diakui, walau dengan niat menginspirasi, memotivasi untuk berhijab syar'i.

Wanita shalihah bukan turis lokal yang mendatangi setiap destinasi wisata untuk mencari spot selfi terkenal, sambil memasang mahkota bunga, topi gaul, dan hijab warna-warni, atau berhias melebihi dengan celak tebal, eyeliner, dan soflense bervariasi.

Wanita shalihah bukan wanita biasa, tetapi wanita yang merasa kaya walau hidup sederhana dan bersahaja, rajin sedekah, dan qanaah. Wanita salihah bukan penikmat aneka kuliner dunia yang memposting setiap makanan yang sempat dicicipinya. Wanita shalihah bukan wanita biasa yang menyukai berpoya-poya dengan uang halalnya, belanja barang mewah di mall-mall mewah laksana kaum elit "sosialita".

Wanita shalihah bukan wanita biasa, tetapi wanita berjuang menggapai jannah dengan segenap iman, amal shaleh, dan semua kebaikanya, mencontoh Khadijah, Aisyah, Fatimah, atau sofia yang menyejarah dan dijamin syurga karena taqwa dan keshalehanya, bukan karena postingan wajah cantiknya.

Wanita shalihah sangat menyadari bahwa ajal tidak menunggu taubat atau tua, tidak seorangpun dapat menjamin akhir hidup husnul khatimah. Maka muhasabah menjadi amal yaumiyah. adakah postingan di dunia maya berpotensi pahala atau justru setumpuk dosa jariyah, jika tidak segera hijrah menghapus semua postingan yang kurang maslahah, dinikmati lelaki non mahram yang sempat tergoda, akhirnya berbuat dosa, maka semua akan dibayar dengan pahala pada hari penghisaban di yaumul kiyamah.

Wanita shalihah bukan wanita biasa, tetapi wanita yang memahami pesan Rabb-Nya bahwa eksistensinya mulia dan diabadikan dalam surat an-Nisa', Allah telah mengangkat derajatnya dari semua sejarah wanita di dunia. Wanita yang menghayati amanah Rasul-Nya untuk menjaga diri dari azab neraka, karena ketika mi'raj rasullullah melihat paling banyak  isi neraka adalah wanita.

Wanita shalihah bukan wanita biasa, tetapi wanita yang menjadikan semua aktivitas rumah tangga sebagai wadah  jihadnya, selalu menyenangkan dipandang suaminya, senantiasa menjaga kehormatan diri dan harta suami, dan senantiasa  bermujahadah tanpa kenal lelah. jika belum bisa dia berusaha hijrah totalitas tanpa batas, sampai Allah menghentikannya dengan peripisahan dengan alam dunia. Dia lah wanita yang selalu dicemburui bidadari syurga. Posisi shalihah seperti ini dijamin Rasulullah bebas masuk dari delapan pintu syurga, untuk mencapai posisi tertinggi menjadi ratu bidadari syurga. Allahu A'lam Bissawab

BERLOMBA DALAM KEBAIKAN

Selasa, Januari 06, 2015 0 Comments

Hidup bukan hal sederhana, namun kompleksitas keinginan, kebutuhan, aktifitas, perasaan, dan akibat. Semua berkompilasi menjadi rangkaian utuh deskripsi sejarah hidup seseorang. 

Sejarah hidup kadang diciptakan sendiri oleh individu. Kadang dipaksakan orang lain. Kadang direncanakan secara internal. Kadang juga dikebiri secara eksternal.

Hidup dalam kondisi dan situasi bagaimanapun tetap harus dijalankan dengan baik, dengan benar, dan normatif. Kita diajarkan oleh orang tua untuk mencintai kebaikan, suka berbuat baik, dan berjuang untuk menegekkan kebaikan. Dengan tujuan dan maksud baik, tetapi sebagian kita mungkin jarang mempertanyakan alasannya, mengapa harus begitu?. 

Kita hanya menerima pesan kebaikan apa adanya, karena memang mengandung kebaikan. Bersama berlalunya waktu, aku meragukan pesan tersebut, dan mencoba mencari jawaban. Ternyata kutemukan, mencintai kebaikan itu memiliki multi efek, baik secara personal maupun sosial. 

Secara personal menurut perspektif psikologis ternyata menenangkan, menenteramkan hati, dan meningkatkan kesehatan mental, sedangkan secara sosial, kita mampu menyelamatkan hidup, diri, dan masa depan orang lain. 

Kebaikan idealnya komprehensif, mulai dari niat atau keinginan, cara melakukan atau proses sampai pada tujuan kita. Artinya kebaikan itu murni terlihat dan terasa baik oleh kita terutama sekali orang lain. Distorsi akan terjadi ketika kita ingin seseorang menjadi baik, namun cara kita salah maka akan terasa tidak baik baik bagi orang lain. Begitu juga cara kita baik namun tujuan dan niat kita tidak baik, kita akan dilabeli sebagai orang munafik bagi orang lain. 

Jadi, apabila kita ingin berbuat baik pada orang lain, atau ingin atau bertujuan memperbaiki orang lain, cara kita memperbaikinya juga ma'ruf dari hulu hingga hilir, dari awal sampai akhir, atau dari niat sampai tujuan juga baik. 

Kehidupan adalah lahan untuk menyemai kebaikan. Mewujudkan manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain, diri kita dan dunia. Ikhtiar secara berkesinambungan untuk menggapai kemaslahatan. 

Hati kita menolak jika ada yang mengatakan: "Sebenarnya tujuan saya baik, agar dia lebih baik di masa yang akan datang" Tujuan baik saja tidak memadai, jika cara kita mencapai tujuan baik menurut kita, dengan menyakitkan hati orang. 

Kata nenek saya: "Maksud hati ingin mendirikan masjid, namun terlihat seperti camp penyiksaan. Hal ini mungkin merefleksikan pada kita, bahwa kita sering kali berdalih dengan mencari alasan yang seolah-olah terlihat rasional, namun sebenarnya kita sangat marah bahkan benci pada orang lain. 

Kita mungkin pernah tidak jujur dangan hati kita sendiri. Kebaikan tidak terkontaminasi dengan maksud dan dalih apapun. Bagaimanapun kita bersikeras mengatakan, bahwa itu demi untuk kebaikan. Jika cara kita salah tetap dinilai sebagai hal yang tidak baik. 

Kabaikan itu hal yang agung. harus dijunjung tinggi, dihargai dengan cara dan tujuan baik. Makanya kita dituntut untuk berlomba dalam kebaikan, bukan siapa ingin memperbaiki siapa, tetapi Siapa yang yang mencintai kebaikan. Selalu Berniat, Bertujuan, Berkata, dan Berbuat Baik. Selalu Berbuat Baik dimanapun, kapanpun, dan kepada siapapun.

Batusangkar,06 Januari 2015