Follow Us @soratemplates

Sabtu, 20 Februari 2021

TERUS MENERUS MENULIS MESKIPUN TIPIS-TIPIS

Sabtu, Februari 20, 2021 0 Comments

K


esadaran akan dosa dan khilaf yang terus bertambah. Membuat diri ini selalu mencari cara untuk terus berbenah. Teruslah merafal istigfar dan mengulang taubat tanpa lelah. Semoga Allah Subhanahu Wata'ala memberi maghfirah dan hidayah. 


Terbersit di hati untuk aktif di dunia literasi. Tapi kesempatan kadang sulit dicari. Namun demikian, terus mencoba menulis tipis-tipis setiap hari. Agar kebaikan dan 'ilman nafi'an terinvestasi. 


Boleh jadi bagi sebagian pembaca tak berarti. Seperti angin berhembus, lalu pergi. Tapi, aku tetap yakin masih ada sahabat pembaca yang menyukai literasi. Kata guruku 'setiap tulisan memiliki segmen pembaca tersendiri.' 


Ilmu yang bermanfaat ('ilman nafi'an) atau pengalaman berarti, tidak boleh disimpan sendiri. Sampaikanlah meski satu ayat, atau tulislah meski satu baris perhari. Lama-lama bisa menjadi. Menjadi buku, pahala jariyah sekaligus menambah investasi ukhrawi (hanya berharap....🌺)


Menulis bukan persoalan harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Tetapi tentang kebaikan dan manfaat bagi sesama. Betapa banyak di luar sana saudara kita membutuhkan uluran tulisan kita (uluran tangan terlalu jauh....)


Wahai diri...jika benar dirimu beriman beramal shalihlah. Setiap manusia merugi kecuali orang beriman dan beramal shalih, saling menasehati  dalam kebenaran, dalam kesabaran, dan dalam marhamah. Bukankah begitu Rabbmu bertitah.


Wahai diri jika benar dirimu tahu (bukan berilmu ya he he) jadikanlah pengetahuanmu wasilah menebar faedah. Agar mudah dapatkan berkah. 


Wahai sobat...jika hatimu sudah bercahaya, maka berbagi cahaya dengan saudara² kita. Mungkin masih ada saudara kita  hidup dalam gulita. 


Sahabat...menulis bukan semata persoalan materi. Bukan pula karena obsesi ingin eksis atau viral di bumi. Sebab persoalan materi adalah urusan rezeki. Setiap hamba sudah ditetapkan rezekinya oleh Ilahi. Walaupun tidak diikhtiarkan kadang datang sendiri. Apalagi jika dicari dengan cara halal, berkahnya luar biasa sekali.  


Menulis adalah persoalan keselamatan. Apalagi di era kekinian. Arus informasi membanjiri dunia permedsossan.  Kadang datang sampah-sampah kemaksiatan. Hadir di beranda sosmed kita tanpa undangan (emangnya baralek...wk wk). Kalau tidak dibendung dengan tulisan tandingan. Medsos akan menenggelamkan anak dan generasi kita ke jurang kebatilan. Sementara diri ini masih nyaman duduk manis, sambil menikmati enaknya makanan. "Yang penting pelaku maksiat bukan anak gue, ponakan gue, adik gue...kakak gua, dan bukan siapa-siapa gue, ngapain gue pusingkan." 


Wahai diri...jangan sampai egoisme dirimu menambah persoalan umat. Jika engkau berkomitmen dengan syahadatainmu, banyak hal yang harus kamu ingat. Banyak pula yang dapat kamu perbuat untuk umat.


Surga Allah Subhanahu Wata'ala lebih luas dari langit dan bumi, terlalu sepi jika sobat isi sendiri. Apa salahnya ajak kami, sifaqir ilmu yang selalu mengemis kasih Ilahi. Diri yang selalu berlumur dosa, tapi tak tahu jalan kembali. Hawa nafsu senantiasa menggerogoti. Belum lagi godaan di sana-sini. Godaan setan lakhnatullah itu sudah pasti. Kadang kami butuh support, tausiyah, nasehat, dan motivasi. Tapi kemana harus kami cari...sementara tulisan indah full faedah sobat disimpan sendiri.....help me please saudaraku...!


Salam ukhuwah

Sobatmu

Darimis

ANTARA WANITA, EMAS , DAN DINAR

Sabtu, Februari 20, 2021 0 Comments


Wanita itu identik dengan perhiasan. Setiap wanita suka membeli, mengoleksi, dan memakai emas sebagai perhiasan.  Wanita millioner atau milyader perhiasannya di samping emas juga berlian. Bukan berarti wanita matrealistis ya Pak.  Fitrah wanita memang suka perhiasan. Bahkan wanita itu sendiri adalah perhiasan. "Dunia adalah perhiasan, sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah." (Hadits). 


Setiap lelaki shalih memilih menikah dengan wanita shalihah.  Lelaki tidak shalih pun cenderung mencari istri yang shalihah. Apakah wanita shalihah suka perhiasan? memang iya, karena setiap wanita fitrahnya demikian. Hanya saja wanita shalihah tidak terobsesi dengan perhiasan berupa emas atau berlian. Jika ada Alhamdulillah, jika tidak ada tetap Alhamdulillah.


Btw, ngomong-ngomong tentang emas sebagai perhiasan, kali ini  emak dasteran seperti saya mencoba merefleksi tentang emas dan Dinar. Namanya refleksi tentu bersifat subjektif individual, tidak representatif bagi penilai yang lain. 


Kita mungkin pernah membaca atau mendengar berita tentang pasar Mu'malat Depok. Transaksi jual beli di pasar tersebut tidak menggunakan mata uang rupiah, melainkan memakai koin dinar dan dirham.  Tulisan ini tidak ada kaitannya dengan berita ini. Hanya sekadar berpendapat tentang emas dan Dinar.


Samakah antara emas dan Dinar? Jawabannya, emas tidak sama dengan dinar Mak. Emas ya emas, dan Dinar ya dinar, antara Dinar dan emas terdapat perbedaan.  Meskipun emas dan Dinar berasal dari zat yang sama. 


Disebabkan emas dan Dinar berbeda, emak jangan coba belanja di warung atau di mall pakai Dinar. Pakailah rupiah, baik langsung maupun digesek. Tergantung jenis kartu yang ada di dompet Mak. Kartu ATM bisa, kartu Debet boleh, dan kartu kredit apalagi. Saya kurang paham Mak. Dalam dompet saya hanya ada kartu tanda penduduk...wk.wk.


Oh ya Mak,  jika emak ingin terlihat metropolis, kekinian, sosialita, modis, dan berkelas,  bisa saja pakai emas perhiasan. Bukan emas batangan ya Mak, entar dikejar orang, soalnya peminatnya banyak. Sekarang, Covid-19 belum berlalu, jangankan emas batangan, barang rongsokan di belakang rumah aja hilang Mak. Apalagi benda berharga seperti motor atau mobil. 


Bolehkah kita memakai Dinar untuk perhiasan?, itu sih terserah Mak. Mak boleh saja gantungkan dinar di leher, di telinga, di kaki, di kerudung sebagai ganti aksesoris. Suka-suka Mak pakainya kek gimana, horang kaya mah bebas Mak. 


Lalu emas itu apa? Dinar itu apa? Sabar Mak...ini yang mau saya tuliskan. Emas adalah logam mulia yang bernilai tinggi. Emas selalu hadir dalam wujud emas. Tidak akan disebut emas jika tidak berwujud Emas. Jika ada emas berwujud kue brownis atau bakso lava tidak disebut emas ya Mak. Emas juga tidak selalu berwarna kuning. Emas putih juga ada. Teman saya enggan memakai emas warna kuning, takut hilang, katanya. 


Selanjutnya Dinar adalah mata uang suatu negara yang memiliki nilai ekstrinsik emas. Dinar bisa berwujud emas secara langsung, bisa berwujud uang logam atau secarik uang kertas yang dijamin emas. Jaminan emas ini disimpan dengan aman di suatu tempat. Di mana disimpan? Ini sulit jawabnya Mak. Pokoknya disimpan. Siapa yang nyimpan? Negara yang nyimpan Mak. Jika saya yang nyimpan kawatirnya jiwa korupsi saya kambuh...he...he. 


Lalu apa perbedaan dinar dengan uang kertas? Keduanya beda Mak. Dinar sebagai mata uang dijamin emas, namun uang kertas ya uang kertas doang. Tak dijaminkan dengan emas, tidak memiliki nilai instrinsik emas,  nilainya tergantung undang-undang negara. Nilai uang kertas bisa menguap seperti asap, bisa terbang seperti layangan, dan bisa tidak bernilai sama sekali. Misalnya di negara mana tu Mak...saya lupa. 


Beda dengan Dinar, Dinar merupakan mata uang dengan nilai intrinisk Emas, sekaligus dilindungi undang-undang negara  melalui seperangkat sistem hukumnya. Meskipun emak keturunan Sultan, memiliki  emas bergudang-gudang, setiap gudang ada kuncinya seperti Qarun, lalu emak ingin mencetak uang logam bertuliskan kata Dinar, tidak disebut Dinar mak. Tahu penyebabnya?. Ya, mak pintar, karena tidak dilindungi dan diatur oleh UU negara. Hanya institusi negaralah yang pemberlakukan Dinar sebagai mata uang.


Mata uang kita bukan Dinar, tetapi rupiah. Mata uang Arab Saudi disebut Riyal, mata uang Malaysia namanya Ringgit, mata uang China dikenal Yuan, di Amerika disebut Dolar, Uni Eropa mata uangnya Euro. Semua ada mekanisme hukumnya Mak. Tidak bisa suka-suka kita. Jika Mak ngotot buat mata uang Dinar karena emas Mak sepuncak gunung Himalaya, tidak bisa Mak. Sepengetahuan saya sebagai emak dasteran, Dinar dan dirham merupakan mata uang resmi negara, khusus negara dengan sistem pemerintahan Islam. Seperti pada masa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, masa Khulafaur Rasyidin dan masa pemerintahan Islam setelahnya. 


Itulah pendapat saya tentang  wanita, emas dan Dinar Mak. Jika emak and bapak punya pendapat lain, silahkan ditulis di kolom komentar ya Mak & Pak.


Semoga bermanfaat

Salam Ukhuwah,


Darimis

Kamis, 11 Februari 2021

KENANGAN INDAH DI LANGIT CINTA

Kamis, Februari 11, 2021 0 Comments

Jum’at


berkah, penuh rahmah. Matahari bersinar menerangi alam tanpa lelah. Kakiku terus melangkah menelusuri jalan kenangan indah. Bersama amak tercinta, yang kini sudah  tiada. Semoga kuburan beliau menjadi taman surga paling indah, sampai kiamat tiba.

.

Pikiranku melayang ke masa-masa sekolah dasar sampai sekolah menengah beberapa puluh tahun lalu. Hari itu, aku diingatkan Amak.

“Pulang sekolah nanti, jangan ngelayap kemana-mana ya, langsung pulang!

“Iya Mak.”

 

Setiap hari Jum’at, kedua orang tuaku mengajakku ke kebun karet dekat Jalan Lintas Sumatera. Mengumpulkan karet yang sudah disadap. Aku sudah paham betul, setiap hari Jum’at aku ke kebun membantu orang tua mengumpulkan karet. Pulang sekolah aku tidak pulang ke rumah. Namun langsung ke kebun, baju ganti, sandal, dan makan siang sudah dipersiapkan amak dan dibawa ke kebun.

 

Masih kuingat ketika di kebun banyak pacat (binatang kecil penghisap darah, seperti lintah). Biasanya sebelum masuk ke kebun, ayah menyiapkan tembakai diusapkan ke seluruh kali. Mungkin pacat tidak suka aroma tembakau yang pahit dan berbau.

 

Mengumpulkan karet tidak di satu, dua tempat, kadang tiga tempat, jarak antara satu tempat dengan tempat lain lumayan jauh. Dimulai jam 13.00 WIB sampai jam 16.00 WIB. Kemudian karet yang sudah dikumpulkan di bentuk  menjadi satu. Diikat dengan tali dari akar khusus yang tumbuh di pohon. Orang tuaku menamakan 'Aka lundang." Setelah karet menyatu, bisa diangkat dan diangkut. Kemudian diantarkan ke Saudagar karet di tepi jalan lintas Sumatera. Ditimbang dan dan ditaksir jumlah uangnya, baru dibayar saudagar karet. Kenapa hari Jum’at, karena uang hasil penjualan karet sangat dibutuhkan untuk belanja bahan makanan pokok di Pasar hari Sabtu.

 

 

“Hati-hati jalannya. Agak mendaki perbukitan, tapi kita hampir sampai. Nanti ayah menyusul setelah shalat Jum’at dan makan siang.” “Baik Mak,”sahutku pelan.

 

Nafas rasanya naik keubun-ubun, pendakian demi pendakian dilewati. Ada sebidang kebun karet milik kakak ayah. Tidak lama kemudian sampailah kami di kebun yang dituju.

 

“Alhamdulillah kita sampai.” Emak meletakkan beberapa ember hitam untuk mengumpukan karet, dan sebuah keranjang terbuat dari daun pandan. Kami menyebutnya “Kambuik Tali.” Sebagai wadah membawa makanan dan minuman.

 

Sebelum mulai membantu Amak mengumpulkan karet. Aku diajak Amak mengambil air wudhu’ di sungai kecil di bawah lahan perkebunan. Aku sangat bahagia, matahari bersinar  cerah, di tengah udara panas, kami menikmati jernih dan sejuk air sungai di bawah pohon karet. "Masyaa Allah...betapa indah suasana ketika itu.

 

“ Ayo Dar, kata Makku, kita segera shalat zuhur, siap itu makan, lanjut pengumpulkan karetnya. “ Baik Mak, kawatirnya hari keburu sore ya Mak?

“Iya, Amak kawatirnya hujan, jika hujan karet susah kita kumpulkan dan dibentuk, Jelas amakku.

 

Aku melangkah gontai sambil menyanyi dan menghirup wangi semerbak bunga-bunga hutan. Segarnya udara perbukitan tak tergantikan khas baunya oleh bunga-bunga dalam pot. Dedaunan menari ditiup angin ditambah kicau burung murai menambah indahnya suasana.

 

Selesai shalat dan makan, kami berdua mulai mengumpulkan karet satu demi satu hingga selesai. Ketika mau pulang di sepanjang jalan kami memetik jamur merang, mengambil pakis dan rebung untuk dimasak sore hari.

Di kebun yang kedua, kami ketemu ayah yang sudah selesai mengumpulkan karet. Kami bertiga lanjut mengumpukan karet di kebun yang ketiga. Sampai terdengar di masjid tilawah al-Qur’an menyambut shalat Ashar.

 

Setelah selesai mengumpulkan dan membentuk karet, diberi sedikit cuka agar segera karetnya membeku. Aku memilih mengambil buah lengkeng, langsat dan rambutan dekat pondok karet. Betapa manis buah-buahan itu, manis bukan kerena gratis, alias milik orang tua sendiri. Tetapi manis karena dimakan sambil memanjat pohon, dan kulitnya main lempar ke sana kemari.

 

Siap menjual karet ke Saudagar karet, kami pulang sambil membawa buah-buahan, bahan masakan, dan tentunya beberapa lembar uang untuk belanja di Pasar Sabtu. Tentunya kami pulang setelah selesai shalat Ashar di pondok kebun.

 

Malam hari dihabiskan dengan bercerita tentang pengalamanku di sekolah dengan amak dan ayah. Kadang tidur sampai jam 12 malam. Saking asyiknya bercerita tentang duniaku kepada kedua orang tua. Lagian hari Sabtu, biasanya pelajaran di sekolah hanya menggambar, jadi aku tidak perlu terlalu fokus membaca bahan pelajaran yang akan dipelajari esok hari.

 

“Alhamdulillah” pekik hatiku...dari kejauhan kulihat Mak pulang dari pasar. Tidak terbayang lezatnya makanan yang beliau bawa dalam keranjang. Biasanya keranjang anyaman plastik warna toska itu selalu berisi kue mangkok gula aren kesukaanku. Bahkan semenjak bayi aku lebih suka kue itu, bahkan sampai besarpun aku masih diketawakan Mak ketika minta belikan kue mangkok tiga (“Mak, nanti li kue tantuak tinto.” ) ketika bicaraku masih cadel.

 

Ibuuuu....ibu bangun shalat subuh kata anak sulungku..yang sudah selesai murajaah menjelang shalat subuh.

 

“Ya Rabb...ternyata aku bermimpi bersama dengan Amak. Terlepas arti dan interpretasi mimpi, bagiku menunggu Amak pulang dari pasar membawa oleh kue mangkok merupakan kenangan indah yang paling membahagiakan.

  

Rabu, 10 Februari 2021

URGENSI GELAR AKADEMIK

Rabu, Februari 10, 2021 0 Comments

 


Sahabat...kali ini saya ingin berbagi tentang gelar. Gelar itu macam-macam. Ada gelar akademik, seperti Sarjana Pendidikan (S.Pd) tentu disesuai dengan bidang ilmunya. Magister Pendidikan (M.Pd), dan Doktor (Dr. Arau DR), gelar tamatan strata tiga. S3 tamatan luar negeri lebih waw lagi, pakai Philoshopy of Doktor (Ph.D), beda dengan dokter (dr) huruf de (d) dan er (r)nya kecil.

Ada lagi gelar keagamaan, seperti Haji (H), dan Hajjah (Hj) dll. Ada gelar adat, di Minangkabau Misalnya ada gelar Datuak..Sutan...Sidi...Pangulu, dll. Beda daerah dan kultur beda gelarnya...begitu kira-kira Sobat.

Dalam suatu diskusi, teman saya pernah bertanya. Seberapa pentingkah gelar? Terutama gelar adademik ya Sobat. Apakah gelar itu harus dipajang dan banggakan?  Apakah ketika tidak dibacakan dan tidak dicantumkan gelar oleh orang lain, harus kita ceramahi panjang kali lebar?

 “Gelar saya mana? Capek carinya...tau gak sih. S1 minimal tiga setengah atau empat tahun, S2 minimal satu setengah atau dua tahun, dan S3 minimal enam semester. Belum lagi biaya, waktu, tenaga, perasaan dan aneka pengorbanan. Besok atau kapan-kapan cantumkan gelar saya, ya!, Lagi pula gelar saya yang ditulis juga salah, saya M.Pd bukan M.Ag...bla...bla...bla.”

Sobat...pernahkah bertemu dengan orang seperti di atas, jika ada berarti pengalaman kita sama. Kita sama-sama mendengar orang lain, atau kita sendiri diceramahi, gegara kita keliru membuat gelar orang penting. Saya sendiri maklum, gelar begitu penting  baginya, dibandingkan harga diri kita yang dicabik-cabik di hadapan orang lain.

 

Saya juga menemukan ada orang yang bergelar S1 atau S2, namun di beberapa platform media sosial menulis bio sebagai akademisi. Hebat betul...akademisi gitu lho. Ada juga orang yang sudah profesor, ketika dipanggil Prof, dia bilang “Panggil saya Bapak saja. Gelar itu bukan pertanda saya hebat, tetapi kesempatan baik dari pencipta yang  harus saya syukuri.” Masyaa Allah...tawadhu’ benar, saya salut, bahkan beliau salah satu referensi hidup saya. Semoga Allah Subhanahu Wata’ala senantiasa melindungi, menyayangi, dan memberkahi beliau sampai akhirat, aamiin.

Saya juga pernah dengar dari oknum entrepreneur  “Gelar akademik bukan hal yang penting. Banyak yang berhasil menjadi saudagar, pengusaha, bahkan pejabat lokal atau daerah tidak selesai S1dan tidak ada gelar. Toh...mereka berhasil, kaya raya, terkenal, dan hebat.”

Ini fakta nyata bukan hoax ya Sobat, karena buktinya tidak terbantahkan. Coba saja lihat di sekitar kita. Betapa banyak orang yang dinilai berhasil, tetapi tidak menyelesaikan bahkan tidak merasakan duduk di bangku perkuliahan. Jika hanya sampai di sini, maka gelar dianggap tidak penting. Lebih ekstrim lagi, komentar ini “Kuliah itu habisin uang, toh setelah kuliah dapat ijazah, cari kerja, ujung-ujungnya cari uang juga. Mendingan tamat SD langsung cari uang, atau jadikan uang orang tua untuk sekolah dan kuliah jadi modal jualan. Toh sianu...dan siana berpendidikan tinggi juga tidak kaya. Lebih kaya si Fulan dari dia, padahal si Fulan hanya tamat SMP.

Ada teman saya mengkritik pernyataan  di atas. Jika gelar akademik tidak penting, tidak perlu, atau tidak dibutuhkan. Beranikah mereka yang menganggap gelar tidak penting melarang anaknya? Bahkan semakin banyak harta mereka, semakin bagus pendidikan akademik anak-anaknya. Anak-anak mereka tidak saja dikuliahkan di perguruan tinggi pavorif dalam negeri, tapi kuliah di luar negeri juga ada...makul anak  Sultan.

Mungkin karena keterbatasan jarak tempat piknik saya, sejauh ini saya belum menemukan mereka yang dianggap berhasil dan sukses secara materi melarang anak mereka kuliah. Jika ada mungkin mereka orang tua yang membingungkan, dan jumlah paling satu atau dua.

Menurut pendapat saya sebagai Emak Dasteran. “Sebenarnya kuliah itu penting. Bukan karena gelar, tapi karena proses pendidikan atau proses pembelajaran di perguruan tinggi tersebut. Para lulusan perguruan tinggi biasanya disiapkan untuk menjadi analis. Berpikir kritis (critical thinking) atau memiliki daya analisis (analysis). Seorang sarjana minimal memiliki analisis terhadap suatu masalah dan mampu menemukan strategi yang tepat dalam menyelesaikannya. Berbeda dengan orang yang hanya tamatan SD atau SMP, paling mengandalkan pengalaman dan kebiasaan.

Jika diperhatikan pada konteks Indonesia, gelar akademik masih sangat dihargai. Bukan hanya dihargai oleh calon mertua ya Sobat, calon  induak samang”, boss, atau atasan tempat mereka memasukkan surat lamaran kerja juga menghargai. Biasanya yang pertama kali dilihat adalah ijazah, kemudian nilai yang tertera di transkrip nilai. Pengalaman  dan kemampuan kerja biasanya di urutan selanjutnya.

Bagaimana dengan gelar adat dan gelar keagamaan. Sepertinya semakin ke sini semakin kurang diperlukan. Gelar itu makin memudar seiring datangnya era revolusi industri. Walaupun ada yang masih menggunakan dan bangga menggunakannya. Bahkan ada yang berseteru dengan yang lain demi suatu gelar adat. Mungkin beranggapan  gelar adat itu dapat mendongkrak harga diri.

Beda lagi dengan gelar agama, sampai saat ini masih dihargai banyak orang. Misalnya gelar haji atau hajjah masih dianggap wah. Apalagi gelar haji atau hajjah itu saja yang dimiliki. Bangganya minta ampiuuun. Jika tidak dipanggil ‘Pak haji atau bu haji, bisa marah tujuh turunan kepada yang memanggil. Orang Arab Saudi bahkan Imam Besar Masjidil Haram tidak menggunakan gelar haji di awal namanya. Pada satu tulisan pernah saya baca, sejarah penggunaan gelar haji atau hajjah di Indonesia diinisisai  oleh penjajah Belanda. Bertujuan untuk membedakan orang Islam dengan orang non Islam.

Hal paling menggelikan bagi saya, ada yang menggunakan gelar M.Pd di undangan nikah, padahal belum tamat. Akhirnya ditanya Profesor yang membimbingnya, “M.Pd ., ini gelar Anda?” maksud apa?. Maksudnya itu Mantu Pak Dulah (M.Pd) Prof. Kami yang hadir tertawa semua.

Ada lagi yang tidak mau menuliskan  gelar di undangan nikah. Orang tuanya marah. Ortunya tidak rela undangan yang beredar tidak mencantumkan gelar akademik sang anak. Bagi orang tua, gelar anak adalah simbol keberhasilan dan kebanggaan mereka, yang telah berhasil mengantarkan anaknya ke level strata tertentu.

Kesimpulan, gelar apapun terutama gelar akademik, bisa dianggap penting, bisa juga dianggap biasa. Gelar dipakai di tempat-tempat  atau pada moment yang mengharuskan menggunakan gelar. Sebab gelar akademik hanya simbol bahwa seseorang pernah kuliah. Namun tidak selalu representatif terhadap kemampuan dan kompetensi. 

with love

Darimis

 

 

Jumat, 05 Februari 2021

KETIKA TAWAKKAL LEBIH INDAH DARI PELANGI

Jumat, Februari 05, 2021 0 Comments


Manusia hanya mampu berencana dan berikhtiar sekuat tenaga untuk meraih keberhasilan, namun manusia tidak mampu menjamin keberhasilan. Manusia wajib berusaha tapi tidak wajib berhasil, sebab hasil semata-mata urusan Sang Pencipta, yang mengatur semua urusan. Sangat patalogis ketika kita mengharuskan keberhasilan. Sebab kata ‘harus”, “mesti” “pokoknya” adalah pemaksaan kehendak atas diri, orang lain dan keadaan agar senantiasa berpihak pada keinginan dan harapan kita. Kata itu sangat membebani fisik dan psikis, seolah kita dapat menentukan dan mengendalikan takdir kita.


Setelah berusaha seoptimal mungkin, selebihnya kita serahkan  urusan tersebut kepada Allah Subhanahu Wata’ala, Rabb Yang Maha Menentukan. Kita hanya wajib berikhtiar dan tawakkal, selebihnya biarlah Allah yang menentukan. Jika kita berhasil meraih suatu impian itulah yang terbaik, namun jika belum berhasil meraih impian itu juga baik. Semua urusan mukmin itu kebaikan. Ketika belum berhasil dia ridha, ikhlas, dan bersaba, itu baik baginya. Jika berhasil meraih impian, dia bersyukur, bersyukur  juga maslahat baginya.

 

Tawakkal itu lebih indah dari pelangi setelah rintik hujan turun ke bumi. Tawakkal menjadi amunisi kelelahan jiwa setelah bekerja keras melewati  setiap jengkal proses. Tawakkal membuat kita semakin yakin pada Pencipta, bahwa kita insan lemah, tak berdaya, memiliki kemampuan terbatas, dan sangat membutuhkan pertolongan dan kemudahan dari Allah Subhanahu Wata’ala. Lalu alasan apa sebenarnya yang membuat kita membangkang terhadap perintah-Nya, menolak kebenaran yang Dia dan Rasul sampaikan, dan meremehkan setiap manusia atas keberhasilan yang kita peroleh.

 

 Kembali ke tawakkal.  Tawakkal itu indah, seindah harapan kita akan pertolongan Allah Subhanahu Wata'ala. Tawakkal lahir dari hati yang haqqul yaqin kepada Rabb Yang Maha Pengatur. Semua hal di bumi dan langit termasuk dalam diri setiap insan bekerja dengan izin-Nya. Tidak satupun kejadian di luar pengawasani-Nya. Hanya saja diri kita yang merasa tidak diawasi. Sehingga kita kehilangan kendali.


Keindahan tawakkal dapat kita pelajari dan kita renungkan betapa Allah Maha Pengatur semua kejadian. Dia membuat segala sampai. Dia juga yang mengatur jalan taqdir yang kadang menurut manusia tidak masuk akal. Untuk lebih memahami tawakkal, yuk kita simak kisah berikut.


Abu Hurairah Raḍiyallahu 'Anhu, dari Rasulullah Sallallahu 'Alaihi wa sallam bahwa beliau pernah mengisahkan ada seorang dari Bani Israil  meminjam uang seribu dinar kepada Bani Israil lainnya. Orang yang meminjamkan berkata:


“Datangkanlah saksi-saksi! Aku ingin mempersaksikan peminjaman ini kepada mereka.”


Peminjam berkata, “Cukuplah Allah sebagai saksinya.” Orang yang meminjamkan berkata lagi, “Datangkanlah seorang penjamin.” Peminjam berkata, “Cukuplah Allah sebagai penjamin.” Orang yang meminjamkan berkata, “Kamu benar.” Kemudian dia memberikan uang itu hingga tempo waktu tertentu. Kemudian orang yang meminjam uang itu pergi ke laut untuk memenuhi hajatnya. Dia pun mencari perahu untuk dianikinya guna mengantarkan uang pinjamannya yang sudah jatuh tempo pembayarannya. Namun dia tidak menemukannya. Kemudian dia mengambil kayu dan melubanginya. Lalu dia memasukkan ke dalamnya uang seribu dinar beserta secarik tulisan yang ditujukan kepada pemilik uang. Kemudian ia melapisinya agar tidak terkena air. Lalu dia membawa kayu ke laut. Dia berkata, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku telah meminjam uang seribu dinar kepada si fulan. Dia meminta penjamin dariku, kemudian kukatakan bahwa cukuplah Allah sebagai penjamin, dan dia pun rela. Dia memintaku mendatangkan saksi, lalu kukatakan bahwa cukuplah Allah sebagai saksi, dan dia pun rela.


Sesungguhnya aku telah berusaha untuk mendapatkan perahu yang akan kugunakan untuk mengantarkan uangku kepadanya, namun aku tidak mendapatkannya. Kini, kutitipkan uang itu kepada-Mu.” Kemudian dia melemparkan kayu itu hingga tenggelam. Dia pun pergi. Walau demikian, dia tetap berusaha mencari perahu yang menuju ke negerinya. Orang yang meminjamkan uang pergi untuk menanti, barangkali ada perahu datang membawa piutangnya. Tiba-tiba dia menemukan kayu yang berisi uang itu. Dia membawanya pulang sebagai kayu bakar untuk istrinya. Tatkala dia membelahnya, dia menemukan uang dan secarik pesan.


Sementara itu, si peminjam pun datang membawa seribu dinar. Dia berkata, “Demi Allah, sebelum aku datang sekarang, aku senantiasa berusaha untuk mencari perahu guna mengantarkan uangmu kepadamu, namun aku tidak mendapatkan satu perahupun sebelum aku tiba dengan menaiki perahu yang aku tumpangi ini.” Orang yang meminjamkan berkata, “Apakah kamu mengirimkan sesuatu kepadaku?” Peminjam berkata, “Aku telah sampaikan kepadamu bahwa aku tidak menemukan perahu, sebelum aku mendapatkannya sekarang ini?” Orang yang meminjamkan berkata, “Sesungguhnya Allah telah mengantarkan pinjamanmu yang kau taruh dalam kayu. Maka gunakanlah uangmu yang seribu dinar itu dengan baik, maka bawalah kembali seribut dinarmu itu." (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari).


Saat hati kita mau menerima dan merenungkan sepenggal kisah ini. Saat itu hati kecil kita semakin yakin dan percaya bahwa Allah Maha Pengatur, Allah Maha Adil dengan keadilan yang sempurna. Maka “Cukuplah Allah sebagai penolong dan pembuka jalan.” Cukuplah Allah sebagai penyanggah utama atas semua kegiatan.  Cukuplah Allah sebagai penjamin hasil dari usaha yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh.


Sungguh, bagi orang-orang yang bertawakkal (mutawakkilun), mereka tidak bergantung kepada orang besar, orang penting, orang dalam, kedekatan emosional, persaudaraan, keadaan, situasi, kondidi, dan kehebatan makhluk. Mereka hanya bergantung kepada Allah Subhanahu Wata’ala sebagai Sang Pencipta dan Pengatur semua keadaan.


Semoga bermanfaat

Sobatmu

Darimis


 

Kamis, 04 Februari 2021

BAHAGIA ITU PENTING, KEBERKAHAN JAUH LEBIH GENTING

Kamis, Februari 04, 2021 0 Comments

 


Semua kita pernah mendengar atau mengucapkan kata berkah atau keberkahan. Saya pribadi minimal satu kali dalam setahun mendapat ucapan "Barakallahu fikki" (Semoga Allah memberkahimu).

Namun, saya tidak tahu apa hakikat keberkahan itu? Mana yang lebih tinggi antara berkah dengan bahagia?. Pertanyaan itu sering muncul dalam pikiran. Namun kadang malas menelusuri dan mempelajarinya dari berbagai bahan bacaan berkaitan dengan keberkahan.

Keberkahan atau berkah adalah kata yang sering dikaitkan dengan kesuksesan atau kebahagiaan yang didapatkan seseorang. Misalnya "Semoga ujiannya sukses dan berkah ya". "Semoga rezekinya berkah ya, aamiin."

Ketika seseorang meraih keberhasilan dalam studi, dapat pekerjaan, dapat momongan, atau ketika menempati rumah baru. Bahkan agar terkesan Islami, kadang tanpa sadar kita ucapkan "Met milad, barakallah fi umriik." Meskipun Rasulullah sendiri tidak pernah mengucapkan kata itu kepada istri, anak-anak, teman, atau sahabat beliau di hari lahirnya. 

Kembali ke layar ..he..he. Kata berkah secara etimologi memiliki dua makna, yakni (1) bertambah banyak, dan (2) dan tahan lama.

Sementara secara terminologi,  dikemukakan Imam An-Nawawi, keberkahan adalah kebaikan yang banyak dan abadi. Senada dengan Imam al-Ghazali mengartikan keberkahan dengan bertambahnya kebaikan pada ssuatu yang dimiliki. 

Untuk lebih memahami arti keberkahan, bagusnya kita cermati kejadian di masa Rasulullah shallallahu 'Alaihi Wasallam. Suatu ketika Rasulullah shallallahu 'Alaihi Wasallam terlihat lemas, karena menahan lapar. Abu Thalhah yang mendengar hal itu akhirnya menemui istrinya. Abu Thalhah dan istrinya berniat mengundang beliau untuk makan.

Singkat cerita, Abu Thalhah dan istrinya hanya memiliki makanan sedikit. Namun ternyata Rasulullah shallallahu 'Alaihi Wasallam mengajak banyak sahabat untuk ikut makan ke rumah Abu Thalhah. Abu Thalhah menjadi cemas; makanan sedikit apakah cukup untuk menjamu tamu sebanyak itu?

Akhirnya, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan shahabat-shahabatnya tiba di rumah Abu Thalhah. Sebelum acara makan dimulai, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mendoakan makanan yang dihidangkan. Setelah itu para tamu diminta makan bergantian. Yang pertama makan adalah 10 sahabat. Lalu, 10 sahabat berikutnya, kemudian 10 sahabat berikutnya, dan seterusnya.

Akhirnya semua sahabat yang datang itu makan sampai kenyang, sedangkan jumlah mereka waktu itu 70 atau 80 orang. Setelah itu, barulah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan keluarga Tholhah makan hingga kenyang pula. (Sumber: H.R. Al-Bukhari, No. 3385; Muslim, No. 2040)

Kejadian ini mengajarkan kita, tentang keberkahan dari segi makanan. Jumlahnya tidak saja cukup, tetapi penuh kebaikan. Hal yang terpenting dari berkah itu adalah bertambahnya ketaaatan kepada Allah Subhanahu Wata'ala.

Menurut Imam Ibnu Rajab. Setidaknya ada 4 kandungan dari keberkahan sekaligus arti sesungguhnya dari keberkahan itu sendiri.

1. Keberkahan adalah suatu keadaan bertambahnya ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata'ala.

"Keberkahan menjadi panorama keindahan dalam kehidupan seorang Muslim." (Ibnu Rajab).

Anak yang berkah adalah anak yang shalih, rajin beribadah, Mendo'akan ortunya masuk surga.

Tempat yang berkah adalah tempat yang dinaungi oleh malaikat, itulah majlis ilmu atau majlis dzikir.

Harta yang berkah terletak pada sikap ketika menerima harta, harta tersebut dapat menambah ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Seperti Umar bin Khattab menggunakan semua yang ditulis, semua harta digunakan di jalan Allah Subhanahu Wata'ala, untuk menambah ketaatan kepada Allah.

Hidup yang berkah bukan hanya sehat, tetapi sakit juga berkah, seperti Nabi Ayub As. Sakitnya menambah taatnya pada Allah Subhanahu Wata'ala.

Berkah atau barokah tidak identik dengan panjang umur. Seperti Do'a ulang tahun "Panjang umurnya,. Panjang umurnya, panjang umurnya serta mulia." Tetapi umur pendek pun ketika taatnya dahsyat kepada Allah Subhanahu Wata'ala, seperti Mus'ab bin Umair, seorang delegator pertama Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam ke Yastrib (Madinah). Dia diwafatkan Allah Subhanahu Wata'ala di usia muda. Dia seorang bangsawan,  hartawan, tampan, dan berkelas (seperti anak sultan), memilih menjadi utusan perdana nabi Muhammad menyiarkan Islam ke Yasstrib. 

Ilmu yang berkah bukan ilmu yang banyak riwayat, catatan kaki, referensinya, atau sitasinya/dirujuk orang, tetapi ilmu yang menjadikan seseorang meneteskan keringat dan darah dalam beramal dan berjuang di jalan Allah Subhanahu Wata'ala. Ilmu yang membuat seseorang tertunduk kusyuk meneteskan air mata mengingat dosa dan kesalahannya. Ilmu yang membuat seseorang mencerahkan hidup, pikiran, perasaan, dan perbuatan manusia lain. 

Penghasilan yang barkah bukan terletak pada gaji besar dan harta yang banyak sampai sekian turunan,  tetapi rezeki yang berkah adalah sejauhmana harta itu menjadi jalan rezeki bagi orang yang membutuhkan. Seperti Usman bin Affan, seorang sahabat Rasulullah, salah seorang khulafaur rasyidin, saudagar kaya raya. Dia selalu berlomba menginfakkan hartanya dengan sahabat lain. Sudah sekian abad sumur Yahudi yang dibelinya untuk umat, masih berfungsi sampai sekarang.

Pernikahan yang berkah bukanlah pernikahan yang nampaknya senang, kaya, dan bisa liburan ke berbagai destinasi wisata. Namun pernikahan berkah adalah pernikahan itu makin hari makin meningkatkan ketaatan pasangan suami istri (pasutri) kepada Allah Subhanahu Wata'ala, makin tenang (sakinah), makin mencintai  (mawaddah) dan makin berkasih sayang karena Allah (rahmah) sampai ajal menjemput.

2. Keberkahan artinya sunnah atau hikmah.

Allah Subhanahu Wata'ala memberikan kepada seseorang untuk mendapatkan hikmah. Sunnah artinya cara hidup yang mampu meneladani kehidupan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Sunnah itu ibarat perahu nabi Nuh, As. Jalan selamat berlayar menuju Jannah. Makanya dalam mengamalkan Sunnah kita tidak boleh pilih-pilah, karena kita tidak tahu, sunnah mana yang mengantarkan kita ke syurga Allah.

3. Berkah artinya istiqamah

Seseorang diberi keberkahan ketika ia mampu menjaga hangatnya iman, nikmatnya ibadah, indahnya Sunnah, dan manisnya amal shalih dalam kehidupan. Sebab hijrah dari maksiat ke taqwa itu mudah, yang sulit adalah istiqamah dalam ketaatan hingga husnul khatimah.

4. Berkah mengandung artinya diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah

Jika Allah mencintai hamba-Nya diberikan-Nya pemanis dalam hidup. Artinya seseorang disibukkan dengan ibadah dan taat sebelum sampai garis ajal dengan Husnul khatimah. Tiada kematian yang paling indah dan menyenangkan selain wafat dalam keadaan husnul khatimah.

Sebagai hamba Allah kita harus mengusahakan keberkahan dalam semua sisi kehidupan. Kebahagiaan adalah makmum dari keberkahan, sementara imamnya adalah berkah itu sendiri. Bagaimana cara memperoleh berkah? Jawabannya adalah sebagai berikut:

1. Semua amal kebaikan hendaknya berbasis keimaanan dan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu Wata'ala.

2. Beramal shalih dan mengikhtiarkan kebaikan hubungan dengan Allah dan semua makhluknya.

3. Setiap amal shalih dilakukan secara ikhlas, semata untuk mencari Ridha Allah.

4. Menyegerakan menjemput ampunan Allah, ketika bersalah cepat taubat nasuha.

5. Senantiasa memohon diberi keberkahan oleh Allah.

"Allahumma baarikli fi ma a’thait”

(Ya Allah berikanlah barakah kepada apa yang telah Engkau karuniakan kepada kami. aamiin)

Semoga bermanfaat

Sobatmu

Darimis

 

Rabu, 03 Februari 2021

MELUKIS KANVAS CINTA

Rabu, Februari 03, 2021 0 Comments


Melukis Kanvas Cinta

"Lukisan indah terpajang di hati generasi selanjutnya tergantung kepiawaian ayah dan ibu menggambar kanvas masa lalu."


Kepiawaian ayah dan ibu menciptakan suasana sakinah hingga berkesan dan terpatri di dinding hati anak-anaknya. Meskipun waktu berlalu, kisah selesai bersama kematian, namun  lukisan kenangan indah masih berjejer rapi dalam ingatan anak-anak.


Semua kisah seolah terjadi kemarin. Semua kenangan, kebersamaan, keindahan, kelembutan, kesabaran, ketegasan, pola pengasuhan, dan keistiqomahan ayah ibu tetap tergambar jelas di pelupuk mata mereka. Terlihat jernih di layar ingatan,  tentang kisah penuh canda, tawa, tangis, bahagia melewati masa-masa indah dan masa sulit dalam rajutan kasih sayang terbaik. 


Persepsi anak-anak di masa depan tergantung warna dan cara kita melukis kanvas kehidupan bersama mereka. Semua pragmen kehidupan  adalah kumpulan kenangan yang akan kita tinggalkan. Alangkah sedih, tatkala kita dikenang sebagai pelaku maksiat. Shalat sering terlambat, suka buka aurat, kadang berkianat, dan jarang bertaubat. Sementara usia kita di dunia begitu singkat. Sebatas lahir sampai wafat. 


Mungkin kenangan kelam atau kelabu itu akan teronggok di sudut ruang masa depan, yang pantas dicampakkan jauh-jauh. Kita menyesal, anak-anak kita pun menyesal dan malu. Namun sayang taqdir tak bisa diubah. Mereka tidak bisa memesan, merequest kepada Pencipta dilahirkan dari orang tua seperti apa, ayah dan ibu dengan tipe bagaimana.


Mau dikenang seperti apa ayah ibu kelak oleh anak-anak sangat ditentukan kemampuan kita  menggoreskan kuas di atas kanvas kehidupan anak-anak. Jika dilukis dengan gambar menarik, kombinasi warna serasi, konten lukisan bermakna, berkesan, diberi pigura indah kuat, dibungkus plastik rapi, maka lukisan bertahan lama. Tersimpan dengan pengamanan berlapis di alam bawah sadar anak-anak.  Kapanpun mereka dapat memandang lukisan itu, sambil tersenyum "Inilah ayah dan ibuku,  mereka sangat berarti bagiku, mereka penuh cinta dan istiqamah dalam kebenaran, semoga ayah ibuku bahagia di sisi-Mu Ya Rabb." Aamiin


Sangat sedih jika kita melukis kanvas kehidupan anak-anak terselip persoalan ketidaktuntasan persoalan hidup "unfinish business" kita tanpa sengaja. Kita menambah beban kenangan dan memperburuk lukisan mereka.  


Usahakan keluhan dan kebencian kita tidak menjadi keluhan dan kebencian mereka, kecuali kebencian terhadap kemungkaran dan kemaksiatan. Anak hanya benci pada segala sesuatu yang dibenci Allah dan Rasul-Nya. 

 

Pastikan kita melukis kecintaan pada hati, pikiran, dan perasaan anak-anak hanya cinta pada Allah semata. Cinta pada makhluk termasuk nabi, ulama, orang shalih, ortu, istri-suami, anak, dan harta hanya karena dan untuk mencintai Allah Subhanahu Wata'ala. 


Cinta Ilahi wujudkan kebahagiaan hakiki. Bahagia dalam taat. Bahagia beribadah. Bahagia membaca, menghafal, dan mengamalkan al-Qur'an. Bahagia menghadiri majlis ilmu, dan bahagia dalam setiap gerak muraqabatullah. 


Refleksi diri, kadang kita masih sibuk dengan kekosongan-kekosongan dan kesia-sian. Kadang ikutan-ikutan trend tanpa kejelasan alasan dan tujuan. "Yang penting happy" begitu bisikan keinginan." Waktu pun berlalu dan menyeret diri ke usia senja. Sementara kita masih memilih kuas dan kanvas terbaik untuk melukis cinta di hati anak-anak kita. 


Perlu kerja keras menggoreskan kuas di atas kanvas kehidupan anak-anak, dengan penuh rasa cinta dan kasih tak bertepi. Hingga kerinduan dan impian menjadi orang tua yang layak disebut dalam bait-bait do'a anak-anak shalih bukan sekadar harapan kosong.


Mudahkan kami melukiskan kuas cinta di atas atas kanvas kehidupan buah hati kami Ya Rabbana...aamiin. 


Salam ukhuwah 

Darimis

Kamis, 28 Januari 2021

JILBAB ITU JATI DIRIMU

Kamis, Januari 28, 2021 0 Comments


 

Entah mengapa tiba-tiba muncul keinginanku untuk mematut diri di cermin. Aku mencoba amati diriku dari ujung kaki sampai ujung rambut dalam balutan hijab sempurna. Kulihat sesosok wanita disana. Wanita dengan jilbab yang menutup seluruh bagian tubuhnya. Timbul sebuah pertanyaan dalam hati. “Siapa aku? Dengan jilbabku ini apa yang bisa kulakukan, baik kini maupun di masa datang? apakah aku akan mendapat pekerjaan yang layak?. Pertanyaan-pertanyaan itu muncul tiba-tiba. Tanya dalam keraguan ini mengingatkanku pada komentar seseorang dua minggu lalu.


Sore itu selepas pulang kuliah seperti biasa aku kembali ke kos-an dengan bersepeda. Memang jarak dari kampus ke kos ku tidak terlalu jauh tidak sampai satu kilometer. Lagi pula naik sepeda itu sehat dan aku menyukainya. Jadilah sepeda lipat berwarna putih ini yang selalu menemaniku setiap pergi ke kampus. Dalam perjalanan pulang aku mampir ke sebuah warung makan, membeli soto ayam kesukaanku untuk menu makan malam nanti. Ketika menunggu soto ayam ku selesai dibuat, aku duduk di sebuah kursi yang telah disediakan. Seorang bapak duduk di sebelahku. Bapak itu tersenyum kepadaku. Usianya kutaksir sekitar limapuluh tahun. Terjadilah sebuah percakapan antara aku dengan bapak itu.


“Baru pulang kuliah, Nak?” tanya bapak itu memulai percakapan.
“Iya pak..” jawabku sambil membalas senyumnya.
“Kuliah fakultas apa?” kembali bapak itu bertanya.
“Saya kuliah di fakultas pendidikan, Pak.” jawabku.
“Oalaa… Kamu kuliah di fakultas pendidikan toh. Wah sepertinya kamu salah jurusan, Nak. Coba deh kamu pikir nanti kamu bisa jadi apa? jadi guru, jilbab panjangmu itu cocoknya jadi ibu rumah tangga yang mengurus suami dan mendidik anak. Percuma deh kamu kuliah  susah-susah.” kata Bapak itu membuatku terkejut.


Aku terdiam, tak dapat berkata-kata. Rasanya aku ingin menyangkal semua perkataannya, tapi tak bisa. Untunglah keadaan yang tidak mengenakkan ini segera berakhir karena pesanan soto ayam ku telah selesai di buat. Aku pun segera membayar, tersenyum tipis kepada bapak itu, lalu bergegas beranjak dari tempat itu.


Aku benar-benar tak menyangka beliau akan mengatakan hal seperti itu. Rasanya aku ingin membantahnya. Menjelaskan semuanya bahwa pandangannya itu salah. Aku dan para muslimah lainnya  juga bisa berprestasi sama seperti yang lainnya. Jilbab kami bukanlah sebuah penghalang untuk mengukir prestasi. Justru dengan jilbab ini salah satu bentuk taat terhadap perintah Allah. Kami dapat menunjukkan kepada dunia bahwa muslimah juga bisa berkarya dan mereka tak boleh memandang kami sebelah mata.


Setelah semuanya siap, aku pun bergegas pergi ke kampus. Pagi cukup cerah. Sinar matahari terasa hangat disertai udara sejuk yang menyegarkan. Menjadi sebuah harmoni indah di pagi akhir bulan November. Ya, tapi sayangnya cuaca cerah pagi ini tak sanggup mengubah suasana hatiku yang masih terusik dengan perkataan bapak itu kemarin sore. “Coba deh kamu pikir nanti kamu bisa jadi apa? Kamu dengan jilbab panjangmu itu cocoknya jadi ibu rumah tangga yang mengurus suami dan mendidik anak. Percuma deh kamu kuliah teknik susah-susah.” kalimat itu terngiang-ngiang selama perjalananku ke kampus.
“Bapak itu pasti salah kok. Aku yakin kami para muslimah bisa sukses sama seperti yang lain.” Gumamku di dalam hati. Saat ini aku memang belum meraih apa-apa, belum mengukir suatu prestasi. Tetapi aku sebagai mahasiswa baru akan berusaha semaksimal mungkin untuk belajar dan terus belajar hingga satu persatu harapan dan cita-citaku dapat tercapai.


Sesampainya di kampus aku segera menghampiri Shyfa, teman sekelasku. Kebetulan Shyfa memang sudah tiba di kampus dan sekarang sedang duduk di dalam kelas menunggu kuliah yang lima belas menit lagi akan di mulai. Sudah tak sabar aku ingin menceritakan kejadian kemarin sore kepadanya.


“Assalamualaikum, Shyfa. Udah dateng?” sapaku menghampiri lalu duduk di sampingnya.
“Waalaikumsalam. Iya ini baru nyampe juga kok.” jawabnya tersenyum kepadaku.
“Fa, aku punya satu pertanyaan deh.” kataku serius.
“Pertanyaaan apa?” Shyfa mulai penasaran.
“Hmm menurutmu kita ini salah gak sih kuliah jurusan pendidikan?” tanyaku kepadanya.
“Hah? Maksudmu apa, Ra?” jawab Shyfa bingung karena tiba-tiba aku melontarkan pertanyaan aneh seperti itu.



“Iya, maksudku kita ini kan perempuan, pakai jilbab. Jelasku kepada Shyfa.
“Zahra, sekarang aku balik tanya sama kamu. Apakah kuliah itu pilihanmu sendiri?” Shyfa menatapku serius.
“Iya.” jawabku yakin.
“Apakah ada yang memaksamu?” Shyfa bertanya lagi.
Aku menggelengkan kepala.
“Lalu untuk apa kamu bertanya seperti itu. Ini sudah menjadi pilihanmu. Harusnya kamu yakin atas pilihan yang telah kamu putuskan.” jawab Shyfa penuh kebijaksanaan.



“Iya aku yakin kok dengan pilihanku ini. Tapi ada hal yang mengusikku. Kemarin sore ada seorang bapak yang mengatakan bahwa aku yang berjilbab ini tidak pantas kuliah di karena nantinya aku tidak dapat berkarier dan hanya bisa mengurus suami serta mendidik anak. Tentu saja aku sangat tidak setuju. Identitas kita sebagai wanita serta jilbab ini, bukan penghalang untuk berprestasi dan sukses dalam berkarir kan, Fa?” tanyaku pada Shyfa.
“Iya betul sekali, Ra. Justru dengan identitas kita sebagai wanita harusnya kita mampu membuktikan kepada orang-orang bahwa wanita juga dapat berprestasi dan sukses dalam karir. Jilbab yang kita kenakan sebagai identitas keislaman kita juga bisa menjadi sarana dakwah, yaitu memperkenalkan pada masyarakat bahkan kepada dunia bahwa wanita muslim tidak hanya bisa menjadi istri dan ibu yang baik, tetapi kita juga bisa memberi manfaat kepada banyak orang dengan ilmu yang kita miliki. Tidak hanya di bidang kita, bidang apapun yang kita geluti dapat kita kembangkan dan di amalkan di masyarakat.” Jawab Shyfa meyakinkanku.


“Aku setuju, Fa. Nah, berarti sekarang kita harus berusaha keras untuk mencapai itu semua sehingga dapat mengubah pandangan mereka tentang kita.” kataku penuh keyakinan.
“Iya sip. Semangat!. Oya, Ra jangan lupa besok sore ada sharing sama Mbak alumni seorang guru muda. Dia wanita berjilbab yang sukses dan mau berbagi pengalamannya ke kita,” kata Shyfa mengingatkanku.



“Ah iya aku lupa.” aku memang lupa tentang agenda sharing besok sore.
“Hmm kok bisa lupa? Tapi besok kamu dateng kan, Ra?” tanya Shyfa kepadaku.
“Iya Insyaa Allah, Fa. Aku tidak ingin melewatkan kesempatan berharga untuk mendengar cerita pengalaman dari orang sukses. Apalagi beliau yang berbagi pengalaman adalah seorang muslimah yang berjilbab panjang. Hmmm sharing besok sangat sesuai dengan apa yang kita bicarakan sekarang ini. Ya kan?”
“Iya, sharing besok pasti seru banget deh. Aku juga harus dateng.” jawab Shyfa penuh semangat.



Di tengah perbincangan kami, Dosen pun masuk kelas. Dengan senyum ramahnya, beliau berkata “Hari ini kita kuis ya..”
Aku dan Shyfa langsung bertatapan. Bergegas membuka catatan kemudian membacanya secepat kilat. Ya, ini memang pagi yang luar biasa. Sebuah kuis ‘dadakan’ menyapa kami di pagi yang indah ini.


Hari ini aku bangun lebih semangat. Salah satu alasannya karena hari ini ada mata kuliah kesukaanku dan tentu saja alasan lainnya adalah agenda sharing dengan Mbak alumni ba’da Ashar nanti. Oh ya, kemarin aku diberitahu bahwa Mbak alumni yang akan berbagi pengalamannya di sharing nanti sore bernama Mbak Syahnaz. Hmm tak sabar bertemu dan mendengarnya berbagi pengalaman. Dengan meluruskan niat demi meraih ridha-Nya, aku langkahkan kaki menuju kampus, berharap banyak ilmu yang kudapat hari ini. Bismillah…


Setelah keluar dari kelas mata kuliah kesukaanku, aku dan Shyfa bergegas menuju Masjid untuk melaksanakan Sholat Ashar. Usai melaksanakan sholat, kami langsung berkumpul dengan akhwat-akhwat lainnya untuk menghadiri acara sharing bersama Mbak Syahnaz.
“Ra, liat deh. Itu ya yang namanya Mbak Syahnaz?” tanya Shyfa sambil menunjuk kearah seorang wanita berjilbab merah muda.



“Iya itu Mbak Syahnaz. Cantik ya?” sahut Alya akhwat yang duduk di sebelahku.
Aku menoleh ke arah wanita yang mereka maksud. Dan benar saja, aku melihat seorang wanita memakai gamis merah muda. Cantik sekali. Wajahnya cerah bercahaya. Tatapan matanya meneduhkan dan senyumnya mendamaikan. Benar-benar sosok wanita muslimah idaman.


Acara sharing pun dimulai. Kami mengawali sharing ini dengan ucapan Basmalah. Mbak Hana adalah akhwat yang bertugas menjadi moderator pada sharing kali ini.
“Teman-teman akhwat, hari ini kita kedatangan tamu spesial nih. Seorang muslimah yang luar biasa hebat, cantik, sholehah, dan tentunya sangat cerdas. Beliau ini baru saja dua bulan lalu melahirkan anak keduanya. Nah, penasaran kan dengan cerita inspiratif dari beliau, langsung saja kepada Mbak Syahnaz dipersilakan untuk berbagi pengalamannya.” kata Mbak Hana membuka sharing ini.



“Assalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh.” Mbak Syahnaz mengucapkan salam sambil tersenyum kepada kami.
“Waalaikumussalam warahmatullahiwabarakatuh.” kami menjawab salamnya dan membalas senyum cantiknya itu.
“Alhamdulilllahirabbil a’lamin. Senang sekali rasanya bisa berada di tengah-tengah wanita sholehah calon penghuni surga-Nya Allah. Aamiin. Hmm sebenarnya saya merasa belum pantas untuk menjadi pembicara di forum ini karena saya juga masih dalam tahap belajar sama seperti teman-teman semua. Nah, jadi disini kita akan saling sharing saja ya agar ilmu kita sama-sama bertambah. Aamiin.” Mbak Syahnaz mengucapkan kata demi kata dengan begitu lembut dan nada yang teratur.


“Akhwat-akhwat cantik yang Insyaa Allah dimuliakan oleh Allah, dilahirkan menjadi seorang wanita adalah sebuah takdir indah yang telah Allah gariskan untuk kita. Sebagai seorang wanita sudah sepatutnya kita bersyukur karena Islam adalah agama yang paling memuliakan wanita. Allah memerintahkan kita untuk menutup aurat dengan jilbab sebagai bentuk perlindungan agar kita terlindung dari kejahatan-kajahatan laki-laki yang berniat buruk. 


Jilbab ini menempatkan wanita di posisi yang tinggi supaya keindahan-keindahan yang Allah anugerahkan kepada kita tidak dapat dinikmati oleh sembarang orang. Keistimewaan lainnya yang Allah berikan kepada wanita adalah dari rahim kita ini kelak akan lahir generasi-generasi calon pejuang Islam. Kita di amanahkan untuk mendidik anak kita nanti agar dapat menjadi seorang yang berguna bagi agama. Sebuah amanah yang mulia, bukan? Belum lagi kelak sebagai seorang istri kita akan menjadi wanita yang akan melayani suami dengan sepenuh hati, membuatnya tersenyum, memberinya motivasi, dan saling berbagi dengannya ketika senang maupun susah.”



“Dua amanah yang akan kita emban ketika berumahtangga kelak adalah kewajiban yang harus kita tunaikan dengan baik. Muslimah harus bisa menjadi istri dan ibu yang baik untuk suami dan anak-anaknya. Namun, apakah sebatas itu yang bisa muslimah lakukan? Tidak. Tidak hanya menjadi istri dan ibu yang baik yang bisa kita lakukan. Muslimah juga bisa menjadi apa yang ia cita-citakan, menjadi dokter, dosen, penulis,  tentu muslimah bisa meraihnya. Usaha keras dan niat yang ikhlas karena Allah adalah kunci utamanya. Namun, ingat dalam meraih semua itu kita akan menghadapi tantangan dan rintangan, diantaranya tingkat persaingan yang tinggi dan pandangan masyarakat tentang para muslimah. Mengapa saya bilang pandangan masyarakat tentang para muslimah menjadi salah satu dari tantangan? Karena sebagian masyarakat masih menganggap para muslimah hanya bisa menjadi ibu rumah tangga tanpa karier yang cemerlang. Mereka masih menganggap muslimah tidak mampu untuk bersaing dengan yang lain dalam hal karier. Oleh karena itu, tantangan kita adalah mengubah pandangan masyarakat mengenai muslimah. Kita harus membuktikan bahwa kita mampu menjadi dokter, dosen, dan penulis hebat.”



“Pengalaman saya ketika menempuh S2 di Jerman, dimana Islam menjadi agama minoritas disana, dan wanita berjilbab menjadi suatu hal yang langka, menjadi sebuah pengalaman yang berkesan untuk saya. Berada di lingkungan yang sama sekali berbeda dengan kota tempat saya tinggal di Indonesia adalah sebuah tantangan tersendiri. Namun, menjadi minoritas disana justru membuat saya semakin bersemangat untuk mengukir prestasi-prestasi. Saya ingin mengubah pandangan mereka, pandangan dunia tentang para muslimah. Dan jilbab yang saya kenakan sebagai identitas keislaman saya ini, juga menjadi sarana dakwah Islam, memperkenalkan lebih jauh tentang Islam kepada mereka.” Mbak Syahnaz memberikan penjelasan bak menghipnotis kami dengan kata-katanya yang bijak dan cara penyampainnya yang enak di dengar.


“Wah, luar biasa sekali ya penjelasan dari Mbak Syahnaz. Hmm pasti banyak yang ingin bertanya kan? Ya kita buka sesi pertanyaan ya..” kata Mbak Hana.
Aku pun segera mengangkat tangan untuk mengajukan pertanyaan kepada Mbak Syahnaz.
“Iya silakan Zahra” Mbak Hana mempersilakanku menyampaikan pertanyaan.
“Perkenalkan nama saya Zahra. Mbak Syahnaz saya ingin bertanya, kan saat ini berarti Mbak mengemban tiga tugas sekaligus, sebagai istri, ibu, dan wanita karier. Nah, bagaimana Mbak bisa menjalankan tiga tugas itu dengan baik?” aku menyampaikan pertanyaanku.



“Ya Zahra, pertama yang harus dilakukan adalah ikhlas dan niatkan semuanya untuk Allah karena segala sesuatu yang diawali dengan niat yang ikhlas karena Allah, yakinlah pasti Allah akan memberikan kemudahan di setiap langkah-langkah kita. Mengenai tugas sebagai istri dan ibu bisa tetap bisa kita laksanakan kok, asal kita bisa memanajemen waktu dengan baik dan menjadi wanita yang cekatan. Insyaa Allah ketiganya dapat berjalan beringingan tanpa ada satu tugas yang terbengkalai.” jawab Mbak Syahnaz dengan bijak.


Akhirnya setelah beberapa pertanyaan diajukan, sharing kali ini di tutup dengan sebuah kalimat kesimpulan dari Mbak Syahnaz.



“Jadi, sebagai muslimah kita tidak hanya bisa menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik, kita harus bisa menunjukkan kepada dunia bahwa muslimah juga mempunyai sisi yang lain yakni prestasi dan sukses dalam berkarier. Dengan demikian, dunia tidak hanya melihat muslimah sebagai wanita yang sukses di satu sisi, melainkan sukses di berbagai sisi.” kata Mbak Syahnaz memberi kesimpulan.


Sharing kali ini benar-benar membuka pikiranku, menambah pemahamanku mengenai muslimah yang sebenarnya. Pandangan dunia mengenai muslimah yang hanya bisa menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga adalah salah. Muslimah juga mempunyai kesempatan yang sama untuk dapat meraih cita-citanya. Dan ketika muslimah mampu berprestasi dan sukses meraih yang ia cita-citakan ia akan menjadi sosok wanita yang hebat. Wanita hebat yang sukses menjadi istri dan ibu yang baik, juga hebat karena dapat meraih cita-citanya.

TIPS HINDARI BAPER DI MEDSOS

Kamis, Januari 28, 2021 0 Comments
Medsoa hanya alat, manfaat dan mudarat tergantung pengguna



Hidup di era media sosial dituntut kemampuan spesial. Bergabung dengan kaum milenial, membutuhkan keterampilan dan skill tingkat tinggi di bidang sosial. Mereka generasi digital native  terlahir di era digital. berbeda dengan generasi X, Y, dan Z yang serba manual. Makanya harus meningkatkan kemampuan dua kali lipat dibandingkan generasi milenial.


Oke..lanjut... apa hubungannya generasi abjad dengan generasi milenial dan baper di medsos? tentu ada hubungan bos. Generasi abjad kurang melek teknologi, sementara generasi milenial luar biasa eksis di medsos. Kadang gampang baper (bawa perasaan) gegara medsos. Menguras perasaan dan mudah digembos, sehingga persoalan karakter atau integritas kepribadian menjadi problem serius generasi tersebut.


Berangkat dari pengalaman pribadi yang mencoba memetakan baper di medsos. Sementara saya menduga, kebanyakkan mereka gampang baper gegara media sosial terutama pada sampel yang diobservasi ditemukan, rata-rata beraktivitas sesuai dengan kecenderungan life style teman di media sosial. cara berpakaian ikut teman, pola liburan ingin seperti teman, kecenderungan hobi hampir sama dengan teman. seolah-olah hidup mereka identik perkembangan trend gaya hidup teman di media sosial.  


Jika satu orang posting berbagai macam gaya di tempat wisata, yang lain tidak mau ketinggalan. Berusaha sekuat tenaga untuk meniru gaya hidup tersebut. seakan-akan hidup di dunia maya adalah perlombaan kegiatan mengunjungi tempat wiasata. Jika satu orang posting poto makanan yang lain berusaha memasak dan ikut posting poto makanan. Seolah dumay menjadi ajang perlombaan tata boga. Paling aneh, sakit hati, konflik interpersonal pun di bawa-bawa sampai ke medsos. Orang lain menulis tentang apa, ditujukan ke siapa tidak tahunya malah temannya yang sakit hati, lalu terjadi sindir menyindir bahkan 'saling balas' komentar dan status di medsos. 


Mencermati fenomena baper ini, saya tertawa sendiri. Inilah gambaran tingkah pola umat dalam bermedia sosial. Barangkali ceo atau owner medsos tertawa geli melihat kinerja mereka telah menciptakan tools ini dan berhasil. Mereka mudah memetakan kecenderungan generasi akhir zaman. Mereka gampang menilai selera dan kemampuan generasi, sehingga gampang menyusun strategi  gozwul fikri atau gozwul tsaqofi. Itu pendapat saya lho ya...


Sebagai pengamat generasi umat akhir zaman, sekaligus terlibat dalam pendidikan generasi akhir zaman, saya menyarankan kepada sahabat-sahabat yang mempergunakan medos, beberapa tips hindari bape di medsos.


1. Jangan Gampang Percaya

Percaya hanya pada enam rukun iman, selebihnya no way. Status baik, alim, bijaksana, dan religius belum tentu orinya begitu. Bisa jadi orang berbeda, aslinya dia sendiri yang tahu. Jika gampang percaya, kita akan kehilangan daya analisis dan filter kebenaran.
Begitu juga ketika lihat foto selfie cantik and manis di pesta, kumpul bareng, makan, jalan-jalan, berkenderaan, dan laporan aktivitas harian di medsos. Jika gampang percaya akan mudah baper, di samping kepo.


Coba saja refleksi diri sendiri. Ketika ingin posting poto selfie, gambar, atau konten, pasti diseleksi secara ketat. Dipilih, disortir, ditanya sana sini "ini bagus gak?" Kadang diedit pakai beberapa aplikasi, setelah terlihat 'waw' baru diposting. Konten biasanya juga demikian, sebelum menulis punya ide, dipikir dan dianalisis dulu. Kadang lakukan survey, baca buku, lihat YouTube, dan pelajari materi latihan, setelah itu ditulis. Kadang sehari belum tentu selesai menulis. Membuat suatu konten tidak sekali jadi, baca lagi, ceck and receck lagi, revisi, setelah fix baru diposting.

2. Selektif dan Solutif


Orang baper biasanya sensitif, terlalu 'peduli' pada sesuatu yang tidak mesti dipedulikan. Melihat sesuatu yang tidak harus dilihat. Mendengar sesuatu yang tidak butuh didengar. Memperhatikan segala yang tidak perlu diperhatikan. Kuncinya, selektif dan solutif dalam bermedsos, dan jaga sikap selektif dan solutif tersebut. Baca dan lihat yang dibutuhkan, ambil yang bermanfaat, selebihnya biarkan, EGP (emang gue pikirin) Egepe...gitu katanya...


Kadang kita perlu bersikap bodo amat atau cuek pada sesuatu yang tidak perlu. Apalagi tidak berkontribusi untuk kebaikan diri, agama, dan akhirat kita. Menghabiskan waktu, menguras pikiran jika berlama-lama di situ. Scroll aja ke layar berikutnya, cari postingan menarik dan dibutuhkan.
Kadang ada status nyampah. Perlu tahu juga ciri status sampah itu bagaimana. Nah ini perlu disearching untuk ide konten selanjutnya.

3.  Pergunakan Fitur Medsos Secara Tepat


Medsos itu laksana samudera luas. Di dalamnya terdapat berbagai ikan, karang, mutiara, dan aneka sumber daya alam. Di dalamnya juga terdapat sampah, kotoran, racun, dan bahaya menakutkan. Media Bermedsos ada manfaat ada mudharat. Ada baik ada buruk. Ada yang penting dan tidak penting. Fokus pada yang bermanfaat, positif dan penting saja membuat kita tidak gampang baper. Jika ada yang membuat kita terganggu gunakan tombol yang ada misalnya unfollow, remove, delete, unlike, block, dan sebagainya. Gunakan tombol itu secara bijak.


4. Santuy dan Tenang


Santai itu perlu agar kita selalu waras. Tenang itu penting agar kita tetap terkendali. Jika kita diremove atau diunfollow di medsos, santai dan tenang saja. Dunia Maya tidak selebar daun "marunggai" eh daun kelor.

Jika tujuan kita bukan eksis di dumai untuk apa gulana diunfollow atau diremove teman?.Toh 5000 teman di FB tidak berkontribusi bagi kebaikan diri.
Jika tujuan kita berbagi kebaikan, mencari pahala, berdakwah, tidak tergantung dengan banyaknya teman. Satu orang yang mengamalkan kebaikan dari postingan kita, insyaa Allah pahalanya mengalir ke sampai akhirat. "Pahala jariyah" kata ustadz, apalagi jika banyak yang mengamalkan. Sungguh pahalanya luar biasa.

5. Bersabar

Sabar itu banyak modelnya. Sabar dalam taat, sabar meninggalkan maksiat, sabar dalam musibah. Di medsos ketiga sabar itu bisa diterapkan. Sabar dalam menyebarkan konten kebaikan, hikmah, solusi, dan kiat secara ikhlas adalah sabar dalam taat. Sabar tidak melihat, membaca, dan membagikan keburukan termasuk sabar dalam meninggalkan maksiat. Sabar ketika kita diunfollow atau diremove teman termasuk sabar dalam musibah. Ini sih pendapat pribadi, jika salah mohon dikoreksi sobat....

Salam Ukhuwah 
Saudarimu
Darimis